Tuesday, February 19, 2019

Untuk Gym, Musik, Sunyi, dan BackBeat GO 410

Dua minggu kemarin gue rada uring-uringan di rumah.

Penyebabnya:
gue kena diare/maag akibat salah makan.

Sehingga:
membuat gue nggak bisa ke gym.

Entah kenapa ketika rutinitas gue terganggu mood langsung berantakan. Mana lagi ada sedikit masalah minggu kemari n. I almost give up. Tapi ternyata selalu ada alasan juga untuk survive.

Yang menyenangkan setiap kali gue ngegym adalah gue menjadi punya waktu sendiri. Momen di mana suami sudah berangkat kerja, anak-anak sudah ke sekolah, rumah sudah bersih, dan gue tinggal sendiri.

Gue menikmati kesendirian gue dengan cara menyiksa diri mengangkat beban berpuluh puluh kilo sehingga tubuh gue lelah dan ingin teriak minta ampun atau latihan interval secara intens yang menguras keringat sebesar bulir jagung sampai napas gue mau putus. Gue sungguh menikmati itu. Bukan karena gue masokis. Tapi seakan segala yang gue rasakan ikut lenyap. Seakan gue mampu melewati hari baru dengan lebih berani lagi.

Tapi yang mengganggu adalah, pilihan lagu di gym yang tidak menarik.

Drop shaaayyy...

Lagu-lagu yang diputar di gym kontra sekali dengan selera gue. Kadang saat gue lagi beast mode playlist-nya justru melow. Trus saat gue sudah masuk pendinginan eh playlist-nya malah nge-beat. 
Kan kzl.

Gue adalah penikmat musik sejak masih kecil. Sejak zaman kalau ingin menonton siaran luar negeri harus pasang parabola dulu di rumah. Zaman di mana MTV adalah channel musik paling bergengsi di masanya. Gue tumbuh besar dengan menikmati lagu lagu dari penyanyi atau band favorit dari masih berupa kaset. Yang kalau ingin didengar harus diputar di tape atau di walkman. Bahkan masih sempat punya piringan hitam walau alat pemutarnya sudah tidak ada. Warisan dari opa gue. Kemudian sampai sekarang ketika ingin memutar lagu kesukaan tinggal putar dari aplikasi pemutar lagu yang diunduh di ponsel yang tinggal didengar pakai headset atau earphone gede.

Hidup semakin berjalan, teknologi makin berkembang, apa-apa menjadi serba praktis.

Headset saja sudah dibikin yang wireless biar lebih mudah dan praktis lagi. Nggak perlu repot repot nyolok ke ponsel. Cukup aktifin bluetooth langsung terkoneksi.


Kendala headset yang memakai kabel, tidak praktis digunakan ketika ingin beraktivitas di luar rumah, semisal berolahraga. Gue setiap kali ke gym hanya bisa pasrah dengan playlist yang diputer karena terlalu malas juga mendengarkan lagu lewat ponsel akibat headset. Ya kan repot sistur, lagi sibuk angkat beban eh kabelnya kelilit. Bukannya fokus olahraga malah fokus benerin headset. Belum lagi kalau headset biasa masih rada noisy. Suara-suara di luar headset kadang masih kedengaran. Ganggu.  

Beberapa waktu lalu gue dikirimin headset dari Plantronics. Kalau yang belum tahu, Plantronics ini pelopor audio dan pemimpin dalam industri komunikasi dari Amerika.  Layanan mereka  terdiri dari headset, perangkat lunak, telepon meja, konferensi audio dan video, analitik dan layanan-layanan.

Baru baru ini Plantronics meluncurkan produk ekspansif yang menawarkan pengalaman audio baru bagi penggunanya. Yang mendengarkan bisa menikmati audio lebih baik lagi saat ingin mendengarkan musik, panggilan telepon atau hiburan.   

