Tuesday, July 6, 2021

Sinergi Danone-AQUA dan PT Veolia Indonesia Dalam Usaha Daur Ulang






"Where in the world can you go anymore and not found plastic?" 


Jleb! 


Itu ucapan salah satu peneliti di film dokumenter Plastic Ocean keluaran tahun 2016. 


Membayangkan itu aja saya pusing. Artinya ke mana kita pergi sampah plastik itu ada di mana-mana. Mau di dasar laut mau pun di puncak gunung. Ibaratnya bisa sembunyi kalau dikejar debt collector tapi nggak bisa sembunyi dari plastik. Lah wong ada di mana-mana. 


Lain lagi ketika nonton Pulau Plastik yang baru aja rilis bulan April kemarin. Kata salah satu relawan di film tersebut, sampah plastik yang ditemukan di pinggir pantai banyak yang beredar dari tahun 1980-an. Tahun di mana saya baru lahir. Bayangin sampah itu kekal sampai 30-40 tahun kemudian. 


Apalagi sampah plastik itu paling susah diolah. Paling susah juga terurai dalam jangka waktu yang sangat lama. Jejak karbonnya berlimpah ruah. Khususnya dalam pemakaian air. 


Indonesia sendiri termasuk negara kedua penyumbang sampah plastik di dunia. 

Kedua.

Di dunia.


Baca ini kalau nggak bikin miris ya gimana ya. 


Dengan beredarnya 5 trilyun plastik di perairan laut di dunia sudah bikin hati mencelus. Manalagi konsumsi makanan manusia paling banyak itu berasal dari laut bukan darat. Risiko terkontaminasi mikroplastik menjadi sangat besar. 


Jadi apa sih gebrakan untuk mengurangi sampah plastik ini? Digadang-gadang kan tahun 2050 sampah plastik bakal meningkat sebanyak 35%. Akibatnya mengancam ekosistem darat, air dan kesehatan manusia. 


Danone-AQUA adalah salah satu pihak swasta yang telah lama concern urusan sampah plastik. Program daur ulang plastik di Danone-AQUA sudah dimulai tahun 1993 dengan nama PEDULI. Lalu pada tahun 2010 ada enam unit bisnis daur ulang di Bandung, Lombok, Bali, dan Tangerang Selatan. 


Tahun 2018 untuk menekan produksi sampah melalui gerakan #BijakBerplastik. Gerakan ini melibatkan masyarakat Indonesia untuk berkontribusi yaitu melalui daur ulang dan kesadaran serta keterlibatan dalam menjaga lingkungan. 


Pada tahun 2019, Danone-AQUA juga telah meluncurkan botol air minum pertama di Indonesia yang terbuat dari 100% PET daur ulang (AQUA Life). Dengan harapan di tahun 2022 kandungan daur ulang botol plastik bisa mencapai tiga kali lipat dari yang ada saat ini. 


Yang terbaru adalah dukungan penuh Danone-AQUA terhadap PT Veolia Indonesia untuk membangun pabrik daur ulang terbesar dan termutakhir di Indonesia sejak tahun 2019. Pembangunan pabrik ini telah selesai dan mulai beroperasi sejak April 2021. 


Pada hari Rabu tanggal 30 Juni 2021 dihadiri oleh Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Republik Indonesia bersama Sven Beraud-Sudreau, CEO Veolia Southeast Asia, dan Connie Ang, Presiden Direktur Danone-AQUA. Pabrik daur ulang ini diresmikan. 


Menteri Perindustrian Republik Indonesia yang secara langsung meresmikan pabrik ini. Fasilitas yang dibangun di atas lahan seluas 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi. Dalam sambutannya, beliau berharap dengan adanya pabrik ini mampu mengatasi permasalaan sampah plastik di laut hingga 70% di tahun 2025.


Pabrik daur ulang dan pemrosesan botol plastik yang berlokasi di Pasuruan ini merupakan pabrik terbesar dan termutakhir di Indonesia.


Dengan program daur ulang inklusif Indonesia maka Danone-AQUA juga bekerja sama dengan pemulung dan pekerja TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce,dan Recycle). 


Ini adalah salah satu bentuk pelaksanaan komitmen Danone-AQUA terhadap lingkungan yang berfokus pada 4 pilar. Salah satunya pilar ekonomi sirkular, yaitu memulihkan jumlah plastik lebih banyak dari yang di gunakan pada tahun 2025.


Mari dukung komitmen Danone-AQUA untuk bekerjasama dengan pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah plastik. Bijak berplastik dimulai dari rumah tangga masing-masing. 

