Sunday, July 3, 2022

Kesiapan OYPMK dan Disabilitas Bekerja dan Berdaya di Sektor Formal

Tanggal 30 Juni 2022 kemarin, saya mengikuti bincang dari Ruang Publik KBR yang mengangkat tema Rehabilitas Sosial yang Terintegrasi dalam membentuk OYPMK dan Disabilitas Siap Bekerja dan Berdaya


Sampai saat ini sejujurnya saya belum pernah bertemu dengan penderita kusta atau OYPMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta). Cuma seringkali mendengar stigma dan pelabelan yang tidak baik bagi para penderitanya. Apalagi kecacatan penderita kusta seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian orang, sehingga muncul perasaan takut berlebihan terhadap kusta. Jadinya, meskipun penderita kusta telah sembuh secara medis, predikat kusta tetap melekat pada diri mereka seumur hidup. 

Pelabelan ini pastinya menimbulkan permasalahan psikologis bagi OYPMK. Siapa sih yang mau dihakimi karena penampilan atau penyakit yang diderita? Rasa-rasanya nggak ada yang mau. Hanya saja, stigma-stigma yang berkembang justru membuat OYPMK menjadi takut, kecewa, depresi, tidak percaya diri, malu, merasa diri tidak berharga, tidak berguna, dan khawatir. 

Indonesia adalah penyumbang penderita kusta nomor 3 terbesar di dunia, setelah India dan Brasil. Tahun 2012 dilaporkan ada 18.994 penderita kusta baru di Indonesia. 11,2% penderita ditemukan sudah pada cacat yang kelihatan. Sedangkan 11,5% di antaranya adalah anak-anak.

Sampai saat ini orang yang mengalami kusta atau OYPMK dan juga penyandang disabilitas mengalami berbagai kesulitan ketika harus berbaur ke masyarakat. 

Salah satu dampaknya, OYPMK dan disabilitas kesulitan mendapat pekerjaan. Mereka dianggap kelompok yang tidak produktif dan tidak memiliki kemampuan yang layak. Perusahaan dianggap bisa mengalami kerugian materiel dalam menyediakan aksesibilitas bagi OYPMK dan penyandang disabilitas. 

Ini tentu saja menjadi persoalan pelik yang harus dicari jalan keluarnya. Karena selayaknya manusia lainnya, OYPMK dan penyandang disabilitas berhak mendapat perlakuan yang sama di tengah masyarakat. 

Kira-kira apa upaya pemerintah dalam hal ini Kemensos dan sektor swasta dalam mendukung terwujudnya akses pekerjaan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas? 

Ada 2 narasumber yang hadir dalam bincang Ruang Publik KBR kemarin. Ada Ibu Sumiatun, S.Sos, M.Si selaku Direktorat Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas Kemensos dan juga Tety Sianipar selaku Direktur Program Kerjabilitas

Mengapa permasalahan akses pekerjaan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas masih terus terjadi dan apa faktor penyebabnya? 

Menurut Ibu Sumiatun banyak paradigma undang-undang yang sudah bergeser. Dulu isunya hanya satu sektor sosial sekarang sudah multisektor dan lintas sektor. Sehingga sudah bukan lagi tanggung jawab dinas sosial tapi juga tanggung jawab lintas kementerian. 

Ada 26 hak disabilitas yang harus dipenuhi salah satunya hak untuk bekerja. Di Kemensos ada program namanya program asistensi rehabilitasi sosial, di mana program ini memberdayakan penyandang disabilitas dalam penanganan dan permasalahan.

Kemensos juga melakukan pelatihan-pelatihan. Ada pelatihan proposional, misalnya pelatihan pembuatan motor roda tiga yang diproduksi sendiri. Kemensos juga bekerja sama dengan BLK setempat. Peserta penyandang disabilitas yang sudah dilatih selama sebulan akhirnya bisa bekerja secara mandiri. 

Apa yang melatarbelakangi Program Kerjabilitas? 

Kerjabilitas adalah inisiatif yang dimunculkan oleh Lembaga Saujana untuk membantu teman-teman penyandang disabilitas masuk ke sektor formal dengan memanfaatkan teknologi. Harapannya agar bisa menjangkau lebih banyak dan menekan biaya. 

Yang melatarbelakangi adalah di tahun 2014, Tety Sianipar bersama 2 founder lain berpikir kalau penyandang disabilitas selalu terlibat di sektor non formal. Penyandang disabilitas memilih itu karena itu opsi satu-satunya. Dari asas keadilan tentu saja itu tidak adil karena penyandang disabilitas memiliki hak yang sama. 

Banyak penyandang disabilitas yang tidak hanya lulusan SMA saja tapi juga perguruan tinggi. Kenapa dengan ilmu yang mereka peroleh mereka tidak bisa bekerja di sektor formal? Kerjabilitas hadir untuk membantu penyandang disabilitas yang punya kompetensi, skill, dan niat untuk bekerja. 

Menurut Tety Sianipar, ketika penyandang disabilitas masuk ke perusahaan tantangan besarnya ada di stigma masyarakat. Di Kerjabilitas ada Disability Employment Training (DET), memberikan pemahaman dan etika interaksi disabilitas di perusahaan-perusahaan. Berdasarkan penelitian, ketika penyandang disabilitas masuk ke dalam dunia kerja tingkat produktivitas naik dan memberikan engagement yang baik ke perusahaan. 

Bincang Ruang Publik KBR ini memberikan insight baru bagi orang awam seperti saya yang lingkungannya belum pernah beririsan dengan OYPMK sebelumnya. Dari sini kita belajar bagaimana seharusnya kita sebagai bagian dari masyarakat tidak lagi memberikan stigma kepada OYPMK dan penyandang disabilitas sebagai masyarakat kelas 2 yang tidak bisa berkontribusi di sektor formal. 

Ke depannya, semoga OYPMK dan penyandang disabilitas semakin bisa diterima bekerja dengan bebas di perusahaan-perusahaan sektor formal dan mendapat hak yang sesuai. Tidak ada diskriminasi dan perbedaan karena sama-sama manusia. 






No comments:

Post a Comment