Gue dikirimin Plantronics series BackBeat GO tipe 410. Sebenarnya BackBeat GO 410 ini lebih cocok dipakai bagi pengguna mobile yang tidak ingin terganggu saat ada di keramaian. Karena BackBeat GO 410 ini headset wireless khusus untuk noise cancelling. Bagus banget digunakan ketika kita lagi melakukan perjalanan tapi nggak mau terganggu dengar anak orang lagi nangis, nggak kepengin dengar suara bising saat pesawat mau take off, nggak mau tahu orang lagi ngerumpi apa di KRL, atau nggak mau dengar omong kosong kamu. #eh  


Gue mencoba headset ini selama beberapa minggu. Tentu saja untuk aktivitas outdoor karena gue mau membuktikan fungsi produk ini. Gue cobain saat gue lagi jogging keliling waterpark dekat rumah dan saat gue ngegym.

First impression

1.       Gue suka banget earbud-nya. Telinga gue termasuk pemilih soal earbud, sedangkan earbud dari BackBeat GO 410 sesuai dengan kuping kecil gue yang nggak cocok dengan jenis earbud yang dijual di pasaran. Ini tentu saja bikin gue hepi banget.

2.       Setelah gue press on, aktifin bluetooh di Iphone gue, langsung konek. Nggak butuh waktu lama. Begitu suara dari lagu keluar, I barely cant hear anything selain lagu yang diputar. Seolah gue hanya sendiri dan sekeliling gue itu hanyalah kesunyian. It really cancelling all the noises.

Yaiyalah ya, wong Active Noise Cancelling (ANC) mehong banget.  Dan itu ada di BackBeat 410 ini. Gue auto deg degan makenya. Takut gue malah ngerusakin. Gimana gantinyaaaa. Mana headset ini seharga invoice bulanan gue dari ngeblog. Huahaha. Sobat misqueen can’t relate.

Paling sering tentu saja gue pakai saat sedang berada di gym. Akhirnya gue punya opsi lagu yang menarik ketimbang playlist di gym yang kadang itu itu aja.  

3.       BackBeat GO 410 secara tampilan menarik ya. Neckband yang fleksibel, ada ANC, bisa meredam segala jenis bising, bahkan punya ketahanan batere sampai 8 jam. Ada warning pula jika batere lagi high, sudah medium atau low. Ya kalau sudah habis otomatis langsung off sendiri.

Lack of Experiences

Dalam experience gue memakai headset ini, setelah pemakaian kurang lebih sejam suka rada strekel. Entah hanya di produk yang gue pakai ini atau secara keseluruhan. Semoga hanya di gue.

1.        Jadi, ketika lagu sedang berjalan dan belum selesai tahu-tahu sudah pindah ke lagu berikutnya.

2.       Volume juga suka mendadak naik sendiri ke paling tinggi. Langsung auto budeg sesaat.

3.       Lalu ketika mencoba memakai di ponsel android, ternyata nggak otomatis konek ketika bluetooth dinyalakan. Untuk pertama kali konek langsung muncul tapi ketika bluetooth off, cenderung hilang dari list devices bluetooth. Beda dengan di Iphone yang langsung kebaca ketika bluetooh aktif.

Kalau begini harus diakalin.

1.       Tombol volume up dan down ditekan bersamaan sampai LED-nya berkedip setelah itu matikan.
2.       Kemudian, nyalakan tombol power tanpa dilepas sampai LED_nya nyala. Nanti device akan kembali terbaca di bluetooth ponsel.

So far gue suka sih. Wireless headset yang praktis, nyaman dipakai, serta benar-benar membuat gue berada di dunia sendiri ketika sudah memakainya.

Any chance to get this for free, Plantronics?

Hahaha.
Becanda.

Selain series BackBeat GO ada juga series BackBeat FIT.

MODEL
WARNA
HARGA LOKAL
KETERSEDIAAN
BackBeat FIT 3100
Hitam dan Abu abu
Rp2.599.000
Sekarang
BackBeat FIT 2100
Hitam, Abu abu, Biru dan Lava Black
Rp1.799.000
Sekarang
BackBeat FIT 350
Hitam, Abu abu, Abu abu/Bone, dan Abu abu/Biru
Rp1.399.000
Sekarang
BackBeat GO 810
Graphite Black, Navy Blue, dan Bone White
Rp2.599.000
Sekarang
BackBeat GO 410
Graphite dan Bone
Rp2.299.000
Sekarang

Untuk informasi lebih lanjut tentang produk ini, sila kunjungi plantronics.com.


