Rabu, 11 Juli 2018

Tangkoko dan Penghuninya

Tangkoko hari itu, terik tapi lembap. Saya menapaki setapak yang beralaskan dedaunan kering. Sebagian besar sudah membusuk dan menjadi humus. 


Di antara sulur-sulur akar pohon besar saya menggosok kedua lengan saya yang terbakar sengat matahari di pantai. Beberapa jam yang lalu saya baru saja merayakan ulang tahun sahabat saya di Pantai Batu Angus. Beberapa saat kemudian saya sudah berada di hutan hujan tropis, kawasan Cagar Alam Tangkoko.

Hutan ini menarik minat saya. Sejak saya senang mendaki gunung, hutan ini ikut memanggil saya. Ada yang ingin saya lihat. Faunanya. Hewan-hewan yang katanya hanya bisa saya lihat di hutan ini saja. 
Mata saya bertemu lebih dulu dengan seekor burung berparuh besar yang bertengger di dahan. Rangkong, begitu dia dikenal. Tapi orang Manado menyebutnya, burung Taong. 

Ranngkong jantan

Rangkong memiliki tanduk yang besar di atas paruh, berwarna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruhnya berwarna kuning dan memiliki kantung biru pada tenggorokan. Burung ini seketika terbang tidak seberapa lama usai saya mengaguminya. Saya kembali berjalan. Sesekali tersandung akar pohon besar yang mencuat ke permukaan. 

Sekelompok macaca nigra sedang bergerombol malas di sebuah batang pohon. Sejujurnya saya sedikit ngeri melihat kawanan hewan ini. Saya ingat pertama kali melihat mereka di Taman Margasatwa Tandurusa. Saya masih berseragam putih abu-abu kala itu. Hewan-hewan ini terlihat sangat agresif. Menjerit dan berlarian di dalam kandang. Mungkin karena tidak bebas. Manusia saja akan senewen jika dikurung terus di dalam rumah. Apalagi hewan yang alaminya adalah hidup di alam bebas.

Yaki panta merah

Ciri khas dari yaki adalah warna seluruh tubuhnya hitam dan memiliki rambut berbentuk jambul di atas kepalanya, serta memiliki pantat berwarna merah muda. Sering disebut juga, yaki panta merah. 

Kawanan yaki tampak tak terpengaruh dengan kehadiran saya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa melihat pengunjung datang ke hutan ini. Tidak pula bersikap agresif seperti yang ada ingatan saya. 

Beberapa hari lalu di laman Facebook saya dibagikan postingan dari sebuah akun yang mengunggah mayat yaki. Mayat yaki tersebut adalah hasil buruan dan akan dimasak sebagai hidangan. Sebagian dari masyarakat Sulawesi Utara memang masih menganggap yaki sebagai hewan buruan. 

Respon netizen beragam. Ada yang tidak mempermasalahkan tapi banyak yang mengutuk. Saya sendiri tidak habis heran bagaimana manusia bisa menganggap mamalia ini sebagai bahan konsumsi? 

Setahu saya sudah beberapa tahun ini dikampanyekan #SaveYaki di Kota Bitung karena spesies ini sudah terancam punah. Tapi masih ada saja manusia kanibal yang berpikir kalau hewan ini adalah makanan. 

Hari itu sebenarnya ada salah satu hewan yang ingin saya lihat. Sudah pernah saya lihat sebelumnya di Taman Margasatwa Tandurusa tapi rasanya tidak puas jika tidak dilihat lagi di Hutan Tangkoko yang menjadi rumah terakhirnya ini. Hewan nocturnal itu tidak kelihatan. Mungkin belum berjodoh dengan saya saat itu. 

Saya harus puas dengan yaki, rangkong, dan beberapa spesies burung cantik lainnya. Primata kecil bernama Tarsius enggan bertemu saya hari itu.

Selain fauna yang eksotis ada juga aneka flora yang cantik. Di kawasan hutan hujan tumbuh jambu hutan, mangga hutan sampai bombongan. Masuk lebih jauh saat lumut semakin banyak, bisa dijumpai edelweis dan berbagai spesies tumbuhan kantong semar. 

Cagar Alam Tangkoko yang akhirnya bisa saya kunjungi meliputi area seluas 3.196 hektar, di mana Cagar Alam Batuangus memiliki 635 hektar (terletak di antara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian). Lokasi Cagar Alam ini bisa dicapai sekitar satu jam dari Manado. 

