Monday, February 5, 2024

Tentang Sayembara Novel DKJ 2023




Agak telat untuk posting ini, mungkin karena saya harus nyiapin mental yang (masih) berantakan setelah mendengar hasilnya di malam penganugerahan kala itu.

Kalau mau flashback ke belakang, saya selalu menguji kemampuan saya. Dulu saya rajin sekali ikut lomba menulis sebagai motivasi untuk terus berkembang. Saya bahkan ikut lomba dari Gramedia Writing Project selama tiga kali. Itu karena saya sangat berharap karya saya dilirik dan dianggap layak terbit. 

Pada percobaan ketiga itulah karya saya beneran nyantol. Nama saya dibaca sebagai lima besar pemilik karya yang akan dikontrak dan diterbitkan. Kebayang kan rasa bangga saya ke diri saya sendiri. 

Setahun berlalu, novel pertama saya terbit di bulan September 2018. Dengan Gramedia sebagai penerbitnya. Sebuah pencapaian yang tak terhingga masa itu. 

Lalu saya punya goal baru lagi, ingin diundang ke UWRF atau MIWF. Betapa prestisenya ini bagi saya. Tapi untuk masuk ke sana, salah satu cara saya harus lolos dulu di Sayembara Novel DKJ. 

Awal tahun 2023, sayembara ini dibuka. Dengan pedenya saya ikutan. Saya menuliskan cerita yang jarang diangkat atau bahkan tabu. Bagi masyarakat mungkin cerita ini terlalu kontroversi. Saya menambahkan bumbu lokalitas dari daerah kelahiran saya. Karena memang sebagian besar kejadiannya beneran terjadi di sana. 

Lalu saya berharap cemas ketika saya submit karya saya, menunggu pengumuman, sampai girang sekali ketika saya mendapat undangan di email dan WhatsApp. Saya kira itu spesial. Ternyata semua peserta dapat. 

Saya pergi mengajak kedua anak saya, kebetulan suami sedang di luar kota. Lagipula, itu kali pertama saya ka Taman Ismail Marzuki. Bayangkan, selama hampir 15 tahun tinggal di Tangerang. Baru itu perdana saya main ke TIM. Saya ajak kedua anak biar mereka juga merasakan experience baru ke lokasi itu. Kami mengikuti malam penganugerahan sambil duduk di sayap teater sebelah kanan. Menikmati pembukaan dari beberapa musisi lokal sampai pembacaan laporan tanggung jawab dari ketua dan para juri. Sembari saya berharap nama saya disebut dalam suatu kategori. Saya tidak berharap masuk tiga besar. Disebut dalam karya yang disukai juri saja sudah suatu pencapaian. 

Nyatanya, selama hampir satu jam lebih kami di dalam teater. Sampai pemenang pertama disebutkan. Nama saya tak pernah bergaung. Kecewa? Jelas. Saya menaruh ekspektasi di diri saya. Berlebihan mungkin sehingga jatuhnya cukup sakit. 

Memang seharusnya saya tahu kapasitas diri saya, hanya saja ketika saya menyertakan karya saya di sayembara ini. Saya merasa saya sudah menyiapkan secara matang. Ide cerita, konsep, sampai proofreading agar saya bisa menerima banyak masukan dan melakukan perbaikan. Ternyata karya saya masih jauh dari level untuk sayembara ini. 

Saya ingat malam itu saat keluar teater sambil menunggu mobil jemputan datang, saya menangis. Anak perempuan saya memeluk dan menguatkan saya. Rasanya tak salah saya mengajak mereka berdua. Kalau saya pergi sendiri, rasa hancurnya jauh lebih berat kayaknya. 

Tapi lagi-lagi, sebagai orang Indonesia. Mau seburuk apa pun hasilnya kita diajarkan untuk tetap mengambil hikmahnya. Tetap diajarkan bersyukur. Jadi saya bersyukur karena sudah melalui satu kali lagi proses untuk terjatuh, satu kali lagi saya disuruh untuk bangkit, satu kali lagi saya harus berjuang agar ke depannya saya bisa memberikan hasil yang lebih baik. 

Awal-awal setelah pengumuman saya mungkin tak mau bersinggungan dengan segala afirmasi omong kosong tentang kekalahan adalah kemenangan yang tertunda ini. Saya jelas-jelas declare kalau saya totalitas sudah menyerah. Sekarang, mungkin ada saya akan memberikan kesempatan lagi untuk menguji "ah, masa karya saya nggak bisa tembus ke sayembara ini?"


Wednesday, August 9, 2023

Menjadi Teman Autis bagi Anak dengan Autisme

Dulu, tetangga di depan rumah saya di kota Bitung, anak pertamanya menderita autisme. Setiap kali mama menyuruh saya mengantarkan sesuatu ke rumah mereka, saya pasti ketakutan. Saya selalu menolak, tapi omelan mama lebih menakutkan dari anak tetangga. Dengan enggan dan terpaksa biasanya saya pergi. Saya akan sangat berhati-hati sekali dalam mengetuk, berharap di dalam hati agar anak tertua mereka jangan keluar. Saya pasti akan menangis dan lari ketakutan ketika melihat anak pertama mereka ada di pintu masuk.