Sunday, January 27, 2019

Kalau Galau Pakai Asuransi Apa?


malam tadi aku merindukanmu
setelah sekian lama ingatanku menyembunyikanmu
menaruhnya di dasar kepala
dalam dan jauh
tidakkah kau ingat,
kita pernah sedekat genggam tangan sepasang kekasih
bahkan pernah sedekat lenguh dan desah napas di ranjang sambil berharap itu abadi
tapi tidak,
semua berubah
tidak perlu mengungkap tanya
karena pada akhirnya
setelah menyesap satu gelas kopi
masing masing akan pergi
tanpa ada alasan untuk saling mencari
lagi.

***

Kalian baper nggak sih bacanya?
Gue sendiri baper padahal itu bukan tentang gue. Hahaha. Rasanya nyesek nyesek gimana gitu. Semacam dihantam batu di dada hingga biru. Halah.

Manusia memang ajaib, suka banget menyakiti diri sendiri padahal sedang baik-baik saja. Sama kayak gue, niatnya mau mengerjakan proyek menulis horor eh sejak bulan lalu menyiksa diri dengan masuk ke dalam mood galau. Bukannya thrilling zen malah galau zen. Jadinya suka luka tapi tidak berdarah. Halah lagi.

Sayangnya kalau melukai diri sendiri pakai kata-kata galau nggak terkaver asuransi yaaaaa. #menurutngana

Kalau ada, gue paling duluan daftar. Hahaha.

Ngomong-ngomong soal asuransi, Prudential Indonesia sudah melakukan ekspansi layanan PRUmedical network sampai ke Singapura. Parkway Hospitals Singapore menjadi rumah sakit luar negeri pertama yang masuk di jaringan PRUmedical network.


Manusia berevolusi, kebutuhannya juga. Perasaan yang tetap gitu gitu aja. Yang lebih suka fallin love with people we can’t have. #ehgimana

Termasuk evolusi kebutuhan di bidang kesehatan. Di awal 2019 Prudential Indonesia ikut berevolusi dengan berbagai program, salah satunya layanan PRUmedical network yang menjadi bagian dari kampanye ‘We DO’ ; We Do Tech, We Do Health, We Do Wealth,We Do Good.

Layanan PRUmedical network ini merupakan wujud dari We Do Health di mana Prudential Indonesia ingin memberikan proteksi kesehatan terbaik bagi nasabah dan masyarakat Indonesia, serta ikut mendukung gaya hidup mereka.

Setali dengan gagasan dari Prudential Indonesia, Parkway Hospitals Singapore juga selalu mencari cara baru untuk bisa memberikan perawatan terbaik bagi pasiennya. Bermitra dengan Prudential Indonesia dan masuk dalam layanan PRUmedical network adalah untuk mempermudah akses kepada keahlian klinis yang berkualitas dan fasilitas kelas dunia yang bisa dinikmati semua orang.

Kalau pada belum tahu, Parkway Hospitals Singapore ini terdiri dari beberapa rumah sakit besar ternama, Mount Elizabeth Orchard Hospital, Mount Elizabeth Novena Hospital, Gleneagles Hospital dan Parkway East Hospital.  

Hampir 70% pasien di Parkway Hospitals Singapore berasal dari Indonesia. Iya sih ya, lihat saja artis-artis atau orang penting atau keluarga #crazyrichindonesia yang kalau berobat pasti kebanyakan milih ke Singapura. Alasannya tentu saja karena pelayanan kesehatan. Rumah-rumah sakit di Singapura dianggap memiliki teknologi medis terdepan, dokter-dokternya sudah profesional dan kelas dunia, serta tentu saja pelayanannya yang berkualitas tinggi. Orang sakit pastinya lebih memilih semua keistimewaan di atas biar lekas sembuh, Sudah sakit trus merasa tidak nyaman ya gimana sembuhnya coba...

