Friday, October 18, 2019

Sinar Mas Land Mencari Juara 2019


Beberapa waktu lalu sempat ramai soal seteru salah satu sponsor besar olahraga bulutangkis dengan sebuah LSM. Di sini netizen dipecah menjadi pro dan kontra. Saya sendiri termasuk yang kontra dengan tindakan LSM tersebut karena merasa alasannya terlalu janggal dan dipaksakan. Maksud saya, setelah kontribusi sponsor tersebut selama puluhan tahun bagi negeri ini, kenapa sekarang baru dipermasalahkan?

Terlepas dari perseteruan tersebut yang sepertinya sudah mencapai titik damai. Tadinya saya—dan mungkin netizen se-Indonesia sempat khawatir dengan perkembangan olahraga bulutangkis di negeri kita ini. Sebagai cabang olahraga yang paling sering mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional bagaimana nasib para atletnya nanti jika tidak ada sponsor yang mau mendanai mereka berjuang?


Sepesimisnya saya tentang masalah ini karena berpikir sudah tidak ada lagi harapan bagi para atlet bulutangkis, saya lupa kalau banyak banget sebenarnya yang masih peduli. Sinar Mas Land misalnya. Menjadi warga Cisauk yang bersebelahan dengan BSD, saya melihat sendiri progress pembangunan di BSD selama 10 tahun ini tidak main-main. Sinar Mas Land membangun program dan fasilitas di kawasan BSD City agar bisa menjadi kota unggulan, bukan hanya dari infrastrukturnya saja tapi juga sumber daya manusianya. Tahun ini saja, Sinar Mas Land bekerja sama dengan atlet bulutangkis senior Chandra Wijaya dan komunitas wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Peduli dan Suka Olahraga (JUSRAGA) menggelar acara Sinar Mas Land Mencari Juara 2019.

Saya berkesempatan hadir di SD Negeri Setu, Kota Tangerang Selatan, banten, pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 2019 kemarin. Tim pemandu bakat dari Sinar Mas Land akan mengunjungi 6 Sekolah Dasar di empat wilayah BSD City meliputi Cisauk, Pagedangan, Serpong, dan Serpong Utara untuk mensosialisasikan launching program SML Mencari Bakat. SD Negeri Setu menjadi lokasi pertama dari rangkaian roadshow ini.


Ada sekitar 220 anak-anak yang sudah duduk di lantai lapangan sekolah ketika saya tiba. Antusiasme terpancar jelas di wajah para murid walau matahari cukup menyengat pagi itu. Bukan hanya mereka tapi juga guru-guru bahkan para orang tua yang ikut hadir di sana terlihat bersemangat. Siapa sih yang tidak mau anaknya mendapat prestasi di bidang olahraga, khususnya bulutangkis. Melihat kehebohan Asian games 2018 kemarin di mana para atlet muda bulutangkis ikut menyumbang emas dan mendapat bonus dari negara yang tidak sedikit. Semua orang tua pasti mau anaknya juga bisa mengambil bagian ketika ada kesempatan.

Kesempatan itu tahu-tahu hadir lewat Sinar Mas Land. Ajang pencarian bakat bulutangkis ini aak berlangsung mulai dari 16 Oktober 2019 – 16 November 2019. SML Mencari bakat menargetkan untuk menjaring 1200 anak usia 8-11 tahun atau berkisar antara kelas 3-5 SD. Sinar Mas Land menyediakan hadiah sebesar Rp163,000,000 untuk 10 orang pemenang yang akan dikonversi menjadi pelatihan dan pembinaan insentif selama satu tahun. Pelatihan ini akan dibimbing langsung oleh Chandra Wijaya di sekolah Chandra Wijaya International Badminton Centre (CWIBC) yang ada di Jelupang, Tangerang Selatan.

Para peserta dari SD Negeri Setu dinilai oleh tim pemandu bakat CWIBC. Penilaian meliputi kemampuan fisik, pemahaman dan penguasaan teknik dasar dalam bermain bulutangkis seperti service, drive, atau smash.


