Thursday, December 27, 2018

Meneladani Gusdur

Sebagai salah satu manusia yang tumbuh besar di era 90-an, sejak SD gue diwajibkan harus bisa menghafal UUD 45, Pancasila, nama provinsi dan ibukota sampai nama presiden, wakil presiden dan menteri-menterinya. Walau sebenarnya hafalan yang sering berubah kala itu hanyalah nama wakil presiden dan menteri saja. Baru di tahun 1998 hafalan nama presiden gue berubah saat Soeharto lengser.  

Ketika gue duduk di kelas 3 SMP, Dr. K. H. Abdurrahman Wahid terpilih menjadi Presiden keempat menggantikan B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR di tahun 1999. Tadinya gue termasuk salah seorang yang skeptis melihat sosok presiden terpilih. Maklum, masih remaja dan mudah terpengaruh dengan omongan orang lain yang sebenarnya mereka juga hanyalah rakyat biasa kayak gue. Waktu itu mikir, kok bisa ya orang dengan disabilitas menjadi pemimpin negara? Memangnya Indonesia kehabisan sosok pemimpin sampai harus memilih Abdurrahman Wahid sebagai presiden?   

Sebelum gue naik ke kelas 3 SMA, jabatan Presiden Abdurrahman Wahid atau yang dikenal sebagai Gusdur berakhir pada sidang MPR tahun 2001.

Bertahun-tahun kemudian atau di masa sekarang, gue akhirnya tahu kenapa Gusdur layak menjadi presiden. Testimoni dari orang-orang yang merasakan apa saja yang terjadi di masa pemerintahan Gusdur sampai ocehan dari anak Gusdur sendiri di media sosial membuat gue kagum dengan beliau.
Gusdur dikenal sebagai tokoh pluralisme dan kerukunan antar umat beragama. Tapi yang ternyata nggak banyak orang tahu, beliau juga dikenal sebagai pemikir dan pejuang Ekonomi Kerakyatan. 

Hanya saja dimensi pemikiran beliau ini tidak banyak diketahui publik. Pola pikir dan gagasan Gusdur miliki ini sesuai dengan kondisi negara kita yang dikenal sebagai negara maritim. Visi ekonomi yang ingin diterapkannya adalah dibangun di atas pondasi untuk melindungi masyarakat Indonesia di daerah daerah yang masih tertinggal, tidak mampu, dan miskin. Kebijakan-kebijakannya ini semuanya ditujukan untuk kaum marjinal.

Visi dan semangat Gusdur dalam membangun ekonomi Indonesia di masa pemerintahannya menjadi inspirasi bagi pembangunan berbasis pedesaan di masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla saat ini. Yaitu dengan terwujudnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).



Ada empat program unggulan desa seperti PRUKADES, BUMDES, Embung Desa dan Saranan Olahraga Desa. Program program ini dibuat untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dengan tujuan membangun Indonesia dari daerah pinggiran.

Meneladani dan meneruskan perjuangan ini, pada tanggal 17 Desember 2018 kemarin, diadakan Haul ke-9 Gusdur. Mendoakan, menelusuri, dan diharapkan seluruh nilai-nilai dari Gusdur bisa diterapkan sampai ke anak cucu yang di masa datang adalah tujuan diadakan haul tahun ini.


Mengetahui pola pikir Gusdur membuat gue sadar kalau kita memang tidak boleh menilai seseorang dari luar saja. Apalagi di masa sekarang ini yang apa-apa serba sensitif dan apa-apa semua selalu disangkutpautkan dengan agama. Teladan Gusdur adalah sebenar-benarnya yang harus disebarkan ke orang banyak agar bisa ikut menerima kalau negara kita ini adalah negara demokrasi yang berlandaskan Pancasila.


         

Wednesday, December 19, 2018

Ketika Mama Tidak Melek Literasi Keuangan



Gue masih ingat ketika papa di-PHK, saat itu gue baru duduk di kelas 2 SMA. Dia tadinya adalah seorang kepala bagian di perusahaan perikanan terkenal di kota kelahiran gue. Gue sebenarnya heran, kok bisa perusahaan yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan di kota perikanan bisa tutup. Namanya korupsi yang merajalela di dalam internal perusahaan menjadi salah satu penyebabnya. Secara otomatis keuangan di keluarga kami dipegang penuh oleh mama. Beliau juga bekerja, sebagai PNS di salah satu sekolah negeri di kota gue.

Memiliki orang tua yang (tadinya) dua-duanya kerja memiliki keuntungan besar. Segala kebutuhan anak-anaknya pasti tercukupi dengan baik. Kami bisa meminta apa saja dan langsung mendapatkannya pada saat itu juga. Yang menjadi masalah adalah, mama bukanlah pengatur keuangan yang baik. Dia adalah manajer keuangan yang buruk. Sangat buruk malah.

Gue sudah sadar ini sejak masih kecil. Sejak papa memiliki usaha kapal ikan tapi nggak bisa dikelola mama dengan baik. Dua kapal ikan yang kami miliki terpaksa harus dijual. Bukan hanya itu, ketika papa mendapatkan jatah rumah dari perusahaan, dengan alasan entah apa mama menjual rumah tersebut. Padahal itu bisa menjadi investasi atau bisa digunakan kami anak-anaknya kelak. Sayangnya mama gue nggak mikir sampai sejauh itu.

Lalu bagaimana nasib kami sekarang? Well, kami anak-anaknya sudah menikah dan sudah memiliki kehidupan masing-masing. Nasib mama gue masih baik-baik saja bahkan setelah papa gue meninggal. Namun dia harus berusaha lebih keras di masa tuanya demi memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya sendiri. Mama nggak punya simpanan hari tua, bahkan uang pensiunnya sudah habis dalam sekejap. Kami anak-anaknya sering mengirimkan uang. Rutin kok setiap bulan. Hanya saja uangnya cepat habis. Sifat boros mama dan tidak bisa mengatur uangnya masih terus berlaku sampai saat ini.