Di tahun 2018 yang lalu saja ada sekitar 10.000 pasien yang berobat ke Parkway Hospitals Singapore, 4.500 klaim nasabah berasal dari Prudential Indonesia. Besarnya kebutuhan ini yang melatarbelakangi hubungan kerjasama ini.

Ada beberapa layanan eksklusif yang bisa dinikmati para nasabah PRUmedical network di jaringan rumah sakit Parkway Hospitals Singapore:

.       Jaminan ketersediaan kamar rawat inap (free room upgrade)
   Apabila kelas kamar yang sesuai dengan plan yang diambil oleh pasien penuh, maka rumah sakit akan memberikan kelas kamar yang lebih tinggi (up to standard single room) tanpa biaya tambahan, sampai tersedia kamar yang sesuai dengan plan pasien.
.      Tidak ada excess untuk room dan board
Sepanjang nasabah menempati kamar sesuai plan, dijamin biaya perawatan harian tidak berlebih. Namun jika nasabah menempati kamar dengan harga di atas plan, maka diperlakukan biaya excess dan prorata sesuai dengan ketentuan
.       Layanan pasien untuk kemudahan proses administrasi di RS
Alokasi tenaga International Patient Services Helpdesk di Parkway Hospitals Singapore untuk membantu nasabah terkait dengan asuransi
.       Sejumlah penunjang kenyamanan untuk pasien/keluarga yang menemani
Terdapat hadiah menarik untuk pendamping serta bantuan dalam melakukan perjanjian rencana rawat inap, penjemputan di Changi Airport ke Parkway Hospitals Singapore, rekomendasi dokter yang sesuai dengan kebutuhan, bantuan penerjemah, bantuan in-room adnission dan discharge

Dengan segala kemudahan ini, rasanya mau tetap

...

...

...

Sehat aja.

Cukup hati aja yang gampang sakit karena galau, tubuh jangan. Berat di ongkos. Sobat misqueen can’t relate. Mending alokasikan dengan mengubah gaya hidup. Ya mumpung masih muda dan sehat, yuk ah kita jalani gaya hidup sehat. Ya kalau misalnya pun sudah sakit, semoga diberikan berkat agar bisa mendapat perawatan terbaik, misal di Parkway Hospitals Singapore.  

  


Wednesday, January 16, 2019

Pembunuh Itu Bernama Serangan Jantung


Pukul enam pagi di Jalan Belakang Hasikin, di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Selepas sarapan pisang goreng dan menghabiskan segelas teh manis yang dibuat oleh istrinya, seorang lelaki tua duduk di teras rumah. Sinar matahari jatuh malu-malu di undakan, angin lewat dengan sepoi, sungguh sayang jika tidak dinikmati, pikirnya. Dia baru akan termenung menikmati akhir pekan di teras ketika dering telepon di ruang tamu berbunyi. Cucu perempuannya yang baru berusia 9 tahun yang mengangkat.

“Dari Om Hembo mau ngobrol sama Opa,” cucunya berteriak. Lelaki tua itu masuk. Gagang telepon berpindah. Di seberang terdengar suara anak laki-laki bungsunya yang sudah bertahun-tahun tinggal di ibukota. Mereka bercerita lama dan panjang. Hampir satu jam. Setelahnya lelaki tua itu kembali ke teras. Dia ingin duduk di sana sampai pukul sembilan.

DUK.

Bunyi berdebam terdengar dari teras.

Sang istri yang sedang ada di kamar di samping teras langsung keluar. Seketika menjerit. Sang istri memanggil-manggil anak dan menantunya. Cucu-cucunya ikut serta. Termasuk cucu perempuan yang tadi mengangkat telepon.

Lelaki tua itu tergeletak di tanah. Tidak sadarkan diri.

Semua terjadi begitu cepat. Secepat lelaki tua itu dibawa ke rumah sakit tapi ternyata sudah terlambat. Belum pukul sembilan dan dia sudah pergi untuk selamanya.