Yang membuat saya sedih. Kenapa manusia lebih suka merusak paru-paru dunia ini? Bukan hanya pepohonannya tapi juga isi di dalamnya, hewan-hewannya sampai tumbuhannya. 

Tahun 1861, ketika seorang ahli antropologi bernama Alfred Russel Wallace berkunjung ke Tangkoko. Spesimen babi rusa dan maleo masih banyak dijumpai. Ketika itu, pasir hitam di pantai Tangkoko merupakan sarang dan tempat penetasan telur maleo. Akibat eksploitasi berlebih, babi rusa dan maleo kini hanya menjadi cerita pengantar tidur.

Hutan dan isinya memberi banyak sekali manfaat bagi kehidupan manusia. Hutan adalah rumah bersama. Selayaknya rumah harusnya dijaga bukannya dirusak. Karena tanpa hutan, mau jadi apa ekosistem kita? 



Kamis, 21 Juni 2018

Sepakbola, Secangkir Kopi, dan Kacang Goreng



Apakah hanya gue yang merasa kalau Piala Dunia kali ini tidak terasa hype-nya? Official song-nya saja gue baru tahu beberapa hari jelang perhelatan pertandingan sepakbola terbesar ini. Itu pun hanya tahu berkat Google karena kepo. Tapi dibilang nggak hype kalau diperhatikan di linimasa media sosial masih ramai. Bahasan Piala Dunia selalu diupdate saat pertandingan sedang live. Mungkin memang hanya perasaan gue saja. 

Pada sebuah ingatan di masa kanak-kanak, papa kerap membangunkan gue di tengah malam untuk ikut menonton pertandingan sepakbola Serie A. Tv kami masih tv tabung yang baru saja diganti menjadi tv berwarna. Siaran tv swasta yang muncul baru tv berlogo rajawali dan tv surya. Dua siaran baru ini ibarat oase setelah tv nasional yang rasanya sangat datar dan tidak menarik bagi anak seusia gue kala itu. 

Classic105.com

Papa akan membangunkan gue ketika ada pertandingan yang dimainkan oleh duo Van Basten dan Ruud Gullit. Di depan tv sudah dialaskan tikar. Kedua kakak laki-laki gue sudah lebih dulu duduk di situ. Di antara keduanya ada satu mug besar dan setoples kacang goreng. Gue biasanya menikmati kopi dengan menaburkan kacang di atasnya. Nikmat. Manis pahit dan juga garing. Setelah habis satu gelas, gue biasanya akan terlelap. Masa bodo dengan pertandingan yang entah baru dimulai atau sudah akan usai. 

Kebiasaan papa membangunkan anak perempuan satu-satunya terus berlanjut sampai pertandingan Piala Dunia dihelat di Prancis. Maskot turnamen saat itu adalah seekor ayam jantan bertubuh biru yang diberi nama Footix. Pada tahun itu dunia seolah dilanda demam Piala Dunia. Gue juga. Kebiasaan papa membangunkan gue untuk menonton sepakbola akhirnya berbuah hasil. Gue baru benar-benar khusyuk tanpa perlu dibangunkan lagi ketika perhelatan sudah memasuki babak perempat final. 

Jadwal hari itu, Belanda berhadapan dengan tim Tango. Belanda lolos ke babak perempat final setelah menyingkirkan Yugoslavia sementara Argentina menyingkirkan Inggris. Pertemuan kembali kedua tim ini setelah 20 tahun menjadi perseteruan klasik antara tim Eropa dan Amerika Latin. Pertandingan dimenangkan oleh Oranjes dengan skor akhir 2-1. 

Lolos dari Argentina, di babak semi final Belanda harus berhadapan dengan tim Samba. Brazil sudah lebih unggul 1-0 karena gol dari Ronaldo. Namun bisa disamakan kedudukan oleh Kluivert menjelang akhir babak kedua. Sayang Belanda harus tersingkir setelah AET dengan skor 4-2. Kekalahan dari tim Brazil tersebut membuat gue menangis. Menangis sesegukan, seolah gue bisa merasakan kepedihan para pemain Belanda yang gagal untuk kesekian kalinya menggapai juara di Piala Dunia. Apalagi mereka kembali kalah 1-2 melawan Kroasia yang tampil sebagai kuda hitam masa itu. Gue ingat sekali, Davor Suker menjadi top scorer dengan 6 gol. 