Setiap anak diberikan kesempatan 1 menit untuk bermain bulutangkis melawan tim pemandu bakat CWIBC. Dalam waktu kurang lebih 2 jam, terpilih 15 orang anak yang dirasa sudah sesuai dengan kriteria penilaian. Bahkan ada beberapa yang bermain dengan sangat baik ketika melawan Chandra Wijaya. Ke 15 anak ini nantinya akan bergabung dengan anak-anak pilihan dari sekolah lain, sebelum akhirnya terpilih 10 orang saja di akhir pencarian bakat ini.



Bagi sekolah-sekolah di luar roadshow yang ada di sekitaran Tangerang Selatan juga bisa ikut mendaftar untuk dapat dikunjungi oleh tim pencari bakat dari Sinar Mas Land. Caranya tinggal klik di sini.


Mari berharap, ajang pencarian bakat dari Sinar Mas Land ini mampu menciptakan atlet-atlet berprestasi di masa depan dan olahraga bulutangkis bisa terus berkembang mengharumkan nama bangsa.



Saturday, October 12, 2019

Rilis Trailer dan Poster 99 Nama Cinta


Baru kemarin saya tahu kalau untuk mengeluarkan trailer dan poster film juga ada launching khususnya dan mengundang para rekan media dalam jumlah cukup banyak. Biasanya kan saya tahunya kalau film mau rilis trailer atau poster ya udah launching aja gitu disebar di medsos. Untuk screening barulah mengundang media dan bloger.   

MNC Pictures: Hold my beer!

Kemiskinanku seketika meronta.

Saya sempat amazed ketika pintu Beranda Kitchen dibuka oleh seorang perempuan cantik berpakaian serba putih. Untuk sekian detik bengong dulu kemudian nyadar kalau perempuan tersebut pemeran utama di film baru yang akan tayang tanggal 14 november 2019. Saya baru kemarin itu ngeliat Acha Septriasa secara langsung makanya rada norak dikit. Cantik euy!


Tahu Acha sejak dia masih remaja, karena emang umur saya sama dia kayaknya cuma beda 1-2 tahun. Sekarang udah ibu-ibu anak satu eh muka dan penampilan fisik masih sama aja. Lebih gorgeous malah.    

Adalah film 99 Nama Cinta di mana Acha akan bersanding dengan Deva Mahenra. Sebuah film genre romansa dengan sentuhan religi. Di list nama pemain bahkan saya melihat ada nama Ayana Moon, bau-baunya ada sedikit sentuhan kekoriyaan (?).

Selain Acha dan Deva, ada juga Adinda Thomas, Chiki Fawzi, Susan Sameh, Dzawin, Donny Damara, dan Ira Wibowo. Walau banyak nama baru tapi para pemain seniornya terlihat menjanjikan, yekan?

Premis yang ditawarkan cerita ini adalah cinta sepasang muda mudi dengan dunia pekerjaan yang sangat bertolak belakang, satunya bekerja di bidang entertainment satunya lagi ustaz di pesantren. 99 Nama Cinta ini kabarnya terinspirasi dari Asmaul Husna. Sebagai orang Kristen saya baru tahu sih soal ini, kalau di Islam nama-nama yang baik dan indah itu milik Allah. Jadi Allah digambarkan memiliki 99 Nama Cinta.

Ah iya, karena kemarin diundang untuk launching trailer dan poster jadinya kami; media dan bloger secara eksklusif menyaksikan lebih dulu sebelum disebar di media sosial. Selama kurang lebih 120 detik trailer yang ditampilkan, ceritanya terasa fresh dan langsung engage ke audience.  


Satu hal lainnya yang bisa menjadi pertimbangan kenapa film ini harus ditonton nanti adalah sang penulis skenarionya, yaitu Garin Nugroho.