Sunday, May 9, 2021

Ajak Anak Bertanggung Jawab dengan Sampah sejak Dini




Ternyata menikah dan memiliki anak mengubah banyak hal dalam pribadi saya. Kebiasaan-kebiasaan yang tadinya tidak terlalu saya pikirkan—bahkan saya praktikkan sebelumnya. Berubah ketika saya mempunyai anak. 


Hal sesederhana membuang sampah ke tempatnya. Dulu sekali, di masa saya kecil saya diajarkan di rumah bahkan di sekolah mengenai hal dasar ini. Sayangnya tidak pada praktiknya. Saya kecil cenderung mempunyai kelakuan layaknya masyarakat umum yang masih suka melempar sisa plastik makanan atau botol minuman ke sembarang tempat. Pinggiran jalan atau got biasanya lokasi favorit untuk dilemparkan. Dulu ya ini. Dulu sekali.


Ketika umur saya bertambah, saya menjadi sadar dengan kelakuan buruk saya. Secara otomatis menaruh stigma ke diri sendiri, jika saya membuang sampah sembarangan artinya saya mempunyai andil membuat kota atau daerah saya kebanjiran. 


Hal ini akhirnya terbawa ketika saya mempunyai anak. Sedari mereka masih kecil sekali, sudah saya biasakan mereka untuk paham kalau sampah sendiri itu harus dibuang pada tempat sampah yang disediakan. Jangan dilempar ke jalan, ditinggal di atas meja makan di mal atau diselipin di suatu tempat yang tidak krusial agar tak ketahuan. Kalau pun belum menemukan tempat sampah, mereka akan menitipkan kepada saya sampai akhirnya bertemu dengan tong sampah. 


Hal dasar ini memang baiknya dibentuk dari rumah. Di sekolah memang diajarkan juga tapi praktiknya anak meniru kebiasaan orang tuanya. Monkey see monkey do. Risiko ketika menjadi orang tua ya itu, bertanggung jawab terhadap apa yang akan dilakukan dan diperbuat sehingga anak menirunya dengan baik. 


Selama masa pandemi ini, kesibukan anak saya selain belajar kebanyakan diisi juga dengan bermain. Lalu kemarin excited sekali ketika tahu Danone AQUA dan sekolah.mu—sebuah wadah edukasi digital, saling berkolaborasi untuk meluncurkan modul digital pembelajaran interaktif “Sampahku, Tanggung Jawabku”. Program ini sekaligus menjadi program lanjutan dari komitmen bijak berplastik AQUA pada pilar edukasi.


Di Twitter saya, salah satu akun sempat membahas tentang seberapa banyak kira-kira sampai rumah tangga yang dihasilkan per keluarga. Keluarga dia aja dalam sebulan mencapai 91kg. 91kg hanya untuk satu keluarga. Saya sendiri nggak berani ngitung sampah bulanan keluarga kami berapa. 


Program “Sampahku, Tanggung Jawabku” ini mengajak anak belajar bertanggung jawab akan lingkungan dengan cara mudah dan menarik. Program yang menyasar anak PAUD dan SD ini dikemas untuk memudahkan orang tua dan anak agar bisa mengakses serta mengunduh materi dengan cara yang mudah. Proses pembelajarannya juga disampaikan juga disesuaikan dengan kebutuhan anak PAUD dan SD.


Peluncuran modul interaktif anak ini dilakukan pada Kamis, 6 Mei 2021 dengan menghadirkan narasumber, seperti:


  • Intan Kartika, selaku Brand Director AQUA
  • Ratih Anggraeni, selaku Head of Climate and Water Stewardship Danone-Indonesia
  • Najeela Shihab, selaku founder Sekolah.mu
  • Jumeri, S.TP., M,Si, selaku perwakilan dari Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah


Program ini bisa diakses secara gratis selamanya. Sudah ribuan pengguna di program PAUD dan SD dengan ulasan yang bermanfaat. 


Buat buibuk seperti saya yang punya anak, keponakan, atau keluarga di umur 4-12 tahun, yuk ajak nyobain program dari AQUA dan Sekolah.mu ini. Mengisi pembelajaran jarak jauh sekaligus menerapkan edukasi dasar yang dengan cara menarik kepada anak di usia dini. 


