Sunday, May 19, 2019

Puasa dan Diet Puasa



Di bulan Ramadan ini menjalani puasa adalah kewajiban. Banyak yang mempergunakan momen ini untuk mengubah gaya hidup sekaligus menurunkan berat badan. Inilah yang menjadi ide dasar dari intermittent fasting atau diet puasa yang belakangan makin ngehits di antara para penikmat gaya hidup sehat.

Gue termasuk yang belakangan mulai menjalankan intermittent fasting atau diet puasa ini walau masih belum konsisten. Tujuannya sih karena ada goal yang harus gue kejar tahun ini. Kita memang harus punya target ketika ingin mencapai sesuatu.  

Tapi apa yang membedakan puasa dan diet puasa?

1.      Definisi
Jika puasa adalah kondisi tidak makan selama 14-16 jam selama satu bulan. Maka intermittent fasting atau diet puasa adalah pola makan yang memiliki siklus antara puasa dan makan dalam periode tertentu.

2.       Boleh dan tidak boleh
Dalam berpuasa selama 14-16 jam tidak dianjurkan untuk makan dan minum. Dalam diet puasa, minuman seperti air putih, kopi, dan minuman rendah kalori masih bisa dikonsumsi selama masa puasa.

3.       Respon otak
Saat menjalankan puasa di bulan Ramadan, otak akan merespon ini bukan sebagai keterpaksaan karena dilakukan dengan perlahan, teratur dan berkelanjutan. Saat kita diet puasa, otak terkadang akan mengenali ini sebagai diet sehingga bisa berefek pada metabolisme tubuh.

4.       Terbatas
Dalam menjalankan puasa di bulan Ramadan hampir semua orang bisa melakukannya selama kuat untuk menjalani. Diet puasa tidak dianjurkan bagi orang-orang yang memiliki penyakit dengan faktor risiko, semisal diabetes atau jantung.

5.       Benefit
Berpuasa secara biasa maupun diet puasa sama-sama bisa membantu menurunkan berat badan. Dalam berpuasa atau diet puasa pembatasan asupan kalori dan konsumsi makanan sehat di jam makan dipastikan bisa menurunkan berat badan secara signifikan. 

Nah, puasa di bulan Ramadan ternyata sangat banyak manfaatnya. Tapi jika sedang tidak berpuasa, tidak ada salahnya menjalani diet puasa. Karena manfaat dari berpuasa dan diet puasa sama-sama bisa membantu menurunkan berat badan, memperbaiki metabolisme tubuh, dan bahkan mampu memperpanjang usia.      






Thursday, May 16, 2019

Aneka Resep Sarapan Praktis dengan Selai Kacang


Biasanya gue selalu sarapan buah sampai jelang makan siang. Kebiasaan sarapan buah ini sudah gue praktikkan sejak tahun 2012. Perut lebih ringan dan nggak begah ketika sarapan buah. Tapi berhubung jam ngegym biasanya selalu pagi, jadinya asupan dari buah tidak cukup menjadi pre-workout meal. Alternatif sarapan akhirnya berubah haluan. Gue butuh makro nutrisi untuk memulai hari sebelum ke gym. Ada sih yang memilih tidak sarapan sebelum ngegym sementara gue nggak bisa. Harus sarapan dulu. Ini buat nambah energi karena gue selalu angkat beban.

Hasil browsing dan lirik-lirik resep dari para fitness babe di Instagram, akhirnya gue bisa bikin variasi sarapan yang beda-beda tiap hari sekaligus menjadi pre-workout meal gue.

Dalam pengaplikasian sarapan, gue selalu menaruh selai kacang 1-2 sendok.



Biar apa?

Ya biar enak.

Etapi, selai kacangnya bikin sendiri bukan yang dijual di supermarket.

Kenapa?

Karena kacang tanah ini sehat asal tidak ada tambahan seperti gula, garam, minyak sayur atau lemak trans seperti produk olahan selai kacang pada umumnya.

Jangan gampang percaya kalau kacang tanah bisa memicu penyakit ini lah itu lah. Semua tergantung dari cara mengolah makanan tersebut. Kalau kacang tanahnya digoreng pakai minyak yang banyak tentu saja menjadi tidak sehat. Gue selalu membeli kacang kupas lalu gue sangrai di wajan kemudian baru gue blender sampai menjadi selai kacang.

Nah, ada 3 resep favorit gue untuk sarapan atau sebagai pre-workout meal:

1. Pancake Oat Pisang dan Apel


Pancake oat ini bahannya mudah dan lebih sehat; 3 scoop instan oat, setengah botol susu kedelai ikutan kecil, 1 butir telur, dan 2 scoop tepung pisang. Blender semua bahan lalu masak.
Setelah selesai tambahkan potongan buah pisang,apel dan selai kacang.

2. Yoghurt Buah


2 sendok plain yoghurt, potongan buah naga, strawberry, blueberry dan selai kacang.