Bukan kami tidak pernah menasehati, tapi mama gue termasuk tipe orang yang bebal. Susah urusan kalau sudah begini.

Mama gue hanyalah satu dari sekian banyak perempuan yang tidak bisa menangani keuangan keluarga dengan baik. Masih untung kami tidak sampai hidup melarat akibat pengelolaan uang yang berantakan dari mama.

Dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 oleh OJK, kurang dari 30% orang Indonesia yang melek keuangan. Prosentasenya, tingkat literasi perempuan lebih rendah dari pria. Ini bukti kalau tingkat pemahaman orang Indonesia terhadap produk dan jasa keuangan masih cukup rendah.



Ya pantas saja mama gue termasuk salah satunya karena emang belum melek soal literasi keuangan sama sekali.

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) selama tahun 2018 ini sudah mengadakan program pelatihan literasi keuangan untuk perempuan Indonesia. Pelatihan ini sudah diberikan kepada lebih dari 2.500 perempuan. Rangkaian program dimulai sejak bulan Oktober di Manado, lanjut ke Ambon, Sorong, Malang, dan ditutup di Jakarta pada tanggal 11 Desember 2018.



Apa saja sih yang bisa didapatkan dari program pelatihan ini?

Banyak pastinya. Para peserta mendapatkan pelatihan dasar mengenai pengelolaan keuangan dasar secara komprehensif dari para fasilitator yang berkompeten. Mereka adalah karyawan Prudential Indonesia atau disebut PRUvolunteers. Para fasilitator ini memberikan edukasi kepada peserta mengenai jenis lembaga keuangan (konvensional dan syariah) dan berbagai instrumen keuangan seperti tabungan, ausransi, pinjaman, atau dana pensiun sebagai solusi merancang masa depan yang terencana dan minim risiko.

Gue sedikit menyesal kenapa program yang sangat berguna bagi perempuan ini baru hadir di masa sekarang. Kenapa nggak dari dulu-dulu saat mama gue masih kerja. Ya mungkin sih ada program yang sama, hanya saja dulu informasi tidak secepat dan sebaik sekarang. Apalagi dulu tidak banyak program pelatihan khususnya literasi keuangan di daerah. Oh iya, kami tinggal di Bitung, Sulawesi Utara.

Gue mendapat kesempatan hadir di Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan di Jakarta. Hadir juga saat itu ada President Director Prudential Indonesia, Bapak Jens Reisch. Lalu Ibu Titi Eko Rahayu, Staf Ahli Menteri Bidang PPPA RI, Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Bapak Horas Tarihoran, dan Mbak Nini Sumohandoyo selaku Corporate Communications & Sharia Director Prudential Indonesia. Para narasumber berharap dengan kontribusi program pelatihan literasi keuangan ini, bisa mengedukasi masyarakat dan menjadikan keuangan keluarga di Indonesia menjadi semakin baik. 



        
Sejak program pelatihan literasi keuangan ini dijalankan pada tahun 2009, sudah menjangkau lebih dari 27.000 perempuan di 24 kota di seluruh Indonesia. Prudential Indonesia berharap di tahun 2019 nanti total keseluruhan yang bisa dijangkau melalui program pelatihan ini menembus 50.000 perempuan.

Gue sangat berharap dengan ilmu dari program pelatihan ini bisa dipraktikkan oleh seluruh peserta perempuan yang hadir. Karena perempuan yang memegang peranan penting dalam keputusan keuangan di dalam keluarga. Mama gue sudah menjadi contohnya, mari berharap gue nggak mengikuti jejak mama gue sendiri.

  

Friday, November 30, 2018

Fintech, Apa Sih Itu?

Beberapa hari ini sungguhlah menguras energi banget. Anak-anak pada ujian semester, suami ke luar kota, trus gue digeber deadline tulisan.


Tapi untungnya selalu ada aja hiburan di media sosial yang bikin gue senyum-senyum, gemes, sampai ngakak berantakan. Twit ini misalnya:


Kalau anak Twitter pasti pahamlah kenapa twit ini lucu.

Buat yang nggak tahu di mana lucunya, mari gue elaborasikan biar nangkep juga joke-nya. Jadi kan di Twitter tuh suka pada nge-share bantuan, minta cari orang hilang, bapak-bapak atau ibu ibu tua yang lagi jualan atau apalah apalah. Biasanya di awal twit pakai kata kunci “Twitter, do your magic” gitu-gitu. Tujuannya biar twit bisa viral dan apa yang dimaksud tersampaikan atau terbantukan.

Nah, si selebtwit ngetwit tapi dengan tujuan buat nagih utang. Ngerti nggak sih?  Lucu kan? Ketawa dong walau udah telat.  

Masalah pinjam meminjam duit ini emang rentan sih ya. Trus semacam tumbuh subur banget di negeri kita ini. Karena yang namanya hidup ada aja yang dibutuhin, ada aja yang perlu dicukupi, atau ada aja yang perlu dilengkapi. Ini hidup apa hati?

Maksud untuk pinjam meminjam ini juga bisa muncul karena berbagai alasan. Pas lagi nggak ada duit di tangan, tabungan lagi kosong, atau karena gaji hanya numpang lewat sedangkan ada yang harus dibayar secara urgensi.

Dilema lagi bagi yang mau minjam ke teman atau saudara eh mereka juga nggak ada duitnya.  Padahal sudah butuh cepat. Begini-begini kadang bikin hopeless banget. Gue pernah ngerasain soalnya. Hahaha.

Di zaman serba digital dan instan sekarang ini, kebutuhan pinjam meminjam juga tampaknya ikut berkembang. Banyak platform yang melihat peluang ini untuk menjadi support financial bagi yang membutuhkan. Atau kecenya disebut sugar daddy eh... maksud gue, financial technology or fintech.