Kalau nama-nama pemain, rumah produksi sampai penulis skenarionya tidak membuatmu berminat menonton film ini, entah apa yang bisa. Saya sih pasti mau nonton. Masih ada sebulan lagi ngumpulin duit dan ngajak teman untuk nonton film ini rame-rame.  

Tonton dulu trailer-nya di sini kalau penasaran.



Ingat, catat di reminder klean: 99 Nama Cinta tayang 14 November 2019.

Monday, September 23, 2019

Risiko Tinggi dan Dukungan Selama Masa Kehamilan


Tanggal 17 September 2019 kemarin, saya berkesempatan hadir di acara Danone Indonesia yang kembali mengedukasi masyarakat dengan  kegiatan ‘Bicara Gizi – Menghadapi Kehamilan Risiko Tinggi’ yang membahas pentingnya asupan gizi seimbang dan dukungan lingkungan untuk mendukung ibu dengan kehamilan berisiko tinggi.


Karena rata-rata semua perempuan menikah pasti ingin memiliki keturunan. Yang menjadi masalah, tidak semua kehamilan bagi perempuan itu aman, ada juga yang berisiko tinggi. Yang menjadi narasumber pertama adalah Dr. dr. Ali Sungkar SpOG(K), Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan.

Di Indonesia, angka kematian ibu hamil jauh lebih besar dibanding negara tetangga. Penyebab terbesar kematian ibu hamil di tahun 2014 adalah pendarahan dan hipertensi. Namun sebanyak 35% penyebab lainnya ikut meningkat sehingga perlu diperhatikan juga saat pelayanan antenatal.

Tidak ada larangan kalau perempuan ingin hamil, tapi harus tahu risiko yang akan dihadapi nanti. Karena hamil itu seharusnya adalah perencanaan matang bukan hanya asal kepengin beranak pinak saja. Kehamilan berisiko tinggi itu terbagi:

1. Hamil dengan penyakit penyerta: Asthma, Kelainan Paru, Diabetes, Kelainan Jantung, Kelainan Ginjal, Penyakit Autoimun (SLE, APS, dll).
2. Hamil dengan penyulit: Pre Eklampsia, Eklampsia, GDM, Hipertensi, IVF, Miom, Kelainan letak plasenta, Infeksi, Ancaman persalinan preterm.
3. Hamil dengan riwayat operasi terdahulu: Operasi ginekolog, Operasi jantung, dll.
4. Usia saat hamil: Risiko kelainan kongenital, hormon.

Bagi ibu-ibu yang memiliki kondisi khusus dan merencanakan untuk hamil, harus mempertimbangkan isu-isu penting yang akan terjadi ke depannya semisal: Apakah kehamilan membuat kondisi penyakit menjadi berat? Apakah penyakit memengaruhi kehamilan? Apakah pengobatan yang diberikan untuk penyakit dan kehamilan perlu modifikasi? Apakah penyakit diturunkan?

Belum lagi pemenuhan gizi selama kehamilan itu sangat penting dan memengaruhi perkembangan generasi selanjutnya. Salah satu risiko kehamilan apabila ibunya tidak memperhatikan gizi bagi dirinya sendiri adalah terjadinya malnutrisi yang akan menyebabkan stunting. Pemenuhan makro dan mikro nutrisi selama masa kehamilan menjadi salah satu faktor berpengaruh pada perkembangan dan kesehatan sang anak nantinya.

Makanya sudah sering sekali digalakkan pentingnya pemenuhan gizi selama 1000 HPK. 1000 HPKini dihitung dari masa antenatal (270 hari) ke masa early post natal/infancy (365 hari) sampai masa early childhood (365 hari).

Perbaikan nutrisi selama kehamilan ini juga bertujuan memperbaiki keturunan untuk generasi selanjutnya. Dalam Internatinal Journal of Gynecology and Obstetrics merekomendasikan untuk “Think Nutrition First” atau balik ke gizi.

