Wednesday, September 26, 2018

Mari Lawan Filariasis dalam Bulan Eliminasi Kaki Gajah

Tidak banyak yang tahu kalau setiap bulan Oktober itu dijadikan sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah. Tahun ini bahkan sudah masuk ke tahun keempat POPM atau Pemberian Obat Pencegahan Massal penyakit kaki gajah. Heu?


Kurangnya berita dan informasi tentang ini makanya tidak ada awareness dari masyarakat, termasuk gue. Gue saja baru tahu info ini kemarin, 24 September 2018, saat diundang Kemenkes RI dalam acara temu blogger. Padahal penyakit kaki gajah ini adalah penyakit menular dan bisa menyebabkan cacat permanen bagi penderitanya. Mana penyebaran penyakitnya juga sangat mudah, lewat nyamuk sebagai vektor.

Yang bikin syok adalah, cacing filaria ini ada di dalam tubuh manusia. Manusia lah inang dari penyakit ini. Yang akan berubah menjadi penyakit kaki gajah karena nyamuk. Jadi, ketika cacing ini bertelur maka telur-telurnya akan masuk ke dalam pembuluh darah, lalu ketika digigit nyamuk, nyamuk akan mengisap darah orang yang mengandung telur cacing ini. Di dalam tubuh nyamuk mikrofilaria berkembang dan ketika transfer ke tubuh orang lain lewat gigitan nyamuk lagi, orang tersebut akan mengalami fase elephantbases 6-12 setelah mikrofilaria masuk ke tubuhnya.

Di Indonesia saja ada 23 jenis nyamuk yang semuanya bisa transfer mikrofilaria dari orang pembawa cacing filaria ke orang sehat. Kaget? Well, you should. We should.

Awareness dari masyarakat terjadi karena tidak banyak yang mendengar tentang penderita kaki gajah di sekitarnya. Padahal Indonesia termasuk negara endemik penyakit ini. Bahkan jika dikerucutkan lagi, ada 236 Kabupaten/Kota endemis Filariasis (penyakit kaki gajah) ini. Itu banyak sekali. Di Jabodetabek saja, beberapa kota termasuk tempat tinggal gue sekarang ini termasuk daerah endemis. Pusat endemis terbesar adanya di daerah Jawa Tengah. Duh.




Para penderita kaki gajah tentu saja lebih banyak memilih tinggal di rumah atau diasingkan keluarga karena stigma sosial yang salah kaprah di masyarakat. Misalnya, penderita kaki gajah stadium III ke atas dianggap masih akan menularkan penyakit ini. Yang sebenarnya adalah, cacing filaria di dalam tubuh mereka justru sudah lama mati seiring perubahan tubuh yang drastis pada penderita.

Bagaimana pencegahan penyakit ini?
1. 
        Menghindari gigitan nyamuk dan memberantas nyamuk penular. Misalnya dengan rajin membersihkan tempat-tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, memakai obat nyamuk, atau tidur menggunakan kelambu.

2.                      POPM atau Pemberian Obat Pencegahan Massal penyakit kaki gajah.

POPM memiliki fungsi ganda, yaitu: mencegah filariasis dan mencegah cacingan. Cacing di sini adalah cacing filaria tentu saja. Karena cacing filaria berbeda dengan cacing yang biasa diderita anak-anak.

Tujuan dari POPM ada dua. Pertama, menurunkan kadar mikrofilaria di dalam darah sehingga tidak ada lagi penularan, walaupun POPM filariasis sudah dihentikan. Kedua, semakin banyak masyarakat yang minum obat, semakin besar peluang untuk memutuskan rantai penularan.

Hanya saja ada beberapa kejadian umum yang akan terjadi usai meminum obat POPM ini, misalnya sakit kepala, mual, muntah dan demam. Yang perlu diketahui adalah, manusia yang meminum POPM dan mengalami gejala efek samping diindikasikan membawa cacing filaria di dalam tubuhnya. Jadi obat itu bereaksi pada cacing. Jika tidak ada reaksi imun maka manusia tersebut bukan inang.

Lalu bagaimana jika sudah tertular filariasis?

Ketika masuk pada Stadium I dan II, jika penderita melakukan pengobatan berkala dengan baik maka penderita akan sembuh. Tapi jika sudah masuk pada Stadium III menuju stadium VII, sangat disayangkan karena penderita akan mengalami cacat permanen seumur hidupnya.