3. Roti Gandum Buah


Panggang roti gandum, olesi selai kacang, tambahkan potongan pisang dan blueberry.

Semua makanan di atas praktis dan mudah. Rata-rata berkisar 400-500 kalori dan kenyang tahan lama. Rasanya? Ya nggak usah ditanya, enak banget. Kata siapa kalau yang demen ngegym dan diet makanannya harus tidak enak.        

Wednesday, May 15, 2019

Jenis-jenis Puasa yang Bisa Menurunkan Berat Badan


Di beberapa agama puasa itu suatu keharusan, di agama gue sih bukan paksaan. Kalau memang mau berpuasa ya monggo. Hanya saja gue jarang sekali mempraktikkannya. Kalau dihitung baru 3-4x gue berpuasa seumur hidup ini. Itu pun dengan ogah-ogahan. Salut dengan teman-teman muslim yang bisa tahan berpuasa selama satu bulan. Gue sehari aja bisa cranky karena tipikal yang tidak terbiasa menahan lapar.

Belakangan sejak rajin nge-gym, gue jadi banyak belajar bagaimana agar rutinitas atau gaya hidup gue ini punya dampak yang lebih baik bagi tubuh. Mengubah gaya hidup tidak semudah hanya mengubah pola makan semata. Mengubah gaya hidup berarti belajar lagi dari nol. Ini yang kurang dipahami banyak orang. Knowledge before diet. Harus punya ilmu sebelum melakukan diet. Ya wajar, pengertian diet sendiri sudah salah kaprah sejak lama.

Dalam proses belajar agar memiliki tubuh ideal ini salah satu proses yang gue dapat adalah berpuasa atau intermittent fasting. Sejak beberapa waktu ini dalam intermittent fasting ini sedang ngehits. Salah satu penyebabnya tentu saja karena bisa menurunkan berat badan, meningkatkan metabolisme tubuh dan bahkan bisa memperpanjang umur.

Nggak heran sih dengan semua persepsi tentang intermittent fasting ini, beneran bisa efektif kalau emang diterapkan dengan baik. Hanya perlu digarisbawahi, tidak semua cocok bagi tiap individu. Misalnya cocok di gue ya belum tentu cocok di suami gue. Pun dengan segala macam klaim diet masa kini yang makin beragam. Tidak semua orang bisa mengikutinya. Pada hakikatnya sih, masing-masing harus mengenal dahulu tubuhnya sendiri. Kalau asal ikut-ikutan saja ya bisa bahaya bagi kesehatan sendiri.


Dari hasil baca-baca, ada 6 cara populer untuk melakukan intermittent fasting

1. Metode 16/8

Metode 16/8 ini adalah metode berpuasa selama 14-16 jam sehari dengan membatasi “jam makan” harian menjadi 8-10 jam. Di dalam “jam makan” kita bisa makan 2-3 jenis makanan secara bertahap.

Metode ini sih dikenal dengan sebutan Leangains Protocol yang dipopulerkan oleh salah seorang ahli fitness bernama Martin Berkhan.

Jadi metode ini sesederhana; selesai makan malam ya udah nggak boleh makan lagi sampai besok siang. Misalnya, kalau selesai makan malam pukul 8 malam jadi kita baru bisa makan jam 12 siang keesokan harinya. Yang harus skip sarapan cem gue pasti berat sih. Karena gue terbiasa sarapan untuk memulai hari kalau nggak bisa uring-uringan.

Karena ini metodenya puasa makanan, tentu saja minum masih dianjurkan. Di antara jam puasa tersebut kita masih bisa minum air atau kopi untuk mengurangi level lapar. Tapi kalau sudah terbiasa puasa pasti nggak masalah.

Terus ya, kalau sudah berbuka jangan berbuka langsung dengan junk food atau makanan manis. Ini sama aja boong ceritanya. Kalau memang niatnya mau memperbaiki metabolisme dan goal pengin menurunkan berat badan, nutrisi yang diasup harus makanan sehat.

2. Metode 5:2 Diet

Metode ini artinya, makan normal selama 5 hari lalu dalam 2 hari mengurangi asupan kalori harian sebanyak 500-600 kalori/hari. Diet ini disebut Fast Diet dan dipopulerkan oleh jurnalis Inggris dan seorang dokter bernama Michael Mosley. Pemotongan 500 kalori ini berlaku untuk perempuan dan 600 kalori untuk laki-laki.

Belum ada studi teruji sih mengenai metode diet ini, tapi layak dicoba.

3. Metode Puasa Seharian Penuh

Metode ini dipopulerkan oleh ahli fitness Brad Pilon dan cukup populer beberapa tahun ini.

Jadi kita dianjurkan untuk puasa selama 24 jam dalam satu hari dimulai dari makan malam dan berbuka pada makan malam di keesokan harinya. Atau kalau mau pilih puasanya dimulai setelah sarapan atau makan siang juga tidak masalah asal dilakukan selama 24 jam. Hasilnya tetap akan sama.

