Sunday, May 9, 2021

Ajak Anak Bertanggung Jawab dengan Sampah sejak Dini




Ternyata menikah dan memiliki anak mengubah banyak hal dalam pribadi saya. Kebiasaan-kebiasaan yang tadinya tidak terlalu saya pikirkan—bahkan saya praktikkan sebelumnya. Berubah ketika saya mempunyai anak. 


Hal sesederhana membuang sampah ke tempatnya. Dulu sekali, di masa saya kecil saya diajarkan di rumah bahkan di sekolah mengenai hal dasar ini. Sayangnya tidak pada praktiknya. Saya kecil cenderung mempunyai kelakuan layaknya masyarakat umum yang masih suka melempar sisa plastik makanan atau botol minuman ke sembarang tempat. Pinggiran jalan atau got biasanya lokasi favorit untuk dilemparkan. Dulu ya ini. Dulu sekali.


Ketika umur saya bertambah, saya menjadi sadar dengan kelakuan buruk saya. Secara otomatis menaruh stigma ke diri sendiri, jika saya membuang sampah sembarangan artinya saya mempunyai andil membuat kota atau daerah saya kebanjiran. 


Hal ini akhirnya terbawa ketika saya mempunyai anak. Sedari mereka masih kecil sekali, sudah saya biasakan mereka untuk paham kalau sampah sendiri itu harus dibuang pada tempat sampah yang disediakan. Jangan dilempar ke jalan, ditinggal di atas meja makan di mal atau diselipin di suatu tempat yang tidak krusial agar tak ketahuan. Kalau pun belum menemukan tempat sampah, mereka akan menitipkan kepada saya sampai akhirnya bertemu dengan tong sampah. 


Hal dasar ini memang baiknya dibentuk dari rumah. Di sekolah memang diajarkan juga tapi praktiknya anak meniru kebiasaan orang tuanya. Monkey see monkey do. Risiko ketika menjadi orang tua ya itu, bertanggung jawab terhadap apa yang akan dilakukan dan diperbuat sehingga anak menirunya dengan baik. 


Selama masa pandemi ini, kesibukan anak saya selain belajar kebanyakan diisi juga dengan bermain. Lalu kemarin excited sekali ketika tahu Danone AQUA dan sekolah.mu—sebuah wadah edukasi digital, saling berkolaborasi untuk meluncurkan modul digital pembelajaran interaktif “Sampahku, Tanggung Jawabku”. Program ini sekaligus menjadi program lanjutan dari komitmen bijak berplastik AQUA pada pilar edukasi.


Di Twitter saya, salah satu akun sempat membahas tentang seberapa banyak kira-kira sampai rumah tangga yang dihasilkan per keluarga. Keluarga dia aja dalam sebulan mencapai 91kg. 91kg hanya untuk satu keluarga. Saya sendiri nggak berani ngitung sampah bulanan keluarga kami berapa. 


Program “Sampahku, Tanggung Jawabku” ini mengajak anak belajar bertanggung jawab akan lingkungan dengan cara mudah dan menarik. Program yang menyasar anak PAUD dan SD ini dikemas untuk memudahkan orang tua dan anak agar bisa mengakses serta mengunduh materi dengan cara yang mudah. Proses pembelajarannya juga disampaikan juga disesuaikan dengan kebutuhan anak PAUD dan SD.


Peluncuran modul interaktif anak ini dilakukan pada Kamis, 6 Mei 2021 dengan menghadirkan narasumber, seperti:


  • Intan Kartika, selaku Brand Director AQUA
  • Ratih Anggraeni, selaku Head of Climate and Water Stewardship Danone-Indonesia
  • Najeela Shihab, selaku founder Sekolah.mu
  • Jumeri, S.TP., M,Si, selaku perwakilan dari Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah


Program ini bisa diakses secara gratis selamanya. Sudah ribuan pengguna di program PAUD dan SD dengan ulasan yang bermanfaat. 


Buat buibuk seperti saya yang punya anak, keponakan, atau keluarga di umur 4-12 tahun, yuk ajak nyobain program dari AQUA dan Sekolah.mu ini. Mengisi pembelajaran jarak jauh sekaligus menerapkan edukasi dasar yang dengan cara menarik kepada anak di usia dini. 


Daftar link PAUD:  modul Sampahku Tanggung Jawabku 

Dan daftar link SD: modul Sampahku Tanggung Jawabku