Selain pentingnya tahu risiko kehamilan, perlu tahu juga kalau semasa hamil ibu-ibu itu butuh dukungan. Yang menjadi narasumber kali ini adalah Putu Andani, M.Psi., Psikolog dari Tiga Generasi. Menurut beliau, hamil itu rentan sekali dengan stress, apalagi yang hamil dengan risiko tinggi.


Tiap trisemester memilik fase masing-masing dengan banyak perubahan. Jika ibu hamil terpapar dampak negatif selama masa kehamilan risiko yang akan dialami akan sangat besar, sehingga penting untuk bisa memutus dampak negatif terhadap kehamilan sejak awal. Itu lah pentingnya support system yang turut bekerja sama selama masa kehamilan.

Siapa saja yang dapat membantu seorang ibu menanggulangi stress selama masa kehamilan? Pertama tentu saja diri ibu itu sendiri kemudian suami dan terakhir adalah keluarga/teman dekat.

Kenapa diri ibu sendiri perlu menjadi support system juga? Karena seorang ibu hamil paling tahu dirinya sendiri dan harus bisa mengatasi problem focus dan emotional focus yang sering muncul selama masa kehamilan. Biasanya stress yang dialami akibat fokus justru dimunculkan dari luar masalah.

Peran suami juga sebagai pendukung sangat penting sekali. Menurut penelitian, dukungan suami dapat secara signifikan meningkatkan kondisi kehamilan ibu dibandingkan keluarga atau teman dekat (Glover, 2014). Para suami harus paham kalau kehamilan itu bukan hanya kehamilan bagi sang istri tapi juga kehamilan berdua, karena janin yang tumbuh hasil kesepakatan dan pembuahan bersama bukan sendiri-sendiri.

Sedangkan dukungan dari keluarga atau teman dekat bisa dilakukan dengan membicarakan hal-hal positif, menciptakan suasana menyenangkan tanpa banyak berkomentar tentang body shaming atau pengalaman tidak mengenakkan selama masa kehamilan lainnya.
     

     

Thursday, September 19, 2019

Reuni Anak 90an di Film Bebas


Semenjak trailer film Bebas muncul di linimasa media sosial, saya langsung kepincut. Tendangan Susan Bachtiar ke seseorang terlihat sangat badass sekali. Saat linimasa sedang heboh, begitu juga dengan WAG receh saya yang langsung membahas tentang trailer film ini. Saya jadi tahu kalau ini remake dari film Korea tahun 2011 yang berjudul Sunny. Sebagai #SobatKoriya tentu saja saya merasa gagal karena kelewatan tentang film ini.




Jadilah sebelum film Bebas tayang, beberapa minggu lalu saya memutuskan untuk menonton Sunny.

Sunny sendiri bercerita tentang 7 anak perempuan SMA yang setelah 23 tahun berpisah kemudian bertemu kembali. Alurnya sendiri dimulai dari salah satu karakter yang sudah dewasa dan melakukan pencarian terhadap teman-teman satu gengnya. Penonton diajak bernostalgia dengan kenangan geng tersebut semasa sekolah di tahun 90an.

Saya menaruh ekspektasi cukup rendah karena kurun dua bulan menonton 2 film Indonesia yang juga dihebohkan di media sosial tapi berakhir kecewa. Jadinya saya nggak berharap banyak di film Bebas ini, walau katanya dibikin plek ketiplek dengan aslinya. “Kata orang” kan kadang nggak bisa dipegang, bisa jadi buzzer berbayar biar filmnya dihebohin bagus.

Tapi seharusnya nama Mbak Mira Lesmana sebagai produser dan Riri Riza sebagai sutradara cukup jadi jaminan kalau emang filmnya bakal bagus. Apalagi Mbak Gina S. Noer yang tampil apik di karyanya Dua Garis Biru. Nggak perlu suuzon “kata orang” ini hanya omong kosong buat muji-muji doang.

Sampai akhirnya saya diundang screening film Bebas ini, Rabu, 18 September 2019 kemarin.