Usai gegap gempita Piala Dunia 1998 membuat gue adiktif pada sepakbola. Menonton pertandingan Serie A dan Premiere League adalah keharusan. Masa di mana Juventus dan Arsenal adalah klub unggulan dan tabloid Bola adalah bacaan wajib. Keadiktifan ini membawa gue pada fase belajar main bola sendiri biar bisa juggling dan menendang ala tendangan pisangnya David Beckham. Bikin gue jadi tahu kalau ada nama klub bola kece bernama Jubilo Iwata. Dan bikin gue iri ke presenter bola cewek yang hanya bermodal pintar bicara dan tampang tapi nol besar soal pengetahuan sepakbola. 

Laun, ketika gue mulai sibuk kuliah. Kegiatan menonton pertandingan sepakbola ikut memudar. Tidak ada lagi kehebohan mengikuti Serie A dan memuja Filippo Inzaghi sebagai laki-laki tertampan. Tidak ada lagi kegiatan duduk santai di ruang tamu sambil membaca berita terkini tentang dunia sepakbola. Tidak lagi menikmati segelas kopi dicampur kacang. Terlalu sibuk dengan masa muda yang wild and young and free. Namun sesekali ketika Piala Eropa atau Piala Dunia tayang masih turut berhura atas gempitanya. 

Sekarang, entah karena Belanda tidak menjadi bagian dari selebrasi pertandingan sepakbola yang selalu dinanti setiap empat tahun ini, ataukah karena euforianya memang berbeda ketika tidak ada lagi kebersamaan nobar bersama orang-orang yang dikenal? Entah. 

Tahun ini gue hanya menikmati pertandingan dan update-nya lewat media sosial. Apalagi tidak ada suami yang menemani untuk nonton bareng karena dia sedang di luar kota. 

Mungkin karena masa semakin berjalan ke depan dan selera ikut berubah. Tapi bucket list yang gue rapal sejak Piala Dunia 1998 tetap gue imani, suatu waktu nanti ketika Piala Dunia dihelat di suatu negara, gue akan duduk di antara bangku penonton dan larut dalam euforianya. Semoga~




Selasa, 19 Juni 2018

Mencari Sugar Daddy #TwitterSeries

Eh, serius loh judulnya. Gue memang sempat nyari sugar daddy bahkan mengunduh salah satu aplikasi tentang sugar daddy ini. Huahaha. 

Tapi, sebelum dihujat mari kita bahas dulu apa sih sugar daddy ini. Atau sudah pada tahu? 
Kalau belum, sini tante jelasin. *pangku satu-satu*

Sugar daddy/mommy adalah istilah yang diberikan kepada laki-laki/perempuan yang lagi ada di usia "prime time". Lagi di puncak terproduktif dan/atau terkaya dalam hidupnya. Sedangkan sugar baby adalah seseorang yang lagi ada di "puncak kesegaran" secara fisik. Lagi cakep-cakepnya, kenceng-kencengnya, rapet-rapetnya. 

Gue jelas sudah jauh dari definisi di atas tapi ternyata ada saja sugar daddy yang kepincut. Wk. 

Sugar daddy/mommy adalah pihak yang secara sadar penuh menyediakan financial support untuk sugar baby, sebagai imbalan untuk ketersediaannya menjadi pasangan. Murni di sini ada kesepakatan sedari awal.

Sugar relationship atau yang sering disingkat dengan istilah "sugaring" ini beda-beda tergantung tiap selera/kesepakatan orang. 

Misal: 
SD 70taun, SB usia 19, ada.
SM 60taun, SB usia 32, ada.

Biasanya perbedaan umur kalo mau "sugaring" ini minimal 15 tahun.

Apakah "sugaring" sama dengan seks berbayar?

Well, nggak semua #SugarRelationship harus dibarengi dengan hubungan seksual. Ada juga SD/SM yang tulus butuh kasih sayang dan perhatian, walau tanpa seks. Tapi ya, jarang. Karena ini hubungan asmara kok. Jadi ya nggak mungkin cuma chat atau pegangan tangan saja. Ehe he. 

Sebelum gue cerita ke bagian gue mencari sugar daddy, kalian tahu kenapa bahasan sugar daddy ini ramai?

Kalau kalian anak Twitter dan following-nya asique-asique kalian pasti tahu awal mula sugar daddy ini heboh. 