Dulu saya setakut itu dengan anak autis. Di kepala saya, mereka adalah manusia yang kasar dan tak punya perasaan. Jadi sebisa mungkin jangan dekat dengan mereka.

Tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah saya bertanya, "Dek, teman kamu si Denis kalo di kelas gimana?"

"Dia sukanya lompat-lompat, marah-marah, lalu nangis, Ma."

"Trus gimana sikapnya ke murid yang lainnya?"

"Aku pernah tiba-tiba dicubit trus dia gigit  tangan Noah. Tapi helper-nya langsung narik jauhin dan minta maaf."

"Adek gimana sikapnya ke Denis?"

"Biasa aja. Tapi nggak mau dekat-dekat biar nggak dicubit lagi."

"Teman-teman yang lain?"

"Mereka juga biasa aja."

Denis teman sekelas anak saya adalah anak autis. Saat ini mereka sudah duduk di bangku kelas enam SD. Denis sudah menjadi teman sekelas anak saya sejak kelas satu. Saya baru sekali bertemu dengan Denis, saat perayaan Natal sekolah tahun lalu. Anaknya putih, tinggi, dan sangat rupawan. Tapi seperti kata anak saya, terkadang dia suka lari atau lompat-lompat sesuai mood. Saya pikir anak saya dan teman sekelasnya akan bereaksi sama seperti saya dulu. Takut dan enggan berteman dengan anak autis. Ternyata mereka baik-baik saja, hanya memang disarankan menghindar oleh helper-nya ketika mood Denis sedang tidak baik.


Teman Autis


Autisme pada masa saya mungkin dianggap aib atau penyakit menular, bahkan sampai sekarang ini. Padahal autisme adalah kondisi neurodevelopmental disorder atau gangguan perkembangan neurologis, dikutip dari laman Teman Autis. Terbatasnya pengetahuan mengenai autisme ini yang membuat para penyandangnya dianggap aneh sehingga dikucilkan dari lingkungan. Sering juga mereka akhirnya diperlakukan dengan buruk oleh sekitar.

Sebagai salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards ke-13 dan berangkat dari segala keresahan mereka akan stigma autisme, Ratih Hadiwinoto dan Alvinia Christiany dan tim membentuk Teman Autis.


Ratih Hadiwinoto - Founder Teman Autis

Alvinia Christiany - Co founder Teman Autis


Organisasi ini digagas pada tahun 2017, dengan nama Light it Up Project. Dan berhasil mengadakan dua event, Light it Up Fun Walk dan Light it Up Gathering. Ketika kedua event ini sukses, beberapa anggota Light it Up Project memutuskan untuk terus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Terjadi pengkonsepan ulang, dengan visi, misi, dan kontribusi lebih jelas untuk masyarakat luas, berubahlah namanya menjadi Teman Autis.


Light it Up Fun Walk 2017

Light it Up Gathering 2018


Visi Misi


Terbentuknya Teman Autis bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang autisme. Organisasi ini juga berharap bisa menjadi wadah informasi bagi para orang tua yang mempunyai anak dengan kondisi autisme.

Di era digital ini segala informasi memang mudah didapatkan melalui akses internet. Hanya saja informasi mengenai autisme masih tercerai-berai sehingga menyulitkan orang tua dengan anak autis. Masih banyak mitos-mitos seputar anak autis yang beredar ketimbang fakta.

Oleh sebab itu, Alvinia dan timnya, melalui Teman Autis memberikan wadah informasi tentang autisme. Mulai dari pengetahuan dasar tentang autisme, artikel berisi tip bagi para orang tua dengan anak autis, tes deteksi, rekomendasi klinik, sampai ke event-event yang berhubungan dengan autisme.

Visi Teman Autis adalah menjadi jembatan penyalur informasi terintegrasi yang terpercaya terkait autisme sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai autisme. 

Misinya adalah memberikan dukungan bagi keluarga dengan anggota keluarga dengan diagnosis autisme melalui berbagai cara misalnya: menyediakan platform, klinik/fasilitas penunjang bagi orang tua dengan anak autis. 


Program-program Teman Autis:

1. Teman Autis gencar melakukan gerakan sosialisasi secara offline atau online kepada masyarakat umum, terlebih khusus kepada orang tua dengan anak autis. Teman Autis juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram.  Membuat berbagai konten edukasi tentang autisme untuk merangkul banyak pihak.

2. Teman Autis memiliki program rutin bernama Tanya Jawab seputar Autisme atau disingkat TAWA. Di program ini menghadirkan para ahli sehingga masyarakat yang ingin bertanya sekaligus bisa berkonsultasi secara gratis.

3. Teman Autis juga membuka WhatsApp Group untuk orang tua dengan anak autis. Di grup ini, orang tua bisa saling berbagi cerita dan saling menguatkan satu sama lain.


Rintangan dan Halangan


Dalam setiap organisasi, komunitas, pekerjaan atau apa pun bentuknya yang dilakukan secara bersama-sama selalu akan muncul kendala. Sejak awal terbentuk, Alvinia dan tim sulit untuk menemukan sesama komunitas yang mau berkolaborasi. Teman Autis dianggap masih anak bawang dan minim pengalaman. Belum lagi SDM yang terbatas.