Peluang ini hadir tentu saja karena kebutuhan tiap orang beragam dan keperluan finansialnya beda-beda. Ada yang butuh pinjaman buat modal usaha, ada yang butuh buat anak masuk sekolah, atau modal nikah (?).

Fintech hadir sebagai bagian dari teknologi untuk memperkuat keuangan yang kuat dan sehat. Ada banyak sekali fintech-fintech yang mudah ditemukan di Play Store atau App Store. Masalahnya, tidak semua berpayung hukum pada OJK. Artinya masih banyak yang ilegal. Mesti hati-hati banget kalau begini, karena urusan pinjam meminjam uang ujungnya bisa sampai ke nyawa. Uang nggak mandang teman, kenalan bahkan saudara sekandung.

Kalau kalian kepengin menggunakan jasa fintech untuk meminjam uang, pastikan fintech tersebut sudah legal atau sudah terdaftar di OJK.

Kalau hanya meminjam uang, kenapa nggak ke bank atau ke multifinance aja? Kenapa harus ke fintech?

Fintech justru hadir karena melihat peluang yang tidak dilihat oleh bank atau multifinance. Tidak semua orang bisa meminjam di bank. Tidak semua orang juga punya slip gaji. Nah, fintech memberi kemudahan dalam hal ini. Bahkan fintech bisa menyasar sampai ke kalangan bawah yang tidak pernah terhubung ke bank.

Tapi ya walau kedengarannya menarik dan mudah, proses validasi di fintech juga nggak semudah ngasih KTP doang sebagai jaminan, sih. Semua pasti ada prosesnya.


Karena namanya fintech pastinya validasinya lewat digital print. Dengan demikian mereka bakal tahu, sebelum-sebelumnya sudah pernah jadi peminjam rajin bayar utang apa enggak.

Fintech sebagai platform hanya mempertemukan lender dan borrower lewat platform, setelah rekam jejak kedua belah pihak sudah dikonfirmasi tentunya. Keputusan pemberian uang adalah kesepakatan kedua belah pihak. Tapi yang melakukan penagihan bukan debitur melainkan platform.

Ada sekitar 73 fintech yang sudah legal; misalnya RupiahPlus atau Aktivaku. 




Kalian tinggal mencari platform mana yang sesuai kebutuhan. Karena 73 platform tersebut semua punya keunggulan dan kebutuhan yang disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan peminjam. Gue bahkan baru tahu ada fintech yang bisa dipakai untuk meminjam dana pendidikan. Keren nggak tuh. Anak kuliah yang pengin bayar sendiri uang kuliahnya biar nggak membebani ortu bisa minjam di fintech tersebut.

Tapi semua balik lagi ke masing-masing, sih. Kalau mau meminjam pastikan bisa mengembalikan. Jangan lupa, pinjam untuk yang benar-benar butuh bukan karena perlu doang. Kebutuhan dan keperluan itu beda banget, loh.  

Jangan karena demi keperluan, eh milih jalan pintas kayak begini. 


Jangan ya, pemirsa!



Sunday, November 25, 2018

Kumpulin Telur-telur Sebagai Koleksi.


Harapan dalam memulai pagi:




Realita:



Ember. Gue masih leyeh leyeh di tempat tidur ini. Badan rasanya remuk karena satu minggu kemarin gue rada sibuk ke sana kemari ngabisin duit.


I wish I can say that.

Sayangnya kuhanyalah...


Gue ngabisin duit karena bawa anak bolak balik ke rumah sakit. So far, kata dokter bukan sakit yang harus dicemaskan. Cukup rutin minum obat yang sudah diresepkan saja bisa sembuh. Ada sedikit masalah di pencernaannya. Ujungnya mengarah ke saluran kencing setelah hasil lab keluar eh ternyata ada bakteri di sana.

Kelar itu besoknya gue main ke Alam Sutera. Sebagai warga BSD coret secara otomatis Alam Sutera itu dianggap masih saudaraan sama BSD. Tapi yambok, tepos juga pantat gojekan ke sana. Mehong pula. Kemarin itu gue pp gojekan di siang bolong habis 70rb-an. Baru top up gopay eh langsung ludes.

Sekali lagi, kuhanyalah...


Gue ke Alam Sutera itu ke Alfa Tower. Ada launching mainan Disney-Coll-Egg-Tible series dari Alfamart.

Bentukannya begini...


Eh, maap itu mah balon karakter Disney aja plus gue.

Begindang loh bentuknya. Mini dan lucu.


Kalau dibuka ada kejutan di dalamnya. Gue juga dapat satu yang isinya ini.


Mainan berbentuk telur wabbly ini isi kejutan di dalamnya emang beragam. Ada pulpen, krayon, rautan, stamp, dan penghapus. Anak-anak pasti suka sih. Anak gue aja pas gue kasih seneng banget. Dielus-elus terus udah kayak itu telur bakal netas jadi Donal Bebek junior aja.

Disney-Coll-Egg-Tible series ini rangkaian mainan spesial yang terinspirasi dari karakter Mickey Mouse and friends. Apalagi tanggal 18 November kemarin Mickey Mouse baru saja berulang tahun ke-90 tahun.

Ada 8 karakter yang bisa dikoleksi: Mickey Classic, Mickey Gold, Mickey Mouse, Minnie Mouse, Goofy, Pluto, Donald Duck, dan Daisy Duck.

Q: "Lalu bagaimana cara ngedapetin telur-telur lucu ini?"

Jadi, setiap belanja Di Alfamart sebesar Rp50.000, pelanggan akan mendapatkan satu stamp. Tidak berlaku kalau belanja rokok, e-voucher HP,  dan susu bayi. Kalau bisa ngumpulin sampai 15 stamp bakal dapat series koleksi ini secara gratis. Atau kalau baru 5 stamp bisa ditukar juga sambil nambah bayar Rp24.900.