Bermula dari thread di akun seorang perempuan anonim yang bercerita tentang hubungannya dengan seorang sugar daddy. Sayangnya walau viral, akun ini justru dijulidin netizen. Ya namanya bukan netizen sih kalau gak julid. 

Pokoknya asal muasal kehebohan sugar daddy ini dari thread akun tersebut. Gue males jelasin panjang lebar karena thread-nya sudah dihapus dan akunnya sudah ganti nama. Udahlah sok-sokan buka aib trus anonim, giliran dijulidin eh hapus thread atau deactive akun. Apa kabar gue yang sejak main Twitter kerjaannya umbar aib mulu. #ehgimana 

Bahasan sugar daddy akhirnya jadi trending dan sampai semalam  masih hangat dibahas di timeline gue. 

Sekarang mari beralih ke kisah gue. Kok bisa gue mencari sugar daddy? Bisa dong. Aplikasinya kan banyak di play store. Masukin kata kunci keluar deh semua aplikasi mencari sugar daddy.

Setahun yang lalu gue mengunduh aplikasi yang namanya Seeking Arrangement. Ini salah satu aplikasi sugar daddy dan sugar baby terbesar. 


Gue tertarik mengunduh karena kepo dengan dunia sugar daddy ini. Sebenarnya kehidupan mereka kayak apa sih?

Dasar gue bikin akun di SA bukan hanya iseng dan kepo saja sih tapi karena butuh ide juga untuk menulis. Apalagi waktu itu lagi dapat proyek menulis tema dewasa. So why not? Tentu saja semua data diri adalah palsu. Foto saja yang asli tapi nggak kelihatan muka. 

Tadinya mikir nggak bakal ada yang tertarik karena mejeng di sana hanya keliatan mata doang eh ternyata yang ngeview lumayan banyak. Setiap hari ada belasan. Sampai akhirnya masuk beberapa chat. Kebanyakan bule kisaran 40-an. Oh iya, di data diri gue nulis masih umur mid 20. Ya kan ceritanya biar laku dilirik. Kalau nulis umur asli pasti sampai aplikasinya bangkrut gue nggak bakal dilirik. 

Para sugar daddy yang ngechat duluan kebanyakan dari USA. Dari say hi sampai akhirnya ngobrol panjang. Lalu dengan memberanikan diri gue ngasih nomor WA pada salah satu sugar daddy yang kelihatannya baik (?). Tidak seberapa lama message dari dia masuk di WhatsApp. Gue nggak mengira dia bakal serius ngechat di WA eh beneran dong.

Hanya saja setelah say hi gue langsung bilang kalau gue nggak ada niat nyari sugar daddy. Apa yang gue lakuin semata karena iseng dan penasaran dan dia maklum. Sejak saat itu gue nggak pernah membalas chat yang masuk dan beberapa hari kemudian aplikasinya gue uninstall

Yang penting gue sudah tahu proses sugaring kurang lebih seperti itu. Dan bisa mendapat lumayan banyak informasi tentang para sugar daddy ini. Ibaratnya para sugar daddy di Seeking Arrangement nggak cuma bakal beliin kaos h&m doang kayak sugar daddy si akun anonim tapi sampai setoko h&m juga dibeli sama mereka. 

Bagi orang awam hubungan sugaring ini pasti langsung dicap sama saja dengan transaksi esek esek biasa yang berbalut dunia digital biar terdengar fancy. Sebutan sugar baby juga pasti diartiin sama dengan WIL atau pelakor kata akun lambe lambean. 


Tapi sugar baby itu sederhananya, adalah pacar berbayar. Di-maintain secara rutin, diperhatiin, disayang-sayang. Ini bedanya sama prostitusi model jam-jaman atau per-malam yang setelah urusan selesai ya sudah.

Sugar baby itu sama saja dengan simpanan?

Simpanan itu nggak selalu harus berusia 19-25. Umur 40an bisa jadi simpanan orang. Bahkan usia 50an juga ada. Simpanan itu pasti disembunyikan, sedangkan sugar baby belum tentu disembunyikan. 

Gue kasih contoh salah satu sugar daddy yang punya banyak sugar baby adalah Dan Bilzerian. Buka akunnya pasti bakal bikin geleng-geleng kepala. Para SJW pasti langsung ke-triggered


Karena namanya kehidupan pasti ada demand ada supply. Sugar daddy dan sugar baby ada karena sama-sama membutuhkan dan mengikuti perkembangan zaman. Tinggal seberapa terbuka kita menilai ini, ya balik ke diri masing-masing.