Demi menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat umum tentang autisme dibutuhkan sumber daya manusia yang cukup banyak. Karena untuk menjangkau cakupan masyarakat yang luas, dibutuhkan banyak sekali manusia-manusia yang mau berkontribusi langsung.

Namun berbekal kerja keras selama beberapa tahun ini, Teman Autis kini sudah memiliki 100 mitra yang bekerjasama dan mendukung kinerja organisasi ini.

Di dunia yang apa-apa rasanya menjadi hopeless setiap kali membuka media sosial muncul berita viral tentang kriminalisasi atau kurangnya empati manusia satu dengan manusia lain. Teman Autis menjadi salah satu wujud restored faith in humanity. Sejahat-jahatnya dunia dan segala problematika hidup manusia, masih tetap ada harapan dan orang-orang yang peduli satu sama lain.

Semoga ke depannya, semakin banyak organisasi atau komunitas serupa Teman Autis yang berdiri atas dasar kemanusiaan dan rasa pedulinya untuk menghapus stigma-stigma buruk yang beredar di masyarakat.

Sebagai sesama manusia dan masyarakat, mari kita hapus label anak autis sebagai aib atau penyakit menular. Mari menjadi lingkungan yang ramah bagi mereka. Karena dibutuhkan satu desa untuk membentuk satu anak untuk tumbuh menjadi manusia yang peduli dan tidak judgemental.







Wednesday, July 19, 2023

Anak Saya Dituduh Pelaku Pemerkosaan

Nggak kerasa anak-anak sudah masuk sekolah lagi setelah libur kenaikan kelas selama lebih dari tiga minggu. Anak-anak saya baru saja masuk sekolah tanggal 17 Juli kemarin. Sebagai ortu kenaikan kelas itu pasti bakal bikin pusing, dari daftar ulang, beli buku pelajaran, seragam, dan segala printilannya. Belum lagi uang SPP yang naik terus tiap tahunnya. Setelah mengurus semua itu, hari ini saya baru bisa menulis apa yang dialami anak sulung saya seminggu yang lalu.
Kami baru saja pindah rumah setelah menetap di Cisauk selama hampir 14 tahun. Pada awal bulan Juli ini, kami memutuskan pindah ke dekat sekolah anak. Tentu saja ini dilakukan dengan banyak pertimbangan. Yang tinggal atau pernah ke Cisauk pasti tahu lah alasan utamanya tentu saja karena kemacetan luar binasanya. Terlepas sekarang sedang dibangun flyover, yang justru bikin macet makin parah. Level toleransi saya sudah habis kayaknya. 

Tempat kami yang baru ini ke sekolah hanya tiga menit, belum lagi lokasi perumahan dekat tol. Apa-apa terasa lebih namaste di lingkungan baru ini. Setidaknya untuk sekarang. 

Kami pindah saat anak-anak masih libur sekolah. Setelah menempati rumah selama berapa hari, di hari Sabtu, tepatnya tanggal delapan, anak sulung saya meminta izin untuk nonton konser JKT48 di Spark. Si kakak sudah izin sejak dua minggu sebelumnya. Saya bahkan yang memesankan tiketnya secara online. Anak saya hepi banget. Ternyata selama beberapa bulan belakangan, dia sedang ada di fase mengidolakan sesuatu, dalam hal ini girl group JKT48. Oshinya konon bernama Michie. 

Di Sabtu pagi itu, si kakak bangun dengan amat bersemangat, padahal hari Jumat sore dia baru saja latihan sepakbola dan pulang malam. Tadinya dia bilang mau ketemu sama teman-temannya sekitar pukul sepuluh. Saya tanya, konsernya jam berapa. Jam tiga sore jawabnya. Jelas saya tidak perbolehkan. Terlalu dini untuk datang. Lagian mau ngapain dalam jeda selama itu. 

Awal mula saya mengizinkan dia pergi karena dari pertama cerita ada empat temannya yang mau menonton. Jadi mereka berlima yang akan ke konser bareng-bareng. Rencananya mau naik KRL, turun di Stasiun Palmerah, lalu ke Spark. Saya mengizinkan karena lokasi Spark yang tak jauh dari Stasiun Palmerah tadi. Dan itu ada di pusat kota. Seharusnya semua aman. 

Si kakak jadinya berangkat pukul satu siang. Rencananya akan bertemu dengan temannya di Stasiun Rawabuntu. Suami saya yang mengantarkan ke stasiun. 

Hari itu, sebelum pergi, saya sempat ngasih ide, gimana kalau papanya nemenin sampai Stasiun Palmerah. Anak saya menolak, dia mungkin merasa risih jika dirinya ditemani orang tua sementara dia jalan sama temannya. Akhirnya opsi ini gugur. Papanya hanya mengantar sampai stasiun, menunggu sampai dia bertemu temannya, lalu balik ke rumah. Saya punya kebiasaan memantau anak-anak dan suami bepergian lewat Find My Device. Tentu saja bukan karena saya posesif atau menerobos privasi mereka, ini murni saya lakukan hanya untuk memastikan keberadaan mereka di luar rumah baik-baik saja. Suami dan anak-anak saya juga tidak keberatan saya pantau. 