Ternyata film Bebas tidak benar-benar plek-ketiplek dengan film Sunny. Ada perubahan gender beberapa karakter yang didominasi perempuan. Di Bebas, anggota geng hanya berjumlah 6 orang sedangkan di Sunny ada 7. Saya tidak tahu alasan penghilangan salah satu karakternya, tapi tentu saja tidak memengaruhi jalan cerita. Kalau yang sudah nonton Sunny pun pasti tidak akan mempermasalahkan penghilangan karakter ini. Pergantian gender karakter pun tidak menjadi masalah. Justru memberi warna baru di film Bebas.

Ada juga beberapa adegan di film Sunny yang tidak dimasukkan ke film Bebas semisal; kebiasaan salah satu karakter yang merokok atau adegan saat dua karakter nongkrong di pojangmacha sambil minum soju. Dengan kondisi “maaf sekadar mengingatkan” sekarang ini, saya bisa maklum kenapa adegan tersebut tidak ada.

Saya tentu saja lebih relate ke film Bebas ketimbang film Sunny, walau di film tersebut para tokohnya sudah SMA dan saya malah masih SD. Kata-kata prokem, kebiasaan remaja di zaman tersebut, penggunaan alat komunikasi, kirim-kirim salam di radio, dan scoring-nya semua saya suka. Apalagi penggunaan lagu “Bebas” milik Iwa K. Ini salah satu lagu favorit saya zaman dulu. Setiap kali dengar pasti langsung bikin diri saya terdisorientasi ke masa lampau.

Kalau pun ada yang mau saya permasalahkan pastinya hanya pemeran yang dipilih, kok nggak sesuai umur? Tapi itu lah hebatnya para aktris dan aktor ini. Akting mereka bikin saya batal mempermasalahkan umur mereka. *salim ke teh Indy Barends*

Tentu saja kudos sebesar-besarnya lagi ke Mbak Mirles yang aslinya sungguh humble dan Mbak Gina S. Noer atas penulisan ulang naskah Bebas ini. Segala celetukan, ide penamaan karakter, dan jokes-nya dabesssttt!


Kalau di film Sunny saya menangis di ending ceritanya, saya kembali menangis di ending cerita film Bebas.

Film Bebas akan mulai sayang tanggal 3 Oktober 2019. Klean jangan sampai ketinggalan buat nonton.

Tante sungguh approved film ini!

   



   

Saturday, September 7, 2019

Portofolio Blogger

Apa saja yang saya dapat selama menulis?

Kira-kira ini beberapa sertifikat dan penghargaan yang saya terima.




 1. Sertifikat dan juga piagam juara Harapan II di Gramedia Writing Project 2017




2. Sertifikat Danone Blogger Academy 2017



3. Piagam Penghargaan dari Kemenkominfo sebagai Blogger Writingthon Asian Games 2018


Baru sedikit sih, tapi saya tetap mau terus belajar lagi untuk hal-hal baru.

Friday, August 30, 2019

Trastuzumab Emtansine; Harapan bagi Penderita Kanker Payudara





Saya tidak pernah mengenal ibu mertua saya. Jauh sebelum saya menikah dengan anaknya, dia sudah lama meninggal.

Penyakit ganas merenggut hidupnya.

Kanker payudara tepatnya.

Saya menjadi bertanya-tanya; kenapa manusia bisa terkena kanker?

Ibu mertua saya misalnya. Karena jika alasannya pola hidup, dia adalah wanita pekerja keras dengan gaya hidup yang sehat. Tidak pernah merokok, minum alkohol, rajin jalan kaki, dan makan makanan olahan rumah buatannya sendiri. Di kampungnya, banyak yang tetap sehat sampai usia lanjut karena gaya hidup yang sama. Lalu kenapa ibu mertua saya malah terkena kanker?