Hal terakhir yang diingat cucu perempuannya setelah itu adalah, berjalan kaki ke sana kemari untuk mengabarkan ke kerabat dan keluarga kalau opa kesayangannya sudah meninggal dunia. Serangan jantung.    

Hari berganti. Minggu berlari. Tahun yang berjalan membuat cucu perempuan menjadi seorang istri dan seorang ibu yang sudah merantau ke ibukota. Meninggalkan rumah dan keluarga yang sudah bersama dengannya setelah 24 tahun lamanya. Baru satu tahun dia di sana. Anak pertamanya baru berusia satu tahun sekian bulan.

Seseorang datang ke rumahnya pagi pagi sekali. Keadaan masih gelap namun orang tersebut sudah memanggil-manggil namanya belasan kali.

Perempuan itu keluar. Dia membukakan pintu pagar dan mengajak seseorang itu masuk. Yang datang adalah keponakan dari suami tantenya.

“Kenapa telepon kamu tidak aktif?” tanyanya.

“Ganti nomor,” jawab perempuan itu.

“Nanti tante kamu mau bicara.” Sedetik kemudian ponsel laki-laki itu berbunyi. Dia langsung memberikan kepada si perempuan.

“Halo.”

“Iya.”

“Tante ada kabar duka. Kamu harap tenang ya.”

“Kenapa Tante?” Perasaan si perempuan mulai tak keruan.

“Papa kamu meninggal tadi malam. Serangan jantung. Bla bla bla...”

Si perempuan sudah tidak bisa mendengar dengan jelas lagi ucapan sang tante. Sesuatu yang keras baru saja menghajar dadanya. Hatinya remuk.

Belasan tahun lalu opanya pergi akibat serangan jantung, kini papanya. Semua akibat serangan jantung. Penyakit tidak menular tapi menjadi salah satu penyakit pembunuh terbesar di dunia.  


Penyakit Tidak Menular (PTM) diperkirakan menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Menurut WHO, prosentasenya sekitar 73%. PTM juga berpotensi menyebabkan kesulitan keuangan karena bisa membuat keluarga atau pasien sendiri mengalami kebangkrutan. Ini berdasar hasil penelitian dari ASEAN Cost in Oncology (ACTION) yang dilakukan pada tahun 2014-2015.

Penyakit-penyakit kritis seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, atau penyakit jantung memang harus mendapat perhatian lebih. Karena yang mengalami krisis bukan hanya pasien yang mengidap penyakit tersebut tapi juga keluarga. Karena selain menguras emosi bisa juga menguras kantong.

Prudential Indonesia melihat itu, tanggal 14 Januari kemarin mereka meluncurkan PRUCritical Benefit 88. Menurut Pak Jens Reisch selaku Presdir Prudential Indonesia, melalui PRUCritical Benefit 88, Prudential berharap dapat memberikan ketenangan pikiran pada nasabah dan keluarganya.


PRUCritical Benefit 88 mengusung slogan “Proteksi Terjamin, Uang Pasti Kembali” mempunyai beragam manfaat

Proteksi Terjamin

·         Perlindungan komprehensif untuk meninggal atau 60 kondisi kritis tahap akhir, tanpa periode masa bertahan hidup.
·         10% Uang Pertanggungan (UP) untuk angioplasty tanpa mengurangi UP PRUCritical Benefit 88 dengan maksimal Rp200.000.000
·         200% tambahan UP akan dibayarkan jika tertanggung meninggal karena kecelakaan sebelum usia 70 tahun.
·         Perlindungan sampai dengan usia 88 tahun dengan jangka waktu pembayaran premi yang dapat dipilih yakni selam 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun atau premi tunggal.

Uang Pasti Kembali

·         100% UP akan dibayarkan bila tertanggung utama masih hidup dan polis masih aktif sampai usia 88 tahun; atau
·         Jaminan manfaat 100% pengembalian premi pada tahun polis ke-20. Jika nasabah memilih pengembalian premi, maka polis berakhir.


Kemunculan PRUCritical Benefit 88 dibarengi dengan kehadiran komitmen brand baru dari Prudential di tahun 2019 yakni, Listening. Understanding. Delivering. Serta fokus pada DO; we do tech, we do health, we do wealth, we do good.