Q: "Etapi gue males ngumpulin stamp. Bisa beli aja nggak sih koleksinya?"

Bisa dong. 

Kalau dikau adalah member Alfamart, Disney-Coll-Egg-Tible ini bisa dibeli dengan harga Rp29.900. Kalau dikau non member belinya seharga Rp34.900.

Bedanya mayan ya untuk member dan non member. YA MAKANYA JADI MEMBER, FERGUSO.

Q: "Trus promo ini berlaku sampai kapan? "

Periode pengumpulan stamp mulai tanggal 19 November 2018 dan penukarannya hingga tanggal 15 Januari 2019.

Tertarik? Hayuklah belanja Di Alfamart trus kumpulin Disney-Coll-Egg-Tible sebagai koleksi.

Sementara gue akan kembali ke alam mimpi.

Namaste.



Tuesday, November 20, 2018

Berawal dari Sebuah Warnet

credit: unsplash.com

Elf, begitu nama warnet yang ada di perempatan jalan yang tidak jauh dari Wakeke. Salah satu warnet yang gue datangi ketika butuh untuk mengintip ada testimoni apa di laman Friendster gue selama sebulan nggak gue buka. Zaman itu datang ke warnet emang jarang-jarang, apalagi Elf ini warnet yang too expensive untuk ukuran mahasiswa yang masih mengandalkan uang mingguan dari ortu yang tidak seberapa. Kalau bablas ketagihan main Friendster atau browsing-browsing manja di warnet ini, duit mingguan bisa ludes sehari dan besoknya gue mesti hidup bagaimana. Ngemis?

Gue ingat, kala itu gue pergi ke Elf berdua dengan teman sekosan sekaligus teman sekampus yang sudah gue kenal dari SMP. Dia sibuk mencari tugas kuliah sedangkan gue sibuk membuat akun di blogspot. It was 2003 or 2004 maybe. Tanpa tedeng aling-aling, tahu-tahu aja bikin blog. Lalu setelah selesai bikin belum gue isi dengan apa-apa. Kembali ke kosan, kembali ke rutinitas sebagai mahasiswa. Sebulan berlalu, kembali bertandang ke Elf. Hal yang gue ingat hanyalah membuka Friendster lalu selama satu jam di sana gue akhirnya pulang ke kos. Blog, apa itu? Gue sama sekali nggak ingat lagi kalau sudah pernah membuat blog.

Tahun berganti, gue menikah, punya anak, merantau, main medsos lagi, mulai demen menulis fiksi, dan kembali gue berkenalan dengan yang namanya blog. Demi bisa menunjukkan eksistensi gue ke orang lain kalau gue sekarang sudah bisa menulis cerpen/flashfiction bahkan novel, terciptalah blog ini. Gue begitu idealis saat itu, bahwa gue bukan blogger melainkan seorang penulis. Blog hanyalah sarana gue mempromosikan fiksi-fiksi gue yang kalau dibaca ulang pengin nangis karena dulu tata bahasanya berantakan. Kayak hati setelah tahu ternyata selama dipacarin seringnya diduain. #ehgimana

2013, masa di mana gue mulai jenuh dengan tujuan gue menulis. Gue butuh pelarian lain, akhirnya bikin blog lagi. Khusus buat ngebacot dan ikutan segala macam lomba blog. Menang? Tentu tidak, yorobun. Tapi ketika suatu waktu gue dihubungi seseorang dan ditawari untuk content placement, huwow, for the first time, blog yang bahkan belum TLD itu bisa menghasilkan duit. Kat-ching!

Laun, blog belum TLD tersebut menang lomba. Bukan hadiah utama, tapi bisa dapat kesempatan jalan-jalan ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu dengan segala fasilitas gratis. Bertemu teman baru sekaligus blogger terkenal. Dapat banyak ilmu dan insight baru tentang dunia blogging. Dari situ motivasi buat seriusin ngeblog mulai tumbuh.

2015 mulai bikin blog baru lagi, khusus buat melampiaskan kehebohan fangirling sebagai penggemar kekoreaan. Menjelang 2016 habis, gue mulai berpikir untuk membeli domain untuk blog tersebut. Siapa tahu bisa menghasilkan rezeki dari situ. Eh, nggak perlu nunggu lama setelah gabung ke beberapa komunitas blogger gue mulai bisa ikut-ikut event. Dari sebulan 1-2x undangan sampai bisa seminggu sekali tergantung gue daftar atau enggak.

Memang sih blog gue masih perlu banyak dibenahi lagi karena dari 140-an postingan, 60% isinya adalah postingan berbayar bukan organik. Umur blog gue bahkan belum juga terbilang 2 tahun. Tapi so far, gue bersyukur bisa tercebur ke dalam dunia blogging. Semoga ke depan gue bisa memberikan tulisan yang mungkin bisa jadi inspirasi bagi orang-orang yang nyasar ke blog gue.
  

  

Friday, November 9, 2018

Baran Energy: Serial Black Mirror yang Menjadi Kenyataan?


Semua ciptaan manusia berawal dari mimpi. Ada yang dianggap gila hanya karena memiliki mimpi yang tidak pernah dibayangkan manusia lainnya. Kemudian baru bisa berdecak kagum ketika mimpi itu berwujud dan berguna bagi banyak orang.

Tahun 1903, dua bersaudara dari Dayton, Ohio dianggap sinting karena berusaha menentang gravitasi dengan terbang pertama kalinya di atas bukit pasir California Utara. Pesawat berawak itu sukses terbang sehingga Orvile dan Wilbur bersaudara sukses mengantarkan kita masuk pada era transportasi menggunakan pesawat terbang.

