Friday, December 30, 2016

Fuck You, 2016

Saya pernah menjalani hubungan abusive relationship selama kurang lebih 2 tahun. Tiap kali berantem saya selalu dikata-katai dengan kasar, walau pacar saya kala itu gak pernah memakai kekerasan fisik. Saya selalu dilarang untuk bertemu dan bergaul dengan teman-teman saya. Jadinya saya harus stick with him 24/7. Only him all day. 

Untungnya hubungan itu bisa berakhir setelah saya seolah tersadar kalo dia bukan laki-laki yang baik untuk saya. 

Hubungan itu menjadi hubungan yang paling saya benci sampai-sampai saat menulis ini saya berharap bisa kembali ke masa lalu dan mengubah nasib saya. Saya berharap gak pernah ketemu sama laki-laki itu. Buat saya itu adalah hubungan yang paling bikin trauma dan terberat.

Iya, terberat. Sampai saya bertemu dengan tahun 2016. Tahun 2016 seolah bilang, "Your life was ruined? Wait until you meet me."

Hubungan percintaan di masa lalu bagai masalah seuprit buat tahun 2016. Gimana enggak, sejak memasuki 2016 aura kehidupan berkeluarga saya diombang-ambing banyak masalah. Dari krisis finansial karena terjerat utang cukup besar, kegagalan dalam berusaha, sampai anak-anak yang sakit dan harus masuk RS, lalu anggota keluarga yang meninggal.

Saya tahu setiap manusia punya masalahnya masing-masing. Saya juga tahu banyak yang mengalami hal berat dalam hidupnya. Karena kalo manusia sudah tak mengalami permasalahan artinya sudah tidak hidup lagi. Tapi dibanding tahun-tahun lainnya, 2016 benar-benar berat bagi saya.

Krisis finansial itu hampir membuat hubungan rumah tangga saya retak. Saya hampir saja lari meninggalkan rumah sambil membawa seorang anak saya. Puji Tuhan, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Krisis keuangan kami bisa terselamatkan, demikian juga hubungan rumah tangga saya. 

Sejak saya mulai menyukai dunia literasi di tahun 2009, saya memiliki mimpi ingin menjadi penulis besar. Penulis fantasi terkenal layaknya J.K Rowling. Oke, gak harus kayak mamak Rowling, sih. At least saya bisa di-notice sama pembaca Indonesia. 

Tapi jalan menuju dunia yang saya impikan itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sejak 2010 saya harus berjuang sendiri untuk menerbitkan buku, ditolak dan diphpin penerbit besar, dan gagal dalam setiap lomba menulis. 

Kegagalan demi kegagalan membuat saya akhirnya menyerah di 2016. Bagi saya, apa yang harus diperjuangkan kalo semuanya selalu gagal?

Apalagi saat anak kedua saya harus masuk RS dan dirawat inap selama hampir seminggu. Buat saya ini ujian berat, karena tidak ada orangtua yang ingin anaknya sakit.


Saat anak saya keluar RS saya lalu harus mendengar kabar kalo adik papa saya meninggal dunia. Yang membuat saya kecewa sama diri sendiri adalah saya tidak bisa memberi apa-apa. Walau sudah bisa keluar dari krisis keuangan tapi belum stabil. Kami harus berhemat karena banyaknya kebutuhan.

2016 membuat saya dan keluarga harus tertatih-tatih, untungnya gak sampai tergeletak. Kalo sudah tergeletak artinya sudah tak bisa bangun dan mengatasi masalah. Sudah pasrah. Atau mungkin juga sudah memilih jalan pintas yang buruk.

Ya, 2016 memang berat. Tapi selalu ada hikmah dibalik semuanya. Semakin berat ujian kehidupan maka menjadikan seseorang itu menjadi kuat.

Semoga dengan kekuatan yang saya terima karena ditempa oleh 2016, saya bisa memasuki 2017 dengan lebih matang dan bijaksana.

Vaya con dios 2016. Welcome 2017!

Tuesday, December 27, 2016

Liburan Singkat di Palabuhan Ratu



Ini kali kedua kami ke Pelabuhan Ratu atau kata orang Sunda mah, Palabuhan Ratu. Kali pertama hanya berselang beberapa hari sebelumnya. Maksud kedatangan ke daerah di Kabupaten Sukabumi ini karena urusan pekerjaan suami di PLTU Citarik. Karena dia berangkat seorang diri saja, jadilah saya dan anak-anak nebeng ikut. Habisnya kami gak ada planning jalan-jalan untuk liburan Natal. Tadinya sih ada planning mau ke Jogja tapi karena sesuatu dan lain hal harus batal. *krai sekebon*

Masih subuh banget kami sudah jalan. Karena saya tipe perfeksionis, apa-apa sudah saya siapin sejak semalam. Saya bahkan masakin sayur dan ikan buat bekal di jalan. Soalnya pernah punya pengalaman gak enak mampir makan di jalan saat bepergian. Makanya mending bawa bekal sendiri. Lebih enak dan higienis.

Kalo kata Gmaps sih estimasi waktu dari rumah ke Pelabuhan Ratu itu 199 menit. Atau sekitar 2,5 jam. Iye, itu mah kata Gmaps aja. Realitanya 4 jam lebih baru nyampe padahal jalanan gak macet. Di kali pertama malah hampir 7 jam. Bebas, tsay! *tebalikin Gmaps*

Di kali pertama saya dan anak-anak disuruh menunggu di mobil sama suami karena janjinya cepat selesai. Aje gile, selesainya baru 6 jam kemudian. Mati kutu dan mati gaya banget nunggu berjam-jam di mobil. Tiduran gak nyaman dan susah pula buat buang air kecil karena jarak ke toilet cukup jauh. Suami minta dipites banget ini. Makanya untuk kali kedua, demi kenyamanan jiwa dan raga kami, khususnya saya. Suami membawa kami ke hotel.

Selama perjalanan saya nyari beberapa referensi hotel yang terjangkau dan dekat laut. Karena pergi ke daerah pantai dan nggak ngeliat laut itu rugi banget namanya. Tapi berhubung cuaca saat itu sedang hujan deras dan sebentar lagi suami harus pergi ke lokasi pekerjaan, kami hanya mampir ke satu hotel saja di dekat pelelangan ikan.


Saya sebenarnya sedikit kecewa dengan pilihan hotel pertama itu, karena pemandangannya hanya pelabuhan saja dengan deretan kapal nelayan yang tertambat. Menarik sih, tapi saya lebih suka pemandangan laut lepas yang sunyi. *banyak mau* 

Ada sih hotel lainnya yang menawarkan pemandangan dan fasilitas yang saya idamkan tersebut. Harga perkamarnya juga hampir sama dengan hotel yang kami tempati, sayang gak sempat ke sana. Mungkin jika ada kali berikut saya akan memilih ke hotel itu saja.

Hotel yang kami tempati tepat berada di kawasan pelelangan ikan. Banyak sekali ikan laut segar dijajakan di pasarnya. Beda sekali dengan kualitas ikan di daerah tempat tinggal saya di Tangerang, kalo kata Mama saya, sudah 10 kali mati ikannya. Tapi ada rasa familier saat melihat pemandangan depan hotel. Rasa yang sama dengan kota kelahiran saya di Bitung, yang memang kota pelabuhan juga.


Saya dan anak-anak sempat berjalan-jalan sebentar melihat kapal dan pasar ikannya. Sayang gak bisa beli ikan buat bawa pulang karena rasanya pasti akan berubah kalo kelamaan diolah.


Saat berjalan-jalan itu, si adek mengeluhkan kepalanya yang mendadak sakit. Kami akhirnya harus kembali ke kamar hotel saat itu juga. 