Penyakit kaki gajah ini tidak bisa dioperasi akibat banyaknya jaringan limfe. Oleh karena itu diperlukan kesadaran masyarakat untuk bisa mengetahui tentang sebab akibat dari penyakit ini. Semakin banyak yang tahu, semakin baik untuk melakukan pencegahan.


Kementerian Kesehatan mengimbau agar masyarakat mau untuk ikut serta dalam POPM di bulan Oktober nanti. Seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali. Karena kalau hanya setengah-setengah sama saja bohong. Rantai penularan tidak akan terputus. POPM dilakukan satu tahun sekali selama lima tahun. Dengan begitu, diharapkan pada tahun 2025, negara kita ini sudah bebas dari penyakit kaki gajah.

  




Sunday, September 23, 2018

Karena Sukses Tidak Hanya Sekadar Mimpi Saja

Gue suka iri dengan perempuan-perempuan yang masih muda tapi sudah sukses dalam hidupnya. Sukses karena masih belia tapi sudah bisa menentukan prioritas dalam hidupnya. Orang bisa sukses karena dia sudah tahu akan melakukan apa dalam satu langkah ke depan. Beda dengan gue yang baru melangkah eh udah kesandung. Sampai gue umur segini (tidak untuk dibahas), gue belum yakin prioritas gue itu apa selain keluarga.

Oke lah ya, keluarga seharusnya menjadi pendorong terbesar. Kata kecenya sih, support system. They are my support system. Gue bisa sampai bisa begini sekarang ini ya karena mereka. Hanya saja, ketika gue menaruh prioritas berdasarkan sebuah tuntutan, rasanya gue nggak beda dengan sebuah robot.

Gue jelas punya mimpi. Gue sudah sering bercerita tentang mimpi-mimpi gue. Tapi sampai saat ini rasanya mimpi gue belum membawa gue ke arah yang gue mau. Apa mimpi gue terlalu berlebihan?

Pada tanggal 20 September kemarin, gue mendapat kesempatan untuk hadir dalam acara Woman Talk. Futri Zulya Savitri, pendiri dari Kids Republik, CEO & Founder of PT. Batin Medika Indonesia, dan juga Z Beauty berbagi kiat suksesnya.


Gue iri banget sama Mbak Futri, udahlah masih muda eh sudah bisa sukses dengan banyak bisnis yang dia pegang sendiri. Namanya juga manusia yekan, iri dan dengki selalu ada. Bedanya gue irian tapi dengan maksud positif. Iri untuk memotivasi diri sendiri.

Mbak Futri ini sejatinya seorang womenpreneur. Kalau dengar kisahnya dia membangun bisnisnya, dia sudah jatuh bangun dulu sebelum sukses seperti sekarang ini. Yaiyalah ya, di mana-mana namanya orang sukses memang harus melewati pahit kejamnya kehidupan sebelum kemudian bangkit dan membuktikan kalau dia bisa. Sama kayak Mbak Futri ini.

Bincang-bincang dengan Mbak Futri ini dilakukan bersama Mbak Ani Berta, Founder Indonesian Social Blogger. Percakapan yang mengalir selama dua jam memberi gue banyak masukan. Karena walau gue sama sekali nggak tertarik dengan dunia bisnis tapi banyak ilmu yang bisa gue ambil.


Mbak Futri membagi beberapa tips agar bisa menjadi seorang womenpreneur:

 What is Your Passion
 You Can’t Do It All
3.      Bussiness Planning & Do Your Research
4.      Execute
5.      Innovation & Follow Market Trend
6.      Pemisahan Bugdeting Rumah Tangga & Bisnis

Ada beberapa poin sih yang ngena ke gue dari ilmu yang diberikan Mbak Futri semisal;

You can’t do it all
Perempuan selalu dikenal sebagai makhluk yang multitasking. Apalagi ketika menjadi seorang ibu. Beuh, the power of emak-emak. Seakan ketika lu menjadi seorang ibu, lu harus bisa semua. Orang-orang berpikir kalau seorang ibu pasti bisa melakukan semua seorang diri sehingga nggak butuh bantuan. Padahal ibu-ibu juga masih manusia biasa bukan setengah dewa. Masih bisa capek, masih bisa nangis, masih bisa sakit. Hanya saja banyak lupa tentang itu.

Selalu berinovasi
Ini agak susah sih, karena gue selalu menganggap diri gue itu nggak kreatif. Tapi ketika gue ingin berkembang tentu saja gue harus berpikir kreatif. Gue harus berinovasi. Kalau gue ingin mimpi gue berkembang, gue nggak boleh hanya berada pada titik nyaman saja.