Selain Wright bersaudara ada pula Henry Ford yang ditertawakan karena memiliki mimpi membuat alat transportasi yang akan menggantikan peran kereta kuda pada masa itu. Tahun 1908, perusahaan Ford sukses merilis mobil Ford untuk pertama kalinya ke publik.

Adalah Victor Wirawan, yang optimis untuk menciptakan energi terbarukan yang layak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari proses alam yang berkelanjutan. Bisa dari tenaga surya, tenaga angin, arus air proses biologi, dan panas bumi. Victor Wirawan percaya adanya daya listrik yang murah dan stabil bisa menggantikan listrik tradisional yang setiap tahunnya selalu naik.

dok: @dicapriadi
Baran Energy adalah sebuah energi terbarukan yang siap menggantikan listrik tradisional yang rata-rata setiap tahun naik 10-15% per tahun. Dengan Baran Energy bisa gratis seumur hidup karena tidak perlu membayar lagi. Baran Energy ini adalah mimpi dari para anak muda dari negeri kita sendiri yang berprestasi. Dengan kemampuan mereka terciptalah Baran Energy ini.  

Baran Power

Baran Energy bisa digunakan untuk Smart Home, Real Estate, dan Mini Power Plants.
Pada Smart Home, penggunaan Baran Energy jika dikombinasikan dengan Baran Powerwall maka setiap rumah bisa menghemat pemakaian listrik sampai 15 tahun. Bahkan Baran Energy bisa hybrid atau dicampur dengan penggunaan listrik tradisional. Ketika pemakaian sudah mencapai 10-15 tahun, dayanya akan berkurang tapi Baran Energy ini bisa diisi ulang. Baran Powerwall sendiri adalah penyimpanan energi besar dengan kapasitas 8800Wh.
Pada Mini Power Plants produk Baran Energy bisa memenuhi skala besar seperti sebuah pabrik, disebut Baran Cube. Dalam 1 Baran Cube menyimpan 1 mega watt energi yang bisa menghidupi 4000 rumah.  

dok: baran-energy.com

Baran EV

Baran Energy juga bisa digunakan sebagai bahan energi pada mobil listrik yang mungkin nantinya akan menjadi mobil impian di masa depan yang bebas polusi. Tinggal plug and play.

dok: baran-energy.com

Baran Properti

Berbicara soal keamanan, Baran Energy sudah mengikuti standar internasional sehingga dipastikan terjamin keamannya. Untuk harga tidak sampai separuh harga mobil, bisa dicicil di beberapa e-commerce nantinya. Tapi jika ingin gratis, akan ada penjualan real estate yang jika beli rumah bisa sekalian dari Baran Power-nya. Ini bisa dicicil selama 15 tahun. Konsumsi listrik di dalam perumahan warga yang tidak perlu lagi mengeluarkan uang sama sekali. Hemat banget. Siapa yang tidak mau beli rumah sekalian dapat Baran Power, iya kan?

Rasanya melihat kemampuan Baran Energy ini seperti menonton serial Black Mirror. Sebuah seri dari Televisi Britania Raya yang menceritakan kisah fiksi spekulatif dengan tema gelap dan satir tentang kehidupan masyarakat modern dan kecanggihan teknologi. 

Tidak sabar untuk melihat Baran Energy ini dipakai di rumah-rumah pada masa-masa mendatang. Semoga di rumah gue juga bisa terpasang segera.

Untuk info lebih lanjut tentang Baran Energy:





Great British Circus: Sirkus Tanpa Eksploitasi Hewan

Sudah lama sekali gue nggak nonton sirkus. Terakhir kali kayaknya pas gue masih SMP dengan ingatan dalam sirkus tersebut ada atraksi Tong Edan, eh atau itu di Pasar Malam ya bukan sirkus? Entah, kenangan masa lalu kadang suka tercampur-campur saking sudah lamanya. Sial, ini tandanya gue sudah tua. Ha ha ha.

Tanggal 8 November 2018 kemarin, gue mendapat kesempatan menyaksikan lagi pertunjukkan sirkus. Kalau dulu gue nonton sirkus yang beratraksi adalah orang lokal, kali ini sirkusnya impor dari Inggris. Great British Circus, begitu nama kelompok sirkus yang sudah tampil berpindah-pindah di beberapa tempat di Jabodetabek beberapa bulan belakangan ini. Kali ini mereka nyasar ke BSD.


Tadinya gue sedikit bingung, di mana itu Greenwich Park BSD yang menjadi lokasi didirikannya tenda raksasa tempat sirkus ini akan tampil. Ternyata nggak begitu jauh dari QBig Mall di Jalan BSD Raya Utama. Patokannya kalau dari tempat gue, dari Aeon Mall lurus terus melewati Froggy yang searah dengan QBig Mall. Sekitar 1km dari mall tersebut berdirilah tenda sirkus tersebut. Sebenarnya sudah ada papan petunjuk juga sih yang memudahkan pengunjung untuk menemukan lokasinya.

Ketika gue sampai keadaan sekitar sudah ramai. Gue datang bersama dengan kedua anak gue. Mereka sangat antusias ketika tahu mamaknya mendapat tiket sirkus gratis dari @resindential.bsd dan @caelus_id. Ini menjadi kali pertama bagi keduanya melihat sirkus. Biasanya kan hanya nonton di Youtube saja.

Kami mendapat kesempatan menyaksikan pertunjukkan pada jam 4 sore. Antrian dari pintu masuk sampai ke dalam arena sirkus tidaklah begitu padat menyesakkan. Ramai tapi masih lega.