Suami kembali ke hotel menjelang magrib. Selesai mandi, dia mengajak kami makan malam. Saya sudah googling dulu tempat buat makan malam kami sekalian nongkrong. Pilihan jatuh di Alun-alun Pelabuhan Ratu yang lokasinya hanya berjarak 8 menit dari hotel.

Ada banyak sekali gerobak penjaja makanan di sepanjang jalan menuju alun-alun. Mulai dari martabak manis, nasi goreng, ayam goreng, sampe penjual kripik.

Sebelum makan kami mampir di alun-alunnya. Cukup ramai dengan adanya odong-odong dan penyewaan mobil-mobilan. Ada juga pedagang mainan. Si kakak sempat meminta dibeliin mainan yang harganya murmer. Sayang gak bisa lama-lama karena mulai gerimis. Buru-buru balik ke mobil dan nyari rumah makan. 


Mobil berhenti di depan rumah makan sederhana yang entah namanya apa. Ada banyak kendaraan bermotor terparkir rapi di depannya. Yang menarik--dan yang bikin kami mau mampir-- adalah hiasan lampu-lampu di bagian tengah. Cahayanya serupa kunang-kunang. Belum lagi suasana di dalamnya yang cukup cozy.


Kami memesan beberapa makanan dan minuman yang akhirnya harus dibungkus karena si adek mendadak sakit kepala lagi.

Di hotel, suami harus makan di kamar karena si adek harus tiduran. Setiap kali dia bangun kepalanya akan terasa nyeri. Saya dan si kakak memilih makan di ruang makan hotel. Hanya ada kami berdua saja.

Seusai makan, si adek sudah beristirahat. Kata suami, besok kami gak usah ke mana-mana langsung pulang aja karena melihat kondisi si adek. Saya manut. Ya gimana, namanya anak sakit masa dipaksain tetap jalan-jalan. 

Pukul 8 pagi kami sudah check out dari hotel. Niatnya agar suami bisa mengemudi santai dan gak perlu buru-buru. Tapi ternyata dia mengajak kami mampir sebentar ke Gua Lalay. Saya memang sempat menyinggung pengin ngeliat gua ini. Kebetulan banget lokasinya dekat dengan PLTU Citarik. Gak nyangka sih kalo suami bakal nyempetin mampir mengingat katanya harus cepat pulang karena si adek sakit.

Dari hasil tanya dan browsing, sakit kepala si adek adalah efek dari penyakit radangnya.


Cukup bayar 3rb/orang untuk masuk ke lokasi gua. Begitu yang tertulis di depan pagar besi yang tak terkunci. Saya bertanya ke seorang bapak yang sedang memanaskan motor di sebuah rumah, di mana saya harus membayar. Katanya ke istrinya. Ternyata merekalah pengelola tempat tersebut. 

Setelah membayar saya dipersilakan ke lokasinya yang hanya beberapa meter saja dari rumah mereka. Bau tengik sudah tercium sejak saya masuk melalui pagar. Suami dan si adek menunggu di mobil, hanya saya dan kakak saja yang masuk. 

Mendekati gua baunya semakin menyengat. Si kakak sempat mengeluh. Busuk banget katanya. Tapi akhirnya dia sedikit melupakan soal bau saat melihat ratusan kelelawar yang beterbangan di dalam gua.

Yang menarik di Gua Lalay benar-benar hanya guanya saja yang dipenuhi banyak kelelawar. Selebihnya lokasi gak begitu bagus dan tak terawat. Saya dan si kakak hanya berada di dalam sekitar 10 menit lalu kembali ke mobil. 


Dalam perjalanan, suami sempat membeli labu parang dan pisang tanduk yang harganya cukup murah. Lumayan buat bikin bubur manado.

Liburan singkat di Pelabuhan Ratu akhirnya berakhir saat mobil kami berpapasan dengan anak-anak yang berdiri di sepanjang jalan tol yang membawa tulisan "Om Telolet Om."



Ketika Si Kecil Terkena Radang Paru-paru

Yang paling menyebalkan saat anak sakit adalah komentar orang-orang sekitar, bahkan dari keluarga sendiri.



Kamu kasih makan apa sih sampe sakit begitu?

Kamu jagain dengan benar gak sih? Kok bisa sampe sakit begitu?

Dst...


Dst...


Padahal mana ada orangtua, apalagi seorang ibu yang mau anaknya sakit. 


Saya sama sekali tidak ada niat dalam mengurus anak saya dan berharap mereka sakit. Sama seperti orangtua lainnya yang ingin memberikan yang terbaik bagi anak mereka, saya pun begitu.


Makanya saat mendengar diagnosa dokter perihal sakit anak saya, rasanya seluruh isi perut saya melorot jatuh sampe ke dasar kaki. Mata saya bahkan sudah panas, tapi saya tahan agar airmata gak jatuh.


Bagaimana hati saya tidak teriris saat dokter bilang kalo anak saya terkena radang paru-paru akut. 


Tapi orang lain emang lebih senang nge-judge duluan ketimbang ngasih komentar yang menenangkan buat orangtuanya.


Mereka gak tahu kalo saya menangis sampe terisak sambil memeluk anak saya usai visit dokter. Mereka gak tahu kalo saya menyalahkan diri saya sendiri. Karena walaupun saya sudah berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anak saya, tetap saja dia bisa sakit. Saya masih manusia, anak saya juga. Dan semua pasti sakit. 


Sebenarnya saya tidak menduga kalau anak kedua saya akan menderita penyakit ini lagi.


Baca: Tolong, Kedua Anak Saya Sakit. 


Setelah si kakak sembuh, pun si adek. Pada hari Sabtu sore badan si adek kembali demam. Saya menganggap kalau demam ini karena kecapekan saja. Ternyata sampai hari Minggu badannya masih hangat. Bahkan sempat naik turun.


Suami pada hari Minggu siang harus berangkat ke Jepara. Dia pergi dengan membawa kekhawatiran. Tapi saya yakinkan kalau si adek baik-baik saja. Saya tidak ingin dia bekerja dengan membawa beban. Bisa-bisa mempengaruhi pekerjaannya.


Di hari Senin, saya dan si adek mesti menemani si kakak yang hari itu akan ujian PAS. Karena saya meniadakan jemputan untuk bulan Desember, jadinya saya yang harus mengantar dan jemput. Soalnya rugi kalau dia memakai jemputan yang harus bayar full padahal hanya masuk 4 hari saja.


Saat di sekolah kondisi si adek belum juga membaik. Selama menunggu dia hanya tiduran di paha saya walau tidak demam.


Malam harinya usai si kakak belajar dan sudah tertidur. Si adek mengeluh kalau kepalanya panas. Wajahnya terlihat pucat dan kuyu. Saat itu perasaan saya sudah mulai was-was. Sejak Sabtu dia demam dan ini sudah hari Senin tapi demamnya masih juga naik turun, padahal sudah diberi obat.


Saya lalu menelepon suami yang kebetulan sudah selesai kerja dan sudah kembali ke hotel. Saya mengabarkan kalau besok niatnya saya akan membawa si adek ke RS. Maklum, si kakak masih ujian dan besok hari terakhir. Jadi setelah pulang sekolah kami bisa mampir ke RS.


Suami menyuruh untuk segera diperiksa. Katanya bawa lagi ke bidan. Saya menolak dibawa ke bidan karena pengalaman saat si kakak sakit obat yang diberikan sama seperti obat sebelumnya. Lagipula saya yakin untuk tahu penyakitnya harus diperiksa darah. Karena sudah tiga hari demamnya tak kunjung reda. Hanya saja jika pergi malam itu saya sedikit dilema.