Sama seperti metode di 16/8; air, kopi, dan minuman tanpa kalori diperkenankan asal jangan makanan padat.

Yang jadi masalah, tidak semua orang bisa melakukan puasa selama 24 jam. Mungkin bisa dicoba layaknya puasa yang sering dilakukan umat muslim terlebih dahulu, dimulai dari sahur lalu selesai pada jam berbuka. Kalau sudah terbiasa baru ditingkatkan menjadi 24 jam. Ini cukup dilakukan seminggu sekali saja.  

4. Metode Hari Pengganti

Metode ini memiliki banyak versi, salah satunya dengan hanya mengonsumsi kalori harian sebesar 500 kalori saja saat sedang berpuasa. Tentu saja ini tidak dianjurkan bagi pemula karena akan merasa sangat kelaparan sehingga tidak nyaman bagi tubuh sendiri dan tidak cocok dilakukan dalam jangka waktu yang panjang.

5. Metode Warrior Diet

Kalau metode ini kabarnya dipopulerkan oleh ahli fitness bernama Ori Hofmekler.

Warrior diet menganjurkan untuk makan kecil semisal buah atau sayur sepanjang siang, kemudian makan besar saat makan malam. Jadi semacam “fast” di siang hari dan “feast” di malam hari dengan durasi “jam makan” hanya 4 jam.

Warrior diet ini rada mirip sama paleo diet sih, yang membiasakan untuk makan whole foods.

6. Metode Secara Spontan Hindari Makan

Nah loh, metode macam apa ini?

Dasarnya sih kita nggak perlu repot ngikutin semua pola atau metode berpuasa yang ada. Metode ini secara simpel bilang, kalau lagi nggak kepengin makan atau malas buat masak ya udah nggak usah makan. Jadi ketika kita lagi malas buat sarapan, ya udah nanti aja makan saat makan siang atau malam. Atau kalau lagi bepergian trus susah nemu makanan yang cocok, ya udah puasa aja dulu.

Tapi pastikan semua makanan yang diasup selama intermittent fasting ini makanan sehat. Percuma bikin goal mau turun berat badan tapi pas berbuka eh makannya gorengan, kolak, nasi padang, atau indomie. Pecuma, Munaroh. Yatapi pengertian makanan sehat ini juga beragam sih, nggak semua yang terlihat atau digadang sehat itu sehat. Ngerti nggak sih? Mungkin gue bahas lain kali.

Karena sekarang lagi bulan puasa, ini saat yang tepat buat praktik dan mengejar target buat bisa singset di 2019.

Sebagai motivasi kalian...

Gue pernah menggendats di 2017 ke 62kg lalu rutin ngegym sejak 2018 sampai sekarang.


Selamat puasa ya teman-teman.
  

BERTEMU AVENGERS DI MRT



Euforia Avengers: End Game ini ya, bahkan sampai minggu ketiga antusiasme yang mau nonton nggak berkurang. Gue termasuk yang nonton sekali aja sudah cukup, nggak perlu nonton kali kedua atau ketiga walau suka banget dengan film atau ceritanya. Sebagai Marvel fangirl sejak zaman X-Men nongol di bioskop tahun  2000, tentu saja gue sudah ngikutin semua film Marvel tanpa satu pun terlewat. Cuma ya itu, males aja dibahas karena gue bukan penggemar yang suka ngasih review. Yang penting gue menikmati filmnya, cukup sudah.

Energi yang sama gue lihat ketika MRT launching. Antusiasme masyarakat yang mau nyobain luar biasa sekali. Gue butuh sekitar beberapa minggu berlalu baru berniat nyobain. Itu pun secara dadakan karena kebetulan suami pas lagi ada di rumah.


Tadinya di hari Sabtu tanggal 4 Mei itu kami nggak ada rencana ke mana-mana, tapi ketika gue bilang gimana kalau kita cobain naik MRT eh suami langsung iyain. Buru-buru pada mandi semuanya buat siap-siap. Biasanya yang tanpa perencanaan emang langsung terlaksana ketimbang direncanakan dari jauh hari.

Kami memarkir kendaraan di Stasiun Cisauk, kemudian naik KRL ke arah Kebayoran. Dari sana naik ojol menuju Stasiun Lebak Bulus. Padahal stasiun MRT terdekat dari Kebayoran itu Blok A, tapi kami memilih ke Lebak Bulus. Karena berempat; gue, suami, dan dua anak saat naik ojol terpisah. Suami sama si adek, gue sama si kakak. Karena pergi secara terpisah gue dan suami sedikit miskomunikasi soal lokasi menunggu, jadi ketemunya langsung di dekat loket MRT.  