Di zaman yang semakin berkembang dan serba instan ini rasanya salah sekali jika masih memandang asuransi dengan sebelah mata. Asuransi kesehatan justru harus menjadi dimiliki oleh setiap keluarga demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi kita tahu kalau PTM banyak yang bisa membunuh dengan tiba-tiba, misalnya opa dan papa si perempuan dalam cerita di atas. Beruntung keluarga si perempuan tidak harus menanggung beban dan mengalami kebangkrutan karena kejadiannya begitu cepat. Tidak ada penanganan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Bagaimana jika keluarga si perempuan harus menanggung biaya rumah sakit untuk pasien? Pasti biayanya tidak sedikit. Jika tidak ada asuransi atau pegangan, mau dibayar pakai apa?

Bagi yang masih muda dan sehat, nggak ada salahnya mulai memikirkan untuk membuka asuransi sejak dini. Apalagi kalau ada yang ngajak jalanin bareng ke pelaminan, tanya dulu, “Kamu sudah punya asuransi belum?” biar tahu kalau calonnya itu nggak egois dan peduli sama keluarga.

Umur tidak pernah ada yang tahu kapan berakhirnya, tapi kita bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk melindungi diri dan keluarga sejak dini.

Sebagai disclaimer, kisah di atas bukan fiktif. Yang meninggal akibat serangan jantung itu opa dan papa gue.


     

  

  

Wednesday, January 2, 2019

#AksiFlashBunda dalam Memberikan Pertolongan Pertama

Kadang gue suka heran, kenapa anak kecil doyan sekali jatuh?

Ada becek dikit, jatuh.

Lari dikit, jatuh.

Jalan dikit, juga jatuh.

Atuhlah.

Itu anak gue yang pertama. Saking doyan terjatuh gue nggak ingat lagi berapa banyak luka memar yang dia peroleh. Terlampau sering.

Sebut saja anak gue ini terlalu aktif. Sejak masih balita kerjaannya memang lari-larian ke sana kemari. Baru akan diam ketika dia sudah lelap di tempat tidur.

Dari sekian banyak kali dia terjatuh, ada satu kejadian yang bikin gue panik. Dia terjatuh bukan di saat lagi jalan atau lari, tapi karena terjatuh dari motor.

Saat itu suami, gue dan si kakak, sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah membeli pisang. Gue mendadak ngidam kepengin makan pisang goreng di malam hari karena sedang hamil anak kedua. Di depan sebuah rumah sakit yang baru selesai dibangun, suami gue nggak nyadar kalau jalannya ada yang berlubang. Salahkan lampu jalan yang tidak menyala malam itu.

Entah bagaimana, kejadiannya terlalu cepat. Yang gue ingat motor kami roboh akibat disalip angkot, gue langsung loncat dan membiarkan sisir-sisir pisang yang gue pegang terlempar ke jalan. Gue baik baik saja, sedangkan anak gue. Ah, ini salah gue karena nggak cepat mengantisipasi. Tangan gue tadinya penuh dengan pisang sehingga tidak bisa memegang dia. Anak gue terjatuh. Tidak terlalu keras. Tapi sisi kepalanya membentur aspal. Dia langsung menangis. Pasti sakit. Tentu saja.    

Suami langsung mengangkat dan memeluknya erat. Rasa bersalah terpancar jelas dari wajahnya. Mau marah tapi namanya kesialan bisa terjadi kapan saja. Malam itu kami sedang sial saja. Gue membiarkan saja sisir pisang yang sudah jatuh. Ngidamnya bisa dilanjut kapan hari. Anak gue lebih penting. Apalagi samping kiri kepala anak kami sudah bengkak dan mulai membiru. Harus segera mencari pertolongan pertama. Sayangnya dokter sudah tutup praktek karena waktu itu hampir jam sepuluh malam. Opsi yang tersisa hanyalah apotek.