Sebelum si kakak berangkat, saya isikan kuota, lalu minta dia aktifkan lokasi hpnya. Setelah dia ditinggal papanya, saya mengecek lokasi keberadaannya. Keretanya sudah jalan, di layar ponsel saya sudah mendekati Jurangmangu. Oh, sudah sama teman-temannya pikir saya. Saya lalu mengirim WA, minta si kakak berhati-hati karena dia bawa tas pinggang kecil, lalu minta dia foto ketika sudah sampai di Spark.

Beberapa menit berlalu saya kembali mengecek lokasi hpnya. Sudah di sekitaran Spark. Saya lalu mengirim chat di WA untuk memastikan dia sudah sampai. Centang satu. Dheg! 

Jeda antara chat balasan ke chat berikut hanya berapa menit saja. Kok centang satu? Saya pindah cek lokasi hpnya, tak terdeteksi. Padahal sebelumnya terbaca di depan Spark. Eh, kenapa ya? Saya sempat bilang ke suami, chat si kakak centang satu tapi sudah di Spark. Jangan-jangan terjadi sesuatu. 

Namanya bapak-bapak pasti selalu menyikapi sesuatu dengan tenang. Suami meyakinkan saya agar tidak kuatir. Bisa saja nggak ada sinyal atau si kakak sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Saya pun menurunkan kadar kekhawatiran saya. Iya, mungkin saja dia sedang hepi-hepinya karena mau nonton konser bareng teman dan melihat oshinya secara langsung. I know how it feels. 

Tak seberapa lama, suami memutuskan untuk mengajak saya dan anak bungsu berenang. Lokasinya hanya sepuluh menit dari rumah. Anak bungsu saya tentu saja senang. Dengan antusias dia nyiapin baju renang, handuk, baju dan perlengkapan mandi. Pukul setengah tiga kami berangkat menuju kolam renang. Kolam renang yang kami datangi adalah kolam renang yang sering dipakai sekolah anak-anak setiap kali ada jadwal renang. Saat kami datang lumayan ramai. Untung masih ada sisa tempat duduk. 

Anak saya langsung loncat ke kolam renang karena dari rumah memang perginya sudah dengan baju berenangnya. Tak lama suami saya menyusul turun ke kolam, saya sempat bikin instastory ketika mereka ada di kolam. Niatnya ketika sudah semakin sedikit yang berenang baru saya akan ikutan. Sebuah tanda petir muncul di layar hp. Notifikasi telepon masuk tapi diblokir. Saya memang setting hp saya untuk memblokir nomor tak dikenal. Tanda petir muncul berulang-ulang. 

Perasaan saya tidak enak. Langsung kepikiran buka WA di nomor yang satunya lagi. Kebetulan hp saya memang dual SIM dan WA nomor satunya pakai third party aplikasi. Ada chat dari nomor tak dikenal. Pas saya baca, seperti ada godam menghantam dada. Itu chat dari anak saya.

Si kakak ternyata minta tolong ke orang yang ditemuinya untuk menghubungi saya. Sontak saya langsung menelepon ke nomor yang digunakan anak saya. Terdengar suara bapak-bapak di ujung telepon. Tadinya dia bingung saya siapa, beberapa detik kemudian dia sadar kalau teleponnya baru saja dipinjam seorang anak laki-laki. 

Dada saya berdegup kencang saat si bapak bilang anak saya baru saja diambil barang-barangnya. Tak seberapa lama ada telepon lain dari nomor tak dikenal. Saat saya angkat, dari seorang bapak-bapak lagi. Katanya anak saya sedang bersama dengannya. Sekarang mereka sedang berdiri di depan rumah kami. Saya panik, langsung minta suami dan si kecil untuk segera pulang. Saking paniknya saya memilih memesan ojol karena suami dan anak kedua masih bersiap-siap. 

Motor melaju dengan cepat, saat tiba di depan rumah sudah ada suami dan anak kedua yang duluan sampai. Anak sulung berdiri di samping bapak-bapak tua. Si bapak-bapak menceritakan kejadiannya, dia mengantarkan anak saya dari Stasiun Rawabuntu sampai ke rumah. Saya lalu memberikan uang 100rb sebagai pengganti ongkos. Bapaknya sangat berterima kasih. Saya justru yang bilang terima kasih banyak sudah mengantarkan anak saya dengan selamat. 

Si kakak langsung memeluk saya setelah saya ngobrol dengan si bapak tua. Tangisnya pecah di pelukan saya. Badannya bahkan bergetar ketakutan. Setelah tangisnya reda. Saya dan suami mengajaknya masuk. Di ruang tamu kami minta dia cerita kronologisnya. Apa yang terjadi setelah mereka sampai ke Stasiun Palmerah. Si kakak mulai bercerita dengan nada bergetar. Ternyata dia hanya pergi berdua dengan seorang teman. Tiga teman lainnya batal pergi. Saat mereka sampai ke Stasiun Palmerah, temannya mengusulkan untuk berjalan kaki saja menuju Spark. Saat keduanya sudah hampir sampai ke pintu masuk Spark, mereka dihadang tiga lelaki dewasa. Salah satunya langsung mendekati anak saya dan menuduh anak saya adalah pelaku pemerkosaan. Anak saya harus ikut dengan salah satu dari mereka bertemu dengan orang tua korban. Anak saya dengan kebingungan hanya bisa mengikuti skenario pelaku. Sebelum pergi si kakak diminta menyerahkan tasnya ke temannya. Dia hanya menurut saja. Akhirnya ikut dengan salah seorang pelaku naik motor. Tahunya si kakak justru ditinggal di bawah flyover. Sampai berapa menit si pelaku tak kembali. Si kakak yang kebingungan memilih untuk berjalan menjauhi tempat itu. Di jalan dia hanya bisa ketakutan, nggak tahu mau ngapain. 