Di sinilah gue ketemu para Avengers

...dalam bentuk iklan gede di salah satu sudut stasiun. Ehe he he. #KrikKrik #DuaJangkrikSalingNungging



Well, gue nggak perlu ceritain proses pembelian tiket dan sebagainya karena kurang lebih sudah pada tahu kan ya? Yekan? Sama aja kayak mau naik KRL, beli tiket di loket kalau nggak ada kartu e-money/flazz/dsb. Yang jadi pembeda mungkin bagian naik ke MRT-nya. Ketika pintu otomatis terbuka penumpang MRT lebih patuh dan nggak barbar kek penumpang KRL apalagi cem gerbong perempuan. Tidak begitu, Maemunah. Penumpang MRT dengan teratur berdiri di sisi kiri atau kanan membiarkan penumpang dari dalam turun dulu baru pada masuk. At least itu yang gue alami kemarin.


First impression gue, nyaman dan dingin banget. Penumpang yang naik rute Lebak Bulus ke Bundaran HI kemarin itu cukup ramai tapi AC-nya dingin sekali. Biasanya kan kalau padat udara ikut engap, kemarin itu enggak. Perjalanan dari Lebak Bulus ke Bundaran HI juga sesuai estimasi waktu yang ada, 30 menit.


Setibanya di stasiun akhir gue agak sedikit bingung waktu mau balikin kartu MRT-nya. Gue udah antri cukup lama di salah satu loket tahunya antrian pengembalian kartu itu ada baris sendiri. Dari stasiun kami jalan kaki ke GI buat nyari makan trus balik pulang lewat Stasiun Tanahabang.

Pengalaman pertama naik MRT bagi gue cukup berkesan sembari gue mengingat-ingat lokasi mana aja paling dekat dan gampang kalau-kalau nanti gue ada undangan event dekat stasiun MRT.
    


Saturday, April 6, 2019

Buibuk dan Harga Teman

Ketika lu berkarya dan menjadikan karya lu komersil, berat rasanya jika karya yang lu buat itu kemudian dihargai dengan harga teman. Konsep harga teman sendiri masih terdengar nggak enak di telinga, apalagi bagi gue yang sudah menulis buku dan menerbitkannya. Embel-embel pertemanan dibawa-bawa agar teman itu sendiri bisa membeli dengan harga murah. Padahal sebagai teman harusnya mendukung karya teman bukan dengan meminta percuma atau diskonan.

Kalau karya memang sedikit rancu jika membahas tentang harga teman, lain soal jika ini berhubungan dengan belanja. Siapa sih yang tidak mau belanja di mall atau supermarket dengan harga murah meriah banget. Apalagi buibuk.



Kabarnya tipe buibuk yang demen belanja itu ada tiga:  
1.      Sadis
Buibuk yang suka diskon. Apalagi kalau diskonannya gede.

2.      Julit
Buibuk yang juara pelitnya.  Diirit-irit banget apa yang mau dikeluarin.

3.      Baper
Banyak perhitungan. Apa-apa harus diperhitungkan dulu sebelum mulai belanja.

Duh, agak ribet ya. Gue kayaknya belum masuk tiga kategori tersebut. Eh, sadis deh kayaknya walau nggak pernah sadis-sadis banget, karena kalau sudah suka sama barang pasti tetap dibeli seberapa pun harganya.

Bagi buibuk yang masuk di tiga kategori di atas, cocok nih kalau belanja ke Giant Indonesia. Di sana ada #HargaTemanGiant. Di mana produk dijual dengan harga di bawah harga normal bahkan bisa sampai 32%. Produk-produk yang termasuk di dalamnya bahkan bisa lebih murah dari harga promosi. Ini berlaku bukan hanya 1-2 produk saja tapi ada ratusan produk. Keblinger pasti kalau belanja di sana.


Apalagi kemarin saat #PeluncuranHargaTeman ada semacam shopping race. 20 peserta dimodali dengan voucher belanja sebesar Rp100.000. Mungkin sudah tahu apalagi buibuk, nominal segitu bisa dapat berapa sih kalau belanja di supermarket. Tapi ketika peserta diharuskan belanja dengan mencari produk yang ada #HargaTemanGiant, produk yang didapat itu variatif. Bisa 7-10 produk yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari selama seminggu atau lebih. Itu mah termasuk superhemat banget. 

#HargaTemanGiant pertama kali dimulai pada Agustus tahun 2018. Namun berbeda dengan periode sebelumnya, kali ini para pelanggan yang mau berbelanja bisa mengecek produk yang termasuk di #HargaTemanGiant melalui e-mailer. Caranya adalah dengan scan QR code yang tertera di mailer Giant.


Produk-produk yang ditawarkan pada bulan Maret 2019 kali ini juga mengalami penurunan harga yang signifikan. Selisih harga normal ke #HargaTemanGiant bahkan bisa sampai 6rb. Goks. Itu banyak, loh.  


Nah, mumpung sekarang masih awal bulan. Isi dompet dan ATM masih banyak, mending mulai nyetok kebutuhan isi rumah. Mana sebentar lagi sudah mau bulan Ramadan, gpp mulai nyetok dari sekarang. Ya kan hitung-hitung mumpung di Giant lagi ada #HargaTemanGiant. Serbu!