Setelah berdebat kecil dengan suami dan memikirkan keadaan anak yang sakit, malam itu juga akhirnya saya memilih membawa si adek ke RS. Si kakak yang sudah tertidur terpaksa dibangunkan. Kebetulan tetangga depan rumah belum tidur, jadi bisa dimintai tolong untuk mengantar.


Saat itu saya membawa si adek tanpa berharap akan dirawat inap. Pikir saya, setelah periksa darah dia bisa dirawat jalan saja. Ternyata hasil tes darahnya cukup bikin syok. Sel darah putihnya sangat tinggi. Kata dokter, itu penyebab demannya naik turun. Tentu saja si adek mesti dirawat inap karena harus diberi antibiotik injeksi.



Saat itu pula dilema saya kian besar. Kami datang ke RS tanpa persiapan kalau si adek bakal opname, jadinya hanya membawa diri saja tanpa perlengkapan ini itu. Puji Tuhan, selalu ada jalan keluar. Ada yang bisa menemani si adek sementara saya balik lagi ke rumah untuk mempersiapkan keperluan selama di RS. Saya juga harus menyiapkan seragam si kakak dan tas sekolahnya.


Subuh sekali saya sudah bangun untuk menyiapkan si kakak ke sekolah. Ada rasa kasihan sebenarnya karena saya dan si kakak tidur pukul setengah dua pagi dan harus bangun jam setengah lima. Tapi untungnya si kakak gak rewel.


Pukul 6 pagi saya sudah mengantar si kakak ke depan RS, Puji Tuhan lagi, ada yang bisa menjemput untuk bareng ke sekolah. Si adek saya titip sebentar ke orangtua pasien yang sekamar dengannya.


Karena masa tidur saya hanya sedikit, setelah si adek sarapan dan minum obat, saya memilih tidur lagi. Untung si adek juga ikut tertidur. Tapi jam 9 saya sudah harus bangun, karena si kakak akan pulang. Gurunya memesankan grab untuk mengantarnya sampai ke depan RS. Ada rasa khawatir sebenarnya saat si kakak harus naik grab seorang diri. Tapi syukurlah dia bisa tiba dengan selamat. Saya sedikit lega karena ujiannya juga sudah selesai dan si kakak gak ada remedial. Jadi dia gak perlu ke sekolah lagi sampai acara Natalan dan penerimaan rapor. Satu masalah saya selesai. 


Saya pikir kami hanya akan berada di RS selama 2-3 hari saja. Tapi ternyata si adek harus menghabiskan antibiotik injeksi sebanyak enam botol. Dua botol perhari. Si adek masuk RS pada hari Senin malam sedangkan antibiotiknya baru diberikan pada hari Rabu. Artinya baru akan selesai pada hari Jumat.


Selama beberapa hari itu si adek mendapat beberapa perawatan, rontgen dan tes mantoux. Untuk rontgen sendiri hasil yang terbaca ada banyak sekali flek di dadanya. Sedangkan untuk tes mantoux, hasilnya negatif. 




Test mantoux adalah suatu cara yang digunakan untuk mendiagnosis TBC.Tes mantoux itu dilakukan dengan menyuntikan suatu protein yang berasal dari kuman TBC sebanyak 0,1 ml dengan jarum kecil di bawah lapisan atas kulit lengan bawah kiri.

Karena hasil tes mantoux negatif, lalu pemeriksaan darah untuk kedua kalinya hasilnya sudah normal. Hari Sabtu itu akhirnya kami bisa pulang, walau harus menunggu dokternya sampai hampir tengah malam. Karena harus seizin dokter dulu.


Dokter memberikan penjelasan tentang obat yang akan diminum selama 6 bulan dan surat kunjungan berikutnya, setelahnya barulah kami bisa check out.


Di awal tahun 2015 sebenarnya si adek sudah pernah dirawat inap juga di RS yang sama dan didiagnosa pneumonia. Tapi saat itu oleh dokternya hanya diberi perawatan uap saja dan antibiotik injeksi. Tidak ada rontgen, pemeriksaan darah ataupun tes mantoux seperti kali ini. Bahkan tidak ada pengobatan selama 6 bulan seperti lazimnya mereka yang terkena penyakit radang paru-paru. Mungkin karena hal itulah makanya si adek harus dirawat lagi. Karena penyakit radang paru-paru ini pengobatannya harus rutin dan sampai selesai jika ingin pulih.


Sekarang sudah dua minggu lebih si adek harus mengkonsumsi obatnya. Diminum setiap kali dia bangun tidur saat perut kosong. Masih ada 5 bulan setengah lagi sampai masa pengobatannya selesai. Dalam masa ini tubuhnya masih rentan terkena penyakit lain. Kemarin dalam seminggu, dia terkena gondongan dan nyeri di kepala akibat efek samping radang paru-parunya.


Puji Tuhan hari ini dia sudah ceria dan beraktivitas seperti biasanya. Saya hanya bisa berharap si adek bisa tumbuh sehat terus sampai besar.



 

Thursday, December 8, 2016

Drama Korea Terbaru di Bulan Desember 2016

Ih, telat banget nulis postingan drama di bulan Desember ini. Padahal biasanya saya udah ngedraf dari tengah bulan sebelumnya. Maafkeun...
Sejak akhir November waktu saya emang rada padat. Sampe napas aja kayaknya susah. Oke, itu lebay. Hihihi. 
Oh iya, Desember ini bulan favorit saya loh. Bulan full of joyful. Eh, gak ada yang nanya, ya? Okesip. Kita langsung aja bahas ke drama apa aja yang bakal tayang di bulan Desember ini. 
1. Goblin
Deretan nama pemerannya udah pasti bikin Goblin menjadi drakor paling dinanti di bulan Desember ini. Teaser dari beberapa trailernya aja bikin gak sabar pengin nonton. Apalagi ceritanya ditulis oleh chakanim yang sudah sangat handal. 

Profile
  • Drama: Goblin/ Goblin: The Lonely and Great God
  • Director: Lee Eung Bok
  • Writer: Kim Eun Sook
  • Network: tvN
  • Episodes: 16 
  • Release Date: 2 Desember 2016
  • Runtime: Jumat & Sabtu. Pukul 20.00
Plot
Dokkaebi (Gong Yoo) mencari seorang pengantin untuk mengakhiri keabadiannya yang sudah hidup selama 900 tahun. Sementara itu grim reaper (Lee Dong Wook) mengalami amnesia. Keduanya bertemu dan harus tinggal dalam satu atap. 
Cast
  • Gong Yoo
  • Kim Go Eun
  • Lee Dong Wook
  • Yoo In Na

2. Love for a Thousand More




Profile
  • Drama: Love for A Thousand More
  • Director: Kim Ki Yoon, Park Bong Sub
  • Writer: Kwak Kyeong Yoon, Na Jae Won, Seo Ji Yeong
  • Network: Naver Tv Cast
  • Episodes: 10
  • Release Date: 5 Desember 2016
  • Runtime: Senin & Jumat. Pukul 11.00
Plot
Drama romansa fantasi tentang seorang perempuan yang sudah berumur 999 tahun tapi masih awet muda. Kesehariannya menjadi love counselor berdasar pengalaman hidupnya selama hampir seribu tahun itu.

Cast
  • Hwang Seung Eon
  • Kim Hee Jung
  • Kim Jin Woo
  • Jang Ki Yong

3. 7 First Kisses

Yang jadi lead female di web drama ini pasti di kehidupan sebelumnya pernah menyelamatkan sebuah negara dari kehancuran besar sampai bisa mendapat peran bersama para Hallyu Star ini. 