Gimana nggak bingung, ini kali pertama dia jalan seorang diri. Ke daerah yang baru kali itu juga didatangi. Memang ya, Tuhan itu baik. Saat dia tengah kebingungan, si kakak dihampiri seorang ojol dengan seragam berwarna jingga. Anak saya cerita apa yang dia alami. Sama si abang ojol dia diajak naik, mereka muterin Spark, temannya sudah tak ada. Abang ojol lalu nganterin si kakak ke stasiun, bahkan memberikan uang lima ribu rupiah biar bisa top up kartu KRL. Berbekal itu, anak saya bisa kembali ke Stasiun Rawabuntu. Di sanalah dia bertemu dengan bapak tua yang mengantarkan kembali ke rumah. 

Sorenya saya langsung update kejadian anak saya ini di Twitter. Viral.

Baca replies dan quotes, ternyata ini modus lama. Banyak yang pernah jadi korban, mostly saat mereka masih SMP atau SMA. Masa di mana mereka masih dianggap lugu dan polos sehingga gampang diintimidasi lalu diambil barang-barangnya.


Saya tentu saja marah sekali dengan apa yang menimpa anak saya. Apalagi dia dituduh sebagai pelaku pemerkosa. Narasi macam apa ini. Anak saya, si kakak, anak yang nggak pernah punya pikiran jahat ke orang lain, anak yang hatinya mudah terenyuh ketika ada orang lain kesusahan, dituduh begini. Sakit sekali hati saya sebagai seorang ibu. Saya yang mengurus dia dari bayi, si kakak dan adiknya seorang diri. Saya yang menghabiskan 14 tahun usianya ada selalu dalam hidupnya. Saya tahu sekali anak saya ketika dewasa nanti nggak akan menjadi laki-laki seperti itu. 

Tapi saya bersyukur karena anak saya bisa kembali ke rumah dengan selamat. Masalah dia harus kehilangan hp dan duit, biarlah itu masih bisa diganti. Asal dia selamat. 

Oh iya, temannya juga selamat. Saya dan suami bisa menemukan nomor bapaknya. Kami saling berkabar. Teman anak saya ketemu saat sudah magrib dan diantar petugas polisi ke rumahnya. Tas anak saya yang dipegangnya dan hp miliknya diambil oleh para pelaku. Teman si kakak ternyata dibawa juga ke suatu tempat lalu ditinggalkan di tempat itu sendirian. Anak saya sangat lega saat tahu temannya juga selamat. Bayangkan, mereka hanya anak-anak usia 14 dan 12 tahun. 

Sebuah pembelajaran luar biasa bagi saya dan suami sebagai orang tua, bahkan jadi pelajaran hebat bagi anak kami. Banyak hal yang bisa dijadikan hikmah dan banyak-banyak bersyukur. 

Saat kejadian yang menimpanya saya jadikan utas dan tulisan ini dibuat, saya sudah minta konsensual dari anak saya. Dia setuju untuk saya publikasikan agar bisa menjadi pelajaran bersama dan warning bagi orang tua dan anak-anak lain. 

Saya berdoa semoga para pelaku bertobat. Seharusnya saya mendoakan mereka yang buruk-buruk saja tapi saya tidak ingin kehilangan kasih. Lagipula, di balik kejadian itu, ketika saya marah dengan para pelaku, tetap ada saja orang baik yang menolong. Buktinya anak saya bisa pulang tanpa kurang suatu apa pun. 

Siapa pun yang membaca ini, semoga kita semua dijaga dan dilindungi dari hal-hal buruk semacam ini.

Teknologi AI Credit Scoring untuk kembangkan UMKM di Indonesia


Tahukah kalian kalau konsep Artificial Intelligence (AI) sudah dikemukakan sejak zaman Yunani Kuno? Dimulai dari Pythagoras yang sudah memikirkan konsep segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Lalu pada abad ke-13, Roger Bacon membahas kemungkinan penciptaan mesin yang bisa berpikir.


Perkembangan AI sendiri baru benar-benar dimulai pada tahun 1940, saat para ahli berpikir tentang komputer dan bagaimana benda ini nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah di kemudian hari. Tahun 1956, John McCarthy, matematikawan dan ilmuwan komputer dari Amerika, mengadakan konferensi bertajuk "The Dartmouth Conference". Di sinilah McCarthy memperkenalkan tentang AI dan mulai memimpin pengembangan teknologi tersebut.


Memasuki tahun 2010-an perkembangan AI semakin canggih. Hingga kini di tahun 2023, AI sudah meliputi banyak aspek kehidupan manusia di era digital. AI secara luas ada dalam berbagai bidang seperti pengenalan suara dan wajah, analisis data sampai pengembangan mobil otonom.