  

Tuesday, March 19, 2019

Orphan Food yang Tidak Terkover JKN


Pada suatu hari tertentu saat dua krucil berantem gue akan memisahkan mereka berdua. Tapi namanya anak berantem pasti nggak puas, mereka akan kembali berdekatan hanya untuk berantem lagi. Apalagi anak gue yang kecil yang nggak mau kalah argumen. Sama kayak mamanya. Hehe. Akhirnya gue akan menjewer kuping keduanya biar bisa diam. Yamaap, sudah gue kasih warning sampai 3x tapi tidak direspon jadinya harus dijewer biar dengar.

Biar tidak diprotes, gue jewer sebatas pegang di kuping aja tanpa membuat rasa sakit.  

Kadang hanya karena hal kecil seperti ini gue bisa emosi ke anak. Jadi ikutan marah-marah padahal masalahnya bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik. Kadang ketika mood gue lagi baik, mereka berdua mau baikan hanya dengan bicara saja nggak pakai jewer. Maaf, memang sebagai ortu gue masih banyak kurangnya. Jadi saat gue nggak bisa ajak mereka ngobrol, malah ngejewer. Ya begitulah gue, dengan dua anak sehat dan normal yang Tuhan titipin ke gue masih nggak bisa terkontrol emosi gue.

Lalu, pada suatu kesempatan gue harus hadir di acara bertema kesehatan dalam rangka Hari Penyakit Langka Sedunia. Bekerja sama antara Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia dengan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan Human Genetic Research Cluster IMERI FK Universitas Indonesia. Sudah ramai saat gue datang. Di salah satu sudut ruangan, seorang ibu muda sedang mengatur letak anaknya yang ada di dalam stroller. Ibu muda itu memakai masker, mungkin untuk alasan higienis. Dia memperlakukan anaknya dengan lembut dan telaten. Dalam sekilas saja gue tahu ibu muda itu salah satu bintang tamu yang diundang di acara hari itu. Gue tahu karena memang cukup update soal dunia selebritas. Dulu ibu muda ini sangat terkenal dan sering banget wara wiri di layar kaca mau pun layar lebar. Lalu pemberitaan tentang ibu muda ini berangsur meredup seiring dirinya menikah dan kini mempunyai empat orang anak.

joanna alexandra

dok: refika z. artari
Gue yang menyaksikan itu hanya bisa terpekur. Sedikit malu kalau ingat perlakuan gue ke anak sendiri. Di samping gue ada dua teman blogger lainnya yang ikut terkesima melihat pemandangan yang ada di depan mata kami. Tentu saja kami salut karena ibu muda itu bisa memperlihatkan sisi keibuannya yang kuat dan tangguh. Tidak semua bisa dipercayakan menjadi orang tua yang baik dan sayang kepada anaknya. Tidak sedikit yang menyerah ketika diberi anak yang sehat tapi disia-siakan. Sedangkan ibu muda ini diberikan kesempatan merawat anak dengan penyakit langka, semua dilakukannya dengan cinta. Karena jika gue yang berada di posisi itu pasti tidak kuat. Pasti.

Anak kedua gue pernah 2x diopname di RS selama seminggu akibat flek di paru-parunya.  Itu saja sudah membuat gue merasa bersalah dan menjadi ibu paling tidak berguna di dunia. Merawat anak sakit selama seminggu hampir membuat gue menyerah. Karena semua gue urusin sendiri tanpa ada bantuan orang lain. Mengurus satu anak sehat dan satunya lagi sakit itu tidak mudah. Berat. Menguras emosi dan energi.

Kebayang nggak perjuangan si ibu muda? Dia memiliki empat anak dan anak bungsunya didiagnosis memiliki penyakit langka.

Hidup terkadang mengajarkan kita untuk banyak banyak bersyukur dan tidak membanding bandingkan. Karena setiap manusia punya masalah dengan porsi masing-masing.

Selain ibu muda itu, hadir pula para orang tua lainnya. Datang membawa buah hati yang mereka kasihi yang juga memiliki penyakit langka. Datang dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang.  

Saat ini kalau kalian belum tahu, ada sekitar 6000-8000 jenis penyakit langka yang telah dikenali dan dihadapi oleh 350 juta orang di dunia. Sebanyak 75% dari pasien langka adalah anak-anak. Bahkan 30% pasien merupakan anak-anak di bawah usia 5 tahun dan hanya sekitar 5% pasien yang mendapatkan penanganan yang memadai.

5% itu sedikit sekali. Mereka yang datang membawa anak mereka hari itu termasuk di 5% itu. Karena sudah bisa mendapatkan penanganan. Sudah bisa tahu anak mereka sebenarnya menderita penyakit apa lewat screening hasil lab.