Kanker payudara adalah jenis kanker paling umum didiagnosis pada perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kanker payudara juga merupakan momok paling menakutkan karena jumlah dan kematiannya pada perempuan paling tinggi di Indonesia.

Mendapat diagnosa kanker payudara pasti lah menjadi beban bagi seorang pasien dan juga keluarganya, baik secara ekonomi, psikologis, yang menyebabkan terganggunya dinamika kehidupan keluarga.

Ketika ibu mertua saya harus menjalani hari-hari pengobatan selama 2 tahun, dinamika kehidupan dalam rumah tangganya ikut berantakan. Suami saya pernah berkisah betapa emosinya ikut terkuras selama 2 tahun itu. Keadaan dalam rumahnya ikut berubah. Segala hal yang selalu diurus ibunya pada akhirnya menjadi terbengkalai.

Dalam kasus kanker payudara, jika sel kanker hanya ditemukan di payudara dan dapat dioperasi, kanker tersebut tergolong stadium dini. Pasien dalam golongan stadium dini ini dapat bertahan hidup selama 5 tahun jika diobati dengan baik.

Di seluruh dunia, 1 dari 5 perempuan terdiagnosis kanker payudara jenis HER2-positif yang bersifat agresif. HER2 adalah suatu protein yang diproduksi gen tertentu dan memilki potensi untuk menyebabkan kanker jika terekspresi berlebihan di permukaan sel-sel.

Para pasien dengan HER2-positif sebelumnya diprediksikan memiliki harapan hidup rendah, tapi dalam 15 tahun terakhir dengan adanya perkembangan perawatan kanker payudara yang lebih maju, pasien kanker payudara HER2-positif dapat ditangani dengan kemoterapi, radioterapi dan terapi target yang menunjukkan hasil yang jauh lebih baik.

Roche mengumumkan trastuzumab emtansine, pengobatan inovatif terbaru untuk kanker payudara yang telah disetujui oleh BPOM. Obat ini untuk pasien kanker payudara tipe HER2-positif stadium lanjut atau metastatik yang telah menjalani pengobatan dengan trastuzumab dan kemoterapi menggunakan taxane.

Trastuzumab emtansine adalah antibody-drug conjugate yang merupakan obat tunggal yang mensinergikan dua perlawanan terhadap kanker, yaitu kemoterapi dan terapi target, dalam satu obat. Trastuzumab emtansine bekerja dengan cara mengikat reseptor HER2 di permukaan sel kanker dan memblokir sinyal HER2 yang menjadi penyebab pertumbuhan sel kanker dengan cepat.

Di acara Roche kemarin hadir para pembicara yaitu Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM dan Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM.



Kedua narsum berharap dengan ditemukannya trastuzumab emtansine ini, mampu memberikan meningkatkan hasil pengobatan pasien juga mengurangi beban hidup keluarga pasien.

Saya tahu, ada banyak sekali pasien kanker khususnya kanker payudara yang sedang berjuang saat ini. Satu hal yang harus mereka terus pegang adalah harapan. Jangan pernah menyerah.

Ibu mertua saya memilih menyerah saat itu. Dia memilih menyerah pada penyakitnya. Kesakitan dan beban emosi membuatnya terpuruk dan memilih tidak ingin melanjutkan lagi perjuangan.

Jika kalian punya keluarga yang menderita kanker, jangan pernah menyerah dengan dirinya. Setidaknya sama-sama berjuang sampai pada titik semua sudah tidak bisa diperjuangkan lagi.

Ingat, harapan itu selalu ada. Semua ada waktunya.   

Saturday, August 3, 2019

Belajar Mewujudkan Mimpi dari Film Mahasiswi Baru


Tahun ini ada nggak sih mimpi yang belum kalian wujudin?

Kalau saya kepengin sekali ke Siau. Tanah leluhur dari keluarga papa saya. Ini sudah menjadi bucket list saya sejak tahun 2013 yang lalu. Sederhana sebenarnya, saya tinggal pulang ke Manado lalu naik kapal cepat ke Siau. Sayangnya, walau kedengarannya mudah tapi tidak semudah itu mewujudkannya. Ada berbagai alasan dan pertimbangan. Setelah 6 tahun memendam, tahun ini (sepertinya) saya bisa mewujudkan mimpi itu. We’ll see...