Sesaat setelah kami duduk, para penjual makanan dan minuman ringan sudah berdesakkan menjajakan jajanan mereka. Ada juga penjual mainan dengan lampu warna-warni yang kalau anaknya nggak kuat iman pasti pengin minta diborong semua. Gue datang cashless karena lupa ambil duit di ATM sehingga ada alasan untuk ngeles ketika anak gue mulai minta dibeliin macam-macam. Oh tenang, mereka sudah tahu kalau mamaknya nggak pegang duit artinya nggak bisa minta beli, beda kalau ada pasti bisa minta semaunya mereka.

Pertunjukkan dibuka dengan tampilan ala-ala Moulin Rouge dari beberapa perempuan berkostum kabaret. Lalu sepasang penghibur yang kocak dengan sulap sederhana. Mbak-mbak lentur yang bermain Hulla Aerial, pertunjukkan hula sambil gelantungan. Mas-mas bule ganteng yang bikin berdecak kagum saat main Rollabolla karena keseimbangan tubuhnya yang luar biasa. Mbak-mbak yang tampil dalam Hair Aerial dengan kekuatan rambut yang bikin pengin nanya, itu samponya pakai sampo apaan? Duo cowok latin yang bikin jantungan di Wheel of Stunt. Gerombolan pemain Trapeze. Dan diakhiri dengan Crazy Globe, oh ini highlight banget sik. Main motor dalam satu globe raksasa. Bukan hanya satu atau dua motor, tapi empat motor sekaligus.


Yang menarik dari Great British Circus ini, no animal abused. Biasanya kan sirkus identik dengan hewan-hewan show, mulai dari reptil, beruang sampai karnivora seperti singa dan harimau. Alih-alih memakai hewan, mereka berkostum layaknya unta, harimau dan beruang kutub raksasa. Terlihat canggung tapi tetap menghibur. Bahkan ditampilkan juga dinosaurus menjelang Crazy Globe. Anak-anak kecil yang hadir terlihat sangat kagum, mata-mata mereka membulat besar.


Pertunjukkan berakhir jam 6 sore. Dua jam yang penuh kemeriahan dan menghibur. Bisa tonton di vlog gue juga. 




     
Nah, ini hal-hal yang perlu diketahui sebelum menonton Great British Circus di BSD:
1.     Sirkus ini dimulai dari tanggal 3 November – 2 Desember 2018.
2.    Pertunjukkannya mulai hari Rabu-Jumat pukul 16.00 dan 19.00 saja. Hari Senin dan Selasa mereka off, kecuali pada tanggal 19-20 November.
3.      Pertunjukkan pada akhir pekan terdiri atas 3 show, pukul 13.00, 16.00, dan 19.00.
4.      Harga tiket berkisar dari Rp150.000-Rp350.000

Thursday, November 1, 2018

BUMN Bersinergi dan Mandiri Ikut Bangun Palu

Sebulan yang lalu laman Facebook gue penuh dengan kata “dicari korban bencana gempa dan tsunami di Palu”. Seorang teman gue harus mencari ibu mertua dan anak perempuannya yang dinyatakan hilang kontak usai gempa di Palu. Lokasi mereka saat itu berada di Petobo. Daerah yang terkena dampak likuifaksi akibat gempa 7,4SR tersebut. Teman gue yang lain juga ikut mencari beberapa orang temannya yang menginap di salah satu hotel yang luluh lantak akibat gempa.

Seminggu pasca gempa dan tsunami di Palu, kisah orang-orang yang dicari hanya berakhir dengan duka. Ibu mertua dan anak perempuan teman baik gue tidak penah ditemukan sampai sekarang, diperkirakan mereka tertimbun lumpur dari sekian ratus jiwa lainnya yang juga menjadi korban. Teman-teman dari teman gue yang menginap di hotel malah ditemukan, hanya saja sudah membujur kaku di antara puing-puing bangunan.

Sebulan pasca gempa dan tsunami di Palu, duka itu masih ada. Bukan hanya bagi mereka yang ditinggalkan tapi juga masih tersisa bagi mereka yang selamat. Rasa takut, khawatir dan trauma itu masih membekas.

Sebulan pasca gempa dan tsunami di Palu, banyak pihak yang turun tangan untuk membantu memulihkan Palu; baik itu dari pemerintah, swasta mau pun pribadi. Badan-badan usaha milik negara turut berperan aktif. BUMN bahu-membahu memberikan bantuan ke daerah-daerah yang terkena dampak bencana di Palu.

dok: jadimandiri.org
Bahan bakar minyak, pemasokan listrik, pemulihan jaringan telekomunikasi, bantuan angkutan, sampai bantuan berupa terpal, tenda, alas tidur, dan bahan pokok semua diberikan oleh BUMN yang dikirimkan secara bertahap.

Bank Mandiri sebagai bank pelat merah ikut turun langsung ke Sibalaya Selatan, Kabupaten Sigi, salah satu daerah yang terkena dampak gempa.

Sigi menjadi salah satu kawasan yang sempat terisolir akibat gempa bumi. Penyaluran bantuan ke daerah tersebut menjadi lebih sulit dibandingkan kawasan lainnya yang juga terkena dampak bencana.

Di wilayah Sibalaya, Bank Mandiri telah membangun 100 unit kawasan hunian sementara yang dirancang tahan gempa. Terdapat juga MCK sebanyak 20 unit yang dilengkapi dengan tempat cuci dan wudhu. Dibangun juga aula serbaguna untuk warga dengan bahan dasar pohon kelapa sebagai simbol kearifan lokal.

dok: jadimandiri.org
Untuk membantu normalisasi proses belajar mengajar, Bank Mandiri juga membangun sekolah dengan 7 ruang kelas. Dibangun pula hunian sementara untuk para guru di dekat sekolah.

dok: jadimandiri.org
Ada juga para relawan pengajar yang turun langsung ke daerah Sibalaya ini. Mereka mengajak para anak-anak untuk belajar, bermain, dan menggambar agar anak-anak korban bencana untuk sejenak bisa melupakan kesedihan dan trauma mereka.

dok: jadimandiri.org


dok: jadimandiri.org
Pada tanggal 30 Oktober kemarin, Menteri BUMN Rini. M. Soemarno kembali mengunjungi Palu untuk keempat kalinya pasca bencana. Menteri Rini memastikan kalau semua perusahaan pelat merah bersinergi untuk mempercepat rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana. Menteri Rini datang langsung ke daerah Sibalaya untuk melihat sendiri perkembangan pembangunan di sana.

dok: jadimandiri.org
Selalu ada duka ketika terjadi bencana. Tetapi, selalu ada harapan dalam setiap kesedihan. Semoga Palu dan sekitarnya yang terkena dampak  bencana bisa segera bangkit kembali. Palu kuat. Palu bangkit.  