80% penyakit langka disebabkan karena kelainan genetik. Itu bisa diketahui jika dilakukan newborn screening. Sedangkan di Indonesia bayi bayi baru lahir banyak yang tidak dilakukan screening. Sehingga kebanyakan baru bisa tahu anaknya memiliki penyakit ketika semua sudah terlambat.

Ya di Indonesia saja dokter anak ahli yang concern dengan masalah penyakit langka ini baru 22 orang. Tersebar di seluruh Indonesia, yang sayangnya hanya ada dari Sumatera sampai Makassar. Indonesia bagian Timur semisal Papua belum ada. Mereka pun harus tetap berkoordinasi di Jakarta untuk penanganan kasus yang serius.  

Salah satu ibu yang datang membawa anaknya bercerita kalau anaknya kebetulan lahir di Jepang. Dengan teknologi dan perawatan di RS Tokyo saat itu, dalam 12 hari usai kelahiran sudah diagnosis menderita  phenylketonuria PKU. Kondisi di mana tubuh tidak bisa mengurai asam amino fenilalanin, yaitu salah satu bahan baku untuk pembentukan protein tubuh. Karena sudah ketahuan sejak awal sehingga sedikitnya memudahkan orang tua untuk bisa mengurus anaknya. Tapi tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena anak mereka harus diet protein dengan mengonsumsi makanan-makanan impor.

ibu dengan anak yang menderita PKU
Anak tersebut lahir dan tumbuh dengan baik, bahkan berprestasi. Pemenuhan nutrisi pada masa krusial tumbuh kembangnya, yaitu 1000 HPK, membantu anak tumbuh dan berkembang dengan baik dan terhindar dari kondisi malnutrisi , termasuk stunting.

Pemenuhan nutrisi sesuai kebutuhan adalah fondasi awal untuk pertumbuhan yang baik. Baik bagi anak yang sehat mau pun yang memiliki penyakit langka sekali pun.

“Sama seperti anak lainnya, anak dengan penyakit langka juga membutuhkan pemenuhan nutrisi sesuai kebutuhan masing-masing. Walau memiliki penyakit langka, bukan berarti kondisi kognitif anak dinomorduakan,” kata DR. Dr. Damayanti Rusli Syarif, SpA(K).  

Kebutuhan orphan food untuk pemenuhan nutrisi anak-anak berpenyakit langka untuk sehari-harinya sayangnya sampai saat ini belum ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) karena tidak tercatat dalam Formularium Nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Padahal spesifikasi, peruntukkan, dan distribusinya sudah diatur dalam peraturan BPOM.

Dari beberapa yang hadir, ada yang bapaknya hanya bekerja sebagai driver ojol. Sedangkan pemenuhan kebutuhan makanan anaknya yang menderita MPS tingkat 2 pengeluaran biaya setahun bisa mencapai milyaran rupiah.BPJS tidak bisa menanggung itu semua. Kebayang bagaimana perjuangan dari orang tua anak tersebut? Mereka ingin anaknya walau sakit langka sekali pun, bisa tetap tumbuh dengan sehat. Tidak peduli harus jungkir balik cari biaya.

Pemerintah ngapain aja sih?

Rasanya pengin ngomel begitu mendengar perjuangan para dokter anak agar orphan food dimasukkan dalam JKN sudah sejak bertahun-tahun lalu tapi tidak ada respon positif dari pemerintah.  
Padahal harapan semua pihak, termasuk dokter Damayanti, anak-anak yang berpenyakit langka diharapkan bisa hidup bukan sekadar hidup saja tapi ada manfaatnya bukan untuk orang lain tapi bagi dirinya sendiri.
         


Thursday, March 14, 2019

Smart Investing Sejak Dini

Sejujurnya kalau ditanya soal bagaimana memanage keuangan, gue angkat tangan. Masih berantakan blas! Tapi yang selalu gue utamakan setiap kali gajian adalah langsung membayar semua urusan pembayaran penting terlebih dahulu. Semisal; uang sekolah anak, jemputan, tagihan ini itu, dan kebutuhan bulanan.


Benar benar masih harus menata ulang karena kehidupan anak anak gue makin lama makin butuh banyak biaya. Mana lagi uang sekolah tiap tahun naik dan setiap kali naik kelas selalu ada anggaran uang daftar ulang yang tidak sedikit. 

Kalau hanya mengandalkan gaji suami dan hasil kegiatan freelance gue, ya nggak cukup. Mesti pintar pintar banget menyiasati keuangan keluarga bukan hanya untuk jangka pendek saja. 

Gue benar benar belum punya catatan arus kas bulanan. Padahal gue selalu menyimpan struk atau nota belanja. Kenapa gue nggak mau hitung hitungan? Takut banget, karena kadang banyak biaya keluar hanya karena lapar mata. Ngeri mah kalau dihitung. 

Puji Tuhan untuk kebutuhan urgensi atau emergency masih ada buat dicover. Bersyukur juga kalau misalnya sakit masih ada tanggungan asuransi kantor suami dan BPJS. 