Oh iya, di Twitter setelah heboh akun anonim tersebut langsung muncul beberapa thread serupa. Namun di antara glorifikasi thread sebagai sugar baby kemudian muncul thread dari akun yang bercerita dari sisi sebagai anak si sugar daddy. Kebayang nggak betapa sakitnya itu? 

This is why I love Twitter. Ini sudah jadi platform favorite sejak awal mula main di tahun 2009. Karena segala hal ada di Twitter. Kebanyakan bisa dijadiin bahan tulisan hanya guenya saja yang malas. Bahasan soal sugar daddy ini misalnya. 

Nah, kira-kira segini dulu bahasan kali ini. Semoga mencerahkan. Ini juga menjadi postingan kelima dari bahasan di Twitter trus gue bahas di blog atau gue sebut #TwitterSeries

In case you've missed... Ini #TwitterSeries lainnya. 

Kenapa Butuh Gosip di Lamtur Kalo ada Drama Twitter

Gosip Baru di Twitter

Di Balik Akun Akun Anonim


Selebtwit yang Bisa Menjadi Twitter Crushmu















Selasa, 12 Juni 2018

Anak Ketagihan Dipijat Menggunakan Minyak Telon Halal

Anak pertama saya terbahak-bahak ketika saya menempelkan kedua telapak tangan saya di punggungnya. Geli, Ma. Begitu katanya di antara gelak tawa. Anak lelaki saya ini memang mudah geli ketika tubuhnya disentuh. Tahan ya, kata saya. Anak saya melempar pandang pada deretan botol minyak kayu putih dan minyak telon halal HUKI yang saya letakkan di meja, dia tersenyum. Lalu saya menuangkan minyak telon HUKI sedikit-sedikit di atas punggungnya sambil mulai memijat pelan membentuk gerakan love motion. Anak saya masih merasa geli namun beberapa saat kemudian dia mulai merasa nyaman.


Sejak bayi kedua anak saya tidak terlalu terbiasa dipijat. Pijat memijat hanya dilakukan ketika mereka masuk angin atau kembung atau sedang tidak enak badan. Belakangan ini saja keduanya mulai menyukai kegiatan pijat memijat ini. Anak saya sangat suka jika tubuh mereka dibaluri minyak kayu putih HUKI atau minyak telon HUKI. Dua produk yang selalu saya gunakan sejak mereka bayi. 

Hari ini si kakak saya pijat karena kemarin sore dia main hujan-hujanan. Saya menggunakan minyak telon Huki karena cocok sebagai minyak pijat bayi atau pada anak-anak. Minyak telon hangat yang langsung bereaksi pada saat tubuh anak dipijat. Cocok sekali sebagai obat masuk angin anak atau obat kembung anak. Si kakak langsung terlelap usai saya selesai melakukan gerakan menggaruk pada punggungnya. 

Pada tanggal 9 Juni Baby HUKI mengadakan Baby HUKI Mums Blogger Gathering yang berlokasi di Ashley Hotel Jakarta. 


Hadir sebagai pembicara Risa Trisanti, Marketing Manager Baby HUKI. Yang menjelaskan mengapa Minyak Kayu Putih Baby HUKI dan Minyak Telon Baby HUKI lebih baik dibanding dengan yang lain?

1. HALAL
Sudah tersertifikasi MUI dan terjamin kehigienisan serta kehalalannya dari pemilihan bahan hingga ke proses akhir.
2. Kehangatannya disesuaikan dengan kulit anak.
3. Tekstur pada MINYAK KAYU PUTIH Baby HUKI/MINYAK TELON Baby HUKI lebih pas untuk dioleskan di badan bayi/anak.
4. Kemasan praktis (Flip cover).

Minyak Kayu Putih Baby HUKI dan Minyak Telon Baby HUKI Cocok digunakan untuk siapa saja?

Minyak telon biasanya lebih cocok digunakan untuk bayi & balita, dengan usia 0 sampai 3 tahun. Sedangkan Minyak Kayu Putih digunakan pada anak usia 3 tahun ke atas dan juga orang dewasa.

Minyak Kayu Putih Baby HUKI dan Minyak Telon Baby HUKI tersedia dalam berbagai ukuran yang praktis sesuai kebutuhan: 30 ml, 60 ml, 125 ml.