Profile
  • Drama: Seven First Kisses
  • Director: Jeong Jeong Hwa
  • Network: Naver Tv Cast
  • Episodes: 10
  • Release Date: 5 Desember 2016
  • Runtime: Senin & Kamis. Pukul 11.00
Plot
Commercial Drama ini berkisah tentang seorang pelayan toko yang bekerja di Lotte Duty Free yang memenangkan sebuah lotere berhadiah kencan dengan para aktor ternama Korea.
Cast
  • Choi Ji Woo
  • Lee Joon Ki
  • Park Hae Jin
  • Ji Chang Wook
  • Lee Jong Suk
  • Lee Min Ho
  • Kai 
  • Taecyeon
  • Lee Cho Hee 
4. The Birth of A Married Woman 



Profile
  • Drama: The Birth of A Married Woman
  • Director: Lee Jeong Hoon
  • Writer: Choi Do Hee, Kang Seon Woo
  • Network: SBS
  • Episodes: 10
  • Release Date: 9 Desember 2016
  • Runtime: Jumat. Pukul 11.40
Plot
Drama ini tentang rencana pernikahan yang detail tanpa tahu kalau ternyata sangatlah berbelit-belit dan ribet. 
Cast
  • Lee Joon Hyuk
  • Yoon Seung Ah
5. Sound of Your Heart

Lee Kwang Soo sepertinya lagi kejar setoran, belum kelar Entourage drama lainnya udah mau tayang lagi. 



Profile
  • Drama: Sound of Your Heart
  • Director: Ha Byung Hoon
  • Writer: Jo Suk, Lee Byung Hoon
  • Network: KBS2
  • Episodes: 20
  • Release Date: 9 Desember 2016
  • Runtime: Jumat. Pukul 23.00
Plot
Sound of Your Heart berkisah tentang kehidupan seorang kartunis bernama Jo Suk dan orang-orang di sekitarnya, termasuk saudara laki-laki dan pacarnya. 
Cast
  • Lee Kwang Soo
  • Kim Dae Myung
  • Jung So Min
  • Kim Byung Ok
  • Kim Mi Kyung 
6. Solomon's Perjury
Ada yang udah nonton serial ini? Karena ini tadinya serial Jepang yang diadaptasi dari novel karya Miyuki Miyabe yang berjudul Solomon no Gisho.

Profile
  • Drama: Solomon's Perjury
  • Director: Kang Il Soo
  • Writer: Miyuki Miyabe, Kim Ho Soo
  • Network: JTBC
  • Episodes: 
  • Release Date: 16 Desember 2016
  • Runtime: Jumat & Sabtu. Pukul 20.30
Plot
Sesosok mayat siswa laki-laki ditemukan di sekolah. Pihak berwajib berasumsi kalau siswa tersebut mati karena bunuh diri. Tapi para siswa lain mengadakan penyelidikan guna mencari tahu sebab kematiannya. 
Cast 
  • Kim Hyun Soo
  • Jang Dong Yoon
  • Seo Ji Hoon
7. Hwarang
Kangen gak sih sama Park Seo Joon? Saya naksir pas dia main di She Was Beautiful karena di Kill Me Heal Me Seo Joon cuma jadi second lead. Saya bukan noona yang demen kena second lead syndrome soale.
Park Seo Joon kembali dalam drama di masa Silla dengan menjadi seorang ksatria. 
Dan ARMY-deul di seluruh dunia juga sudah gak sabar buat liat akting perdana dari si alien Kim Taehyung. 

Profile 
  • Drama: Hwarang/ Hwarang: The Poet Warrior Youth
  • Director: Yun Seong Sik
  • Writer: Park Eun Young
  • Network: KBS2
  • Episodes: 20
  • Release date: 19 Desember 2016
  • Runtime: Senin & Selasa. Pukul 22.00
Plot
Hwarang ini berkisah tentang kehidupan sekelompok laki-laki muda yang hidup di kerajaan pada zaman Silla.
Cast
  • Park Seo Joon
  • Go Ara
  • Minho
  • Kim Taehyung 

Kira-kira itulah rangkaian list drakor yang saya buat di bulan Desember ini. Oh iya, untuk 7 First Kisses bisa ditonton di channel Youtube Lotte, sedangkan Love for A Thousand Years bisa ditonton di channel YGEntertainment.

Sampai jumpa di list drakor tahun depan. Semoga kita semua masih diberi umur panjang dan kesehatan dari Sang Maha Kuasa untuk memasuki 2017 nanti.

Wednesday, November 30, 2016

#HecticWeek: Tolong, Kedua Anak Saya Sakit

Pagi itu saya berencana membuat jeniper untuk diminum selagi perut kosong, mengupas buah untuk sarapan, lalu mencuci piring kotor sisa semalam yang belum dicuci karena saya kecapean. Padahal saya gak biasa membiarkan piring kotor di bak cucian. Pengecualian malam sebelumnya.


Tapi ternyata takdir pagi itu berkehendak lain. Pompa air saya gak mau nyala. OH TIDAK!


Pagi saya langsung terasa suram sekali. Bangun dengan banyak rencana tapi hilang sukacita seketika saat pompa air gak bisa hidup. Padahal jam 7 harus siap-siap berangkat ke gereja.


Sial seolah menjadi teman akrab saya setiap kali suami ke luar kota. Ya gimana enggak, ini bukan kali pertama saya terjebak dengan urusan rumah tangga yang sebenarnya bukan keahlian saya. Dulu pas suami gak ada, pernah dapur saya kebanjiran karena mampet. Dramanya lagi, saat itu hujan deras dan mati lampu. Rasanya saya pengin teriak dan bilang kalo hidup gak adil tapi takut disambar petir.


Video call dengan suami juga gak berjalan lancar karena semua yang dia perintahkan di telepon gak membantu atau membuat pompa air hidup. Saya malah makin frustasi. Mana ibadah di gereja mulai jam 8, dan saya harus membawa laporan kegiatan natal.


Tadinya saya sudah mau membatalkan untuk masuk gereja, tapi selama ini jarang sekali saya gak masuk gereja. Selalu ada rasa bersalah tiap kali gak masuk gereja. Jadilah, dengan air seadanya di kamar mandi, saya berbagi air dengan dua krucil.


Tiba di gereja sudah mau khotbah dari gembala. Tapi saya gak bisa fokus karena data yang saya miliki tidak lengkap padahal sudah harus dimasukkan ke bendahara. Belum lagi pompa di rumah yang entah siapa yang bakal perbaiki nanti.


Sebelum berangkat, si kakak sudah mengeluh kepalanya hangat. Saya emang sempat memeriksa sebentar tapi fokus teralih ke pompa air dan harus buru-buru ke gereja.


Anak saya yang pertama ini tipe yang hiperaktif. Gak pernah bisa diam kecuali tidur. Dan sakit. Ketika dia merasa sakit, maunya hanya tidur-tiduran saja. Semangatnya padam seperti api yang disiram air. Di gereja saja dia hanya duduk diam, padahal biasanya dia selalu lari-larian atau bercanda dengan temannya.


Sepulang gereja si kakak memilih langsung rebahan di kamar walau saya paksa dulu untuk makan sebelum dia tidur. Saya gak mengukur suhu tubuhnya karena masih fokus sama pompa. *emak macam apa ini*


Beruntung, ada tetangga saya yang selalu membantu saat suami gak ada. Tadinya saya minta nomor tukang pompa, kali aja mereka punya. Eh ditawarin untuk diliatin dulu sama suami tetangga saya. Ternyata masalahnya ada di kabel dekat mesin yang putus. Setelah diperbaiki pompa saya langsung nyala. HALELUYA!!