Ya tapi itu bukan hal yang harus bikin gue terlena. Makin ke sini gue makin yakin harus punya asuransi lain yang bisa menjadi jaminan juga bukan hanya untuk saat ini tapi bisa sampai masa akan datang. Gue kan nggak tahu hidup gue atau keluarga ke depan bakal aman aman aja. 

Nah, kalian yang masih muda harus bisa smart investing. Bentuk smart investing ini macam-macam. Misal kalian sebagai beauty blogger: investasi kalian yang pasti adalah wajah dan peralatan make up. Gue tahu harga make up khususnya high end itu sekali beli bisa seharga uang makan bulanan bagi sebagian orang. Itu bisa menjadi investasi ketika menjadi seorang MUA, yekan.

Atau misalnya kalian adalah travel blogger, yang kalian investasikan adalah dokumentasi dan foto yang bagus dalam blog atau pun di Instagram. Tentu saja awalnya pakai dana sendiri. Beli kamera, menulis konten menarik, jalan jalan ke tempat tempat sesuai budget, aktif di komunitas. Lama-lama mulai dilirik pihak pihak berkepentingan. Apa yang diinvestasikan nantinya berbuah hasil. 

Nah, apa saja yang harus diperhatikan dalam smart investing ini?




Harus punya tujuan 
Kira kira kita berinvestasi itu untuk apa? Sekolah anak? Rumah? Mobil? Menikah? 

Ada jangka waktunya
Misal mau jangka panjang atau jangka pendek. Jadi sudah bisa mempersiapkan dana yang disisipkan dari penghasilan setiap bulannya. 

Profil risiko
Mempersiapkan diri kalau kalau misal terjadi hal yang tidak diinginkan.

Alokasi investasi
Dananya bisa diputar dalam bentuk yang aman dan menguntungkan.

Tinjauan periodik
Selalu ditinjau secara berkala agar tahu benar investasinya optimal apa tidak.

Btw, gue punya kabar menarik. Kalian yang punya minat dan hobi menulis boleh lah ikutan asah ketrampilan menulis di lomba blog #SmartMoneyMenginspirasi. Bisa berbagi tips bagaimana cara berinvestasi, bisnis, tabungan, aasuransi atau inspirasi yang hadiahnya uang tunai senilai 6 juta rupiah. Ih, mupeng nggak tuh? Kuy ke sini Form lomba Blog Smart Money Menginspirasi 











Wednesday, March 13, 2019

Seharusnya Saya Menjadi Peserta Apple Academy

Bulan Mei 2018, dengan modal nekat gue pergi ke Binus University yang ada di Alam Sutera. Hari itu ceritanya mau ikut sebuah ujian. 


Impresi pertama adalah gue sangat gugup. Terakhir kali injak kampus itu belasan tahun lalu. Trus kali ini gue harus masuk ke kampus besar yang lagi ramai ramainya sama mahasiswa karena masih hari perkuliahan. 

Untung kepedean di masa lampau masih nyisa walau dikit. Hasil tanya tanya, gue harus ikut ujian di lantai atas (lupa lantai berapa). Pergilah gue ke sana masih dengan perasaan gugup.

Bau pernis kuat banget saat gue keluar lift di lantai yang dituju. Maklum gedung ini memang belum lama dibangun dan dibuka. Dulu sebelum kampus ini ada hanyalah hamparan lahan kosong di depan sebuah mall raksasa yang baru selesai dibangun di Alam Sutera. 

Sudah banyak peserta di dalam kelas, kebanyakan yang gue tangkap mata adalah laki laki. Rata rata masih muda. Seketika gue merasa tua sendirian. Ya ngapain gitu buibuk anak 2 masuk ke kelas ujian yekan? 

Peserta ujian duduk berdasar nomor ujian yang didapat saat registrasi ulang sebelum masuk kelas. Di depan masing masing peserta sudah ada iMac segede gaban yang bisa log in dengan nomor registrasi masing masing peserta. 

Ah iya, sudah panjang panjang tapi gue belum cerita mau ikut ujian apa. 

Ceritanya gue ikut ujian seleksi Apple Developer Academy. Info ini gue dapat secara tidak sengaja dari selebaran info yang beredar di WhatsApp grup. Dengan modal, gue dulu pernah kuliah ambil jurusan Informatika nggak ada salahnya gue coba ikutan. Kali hoki.

Oke, balik lagi ke momen saat gue duduk dan siap siap menerima soal ujian. Hari itu rencananya ujian berlangsung 2 jam. Ada 4 materi yang masing masing mendapat jatah per tiga puluh menit. Karena soal sudah ada di iMac maka secara otomatis semua sudah diatur. Tiap tiga puluh menit materi akan berubah dengan sendirinya. Tidak ada kesempatan saling nyontek karena soal yang dimunculkan semuanya random. 

Gue sempat nengok ke layar peserta di samping gue. Seorang mahasiswa berusia awal 20-an yang tinggal di Serpong (ini hasil kenalan basa basi). Soal di layar kami berbeda. 