         

Wednesday, October 24, 2018

Malam Minggu Meriah di Mandiri Karnaval 2018

Gue kalau ditodong, seberapa greget lo ngerayain ulang tahun jawabannya cuma berdoa dan makan bersama keluarga aja. Jomplang banget ketika ditanya ke Bank Mandiri. Seberapa greget lo ngerayain ulang tahun? GUE JADIIN KARNAVAL, APA LO?!


Merayakan ulang tahun ke-20, Bank Mandiri menggelar Mandiri Karnaval di Gelora Bung Karno pada tanggal 20 Oktober 2018 kemarin. Sesuai temanya, perayaannya penuh dengan kemeriahan sebuah karnaval. Ada panggung besar, tenda-tenda berhias lampu, beragam jenis permainan, warna-warni balon dengan bermacam bentuk, hiasan kepala dan topeng, segala jenis hantu lokal, serta tentunya ramainya pengunjung.


Sore itu ketika gue hadir di sana, para pengunjung rata-rata menggunakan kostum berwarna hitam bertuliskan kata Mandiri di bagian dada. Mereka ini adalah direksi dan karyawan beserta keluarga masing-masing yang datang dari berbagai cabang Bank Mandiri se-Jabodetabek bahkan dari luar kota. Pemilihan warna hitam adalah bentuk belasungkawa pada korban gempa di Lombok dan Sulawesi Tengah.

Sesak, penuh, padat, you named it lah. Apalagi di booth-booth makanan. Antrian memanjang seperti ular. Gue hanya bisa duduk bengong di dekat sebuah tenda saking nggak tahu harus ngapain lagi. Tenaga gue seolah diserap oleh lautan manusia yang ada di situ. Kerumunan orang seolah nggak ada habisnya sementara tenggorokan gue sudah kering dan air minum persediaan gue sudah habis.



Setelah tenaga gue balik lagi, gue mengarah ke panggung. Sejak pukul 4 sore panggung tersebut sudah diisi oleh para penampil, para musisi-musisi dan band pop. Gue sempat bertemu dengan sekumpulan orang berkostum, memakai topeng dan sayap yang berwarna-warni. Mereka dengan ramah menyambut para pengunjung yang ingin berfoto bersama. Sementara di area panggung yang masih kosong sore itu, beberapa pengunjung tampak asyik berjoget mengikuti lagu dari penampil pertama, Kopikustik Tegal.


Saat senja semakin habis, musisi yang tampil di atas panggung silih berganti; Gigi Band, Sweet Martabak, Saykoji, Iwa K, SecondBorn sampai Dira Sugandi dan J Flow. Beberapa lagu dari Gigi Band, Sweet Marbatak, Saykoji, Iwa K dan SecondBorn seolah melempar gue ke masa lalu. Lagu-lagu yang sering gue dengar di era 90-an itu seakan membawa rindu pada kenangan-kenangan manis semasa remaja.

Kemunculan para hantu secara tiba-tiba di tengah-tengah pengunjung yang memadati area panggung itu sangat menarik. Beberapa pengunjung sering berteriak dan lari ketakutan saat para hantu mendekat. Ada suster ngesot (yang sayangnya nggak ngesot), ada ibu dari Pengabdi Setan, genderuwo, tuyul dan hantu tanpa kepala.


Ada banyak hal yang bisa dinikmati di Mandiri Karnawal selain hiburan dari hantu dan para musisi. Pengunjung bisa bermain di area permainan, berfoto di booth foto 360, atau ketika sudah lelah ada booth untuk pijat. Selain itu tentu saja ada booth Mandiri untuk layanan top up dan transaksi lainnya.

Semakin malam semakin ramai, setelah beberapa penampil di panggung, malam itu Bank Mandiri meluncurkan beberapa program dan produk terbarunya, yaitu Mandiri Pay dan Mandiri Koperasi. Selain itu dikeluarkan juga e-money terbaru dengan kover Jonathan Cristie. Dan malam itu juga, puncak acara dimeriahkan dengan letupan kembang api ke angkasa.

Sebagai salah satu nasabah Bank Mandiri, rasanya kurang kalau gue tidak ikut memberi doa baik. Selamat Ulang tahun Bank Mandiri ke-20. Sukses selalu dan semoga semakin tumbuh menjadi bank besar yang terdepan dan terpercaya.  



      

       

Speech Delay Penyebabnya Karena Salah Makan?

Anak pertama gue sempat mengalami speech delay sampai dia memasuki taman kanak-kanak. Hanya gue sebagai mamaknya yang tahu dia ngomong apa. Tadinya gue kira ini akibat gue yang terlalu protektif sehingga jarang membiarkan dia bermain di luar rumah. Harus 24 jam bareng mamaknya, nggak boleh jatuh, nggak boleh kotor, dsb. Hampir semua ibu begini juga nggak sih sama anak pertamanya. Apa cuma gue? *nyari teman*

Tapi ternyata salah satu faktor yang bisa membuat anak terlambat bicara adalah karena masalah makan pada bayi dan anak. Lho?

dok: nutrisi untuk bangsa
Informasi ini gue dapat ketika hadir di acara Bicara Gizi dari Nutrisi untuk Bangsa, 20 Oktober 2018 kemarin. Dr. Nur Aisyah Wijaya, SpA(k) selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik mengatakan, kegiatan makan yang salah pada anak selain memengaruhi mulut dan gigi, juga berdampak pada kemampuan anak untuk berbicara.