Punya Perencanaan Keuangan
Gue akui, ini yang paling berantakan sampai saat ini. Entah gue harus salahin siapa, ujung-ujungnya sih diri sendiri. Gaji masih suka habis tengah jalan, keuangan masih kurang sehat, jumlah kekayaan nggak nambah-nambah dan banyak lagi problematika pelik masalah rakyat jelata lainnya. Mbak Futri memberikan beberapa tips tentang perencanaan keuangan ini secara sederhana. Ya karena Mbak Futri bisa sesukses sekarang artinya it really works. Semoga sih benar-benar bisa gue praktekkan. Ya, semoga.





Tuesday, September 18, 2018

DONOR DARAH UNTUK KEMANUSIAAN #AksiSehatCeria


Gue punya hubungan love and hate relationship dengan jarum suntik. Semacam menikmati ketika jarum masuk ke kulit tapi agak ngeri ketika melihat jarum tersebut ditusuk ke area tertentu di badan gue. Aneh ya. Masokis tapi takutan.

Kalau dihitung sejak kecil sudah tidak terhingga berapa kali gue disuntik. Dari suntik imunisasi, suntik tetanus karena dilempar garpu di kaki sama kakak gue sewaktu masih kecil, suntik infus ketika lahiran, sampai donor darah.

Btw, kapan kalian terakhir kali donor darah?

Dok: DokterSehat

Kalau gue mungkin sekitar tahun 2006. Duh, sudah agak rancu ingatan karena sudah terlalu lama. Makanya gue lupa sudah berapa kali donor darah. Lebih dari 10x mungkin. Biasanya dulu itu, gue datang ke salah satu universitas negeri yang ada di Manado yang kebetulan sedang mengadakan kegiatan donor darah.

Semenjak gue menjadi warga Tangerang, belum ada jodoh sekali pun untuk mendonorkan darah. Padahal di medsos, khususnya Twitter sering wara wiri orang-orang yang ngetwit butuh darah. Entah karena waktunya nggak pas atau lokasinya kejauhan.

Sabtu kemarin, tanggal 15 September. Berlokasi di Ciputra Medical Center, Lotte Shopping Avenue, gue akhirnya mendapat kesempatan lagi untuk donor darah. Gue datang sebelum jam 10 pagi. Langsung daftar, kemudian dicek tekanan darah, dan tes HB. Puji Tuhan semuanya memenuhi syarat. Gue hanya perlu menunggu sebentar sebelum akhirnya rebahan di tempat yang sudah disediakan untuk diambil darah oleh petugas yang sudah stand by.  





Acaranya sih bukan hanya sekadar donor darah saja, ada talkshow tentang Health Talk bareng Dokter Sehat juga. Materinya menarik karena ada praktisi kesehatan yang menjelaskan tentang pentingnya nutrisi yang kita konsumsi setiap hari. Makanan apa yang bisa membantu menurunkan berat badan. Atau kenapa sih sudah atur pola makan tapi beratnya nggak turun-turun juga.

Dok: BloggerPerempuanNetwork

Setelah itu ada pembicara dari @blood4life yang ikut menjelaskan mengapa kita perlu untuk donor darah dan ternyata produksi darah di PMI saat ini baru mencapai  4,6 juta kantong pertahun. Ini sedikit sekali karena yang membutuhkan jauh lebih banyak.

Dok: BloggerPerempuanNetwork
Acara aksi sehat kemarin itu kerjasama antara Dokter Sehat dengan Indonesia Digital Asset Exchange (Indodax), Ciputra Medical Center (CMC), dan Blood for Life Indonesia (Blood4LifeID) dalam rangka memperingati hari Palang Merah Indonesia (PMI) yang jatuh pada tanggal 17 September sekaligus menjadi bentuk kepedulian terhadap bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Mengenai Indodax, mungkin banyak yang belum tahu. Gue juga. Indodax adalah platform untuk membeli dan menjual Digital Asset seperti Bitcoin, Ethereum, Ripple, dan lain sebagainya. Digital Asset bisa dibeli menggunakan Rupiah atau Bitcoin. Indodax menyediakan sistem yang mudah, cepat, dan aman untuk melakukan transaksi Digital Asset. Acara yang diberi nama #AksiSehatCeria kemarin itu merupakan bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Indodax bersama Dokter Sehat dalam rangka memperingati Hari PMI serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat serta berbagi untuk kemanusiaan.