Daftar link PAUD:  modul Sampahku Tanggung Jawabku 

Dan daftar link SD: modul Sampahku Tanggung Jawabku 

Thursday, April 15, 2021

5 Tips Memakai Sepatu yang Aman dan Nyaman

Credit: https://twitter.com/1ndigogo


Ketika memakai sepatu, tidak sedikit orang merasa tidak nyaman. Ada beberapa alasan mengapa orang-orang tidak nyaman memakai sepatu. Ada saja karena sepatu terlalu sempit atau terlalu longgar. Apa pun alasan yang membuat Anda tidak nyaman memakai sepatu, semuanya tidak menyenangkan. Maka untuk mengatasi masalah tersebut, berikut ini adalah beberapa tip memakai sepatu yang nyaman dan aman untuk Anda.


1. Regangkan sepatu baru Anda

Salah satu cara yang umum tetapi tidak banyak diketahui orang ketika memakai sepatu baru adalah meregangkannya. Regangkan dan longgarkan sepatu baru Anda untuk mencegah rasa sakit ketika dipakai. Cara ini juga dapat membuat kaki Anda tidak lecet. Adapun cara untuk melonggarkan sepatu baru adalah siapkan tas plastik. Isilah tas plastik dengan air. Lalu masukkan sepatu ke dalam tas plastik yang telah terisi air tersebut. Simpanlah ke dalam lemari es selama satu malam. Kemudian ambil kembali. Nah, cara ini akan membuat sepatu melonggar.


2. Pakai kaus kaki

Kaus kaki memiliki fungsi yang baik ketika Anda memakai sepatu. Kaus kaki tidak hanya sebagai aksesori. Ada fungsi penting di baliknya. Beberapa orang tidak suka memakai kaus kaki ketika memakai sepatu padahal kaus kaki sangat berguna. Kaus kaki dapat melindungi kaki Anda dari lecet dan gesekan saat memakai sepatu. Selain itu, kaus kaki juga membuat sepatu tidak kelonggaran. Dengan ini, Anda bisa memakai sepatu dengan nyaman. Tetapi perlu diingat, gunakanlah kaus kaki berbahan tebal dan tidak licin untuk mendapatkan kenyamanan yang tepat.


3. Amplas bagian bawah sepatu baru

Ketidaknyamanan memakai sepatu biasanya berasal dari sepatu baru. Cara untuk mengatasi ketidaknyamanan ini bisa dengan mengamplas bagian bawah sepatu. Kenapa begitu? Anda bisa mudah tergelincir dengan sepatu baru, lo. Dan cara yang bisa digunakan untuk mengurangi itu adalah mengamplas bagian bawah sepatu. Sepatu baru biasanya kilap dan licin. Nah, menggosoknya dengan amplas akan membantu alas sepatu sedikit kasar dan membuat Anda tidak mudah tergelincir.


4. Beli sepatu di waktu sore

Mungkin ini terdengar sedikit aneh, tetapi ada ada baiknya Anda melakukan tip ini. Percaya atau tidak, kaki Anda akan terlihat membengkak karena aktivitas yang dilakukan sepanjang hari. Jadi ketika Anda ingin membeli sepatu, ada baiknya dilakukan pada sore atau malam ini. Ini adalah waktu yang tepat karena kaki Anda sedang dalam kondisi tidak lelah. Dengan begini, Anda akan mendapatkan ukuran sepatu yang pas dan nyaman. Tip ini perlu Anda coba. Tip ini semakin mudah dilakukan mengingat kini banyak pasar sore bermunculan.


5. Gunakan kantung teh untuk hilangkan bau

Rasa nyaman ketika memakai sepatu tidak hanya karena kaki Anda pas ketika masuk ke dalamnya. Ada hal lain yang bisa memengaruhi kenyamanan Anda ketika memakai sepatu, yaitu bau sepatu. Terkadang sepatu menimbulkan bau tidak sedap, terutama sepatu olahraga. Untuk menghilangkan bau ini, Anda bisa mencoba untuk menggunakan kantung teh. Letakkan kantung teh ke dalam sepatu dan biarkan selama satu malam. Kantung teh akan menyerap bau yang ada di dalam sepatu. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, Anda bisa menambahkan baking soda ke dalamnya.


Nah, demikian itu adalah beberapa tip yang bisa Anda terapkan agar nyaman ketika memakai sepatu. Dengan cara itu, Anda tidak perlu lagi merasa sakit dan tidak nyaman ketika memakai sepatu.

Wednesday, March 3, 2021

Pentingnya Edukasi Gizi Sejak Dini



Beberapa hari lalu pas buka Twitter langsung disuguhi dengan keributan soal diet salah satu selebritas Indonesia. Diklaim dengan diet tersebut dia bisa menurunkan berat badan sebanyak 25kg. Tadinya si selebritas share tentang rutinitas dia rajin jalan kaki 45 menit sebagai bagian dari proses penurunan berat badannya. 