Di bulan Juli ini akan ada Konferensi Bisnis AI yang diselenggarakan di Bali. Mengumpulkan sekitar 170 pengusaha UMKM yang baru berkembang untuk dilatih menggunakan teknologi AI. Perkembangan teknologi ini tentu saja harus bisa dimanfaatkan maksimal dalam bisnis, karena beragam jalan pintas bisa ditemukan dalam teknologi ini. Misalnya menghemat waktu, membantu marketing, memotong pengeluaran, sampai memangkas bisnis menjadi lebih singkat dan efektif.


Salah satu pengembangan yang wajib digunakan di UMKM adalah AI credit scoring.

Source: ascore.ai 


Credit score sendiri adalah indikator yang menggambarkan risiko dari calon debitur. Semakin tinggi skor semakin rendah risiko yang dimiliki. Semakin rendah risiko ini memudahkan seseorang untuk mengajukan pinjaman. Credit Bureau Indonesia mendorong perluasan produk dan layanan perbankan lewat credit scoring dan AI. Pemanfaatan informasi perkreditan dan teknologi berdampak pada peningkatan akurasi, efisiensi, objektivitas, konsistensi dalam layanan penyaluran kredit.


Pelaku bisnis yang juga melek dengan penggunaan teknologi AI credit scoring ini salah satunya adalah Amartha. Startup fintech ini meluncurkan Ascore.ai sejak tahun 2022.


Amartha melihat peluang yang sangat besar untuk mengkatalisis sektor ekonomi informal dengan teknologi yang sedang berkembang. Sekitar 20 juta UMKM di Indonesia belum terlayani dengan layanan keuangan formal karena profiling risiko yang sulit diukur.


Penggunaan Ascore.ai ada untuk menghasilkan:

- Output risiko
- Penghitungan bunga pinjaman
- Pengolahan data
- Keputusan-keputusan yang berpengaruh pada bisnis atau credit decisioning

Ada lebih dari satu juta database mitra pengusaha ultra mikro yang digunakan Amartha dalam kurun tujuh tahun terakhir untuk mengembangkan Ascore.ai. Teknologi ini sebelumnya digunakan untuk mengukur risiko sebelum menyalurkan pinjaman ke kelompok yang masuk pada kategori unbanked.


Ascore.ai menyediakan layanan verifikasi risiko, credit underwriting, advance credit analysis, dan pengecekan kredit nasabah. Pengguna individu dapat menggunakan teknologi ini untuk menghitung profil risiko dan simulasi skor kredit, sebelum melakukan pinjaman ke lembaga keuangan. Dengan Ascore.ai diharapkan dapat menjangkau segmen pasar yang lebih masif, tidak terbatas institusi tapi individu yang membutuhkan layanan keuangan.


UMKM bisa memanfaatkan beberapa produk AI untuk mengembangkan usahanya. Karena dengan AI pengusaha UMKM bisa:

- mendapat informasi tren penjualan, merencanakan strategi pemasaran, meningkatkan interaksi dengan pelanggan, menganalisis perilaku pelanggan, dll.
- bisa menghasilkan gambar-gambar realistis dan unik yang dapat digunakan untuk gambar produk unik dan menarik, menghemat waktu dan biaya produksi, sekaligus meningkatkan branding produk.
- bisa mengetahui profil risiko secara akurat dan holistik.

Sebegitu canggihnya teknologi AI tentu saja menimbulkan polemik dan tantangan baru. Tapi sebagai manusia-manusia yang hidup di era digital, sebaik-baiknya teknologi adalah dipergunakan untuk memudahkan kehidupan dan saling menghidupi antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Thursday, May 18, 2023

Mengurangi Emisi Karbon Dimulai dari Rumah

Kemarin saat sebagian besar warga kota besar mudik, ada salah satu akun yang membahas air quality di ibukota. Hasilnya? Sama saja dengan sebelum warga pada mudik. Artinya apa? Artinya kualitas udara dan lingkungan kita hidup sudah sedemikian buruk. 


Source: metronews


Urusan kualitas udara, saya bisa merasakan perbedaan besarnya ketika tinggal di Cisauk dan saat saya pulang ke kampung halaman, Bitung. Di Bitung, langit masih biru dan tumbuhan masih hijau segar. Kendaraan yang berlalu lalang juga masih sedikit. Ketika menarik napas, paru-paru terasa lebih plong. Beda dengan kondisi langit dan tumbuhan di Tangerang. Tingkat kemacetan dan polusi menumpuk jadi satu. 



Diambil dari nafasidn, kualitas udara untuk kota besar di Pulau Jawa saja rata-rata sudah berada di zona moderate sampai unhealthy. Kemarin pagi saja Cibinong bahkan berada di zona unhealthy karena sudah di angka 153. Sementara kualitas udara yang baik itu harusnya ada di zona hijau dengan indeks 0-50. Saat di Bitung saya mengukur AQI lewat Google, hasilnya ada di angka 9. Di beberapa lokasi bahkan ada di angka 7. Jomplang sekali angkanya dengan yang ada di ibukota. 