Setelah makan siang, beberapa orang yang belum sempat donor darah sebelum acara langsung mendaftarkan diri dan dicek. Sayangnya ada beberapa teman gue yang nggak bisa donor dengan berbagai kendala; darah rendah, darah tinggi, HB rendah, dsb.

Setelah donor darah selesai kami diajak berkeliling Ciputra Medical Center. Jika biasanya konsep dalam mal adalah tempat makan, arena permainan dan berbelanja. Ciputra Medical Center hadir di mal untuk menawarkan konsep kesehatan. Jadi pengunjung mal bisa sekalian check up setelah habis berbelanja atau bersantai di mal.

Layanan kesehatannya ada cukup banyak, mulai dari dokter umum dan spesialis, akupuntur, andrologi, fisioterapi, gigi, sampai skinesthetic. Kalau yang mau coba diperiksa silakan ke Lotte Avenue Lantai 5.

Oh iya, bagi yang hobi menulis blog. Dokter Sehat mengadakan lomba blog #AksiSehatCeria yang berlangsung dari tanggal 15 September – 16 Oktober 2018 dengan hadiah jutaan rupiah.


Caranya, cukup ceritakan gaya hidup sehat dalam 500 kata di blog, kemudian share ke media sosial dan submit ke sini: Info lebih jelas bisa langsung dilihat di http://bit.ly/blogsehatceria

Info lebih jelas bisa langsung dilihat di www.doktersehat.com/blogsehatceria

Jangan sampai ketinggalan! 


Monday, September 17, 2018

Pada Mimpi yang Hampir Sirna


“Someday, buku gue akan nangkring di toko buku se-Indonesia. Someday.”

Kata-kata itu gue ucapkan dalam hati di tahun 2010. Itu menjadi kata-kata sungguh-sungguh kedua setelah di tahun yang sama gue bilang, “Sembuhin papa, Tuhan.” Ternyata papa gue nggak sembuh. Tuhan justru lebih sayang dan memanggil papa kembali ke sisi-Nya.

Selama hidup gue nggak tahu tujuan hidup gue itu apa. Mimpi gue itu apa. Yang gue tahu, hidup hanya berkisar pada; lahir, tumbuh, sekolah, kerja, menikah, punya anak lalu mati. Barulah 8 tahun yang lalu itu, gue menemukan tujuan hidup gue. Mimpi gue. Mimpi ini kuat banget. Saking kuatnya makanya kata-kata di atas bisa terucap.

Gue jadi suka menulis itu terjadi secara kebetulan. Saat gue belum lama menikah dan baru punya anak satu. Tahu-tahu harus merantau; dari Bitung pindah ke Tangerang. Tahu-tahu harus menjalani hidup baru di tempat baru. Menjadi seorang ibu emang bakal terjadi secara naluriah, hanya saja semua serba cepat dan gue sedikit kewalahan. Jadinya gue mencari apa yang bisa menjadi pelarian gue biar guenya nggak senewen. Akhirnya gue belajar menulis biar kewarasan gue terjaga.

Tulisan pertama gue berupa cerpen. Cerpen itu gue ikutsertakan di lomba cerpen yang diadakan oleh sebuah penerbit indie. Yang ikut ada sekitar 500-an cerpen. Tidak menang tentu saja. Yakali baru pertama kali bikin cerpen langsung menang. Gue nggak sehebat itu. Hanya saja, walau nggak menang, semua cerpen peserta dibukukan. Jadi para peserta bisa memesan buku yang ada cerpennya sendiri. Gue tentu saja langsung pesan.

Memang sih hanya terbit secara self publishing. Memang sih gue nggak menang karena ceritanya masih berantakan dan gue belum mengenal cara penulisan yang baik dan benar. Memang sih terdengar receh. Tapi membaca nama dan tulisan sendiri di dalam sebuah buku itu... priceless. Seolah gue baru saja mendapat hadiah nobel atau piala oscar atas kerja keras gue.  Padahal cuma satu cerpen aja. Lagian mana ada menang cerpen dapat nobel atau oscar. Mabok mb? Oke, lebay sih, tapi secara nggak langsung itu justru memberi harapan kepada gue. Seolah ngasih tahu ke gue, kalau berusaha gue pasti bisa lebih dari ini. Secara nggak langsung momen itu membentuk mimpi gue.