Di sini masih masuk akal sampai akhirnya dia ngeluarin buku yang isinya tentang asupan makanan dia secara keseharian yang kalau ditotal nggak sampai 500kalori/hari. Belum lagi klaim dia nggak makan sayur. Pertama karena dia memang dasarnya nggak suka, lalu yang jadi masalah ketika dalam kutipan dia bilang sayur menghambat penurunan berat badan karena makanan berserat mengganggu bakteri baik dalam tubuh. 


Pantas saja para ahli gizi dan nutrisi meradang. Konsep dari mana yang bisa-bisanya bilang sayuran justru mengganggu? Sayur itu selain penting sebagai serat juga mengandung klorofil, lutein, zeaxanthin, kalsium, folat, vitamin C, dan beta karoten. Yang tentu saja dibutuhkan tubuh untuk membentuk imunitas bahkan memperbaiki sel-sel dalam tubuh. 


Masalah tentang buku diet ini makin ramai sih. Puncaknya sudah sejak 1-2 hari lalu dan mungkin masih akan memanas beberapa hari ke depan.


Saya sebagai netijen tentu lebih setuju dengan statemen para ahli gizi dan nutrisi termasuk beberapa influencer di Instagram yang ikut bersuara. I mean, sebagai orang awam, kita sedari kecil dibiasakan orang tua untuk selalu makan sayur. Masa hanya karena ingin mencapai bentuk tubuh secara ideal tapi mengabaikan kebutuhan harian yang penting? 


Kebayang nggak sih usaha para ahli gizi dan nutrisi yang sudah mengedukasi sana sini tapi netijen dan masyarakat lebih percaya kepada diet ekstrim ala ala selebritas yang efek jangka panjangnya bisa membahayakan hidup sendiri. 


Apalagi yang bakal tersihir dengan iming-iming kurus instan ini para remaja dan ibu-ibu yang insekyur dengan tubuhnya sendiri. Lalu abai dengan masalah kesehatannya di waktu yang akan datang. Semacam siklus setan yang muter-muter di situ aja. 


Sama kayak kasus stunting di Indonesia, muter-muter di situ aja dari ibu hamil yang malnutrisi - bayi malnutrisi - remaja malnutrisi. Akhirnya generasi kita nggak bisa berkembang karena pemahaman dasar soal gizi yang baik aja nggak tahu. Lebih suka dibodohi dengan gimmick marketing yang pseudo. 


Kebayang nggak sih para remaja yang terpengaruh dan menganggap makan yang benar itu hanya di bawah 500kalori/hari dan nggak usah makan sayur lalu ketika mereka beranjak dewasa, hamil, lalu melahirkan, generasi apa yang bakal berkembang? 


Hari Jumat, 26 Februari 2021, dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional, Danone Indonesia dan IPB University mengadakan webinar secara online dengan tema “Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini” dengan pembicara profesional:

  • Dr. Rr Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA menjabat sebagai Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan
  • Ir. Harris Iskandar, Ph.D, Widya Prada Ahli Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
  • Vera Sugijanto, VP General Secretary Danone Indonesia
  • Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSI, Ahli Gizi dan ketua Tim Ahli Pengembang Modul “|Isi Piringku|
  • Karyanto Wibowo, Direktur Sustainable Devolepment Danone Indonesia
  • Lisnawati, S.Pd, Guru PAUD


Dokter Dhian bilang kalau permasalahan gizi di Indonesia harus mendapatkan perhatian khusus oleh Pemerintah Indonesia. Anak itu merupakan investasi sumber daya manusia yang memerlukan perhatian khusus untuk kecukupan gizinya sejak lahir, bahkan sejak dari kandungan. Nah lo, kebayang nggak kalau kecukupan gizi diri sendiri aja nggak diperhatikan trus menurun ke anak?


Apalagi masalah gizi pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan, terutama di usia 4-6 tahun. Masalah kekurangan gizi pada anak di masa pertumbuhan ini tentu saja berdampak besar pada imunitas, meningkatnya risiko penyakit infeksi, pertumbuhan dan perkembangan yang tidak optimal, daya saing rendah serta produktivitas rendah. 


Melalui program Isi Piringku, diharapkan dapat mengedukasi serta memberi informasi seputar gizi seimbang kepada orang tua, dan guru TK tentang makanan pokok, protein hewani dan nabati, buah dan sayuran bagi anak-anak.