Kemudian hadir pula Dokter Spesialis Rehab Medik Brawijaya Hospital Antasari, dr.Amendi Nasution, SpKFR (K) yang menjelaskan tentang pentingnya pijat pada bayi. 

Ada beberapa manfaat pijat pada bayi:
  1. Membantu perkembangan mental, sosial, dan fisik.
  2. Bayi lebih rileks.
  3. Membuat ikatan/bonding dengan orangtua terutama dengan ibunya sendiri.
  4. Membantu pengaturan sistem pencernaan, respirasi dan sirkulasi.
  5. Membantu meredakan ketidaknyamanan (kolik, tumbuh gigi). 
  6. Membuat tidur lebih berkualitas.
  7. Membuat rasa percaya diri dalam mengasuh bayi.
  8. Meningkatkan komunikasi antara orangtua dan bayi.
  9. Meredakan stress orangtua.

Ada pun waktu yang tepat untuk memijat adalah:
  • Pagi hari saat orangtua dan bayi siap memulai hari.
  • Pada waktu malam agar membantu bayi tidur nyenyak.

Hadir pula Arina, Fisioterapis Brawijaya Hospital Antasari yang mempraktikkan beberapa gerakan memijat yang benar pada bayi.

Salah satu pelayanan unggulan di Brawijaya Hospital Antasari adalah Baby Massage atau Pijat Bayi yang didukung oleh dokter spesialis rehab medik anak dan terapis profesional, salah satunya Mbak Arina. Pijat Bayi berguna untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si kecil melalui stimulasi sentuhan yang dapat merangsang semua sistem sensorik dan motorik untuk pertumbuhan otak, membentuk kecerdasan dan perkembangan fungsi pada si kecil sesuai tahapan usianya.

Lalu ada Yasmin Zata Ligouw dan Kania Safitri sebagai Mom Blogger Influencer yang berbagi cerita pijat memijat pada anak mereka.

Baby HUKI sudah berdiri selama 23 tahun. Ini adalah brand lokal yang tadinya mengeluarkan produk botol susu dan pembersih botol tapi 5 tahun belakangan mengeluarkan produk non botol susu. Jika ingin tahu lebih banyak tentang produk-produk dari Baby HUKI bisa dilihat di situsnya, www.babyhuki.co.id

Jangan lupa follow media sosialnya agar tidak ketinggalan info terbaru tentang Baby HUKI

Facebook : @BabyHukiOfficial
Instagram : @BabyHukiOfficial





Senin, 11 Juni 2018

Tiga Komitmen #BijakBerplastik dari Danone-AQUA

Setiap sore biasanya gue selalu jogging mengelilingi waterpark yang ada di perumahan tempat gue tinggal. Sebelum memasuki bulan puasa, setiap hari waterpark ini dipadati oleh pengunjung dari luar perumahan. Bus-bus dan kendaraan pribadi terparkir panjang di parkiran. Setiap sore itu pula, gue selalu berpapasan dengan botol minuman, tas plastik, plastik pembungkus makanan, kertas, yang tergeletak sembarang di pinggir jalan, di atas rumput, atau di dalam pot bunga. 

Hati gue mencelos. Bagaimana tidak, tong-tong sampah disediakan pihak perumahan berderet hampir di setiap sudut. Tong-tong sampah besar dan sedang. Bahkan tidak sedikit sampah seperti bungkus rokok atau gelas minum tergeletak hanya beberapa senti dari tong sampah. Hal sesederhana membuang sampah pada tempatnya saja ternyata banyak yang tidak bisa mempraktikkannya. Sedih.

Sejujurnya dulu gue termasuk manusia-manusia seperti di atas. Yang membuang sampah sembarangan setelah habis makan atau minum tanpa peduli apa akibatnya dari sampah yang gue buang itu. Tapi semenjak merantau dan melihat sendiri banjir di Ibukota, gue sadar. Di mindset gue langsung tertanam, sekecil apa pun sampah yang gue buang secara sembarangan berpengaruh besar menyebabkan banjir di tempat lain. Sejak saat itu gue selalu mengumpulkan sampah gue sendiri dan membuang ketika menemukan tempat sampah. Anak-anak gue juga gue ajarkan seperti itu sejak masih kecil. Bahkan gue marah-marahin setiap kali mereka lalai. 

Karena pembentukan mental memang dibangun sejak masih kanak-kanak, diajarkan berulang-ulang tanpa henti walau kadang harus bersikap keras. Hal-hal begini jika dilakukan dengan tekun akan menjadi suatu budaya turun menurun. 