Sejak saat itu gue jadi rajin menulis cerpen. Lalu ikut semua yang bisa gue ikuti. Dari cerpen gue mencoba menulis novel. Setelah novel selesai gue coba kirim ke penerbit. Gue kira prosesnya hanya sesederhana menulis, kirim, diterima, terbit. Nggak semudah itu anak muda. Gue harus melalui proses: diterima tapi batal terbit, diajakin editor ke kantor lalu ditolak halus, diterima tapi penerbitnya tutup, dsb, dll,

Sampai akhirnya gue tiba di titik kalau segala usaha gue percuma dan sia-sia. Gue merasa, menulis ternyata bukan mimpi gue. Gimana ya, gue sudah berdoa dan berusaha. Ketika gagal, gue berdoa dan berusaha lagi. Gagal lagi, gue berdoa dan berusaha lagi. Begitu terus sampai gue merasa doa dan usaha hanya tagline tiada guna di hidup gue. Di titik itulah gue menyerah. Gue rasa menulis bukan untuk gue. Di titik itu gue menyerah pada menulis dan pada hidup gue.

Iya, itu terjadi di 2016. Gue hampir menyerah pada hidup sendiri. Gue melewati banyak hal berat di tahun itu. Banyak sekali beban yang harus gue tanggung sampai dada gue sesak. Yang terpikir hanyalah bunuh diri.

Beruntung gue masih selamat.

Di tahun yang sama, menjelang akhir tahun. Sebuah penerbit besar mengadakan proyek menulis novel. Ini adalah proyek menulis batch ketiga. Gue sudah ikut proyek menulis mereka sejak batch pertama tapi nggak pernah jodoh. Selalu berakhir menjadi finalis saja.

Tadinya gue tidak berniat ikut. Tapi beberapa orang teman malah mendorong gue untuk ikutan. Mereka bilang, “Kali ini pasti momen kamu. Tolong coba lagi.” Gue sampai heran sendiri. Kok ada ya yang begitu percaya pada mimpi orang lain. Maksud gue, itu mimpi gue tapi mereka yang percaya kalau gue bisa mewujudkannya. Mereka yakin banget kalau suatu hari segala usaha gue nggak akan sia-sia. Itu membuat gue terharu. Apalagi teman-teman ini adalah orang-orang yang hanya gue kenal lewat media sosial. Kami belum pernah sekali pun bersua. Tapi mereka segitu percayanya kepada mimpi gue.

Atas dorongan itulah makanya gue mencoba bangkit. Bagi gue nggak ada salahnya dicoba. Kalau gagal, ya coba lagi kali berikut.

Di pertengahan 2017, proyek menulis tersebut diumumkan. Gue sama sekali nggak menaruh ekspektasi. Seiring seringnya gue ikut lomba semacam paham kalau setiap ikut selalu lower my expectation. Setiap kali ikut, kirim, lalu lupakan.

Kalian tahu apa? Nama gue disebut sebagai salah satu pemenangnya. Dari ratusan naskah yang masuk dan harus melewati proses seleksi selama beberapa bulan. Lima naskah dipilih sebagai pemenang dan akan diterbitkan. Naskah novel gue salah satunya.

Tengah tahun 2018, novel pertama gue terbit lewat penerbit terbesar dan tersebar di seluruh toko buku seIndonesia. Ini momen terbaik di 2018 bahkan terbaik seumur hidup gue setelah punya anak. Serasa lahiran “anak ketiga.”



8 tahun. Iya, butuh 8 tahun untuk bisa mencapai itu. 8 tahun yang penuh perjuangan berat. 8 tahun yang nggak sia-sia. Karena benar adanya, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.

Novel gue tepatnya terbit tanggal 9 Juli kemarin. Masih fresh lah ya karena ini baru bulan September. Kalau kalian pengin baca, bisa loh cari di toko buku. Masih banyak. Judulnya: Seira & Tongkat Lumimuut. #lah #malahjualan





Tuesday, September 4, 2018

Girls Day Out

"Kemarin anaknya masih ceria, hari ini cuma bisa tidur seharian. Langsung patah hati."

Di atas adalah status gue di medsos pada hari Minggu. Status itu gue tulis ketika anak gue bangun dengan kondisi demam dan lemas. Sebagai seorang ibu, hati gue kayak diremas. 

Nggak ada sinyal kalau dia bakal sakit. Tahu-tahu aja demam dan mengeluh sakit perut. Gue emang agak trauma kalau si adek mengeluh sakit, dua kali dia demam tinggi dua kali pula harus diopname di RS. 