Saat pompa air gak nyala saya nelangsa. Hidup tanpa air selama beberapa jam itu tersiksa sekali. Setelah jadi saya sangat bersyukur. Dan akhirnya bisa fokus ke si kakak yang sakit.


Saya tipe ibu yang kalo anak sakit dibiasakan dulu makan yang bener dan banyak minum. Saya gak akan langsung memberi obat penurun panas. Karena saya pernah baca, demam itu salah satu tanda ketika tubuh diserang penyakit. Jadi semacam mekanisme tubuh untuk melawan sakit juga. Kebetulan saya penganut Food Combining sejak 4 tahun lalu. Jadi kalo anak sakit selalu saya cekoki buah dan sayur.


Saya sempat cemas karena hari Senin anak saya mesti sekolah, apalagi sudah mau PAS. Tapi saat saya cek jadwalnya, PAS-nya dimulai hari Kamis. Ada sedikit lega karena saya berniat minta izin sehari agar si kakak istirahat dulu di rumah.


Senin tiba, demam si kakak tak kunjung reda. Malah naik turun. Dia juga mulai mengeluhkan sakit kepala. Saya belum juga ngasih obat penurun panas. Saya percaya demannya bakal turun hari itu.


Selasa juga tiba, demam si kakak masih setia. Ditambah dia sudah muntah-muntah. Saya langasung memberinya parasetamol dan mengolesi perutnya dengan minyak kayu putih. Hari itu, suami rencananya sudah mau pulang jadi saya pikir sekalian bawa si kakak ke RS buat periksa.


Tapi hidup saya selalu ada plot twist-nya, si adek juga demam. Dia mengeluh perutnya sakit. Lalu setelah itu dia bolak-balik kamar mandi. Diare.


Saya sudah mulai panik. Ngurus anak satu sakit aja melelahkan, karena saya mesti siaga siang malam. Ini dua-duanya sakit. Mana jadwal kepulangan suami tertunda. Tolong...


Beberapa hari sebelumnya, anak teman saya harus diopname karena gejala yang hampir sama. Demam, diare, malas makan. Katanya karena bakteri. Untung kedua anak saya masih lahap makannya. Saya berharap kalo kedua anak saya tidak mengalami hal yang sama. Semoga hanya demam biasa karena diare atau sakit kepala. Jangan karena bakteri, atau yang mengerikan, kena DBD.


Karena suami belum bisa pulang, saya kembali mengandalkan bantuan tetangga. Suami tetangga yang mengantar saya dan krucil berobat.


Malamnya setelah makan dan minum obat, kondisi dua krucil berangsur baikan. Demam keduanya turun walau satunya masih ngeluh sakit kepala dan satunya masih bolak-balik kamar mandi.


Hari Rabu, kondisi keduanya semakin membaik. Demam mereka sudah tidak ada. Mereka juga sudah bercanda dan tertawa. Hal yang tidak terjadi saat keduanya terbaring di kamar. Itu salah satu tanda kalo mereka berdua sudah hampir sembuh.


Dan sekarang Kamis, si kakak udah bisa masuk sekolah dan si adek juga udah sehat. Sekaligus menutup rangkaian cerita #HecticWeek saya.


Kantin sekolah, nungguin si kakak PAS.

Tuesday, November 29, 2016

Ketika Adik Kelas Masuk Akun Lambe_Turah

Siapa sih manusia yang gak suka ngegosip? Kalo ada yang gak suka, boleh kali bagi saya dikit hati malaikatnya. Biar saya bisa tobat ngegosip.

Jujur saya suka mantengin akun-akun gosip di medsos. Khususnya di Instagram. Rasanya hampir semua gosip artis sudah khatam sama saya akibat follow akun-akun gosip tersebut. Biasanya gosip di akun gosip tersebut menyebar di grup Whatsapp buat dibahas rame-rame sama teman segrup. Yawla... udahlah ngegosip dosa, disebarin pula di grup. Ahahaha...

Dulu di Twitter/Instagram heboh sama akun gosip lambe lamis. Akun itu sangat fenomenal sebelum akhirnya tutup akun karena takut dituntut salah seorang artis. Padahal bahasan gosip di lambe lamis ini hanya berupa inisial tanpa menyebutkan siapa-siapa.

Setelah lambe lamis tutup, muncul banyak akun serupa dengan menebeng ketenaran akun lambe lamis. Beberapa tujuannya ternyata hanya untuk dijual saat follower sudah banyak. Sisanya ada yang tetap bertahan dan bahkan menjadi lebih besar namanya daripada si pendahulu.

Tersebutlah lambe turah. Saya follow akun ini dari masih ribuan follower dan sekarang sudah mencapai 1,2 juta follower. Warbiyasak sekali pencapaiannya untuk sebuah akun gosip. Karena akun-akun dengan tema serupa followernya hanya berkisar puluhan ribu atau ratusanseputar

Dengan nilai follower yang gak main-main di akun lambe turah, menjadi bukti bahwa banyak sekali orang yang suka bergosip. *hore punya teman* Entah yang hanya menjadi pembaca pasif (seperti saya) atau yang aktif berkomentar di kolom komontar biar gosip yang dibahas makin sip. 

Saya lalu jadi ngebayangin, gimana kalo saya atau orang yang saya kenal tiba-tiba masuk di lambe turah? Apa perasaannya? Senang? Sedih? Atau?

Tapi karena saya bukan artis alias rakjel dan teman-teman saya juga bukan artis. Hal tersebut mustahil. Sampai beberapa hari lalu saya dikejutkan dengan salah satu postingan gosip di akun lambe turah. 

Adik kelas saya menjadi bahan perbincangan terkait suaminya yang menjadi selingkuhan seorang artis.

Sebagai penggemar gosip tentunya harus berbanding lurus dengan kemampuan stalking. Karena percuma doyan gosip trus gak ditelusuri sampai akarnya. Iya dong, penggemar gosip juga mesti pinter. Jangan menjadi warganet alias netizen yang bacanya skip-skip itu. 

Saya mengenal adik kelas saya ini sejak SMP dan SMA. Gak kenal akrab sih walau kakaknya pernah sekelas dengan saya. Saya cuma tahu nama dan teman-teman sepergaulannya. Soal pribadinya saya gak tahu pasti. Saya bahkan baru berteman dengannya di Facebook di awal tahun ini. 

Lalu saya dibuat penasaran saat dia mengunggah foto-foto pernikahannya. Di dalam folder foto di akun Facebooknya, tidak ada penampakan sang suami. Kakak dan keluarganya pun tak ada yang mengunggah foto pernikahannya. Teman-temannya banyak yang gak tahu. Sebagai seorang yang pergaulannya luas tapi saat nikah hanya sedikit sekali yang tahu. Aneh kan ya? Tapi saat itu rasa penasaran saya hanya selintas saja. Karena itu tadi, saya gak kenal akrab dengan adik kelas saya ini.

Rasa penasaran saya yang selewat malah terjawab saat foto adik kelas saya muncul di postingan akun lambe turah. Reaksi awal saya tentu saja kaget, kemudian berubah takjub karena orang yang saya kenal kok bisa masuk di lambe turah. Kemudian rasa penasaran saya menjadi besar sehingga saya mencari tahu sendiri.

Saya mencoba membuka kembali foto-foto di akun Facebook adik kelas saya. Karena saya sempat meragu, ini beneran adik kelas saya dulu atau hanya mirip. Ternyata foto di akun Facebook dan akun lambe turah mirip, dari baju pengantin, pagar ayu, sampai venue-nya.

Kalo ada yang follow akun lambe turah, mungkin tahu kisah yang saya ceritakan ini. Di mana adik kelas saya ini belum lama menikah tapi suaminya ternyata diketahui jalan bareng dengan artis yang kebanyakan sensasi tapi gak ada prestasinya.