Source: nafasidn


Ini baru kualitas udara, belum lagi kemarin saya baca berita tentang kualitas air dan banjir yang terjadi akibat pertambangan di Maluku dan Sulawesi Tenggara. Di salah satu portal berita, air di Konawe, Sulawesi Tenggara, mengalir secokelat tanah. Tidak baik untuk dikonsumsi warga. Kondisi air yang layak konsumsi padahal mencakup; tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Kalau sudah tercemar, ketiga hal itu sama sekali tidak berlaku. 

Beberapa contoh di atas termasuk fakta dan kondisi terkini tentang lingkungan di Indonesia. Iya, sudah di ambang mengkhawatirkan. 


Apa saja dampak emisi karbon pada perubahan iklim terhadap lingkungan? 


Banyak yang berpikir ribuan kendaraan di suatu kota yang menyebabkan kemacetan itu penyumbang emisi karbon yang besar. Yang tidak disadari, ketika kita membuang-buang makanan, kita juga ikut menyumbang emisi karbon. Iya, membuang makanan adalah bentuk emisi karbon. Jejak karbon yang terjalin dari petani sampai ke isi piring kita itu sangatlah besar. Rutinitas harian, perpindahan transaksi, semua menghasilkan emisi karbon. 


Dampaknya apa? 


Beragam, seperti anomali cuaca sehingga bisa menjadi cuaca ekstrem, suhu bumi meningkat, mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan hujan lebat. Di beberapa daerah ketika terjadi kebakaran dan upaya penanggulangannya susah, ya ini efek dari emisi karbon. 


Upaya apa saja yang dilakukan untuk bergerak dan berdaya menjaga lingkungan hidup? 

Di rumah saya sudah mulai membiasakan untuk:

- menggunakan air seperlunya

- mengurangi penggunaan plastik

- menghemat listrik

- memisahkan sampah sesuai jenisnya


Sementara langkah besar yang harus dilakukan untuk meminimalisir dampak kerusakan ini baiknya dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai pihak sebagai bentuk #BersamaBergerakBerdaya:


1. Deforestasi, ini sudah dibahas sejak saya masih masa sekolah. 20 tahun kemudian masih saja belum terjadi deforestasi secara signifikan, justru pembabatan hutan makin meluas. 

2. Menggunakan moda transportasi publik yang ramah lingkungan. 

3. Biasakan berjalan kaki jika hanya dekat. 

4. Hemat penggunaan energi; listrik, air bahkan pupuk. 

5. Mengurangi sampah plastik. 

6. Biasakan menghabiskan makanan yang dimakan. 


Tindakan nyata yang dilakukan untuk mewujudkan bumi berdaya dan pulih lebih kuat adalah dengan bersama-sama menjaga, mengurangi, melestarikan dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Semua #UntukmuBumiku yang jauh lebih baik. Karena bumi ini hanya satu nggak bisa di-recycle atau dipindahtangankan jika sudah rusak. 

Kalau saya memiliki kesempatan untuk membuat kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi mitigasi risiko perubahan iklim, kebijakan yang ingin saya lakukan, lagi-lagi dimulai dari rumah dulu. Tiru kebiasaan masyarakat Jepang, sejak masih dini yang diajarkan adalah kemandirian dan cara menghargai lingkungan. Bukan pamer seberapa pintar anak bisa membaca dan menulis di usia belia. 

Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!

Thursday, May 11, 2023

Selingkuh, Kosakata dan IndiHome


Tadi buka Instagram dan nemu fakta yang dibagikan salah satu akun, Indonesia termasuk peringkat kedua di Asia urusan perselingkuhan. 

Insert meme: *shocking but not surprised


Source: Istock.com


Beberapa hari ini di Twitter ramai perselingkuhan dari pasangan sah. Dua orang perempuan dalam kurun waktu bersamaan membagikan kegilaan pasangannya. Yang satu suaminya selingkuh, tidur di kamar tidur mereka, dan pasangan selingkuhnya hamil. Yang satu saat lagi mereka sedang liburan di Bali, suaminya malah esek-esek dengan perempuan lain. Dan ternyata sudah selingkuh sejak 2018 dengan 30 perempuan. 

Tentu saja langsung bermunculan berbagai opini sebagai bentuk reaksi dari kisah dua perempuan ini. Biasanya awal komentar yang muncul itu berbentuk simpati dan dukungan dari netijen, makin tersebar utasnya mulai bergeser konteks yang dibahas dan ujungnya korban yang disalahkan atas tindakan pasangannya. It's a normal day in Twitter. Saya sendiri termasuk penikmat kehebohan linimasa dalam diam. Diam-diam gibahnya di DM. 

Kita memang nggak bisa mengontrol opini yang akan terbentuk dari satu kejadian. Apalagi jika hanya mendengar dari satu sisi saja. Sejak banyak kasus blunder di Twitter saya belajar untuk coba memahami dari berbagai sisi. Jika muncul satu cerita, jangan dulu ikut berkomentar, nanti akan ada sisi cerita lain yang muncul. Di situ barulah netijen silakan memberikan penilaian. Walau etisnya sih, urusan pribadi dua orang, netijen posisinya hanya sebagai pengamat saja, bukan si yang paling tahu urusan orang lain. Tapi namanya juga netijen ya, budukan kalau apa-apa nggak dikomentari. 