Akhirnya dua jam berlalu dengan gue sama sekali nggak yakin, gue sudah ngisi benar apa salah. Yasudahlah, kalau nggak lolos pun tidak mengapa pikir gue. 

Ya benar sih, emang nggak lolos. Kayaknya karena kendala gue nggak sertain sertifikat penunjang, dsb. Atau emang jawaban gue semuanya ngaco. Haha. 

Cuma yang agak bikin gemes adalah, gue sempat dapat telepon dari nomor Binus tapi nggak sempat gue angkat. Ya kan kali mau ngabarin peluang gue masuk. Kali.

Oh iya, alasan gue ikut sebenarnya bukan hanya karena dasar gue pernah kuliah ambil jurusan Informatika. Tapi benefit yang bakal didapat ketika terpilih menjadi peserta Apple Developer Academy. Gimana enggak, mereka yang lolos bakal mendapat perkuliahan gratis selama 9 bulan dari Apple kerjasama dengan Binus dan berkuliah di gedung Green Office milik Sinarmas yang ada di BSD. Setiap peserta akan mendapat iPhone X dan Macbook serta setiap bulan mendapat uang tunjangan juga. Yalord, siapa yang nggak mau begini coba? Bukan karena benda yang didapat ya, tapi ilmu gratis selama 9 bulan. 

Sayang gue belum ada jodoh. Sedih. 

Dan 9 bulan itu akhirnya berlalu. 12 Maret 2019 kemarin gue diundang hadir mengikuti acara Graduation Day dari para peserta Apple Developer Academy. 

dok: harrismaul
Ada sekitar 200 orang peserta yang terpilih dari 900-an orang yang antusias mengikuti ujian di Cohort 1 di tahun lalu. Yang ikut dari berbagai latar belakang dan usia dan juga daerah. Gue sempat dengar di kelas ujian gue waktu itu ada yang dari Solo dan dari Manado. Dari kelas lain juga banyak yang dari luar kota.

dok: dede ariyanto
Hadir di acara inagurasi hari itu undangannya nggak main main. Sebelum gue sampai, Menkominfo, Menperin, Dubes USA untuk Indonesia, Presiden Binus dan Apple sudah ada duluan. 

Acaranya juga on time. Diundang jam 09.30 ya jam segitu langsung dimulai. 

dok: dede ariyanto
Usut punya usut, saat Menkominfo, Pak Rudiantara didapuk maju ke depan sebagai pembicara pertama. Ide Apple bisa masuk ke Indonesia asalnya dari beliau. Menurut beliau, Indonesia sampai tahun 2030 sedikitnya membutuhkan 9 juta talent dari teknisi, engineer, dsb. Nah, kenapa peluang ini nggak dipergunakan oleh Apple? Apple bisa berkontribusi banyak dan menstrukurisasi lebih baik. Apalagi pasar Apple di Indonesia lumayan juga peminatnya. 

Pak Rudiantara juga meminta teman teman dari Microsoft, Google, dsb, untuk mau datang bawa kurikulum ke Indonesia sekaligus ngajarin. Karena potensi digital talent itu ada di Indonesia. 

Dari Binus, Stephen Wahyudi Santoso mengatakan, Binus berterimakasih ke Apple karena mau fokus dalam membangun digital. Pihak Binus terkesan karena Apple mampu menciptakan lingkungan dan pelajaran bagus. Apple mampu memotivasi siswa membuat 30 aplikasi, 5 di antaranya sudah bisa diunduh dari AppStore.

Hadir juga perwakilan dari Apple, Lisa Jackson selaku Vice President of Environment Policy and Society of Apple. Beliau sangat bangga karena ternyata potensi dari para peserta Apple Academy sangat baik. 

Yang jadi pembicara lain juga ada Menperin Airlangga Hartarto dan salah satu special guest yang kayaknya paling dinanti hari itu, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani. Mereka berdua memberikan dukungan penuh dan berharap Indonesia membangun kualitas SDM. Apalagi Presiden Joko Widodo menekankan bahwa tahun 2019 menjadi agenda nasional dalam membangun kualitas SDM, setelah fokus membangun infrastrukur.

dok: dede ariyanto
Selesai acara inagurasi, rupanya para peserta Cohort 2 besok harinya sudah siap memulai pelatihan baru lagi selama 9 bulan. Yang mendaftar untuk Cohort 2 membludak menjadi 3x lipat dari tahun sebelumnya. Yang terpilih tetap 200 orang. Rencananya, Apple Developer Academy juga akan dibuka di Surabaya.  

Nah, karena gue telat untuk daftar di Cohort 2 (well, sebenarnya ada email masuk sih dari Binus tapi gue kelupaan). Mungkin di Cohort 3 gue mau coba ikutan. Wish me luck. Kan tidak ada salahnya gagal coba lagi gagal coba lagi. Karena kalau ada jalan pasti bisa. Amin kan dong.