Gue langsung menelepon mama saat kami tiba di depan apotek yang buka 24 jam. Beliau selalu tahu harus membeli obat apa ketika cucunya sakit. Tentu saja beliau memarahiku terlebih dahulu karena sudah membuat cucunya jatuh. Sebagai anak yang baik hanya bisa pasrah tapi ego sebagai seorang ibu ikut tergores. Karena tidak ada ibu yang tega membuat anaknya terluka.  

“Kamu beli Thromboflash. Dulu ponakan kamu selalu mama pakein itu tiap kali dia terjatuh.”



Ah iya, gue juga mempunyai keponakan yang sama aktifnya dengan anak gue ketika dia masih kecil. Sama-sama sering jatuh juga. Dan gue ingat dulu pernah disuruh mama membeli Thromboflash di apotek.

Gue langsung menyudahi percakapan singkat dengan mama dan bergegas membeli obat yang dimaksud.

Ketika sudah memegang Thromboflash di tangan, gue membaca aturan pakainya. Cukup dioleskan pada luka lebam dan memar. Dioles tipis saja.

Gue membiarkan suami yang membayar dan langsung mengaplikasikan obat tersebut di bagian memar kepala anak gue. Dia masih sesegukan. Tapi matanya mulai sayup karena sudah mengantuk.
Rumah kami tidak jauh dari apotek yang kami singgahi sehingga dalam beberapa menit saja sudah kembali ke rumah.

Gue mengoleskan Thromboflash selama tiga hari berturut-turut. Sehari bisa 2-3x pemakaian. Memar yang tadinya berwarna merah lambat laun berubah menjadi kuning kecokelatan. Tanda kalau memar sudah akan memudar dan Thromboflash bekerja dengan baik.

Yang membuat Thromboflash ini istimewa, bahan aktifnya adalah Heparin Sodium 200 IU. Heparin biasanya diekstrak dari dua sumber mucosa hewan; porcine dari mucosa babi dan bovine dari mucosa sapi. Nah, Thromboflash mengandung heparin yang berasal dari mucosa sapi. Makanya Thromboflash ini lebih halal dibanding kompetitor produk serupa. Apalagi sudah ada sertifikasi HALAL dari MUI. Jadinya pengguna bisa merasa aman dan nyaman karena melindungi konsumen. Benar-benar sahabat keluarga banget. 

Fungi heparin sendiri bekerja melarutkan gumpalan darah yang ada di bawah permukaan kulit akibat memar, membantu mengurangi peradangan, serta melancarkan peredaran darah dalam mempercepat proses penyembuhan memar.

Produknya praktis dan tidak lengket saat diaplikasikan. Thromboflash ini wajib ada di kotak P3K di semua rumah. Dengan Thromboflash, gak takut lebam.

Oh iya, jangan digunakan sebagai obat luka terbuka ya.
   



Pukul Dua Dini Hari


Terbangun dengan satu kehilangan lagi
Pada pertengkaran pagi
Inginku merayakan langkahmu pergi
Tapi hati sudah terbagi
Kupikir semua akan mudah
Tapi patah hatiku sudah
Jelang tidur rindu kian menyala dalam kepala
Pada malam yang padam di ufuk pejam
Hari berganti
Minggu berlari
Lukaku terlampau duka
Aku kuyup oleh airmata

Bahkan saat menuliskan ini, hatiku masih tetap patah

Kamu, patah hatiku (bagian 2)



Aku tak pernah menangis setiap kali patah hati
Karenamu airmata itu luruh
Aku tak pernah segalau ini setiap kali patah hati
Karenamu malam-malamku terdera rindu
Kamu mungkin tak peduli
Tak ada luka menghuni dadamu
Saat malam terus berkembang
Kamu tetap sekokoh karang
Sementara aku masih mencari-cari diriku yang hilang

Jika semua ini membuatku terlihat bodoh di matamu, mungkin karena aku sudah cinta


Kamu, patah hatiku.




Kamu, patah hatiku.

Aku tak tahu, siapa yang terluka di sini. 
Aku atau kamu? 
Mungkin kita berdua. 
Aku menanggung sesal sedang lukamu berisi kecewa dan marah.  

Tapi yang lebih dulu patah itu hatiku. 

Karenamu.