Eh gimana maksudnya?

Maksudnya adalah, ketika anak masuk pada usia menerima makanan padat lalu mereka tidak mengunyah makanan dengan baik dan benar maka hal tersebut bisa memengaruhi isi mulut dan juga kemampuan anak dalam berbicara. Otot mulut dan gigi yang tidak dilatih dalam pemberian makanan yang sesuai usia bisa memperlambat anak untuk berbicara.  

Perkataan bu dokter seolah menggali kesalahan yang gue buat ketika anak pertama gue masih berada dalam masa emas, yaitu kehidupan di dua tahun pertamanya. Jangan-jangan dulu gue nggak melatih anak gue mengunyah dengan benar. Atau jangan-jangan karena gue memberi makanan tidak sesuai umur. Segala spekulasi itu muncul sehingga memberikan efek rasa bersalah ke gue sebagai mamaknya. Mamak macam apa kau ini?     

Puji Tuhan, anak pertama gue sudah bisa berbicara normal walau kalau gue perhatikan dia belum bisa bercerita dengan runut apa yang dia alami. It’s okay. Bisa dilatih lagi.

Curhatan gue ini hanyalah satu dari sekian banyak permasalahan yang harus dihadapi orangtua. Sekaligus bukti bahwa menjadi orangtua itu tidak semudah melahirkan, mengurus dan membesarkan anak saja. Ada banyak sekali hal yang harus diperhatikan, bahkan detail-detail kecil yang jika luput maka akan memengaruhi tumbuh kembang anak.

Pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, asupan nutrisi sangatlah penting untuk diperhatikan. Selayaknya gue, pasti banyak ibu-ibu di luar sana yang memberi makan anaknya sekadar asal anak sudah makan dan kenyang. Padahal jika anak tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup dampaknya bisa mengarah pada malnutrisi yang berakibat stunting, kecerdasan yang rendah dan bahkan memengaruhi kesehatan secara permanen sehingga sulit untuk diperbaiki.

Gue juga termasuk orang yang tadinya percaya kalau tinggi badan itu faktor utamanya adalah genetik. Nyatanya, tinggi badan anak itu jika dirumuskan 80% asupan nutrisi, 20% genetik. Ketika kita memberi asupan nutrisi secara cukup, maka tidak ada yang namanya stunting. Tapi fakta di lapangan, 7,8 juta balita di Indonesia justru menderita stunting. Miris.

Tumbuh kembang anak di 1000 HPK itu sangat pesat. Anak butuh pemberian makanan yang mengandung zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikro (vitamin dan mineral). Karena belakangan ini gue mulai suka ngegym, gue jadi banyak baca-baca tentang makronutrisi dan mikronutrisi ini.

Makronutrisi adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang relatif besar. Semua makronutrisi ini akan digunakan oleh tubuh untuk menjadi energi, mengganti sel-sel tubuh yang rusak, dan diperlukan dalam hitungan gram. Jumlahnya tergantung pada banyak faktor, termasuk jenis kelamin dan usia. Sedangkan mikronutrisi adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang relatif kecil. Vitamin dan mineral tidak memberikan energi tapi penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Vitamin dan mineral diperlukan dalam proses metabolisme zat gizi makro.  

Masalahnya, walau gue sudah mengetahui jenis makanan apa yang harus gue beri ke anak, tapi kalau gue nggak paham tentang pola pemberian dan perilaku makan ya sama saja bohong. Karena ini berperan penting untuk mencapai tumbuh kembang optimal pada anak.

Makan adalah sebuah proses alamiah yang terbagi dari eating dan feeding. Eating adalah kegiatan memasukkan makanan ke dalam mulut. Sedangkan feeding adalah interaksi antara anak dan orangtua atau pengasuh dalam kegiatan makan. Tujuan pemberian makan terbagi atas tiga aspek; Aspek fisiologis, aspek edukatif, dan aspek psikologis.

Penelitian di Indonesia, masalah makan pada bayi dan anak diklasifikasikan menjadi innapropriate feeding practice, small eater, dan parental misperception.

Innappropriate feeding practice adalah masalah makan yang disebabkan oleh perilaku makan salah atau pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia. Small eater adalah terminologi yang dipakai pada anak dengan keluhan makan sedikit, status gizi kurang tapi feeding rules sudah benar. Sedangkan parental misperception adalah persepsi salah orangtua tentang perilaku atau pemberian makan pada anak.

Apa saja yang menjadi dampak masalah makan pada anak dan bayi?

Oh banyak. Sebut saja bisa menyebabkan risiko gagal tumbuh, gizi kurang, gizi buruk, stunting, rentan infeksi, kekurangan vitamin dan mineral, sampai gangguan kognitif. Serem? Oh jelas.

Karena itu terdapat tiga aspek tatalaksana untuk mengatasi masalah makan ini, yaitu dengan identifikasi faktor penyebab, evaluasi faktor dan dampak nutrisi, serta melakukan upaya perbaikan.

Bagi ibu-ibu yang anaknya masih dalam 1000 HPK masih ada kesempatan untuk mengatur pemberian asupan nutrisi pada anak. Bagi yang anaknya sudah lewat usia 2 tahun seperti gue, mari bergandengan tangan dalam kekecewaan. Tapi jangan putus harap sih, mari kita tetap memberikan anak-anak kita nutrisi yang baik dan seimbang. Karena mereka masih memasuki masa tumbuh kembang.

dok: nutrisi untuk bangsa