Yang lebih dulu heboh sebenarnya pengakuan dari istri pertama laki-laki yang jadi selingkuhan artis ini. Kemudian muncul foto pernikahan adik kelas saya dengan si laki-laki. Yang mana adik kelas saya ini ternyata adalah istri kedua. Adik kelas saya bahkan sempat memaki-maki di akun si artis dan berencana membuat perhitungan setelah dia melahirkan nantinya.

Jujur saya masih gak percaya kalo adik kelas saya bisa masuk lambe turah. Bukan kenapa-napa, tapi saya gak nyangka aja dia mau jadi istri kedua dengan track record dirinya yang berasal dari keluarga baik-baik dan taat beribadah. 

Tapi saya hanya bisa mendoakan yang terbaik aja untuk adik kelas saya ini. Manusia di luarnya mungkin terlihat baik tapi banyak yang suka salah memilih.



#HecticWeek: Undangan dan Acara Keluarga

Hari Jumat biasanya saya isi dengan leha-leha. Menjelang weekend, jadwal kegiatan di rumah gak sepadat hari biasa. Tapi Jumat kemarin saya mesti nemenin tante saya, adik dari mama yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Hari Sabtu rencananya tante saya pengin mengajak para keponakannya, saya sendiri aja sih. Dan keponakan dari suaminya, om saya, untuk datang ke rumah mereka. Ada perayaan.


Suami belum masuk kerja karena masih sakit, walau sudah mendingan. Lagipula dokter menyarankan isrirahat di rumah selama 3 hari. Tapi dia memilih mengantar saya dan si adek. Lalu lanjut ke sekolah kakak. Di tempat kerja suami saya sering disebut robot, karena emang gak ada capeknya. 


Baca dulu #HecticWeek: Ketika Suami Sakit 


Saya sebenarnya masih ngantuk karena kurang tidur dari Kamis subuh saat dibangunkan suami yang sakit telinga. Apalagi malam setelah saya selesai bikin sampel undangan natal, kami harus ke gereja dan pulang jelang tengah malam.


Tapi karena saya udah janji bakal nemenin tante saya jadilah pagi sekali saya sudah sampai di rumahnya. 


Saya diminta nemenin tante saya ke Pasmod BSD untuk belanja bahan makanan, kebetulan tante saya meminta saya untuk memasak satu jenis makanan. Sisanya dibeli di restoran chinesse food. 


Enaknya jalan sama tante saya, semua-semua ditraktir. Jadinya kenyang dan bahagia. Padahal saya tipe yang gak enakan kalo dibayarin orang, tapi tante saya tipe yang gak mau ditolak. Saya akhirnya memilih menjadi tipe oportunis saat itu. Nolak rejeki kan pamalih. #eaaa


Saya diminta memasak makanan Manado untuk acara makan siang besok di rumah tante. Setelah pulang dari pasar dan diantar ke rumah, saya langsung preparation untuk bahan dan bumbunya. Untuk mengerjakan sendiri sih sebenarnya gampang, tapi ngabisin banyak waktu karena saya harus bersihin bumbu dan motongin daging sebanyak 4kg. Minta tolong suami dia gak bisa karena harus ke kantornya buat persiapan alat-alat ke Padang di Sabtu subuh.


Iya, suami belum sembuh bener, tapi karena dia yang paling sering ngerjain tugas di luar kota jadinya gak bisa nolak. Apalagi tiket udah dibeli.


Suami pulang ke rumah pukul 10 malam saat masakan saya sudah hampir selesai. Tahu aja deh kalo udah waktunya makan. Kedua anak saya sudah tidur sejak pukul delapan malam jadi saya bisa bebas bekerja. Setelah beres-beres dan cuci piring barulah saya tidur. Saya gak bisa tidur kalo ninggalin piring kotor di cucian, bakal kepikiran dan jadinya gak tidur-tidur.


Tapi saya emang gak bisa tidur juga sih, jam 3 pagi saya mesti bangunin suami buat siap-siap berangkat ke bandara. Suka sedih kalo ada acara keluarga trus suami selalu absen dan hanya saya dan anak-anak saja yang hadir.


Acara di rumah tante saya diadakan pas jam makan siang. Jam setengah 12 saya sudah tiba di rumahnya dengan masakan yang saya buat. Tak lupa dua krucil juga ikut.


Sudah lewat pukul 1 siang tapi undangan yang lain belum datang, mereka adalah keponakan om saya. Tapi untungnya satu persatu akhirnya mereka yang ditunggu datang juga.


Acara hari itu adalah acara ucapan syukur ulang tahun om saya beberapa hari sebelumnya. Tapi acara sebenarnya adalah untuk mengungkap sesuatu yang penting, di mana saya dan suami sebenarnya sudah tahu lebih dahulu dibandingkan yang lain. Karena itu adalah pembicaraan keluarga, mungkin saya gak tulis di sini apa isi pembicaraan penting itu.


Tapi mungkin bisa dikultwitkan di #MalamGibah. *loh* *langsung dimusuhin keluarga*


Jam 5 sore saya dan dua krucil akhirnya tiba di rumah. Sebenarnya saya udah capek banget, udah pengin sekali tidur untuk menebus kekurangan tidur saya selama beberapa hari. Tapi masih ada undangan natal yang harus saya selesaikan. Jadilah saya mesti lanjut begadang sampai malam demi undangan yang harus dibawa ke gereja besok paginya.


Ruang tamu, sambil jagain anak sakit. 

#HecticWeek: Ketika Suami Sakit

Karena gak ada postingan baru di blog saya, gimana kalo saya cerita tentang daily life saya selama seminggu? Yakali pada mau baca gitu dan kepo saya kesehariannya macam apa. *siape elo*


Kalo gak ada yang mau baca juga tetap saya ceritain kok. :p


Minggu kemarin saya rasa-rasanya mau teriak histeris karena kecapean. Kayaknya gak ada istirahat sama sekali. 


Dimulai dari hari Kamis saat suami membangunkan saya pukul 3.30 pagi. Dia ngeluh kalo telinganya sakit dan sejak semalam gak bisa tidur. Saya langsung bangun buat nemenin dia, karena mau bantu obatin juga gak ada obat telinga. Dan gak bisa sembarang. Saya hanya duduk di tempat tidur tanpa tahu mo ngapain. Suami hanya bisa duduk nyender ke dinding sambil meringis. Rasanya ada yang retak di dada saya ngeliat suami seperti itu.


Bagaimana tidak. Suami saya bukan tipe pengeluh kayak saya. Yang sakit dikit aja drama banget. Suami saya kalo sakit pasti anteng dan tiduran aja. Beda sama saya, yang bakal meringis-ringis gak keruan. Macam seluruh dunia mesti tahu kalo saya sakit dan mesti ikut merasakannya. *LOL*


Tapi saat itu suami meringis kecil walau gak lebay kayak saya. Artinya dia sangat kesakitan. Mau rebahan gak bisa karena telinganya sakit. Tapi dia udah ngantuk sekali. Suami minta saya buat ikat kepalanya agar mengurangi rasa sakit di kepala katanya. Entah ngaruh apa enggak tapi ya saya turutin aja.


Jam 5 saya pindah kamar karena mesti bangunin si kakak yang harus sekolah. Maklum, jemputannya datang sebelum jam 6. Jadi saya mesti siapin dia dulu.


Setelah si kakak beres, suami ngajak ke RS. Saya selalu merasa bersalah di kondisi seperti ini karena saya sama sekali gak bisa bawa motor maupun mobil. Kata suami, dia masih bisa kok nyetir. Jadilah kami bertiga dengan si adek ke RS.