Padahal di hari Sabtu gue dan si adek bersenang-senang. Girls day out gitu. Eh besoknya dia tepar seharian. 


Eits tenang, kondisinya sekarang sudah sehat. Saat gue menuliskan ini dia sudah beraktivitas normal dan makan yang lahap. 

Mari gue ceritakan apa yang kami lakukan pada hari Sabtu itu. 

Si adek begitu antusias ketika gue bilang, hari Sabtu ikut mama ya. Kita bakal main dan bersenang-senang. Namanya anak-anak kalau dengar kata bermain pasti langsung excited. Saking excited malah dia nggak bisa tidur menanti hari Sabtu tiba. Pukul 01.00 baru bisa lelap, itu juga setelah gue "ancam" batal pergi kalau nggak tidur. 

Pukul 06.00 dia sudah melek. Sudah siapin baju dan sepatu yang bakal pakai hari itu. Punya anak cewek emang cepat banget ngerti dan mandiri. Suka kagum sendiri ngeliat anak perempuan gue kadang bersikap lebih dewasa dari umurnya, bahkan dari gue yang notabene mamanya. 

Acara hari itu jadwalnya dimulai pukul 07.30. Jam setengah tujuh kami sudah di stasiun kereta dekat rumah. Lokasinya nggak jauh dari Stasiun Jurangmangu lanjut gojekan. Lima menit sampai.  

Kami tiba tepat waktu walau sudah cukup ramai. Di bagian depan Bumi Bambini Center, kami mendaftar dulu. Banner dan hiasan-hiasan Tolak Angin Anak bertebaran di mana-mana. Si adek mendapatkan kaos dan topi berwarna hijau sesuai dengan kemasan Tolak Angin Anak. Juga sekotak makanan berisi tiga jenis kue dan air mineral.

Dimulai dari mendaftar, lalu orangtua dan anak-anak yang sudah hadir bisa foto-foto di booth yang sudah disediakan. Tak seberapa lama ada dua maskot Tolak Angin Anak yang muncul. Gue sempat papasan dengan keduanya ketika mampir ke toilet sebelum acara dimulai. Anak-anak tampak ceria melihat dua maskot tersebut, Kakak Bunga dan Adik Jahe. 


Setelah semua peserta berkumpul, kami disuruh lesehan di terpal yang sudah disediakan. Sebelum bermain, anak-anak diajak mendengar dongeng terlebih dahulu yang adalah bridging ke acara hari itu. Dongeng tentang lebah yang mulai punah dan tugas anak-anak lah untuk menemukan di mana lebah-lebah itu berada.


Ada sekurangnya 8 tantangan yang harus diikuti anak-anak di #TolakAnginAnakPetualanganCeria. 8 tantangan yang sangat menarik, mengajak anak berpikir sekaligus bermain sambil banyak bergerak. Anak-anak diajarkan untuk bisa akrab dalam satu kelompok baru, tidak boleh takut kotor, bahkan harus bisa belajar menganalisa. Semua misi bisa dilakukan ketika anak-anak melakukan itu secara bersama-sama, baik dengan teman satu tim maupun dengan orangtuanya. 




Usai tantangan, di mana anak-anak pada akhirnya bisa membawa pulang masing-masing dua ekor lebah mainan sebagai tanda misi selesai, kami diajak duduk istirahat di lokasi yang sudah disediakan. Ada talkshow ringan dengan beberapa orang narasumber yang membahas soal kesehatan dan pola asuh anak. 


Ah, hampir lupa. Di sela menyelesaikan misi, anak-anak diberi Tolak Angin Anak dulu agar tidak mudah masuk angin. Bermain seharian tentu saja bikin tubuh gampang drop dan mudah terserang masuk angin. 


Setelah talkshow ada makan siang yang kemudian diisi dengan kuis yang hadiahnya cukup banyak. Anak gue salah satu yang beruntung mendapat hadiah karena mamanya masuk dalam apresiasi bagi orangtua yang duluan posting di medsos. Rezeki emang nggak ke mana.

Anak gue pulang dengan wajah semringah. Dia bahagia karena berhasil menyelesaikan misi. Bahagia karena banyak bergerak dan bawa pulang hadiah dan goodie bag


Sebelum kami naik kereta untuk kembali pulang ke rumah, dia berbisik. "Ma, kalau ada #TolakAnginAnakPetualanganCeria lagi, aku diajak lagi, ya."