Bicara mimpi, semua orang pasti punya mimpi. Lastri misalnya, di umur 70 tahun beliau kembali menjadi seorang mahasiswi baru. Ini tentu saja bukan mimpi biasa-biasa saja. Sampai benar-benar dikejar pasti karena ada maksud dan tujuan di belakangnya.

Premis yang menarik bukan? Ini kisah yang terjadi di film terbaru karya Monty Tiwa berjudul Mahasiswi Baru.


Sejak trailer-nya muncul—yang tadinya saya kira adalah web series yang bakal tayang di Youtube, saya langsung tertarik. Kalau mau jujur saya bukan penikmat film lokal. Entah ya, masalah selera saja. Saya kurang merasa engaging dengan plot bahkan cara berakting para pemain kita. Bukan underestimate, kembali lagi soal selera. Makanya saya jarang sekali menonton film Indonesia ketika tayang di bioskop. Mahasiswi Baru ini pengecualian karena memiliki premis yang menarik dan fresh.

Saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan screening film ini tanggal 1 Agustus kemarin sekaligus mengikuti Press Conference bersama para pemain yang ada di film tersebut. 

Baiklah, saya mau bahas soal penokohan di dalam film tanpa berusaha spoiler dengan isi film karena saya anti spoiler spoiler club.


Tokoh sentral tentu saja adalah Lastri, perempuan berusia 70 tahun yang diperankan oleh oma Widyawati. Beliau tinggal dengan anak dan menantunya yang tiba-tiba memutuskan untuk kuliah lagi. Saya nggak perlu lah ya membahas akting dari oma Widyawati yang sudah aktif berakting sejak tahun 1967. Saya langsung star struck ketika melihat beliau langsung yang masih tetap anggun dan elegan walau sudah di usia senja.  

Ada Morgan Oey yang berperan menjadi Danny, mahasiswa millenial dengan kelakuan alay-nya. Danny benar-benar representasi dari anak masa kini yang sedikit-sedikit harus memposting kegiatannya di medsos. Saya sudah melihat akting Morgan di beberapa film, dan saya kagum dengan perubahan dan cara beraktingnya yang makin matang. Morgan benar-benar bisa blending dengan karakter yang diperankannya padahal sudah bukan usia anak kuliahan.

Lalu ada Mikha Tambayong, Umay Shahab dan Sonia Alyssa yang masing-masing berperan sebagai Sarah, Erfan, dan Reva. Mereka bertiga bersama dengan Danny menjadi satu geng dengan Lastri selama di kampus. Masing-masing punya karakter yang berbeda dan bertolak belakang tapi bisa menyatu dalam Mahasiswi Baru.     

Saya suka dengan joke dan beberapa kalimat yang keceplosan dari para pemain yang bikin satu bioskop terbahak-bahak. Saya berharap itu adlib bukan hanya sekadar kutipan dari naskah karena pasti pecah banget.

Secara keseluruhan dengan ide cerita yang fresh, film Mahasiswi Baru ini layak menjadi tontonan keluarga. Kita bisa belajar dari mimpi oma Widyawati yang berusaha diwujudkan dan juga segala usaha beliau selama kuliah. Karena tidak mudah menjadi anak kuliah di usia lanjut, apalagi berbaur dengan anak-anak kuliah yang gap usianya terpaut jauh, belum lagi beradaptasi dengan teknologi yang sedang berkembang.

Kalau kalian belum pernah dengar film Mahasiswi Baru, bisa tonton dulu trailer-nya.


Jangan lupa ajak semua keluarga untuk ke bioskop tanggal 8 Agustus nanti. Silakan ketawa dan menangis bareng-bareng ya.