Pada tanggal 5 Juni kemarin bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup, Danone-AQUA meneguhkan komitmennya. Perusahaan yang produknya kebanyakan menggunakan plastik ini memelopori tiga komitmen penting dalam mengatasi masalah sampah plastik. 



  1. Danone-AQUA berkomitmen untuk mengumpulkan sampah plastik lebih banyak dari volume yang digunakan dari lingkungan Indonesia pada tahun 2025.
  2. Danone-AQUA berkomitmen memimpin kampanye nasional untuk edukasi daur ulang, dan menggerakkan program pengetahuan daur ulang di 20 kota besar di 2020. 
  3. Danone-AQUA berkomitmen membuat seluruh kemasan plastiknya dapat didaur ulang 100%, dan untuk meningkatkan proporsi plastik daur ulang di botol sebesar 50% di tahun 2025.


Kenapa sampah plastik? 

Beberapa hari lalu gue membaca berita tentang seekor paus yang meninggal karena menelan 80 kantong plastik. Paus, makhluk mamalia yang seharusnya berenang bahagia di lautan luas harus mati karena sampah plastik. Sampah plastik! Sampah yang manusia buang secara sembarangan yang mengalir dari hulu dan bermuara di hilir, di lingkungan hidup para hewan dan biota laut. 


Ini hanya satu kasus saja dari ribuan kasus kematian makhluk hidup lainnya akibat sampah manusia. Kalau sudah begini, rasa-rasanya manusia itu adalah makhluk paling jahat di muka bumi ini. Padahal manusia adalah makhluk paling mulia dan berakal.

Komitmen Danone-AQUA dalam mengurangi sampah plastik adalah bukti kalau masih ada manusia-manusia yang mau menggunakan akalnya. Danone-AQUA percaya bahwa sangatlah mendesak untuk memulai aksi dan program nyata. Ini demi menumbuhkan budaya baru di Indonesia, yaitu daur ulang dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Program ini juga merujuk pada target Pemerintah Indonesia untuk mengurangi sampah plastik ke laut sebesar 70% di tahun 2025. 

Danone-AQUA memiliki tanggung jawab untuk melakukan tindakan dan sekaligus menjadi kesempatan mendorong perubahan dalam skala besar, dengan melibatkan jutaan konsumennya. 

Danone-AQUA sudah menjadi pelopor dalam pengumpulan sampah plastik sejak tahun 1993. Program daur ulang pertamanya bekerja sama dengan Yayasan Dana Mitra Lingkungan.

Kaos dari hasil daur ulang botol AQUA

Sejak tahun 2010, Danone Ecosysteme dan Danone-AQUA telah mendukung bisnis sosial yang ditujukan untuk pengumpulan sampah plastik di Indonesia. Bekerja sama dengan para pemulung, saat ini hampir 12.000 ton sampah plastik dapat didaur ulang.

Penting sekali untuk terus memberikan edukasi tentang sampah plastik ini. Danone-AQUA berkomitmen untuk memimpin kampanye nasional daur ulang di sekolah, ruang publik, dan kolaborasi dengan pemerintah serta ritel-ritel besar di Indonesia. Pada kesempatan kemarin ada banyak ritel yang bergabung. 

Danone-AQUA bersama dengan Alfamart, Telkomsel, dan SMASH meluncurkan inovasi yang disebut Smart Drop Box. Di Smart Drop Box konsumen dapat membawa sampah plastiknya untuk didaur ulang. 




Danone-AQUA juga sadar kalau perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Danone-AQUA bekerja sama dengan banyak mitra dan asosiasi, seperti H&M, Packaging Recycling Alliance for Indonesia Suistainable Environment (PRAISE), Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), universitas-universitas, LSM dan Pemerintah Indonesia. 



Tapi semua usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak swasta dan Pemerintah Indonesia gak akan ada hasil maksimal kalau kita sebagai konsumen dan manusia berakal tidak ikut serta dalam mengurangi sampah-sampah plastik ini.

Ayo bertindak sekarang, dimulai dari rumah masing-masing yang adalah pusat edukasi. Seperti slogan Danone-AQUA, "One Planet One Health" di mana kita hanya punya satu Bumi untuk ditinggali, ya masa kita juga yang harus merusaknya. Mau tinggal di mana nanti? Mari mulai #BijakBerplastik