Jam 6.30 nyampe di RS Medika di BSD. Saat masih di perjalanan saya nyoba ngecek situs RS tersebut buat nyari tahu jadwal dokter THT. Tertulis jam 9 baru buka praktik. Tapi karena suami udah kesakitan tetap maksa datang pagi.


Sampai di RS setelah mengisi form, tadinya suami minta dirujuk dulu ke UGD biar bisa diperiksa dokter umum. Tapi setelah di sana, dokternya nyuruh untuk langsung diperiksa dokter THT. Jadilah kami ke Poliklinik dan menunggu. Ternyata dokternya baru akan datang jam 10.30. Saat itu baru pukul 7. Duh, mesti nunggu 3,5 jam sedangkan suami udah kesakitan banget.


Kami akhirnya memilih menunggu di dalam mobil saja sampai jam 10. Lalu pindah ke kafetaria yang hanya bersebelahan dengan poliklinik. Setelah jam 11 barulah dipanggil ketemu dokternya.


Dari hasil pemeriksaan, ternyata suami saya kena radang telinga. Salah satu penyebabnya adalah karena mobilitas yang tinggi. Maklum, suami saya sering bepergian keluar kota, entah dengan kendaraan roda empat atau dengan pesawat. Karena aktivitas inilah yang membuat telinga suami saya meradang.


Setelah menerima resep dan meminumnya, suami merasa sedikit mendingan walau telinganya masih berdenging. Karena sudah hampir jam 12 kami mampir ke sekolah si kakak yang jaraknya tak jauh dari RS. Setelah menjemput si kakak kami pulang untuk istirahat sebentar, tapi saya gak bisa istirahat karena malam itu diminta contoh undangan untuk acara natal gereja. Jadilah saat suami dan krucils tidur, saya berkutat dengan layout undangan natal.


Kamar, mata udah 5 watt. 

Tuesday, November 8, 2016

6 Langkah Makeup Bagi (bukan) Pemula

Kata siapa dandan itu repot?

Kata gue. 

Tapi ternyata juga menyenangkan.

Tanggal 3 November 2016 gue mendapat kesempatan hadir di acara Complexion Makeup Workshop with Vinna Gracia. Acara yang digagas oleh blossom.shine ini diadakan di Amos Cozy Hotel.

Sebenarnya gue rada malu buat datang, habisnya gue jarang dandan. Kalo dandan ke luar rumah hanya pake bedak powder, blush on, eyeliner dan lipstik. Udah itu aja. Bahkan kalo ke pesta hanya nambah pake bb cream aja sebelum bedakan. Kalo ada MUA yang ngeliat isi tas makeup gue, dia pasti bakal ketawa 3 hari 3 malam. Besoknya semaput. 

Ya gimana dong, buat beli produk perawatan wajah aja gue gak mampu banyak-banyak padahal pengin banget ikutin 10 step skincare ala-ala Korea yang lagi booming, apalagi buat beli peralatan makeup. Mending dialokasiin buat kebutuhan anak. #orangmiskinberalibi

Pas nyampe di lokasi, para peserta workshop yang lain datang dengan peralatan makeup yang lengkap. Istilahnya, mau pergi perang dengan perlengkapan tempur yang canggih. Sedangkan gue hanya lenggang kangkung. Malunya dari rada malu naik ke malu banget. Mana cuma gue sendiri pula yang bawa anak.

BWAHAHAHAHAHA...

Pilihan lokasinya cukup menyenangkan dan intim. Ruangan meeting di Amoz Cozy Hotel yang kecil membuat suasana berasa private workshop. Ambience ruangan juga sesuai nama hotel, cozy. Peserta yang datang juga gak banyak, hanya ada 16 kursi yang disediakan. 

Acara dimulai terlebih dahulu dengan doa dari MC yang backsound-nya entah pada nyadar apa enggak adalah instrumen lagu rohani yang sering banget dinyanyiin di gereja. Tapi karena hanya instrumen jadinya terdengar romantis. 

Ada beberapa sponsor produk yang turut berpartisipasi dalam acara ini, sebut saja Wardah, Wet Brush, Lisse, dan Lamica. Di antara produk itu gue cuma familier sama Wardah doang. Wkwk.

Masing-masing sponsor ikut membuka acara dengan memperkenalkan produk masing-masing. Seperti Wardah, gue baru tahu kalo Wardah ternyata melahirkan produk perawatan untuk pria juga. Dari parfum, deodorant sampai pembersih muka.

Selanjutnya ada Wet Brush yang adalah produk perawatan rambut. Sisir mereka benar-benar fantastik. Gimana enggak, dari rambut yang kusut masai pas disisir pake sisir dari Wet Brush eh langsung lurus rapi. Sisir merangkap catokan. Ada juga produk sisir untuk anak-anak.

Setelah pengenalan produk sponsor, acara utama dimulai. Kebetulan emang Mbak Vinna datang sedikit telat. Duh, Mbak Vinna, ikrib yes.

Perkenalannya gak pake basa basi. Vinna langsung memulai tutorial complexion makeup. Kali ini dia ngajarin step by step heavy makeup, yang biasa dipake ke pesta atau photoshoot.


Ada 6 langkah yang gue catat plus tips-tipsnya. Tips-tipsnya menurut gue sangat membantu sekali bagi pemula yang sama sekali buta soal dandan. Mana gue paling lain sendiri hari itu. Yang lain datang sambil bawa makeup lengkap, trus langsung praktik. Gue malah nyatat sambil ngawasin anak yang nulis di samping. 

Step 1

Gunakan moisturizer, primer, lalu foundation.

Siapa yang step 1-nya udah begini?

Gue malah gak pernah pake moisturizer. Pakenya pas selesai hapusin makeup. Ternyata salah, ya.

Bagi yang gak tahu apa itu primer (kayak saya). Face primer merupakan alas dasar wajah sebelum penggunaan foundation. Kebanyakan face primer berwarna bening seperti serum dan bertekstur sedikit oily

Face primer memberikan perlindungan pada kulit wajah agar elemen-elemen dalam makeup gak langsung masuk ke dalam jaringan kulit. Sehingga mencegah pori-pori wajah membesar serta munculnya jerawat.

Pantes pori-pori area hidung gue makin gede. Step dandan gue salah banget. Hahaha...

Untuk makeup hari itu, foundation yang digunakan adalah liquid dan cream. Keduanya dicampur sampai menyatu dan teksturnya menjadi halus. Untuk meratakan foundation gunakan kuas yang ujungnya membulat. Bisa juga menggunakan beauty blend.

Gue juga baru tahu kalo untuk dandan kuasnya banyak sekali.

Hayo, siapa lagi yang gak tahu kalo ternyata ada banyak kuas yang fungsinya berbeda-beda dalam makeup. Ayo jangan malu ngacung bareng akika. *kuper ngajak-ngajak*


Vinna sendiri lebih nyaman menggunakan kuas atau jari daripada beauty blend. Dalam tahap ini foundation harus di-blend sampai benar-benar kering di wajah.

Ada beberapa tips foundation dari Vinna:

  • Gunakan foundation yang lebih gelap dari warna kulit wajah.

  • Foundation  digunakan sampai leher agar warna wajah merata.

  • Untuk pemakaian kuas saat foundation, harus sering ditekan pada wajah agar hasilnya bagus. 

Kata Vinna, jangan takut untuk memakai makeup tebal atau complexion heavy. Apalagi bagi mereka yang berkulit kombinasi dan berminyak. Sedangkan untuk kulit normal, tidak apa-apa menggunakan makeup tipis tapi biar stunning harus main di mata.

Step 2

Penggunaan concealer.

Concealer tidak digunakan merata pada wajah. Cukup highlight di beberapa bagian seperti mata, jidat, hidung dan dagu. Kuas yang digunakan juga lebih kecil dan berwarna terang. Penggunaan kuas juga sama seperti pada foundation, harus selalu ditekan agar pigmentasinya keluar. Tapi juga harus hati-hati sekali agar foundation-nya tidak bergerak. Karena dalam makeup kalo ada kesalahan akan susah sekali untuk diperbaiki. Bahkan bisa-bisa harus dimulai kembali dari awal.

Step 3 

Contouring.

Ada dua varian contour, cream dan powder. Untuk area tulang pipi, pelipis dan jidat, Vinna memakai cream. Sedangkan untuk jawline menggunakan powder agar hasilnya lebih halus. Contour cream juga dipilih warna yang lebih gelap dari warna kulit wajah.

Contouring ini dimaksudkan untuk membentuk wajah sesuai dengan yang kita inginkan. Ingin jidatnya keliatan kecil, hidung jadi mancung, dagu lancip, dsb.



[caption id="" align="alignnone" width="736"] Sumber: @blossom.shine IG[/caption]
Saat contouring Vinna memilih meratakan dengan jari karena lebih bisa dikontrol daripada penggunaan kuas.

Untuk contour pada area hidung agar terlihat mengecil, Vinna memulainya dari cuping hidung bukan dari batas antara hidung dan alis.

Saat memakai contour powder, Vinna memilih 3 warna. Medium, lebih terang dari kulit dan gelap. Contour powder di-set ke daerah yang sudah di-highlight pada step 2. Penggunaan contour powder agar kulit telihat licin. Pemakaiannya saat di pipi harus banyak sedangkan di hidung sedikit.

Pake warna medium untuk menyatukan antara contour dan highlight. Semua area tersebut harus kena powder. Setelah selesai, cek lagi jika masih perlu untuk menambah contouring.

Hal yang krusial dalam step ini, setelah powder tidak boleh ada pemakaian cream. Itu akan sangat merusak makeup.


Step 4

Bronzer.

Sering lihat kan ada yang dandan hasilnya terlalu putih banget kek mayat? Nah, langkah keempat ini diperlukan biar wajah yang di-makeup keliatan jadi manusiawi.

Bronzer yang dipakai adalah warna warm yang ditaruh di atas contour. Diaplikasikan secara tipis saja.

Yang perlu diingat adalah contouring itu two tones sedangkan bronzer itu one tone.

Step 5 

Blush

Siapa yang suka make blush on dari depan ke atas? Teknik Vinna ternyata dari tulang pipi kemudian ditarik ke depan.

Step 6

Highlighter.

Last but not least step adalah highlighter. Karena ini belum masuk ke makeup mata dan bibir.

Highlighter fungsinya untuk mempercantik hasil makeup pada wajah. Penggunaan highlighter membuat kulit terlihat segar, cerah dan memberi dimensi.

Highlighter yang digunakan adalah warna keempat dari warna kulit. Vinna memakai highlighter shimmer agar kulit terlihat glowing.

Kalo dibaca dari 6 langkah di atas kok kayak mudah ya? Tapi kalo diaplikasikan pasti gak semudah yang dibaca. Tapi ilmu yang gue dapat hari itu sangat membantu dan memudahkan gue yang sama sekali masih amatir dalam hal dandan.

Semoga info yang gue dapat ini juga bisa berguna bagi teman-teman yang lain.

Selamat berdandan! 

Thursday, October 27, 2016

Antara Sausage Party dan Film untuk Anak

Siapa yang udah nonton Sausage Party? *ngacung paling tinggi*



Sausage Party bercerita tentang produk-produk makanan yang hidup di dalam sebuah grocery. Mereka tebangun setiap hari dengan harapan kalo mereka akan dipilih oleh "Dewa" (manusia) dan membawa mereka ke Great Beyond yang adalah dunia penuh keajaiban. Atau seperti itulah yang mereka pikirkan.

Seth Rogen mengisi suara untuk Frank si sosis yang tujuan hidupnya selain meninggalkan toko, adalah untuk "mengisi" Brenda, sebuah roti bun yang menjadi pacarnya. Tapi impian ternyata tidak seindah bayangan Frank, ketika sebuah mustard madu secara ajaib kembali dari Great Beyond dan melaporkan kenyataan yang horor: para dewa memakan mereka. 


Petualangan dimulai dari lorong di mana Frank, Brenda, Lavash, dan Sammy Bagel Jr. mencari kebenaran tentang Great Beyond.


Kalo diliat dari sinopsisnya, Sausage Party ini film animasi petualangan yang lucu dan menghibur. True! Saya sangat menikmati plotnya yang rapi dan line-line dari karakternya yang kocak. Apalagi antara Lavash dan Sammy Bagel Jr.

Tapi...

Tentu saja ada tapinya. Film animasi ini bukan untuk anak-anak.

Kenapa?

Setelah adegan pembuka di mana para produk makanan bernyanyi, kita bakal disuguhin convo antara para sosis dan roti bun saat menunggu diambil dewa untuk dibawa ke Great Beyond.



Err... What the... 

Seketika saya langsung beralih ke kedua krucil yang kebetulan nonton bareng. Mata saya bolak-balik antara layar laptop dan mata kedua anak yang menonton dengan khidmat. Sedetik kemudian langsung panik, untung laptop gak saya banting. Dengan sedikit akal-akalan window berhasil saya tutup dan ganti dengan lain. Dua krucil sempat protes, tapi langsung mingkem saat di layar laptop terputar Storks. Keduanya kembali duduk dengan khidmat.

Iya, saya emang sempat kecele mengunduh Sausage Party karena mikir ah film animasi, pasti cocoklah buat anak-anak. Tanpa baca sinopsis, saya gak tahu kalo film ini masuk kategori R-rated.

Walau terkesan petualangan, Sausage Party ini kental dengan vulgarisme dan kata-kata kotor. Hampir setiap line dari para karakter selalu berkata-kata makian. Gak si sosis, gak si bagel, sampe si obat pencahar. Maklum, pembuatnya adalah Seth Rogen dan Evan Goldberg yang udah memproduksi Superbad, This is the End, dan Neighbors. Karenanya film ini sangat gak banget direkomendasikan untuk ditonton anak-anak. SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN! Di endingnya saja ada adegan orgy antara para produk makanan. Orgy ya bukan ogre yang di film Shrek.

Kalo mau ngajak anak nonton animasi, ada banyak pilihan di tahun 2016 ini. Sebut saja Finding Dory, Hotel Transylvania 2, Zootopia, The Wild Life, sampai Storks.

Tapi pasti banyak juga yang suka kecele kayak saya karena lupa mengecek kategori film. Mikirnya karena ini film animasi pasti bisa ditonton anak-anak, padahal hentai juga animasi, loh. Bahkan ada yang memaksakan anak menonton film yang bukan untuk usianya demi bisa kekinian nonton film yang sedang update.

Di Twitter saya sering mendapati twit orang yang mengcapture postingan orang lain yang mengeluhkan beberapa film superhero yang ternyata gak cocok untuk anak. Padahal sudah jelas kalo kategorinya 17+.

Sebagai orangtua tugas kita gak cuma mengurus dan membesarkan anak saja. Kita juga mesti pinter buat memilih tontonan apa yang baik untuk anak. Tidak semua film animasi cocok untuk segala usia apalagi anak-anak. Ada jenis-jenis film animasi yang diperuntukkan untuk dewasa, contohnya Sausage Party. Yang jadi masalah, sampai di mana orangtua bisa memilah tontonan yang baik untuk anaknya?