Di Twitter, dalam satu bulan kayaknya ada aja utas tentang perselingkuhan. Biasanya dari para perempuan yang disakiti. Paling heboh tahun kemarin mungkin kisah Amanda Zahra. Suaminya konon selingkuh dengan salah satu artis pendatang baru. 

Banyak hal menarik yang saya amati di kasus Amanda dan dua kasus yang sedang ramai ini. Umumnya, korban yang disalahkan atas ketidakbecusan laki-laki menjaga nafsunya. Suami selingkuh, istri yang dianggap nggak punya kapabilitas menjaga. Padahal suami bukan barang pecah belah. Di kasus Amanda Zahra, bentuk dukungan lama-lama menjadi celaan. Dan yang mencela mostly perempuan juga. Makanya women support women itu hanyalah sebuah distopia. Karena yang paling kencang menghakimi perempuan adalah perempuan lainnya. 

Saya bahkan menemukan dua padanan kata menarik di kasus Amanda dan Yunisa. Di kasus Amanda ketika dia memposting selfie, reaksi netijen berubah menjadi komentar negatif. Lalu muncul kata 'harrasment enabler'. Di kasus Yunisa (yang suaminya selingkuh di Bali), ketika dia memposting selfie sebagai tahap awal dalam griefing after cheating, muncul kata 'cheater apologist'. Enabler sama apologist artinya sebenarnya rada mirip, tapi secara leksikal ada perbedaan. Enabler adalah dukungan atas hal yang negatif, apologist adalah belaan terhadap sesuatu yang kontroversi. 

Di Twitter ketika terjadi perdebatan atau muncul beragam kasus viral saya selalu menemukan kosakata baru. Saya bahkan punya utas sendiri tentang unlocked new word ini. Mulai dari mentrification, codependent, litentia poetica, queerbaiting, aave, interpolation, sampai eugenics. Kata-kata yang saya nggak pernah tahu keberadaannya mendadak muncul sebagai bentuk informasi baru. 

Kalau dulu kosakata baru seperti; gaslighting, gatekeeping, guilt tripping, mansplaining, cherry picking, dsb. Sekarang makin evolve lebih banyak lagi. 

Di era ini sebagai orang tua kalau nggak bisa keep up dengan kosakata baru generasi saat ini kayaknya akan jadi gap yang cukup besar. 

Itulah mengapa sebagai orang tua wajib untuk tetap bisa mengakses informasi agar tidak ketinggalan. Banyaknya internet provider yang tersedia misalnya IndiHome dari Telkom Indonesia. 

IndiHome menyediakan beragam paket yang bisa dipilih, mulai dari paket promo bundling dengan Netflix, Paket 3P (Internet+TV+Phone), Paket 2P (Internet+Phone) (Internet+TV), atau Paket Gamer. Semua bisa dipilih sesuai kebutuhan masing-masing. Biar bisa Twitteran atau mengakses informasi apa saja dengan mudah. Nggak bakal ketinggalan berita dan informasi teranyar. 


Kalian pakai IndiHome juga kan? 

Gym dan Akses Internet yang Mudah bersama IndiHome

Sebagai yang cukup aktif di media sosial, postingan saya paling banyak seputar olahraga di gym. Kurang lebih sudah 4 tahun saya rutin ke gym. Bukan waktu yang sedikit untuk melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Tapi mengubah gaya hidup memang harus persisten. 


Herannya masih ada aja yang berpikir kalau saya unggah kegiatan di medsos sebatas ngegym dikira saya kegiatannya hanya itu aja sisanya leyeh-leyeh. Hey Anda semua, saya sudah sibuk dari subuh ya. Walau saya hanya IRT, ngurusin segala house chores itu melelahkan dan pekerjaan tanpa habis. Belum lagi di sela-sela itu saya harus ngonten atau menulis novel. 


Stigma yang didapat selama ngegym

Saya masih menerima komentar, "Sudah ngegym kok masih gendut?" 

Dulu sebagai awam saya mungkin akan langsung menyerah ke gym usai mendengar komentar seperti ini. Saya akan berpikir betapa sia-sia usaha yang sudah saya lakukan karena nggak berbuah hasil

Tapi karena saya sudah sedikit lebih paham, melalukan sesuatu secara konsistensi itu butuh waktu. Tubuh setiap manusia berbeda-beda, secara genetik, metabolisme, bentuk badan, usia, dsb. Jadi proses yang diterima tubuh masing-masing juga berbeda-beda. Hal yang tidak diketahui banyak orang, membentuk otot itu tidak mudah dan butuh waktu yang lama. Stigma perempuan rutin angkat beban akan menjadikan drinya maskulin itu salah besar. Karakter dan metabolisme perempuan tidak seperti laki-laki yang akan cepat terbentuk otot karena faktor hormon testosteron. Saya saja baru bisa melihat back muscle di tahun ketiga ngegym. 

Dan tentu saja bentuk tubuh yang berbeda. Kondisi saya ketika 60kg dengan saya yang sekarang 70kg bentukannya saja jauh berbeda. 


2013-2019-2023


Salah kaprah tentang diet

Ini masih menjadi paling sering disalahartikan sejak dulu dan sampai sekarang masih banyak yang belum paham. Konotasi diet selama ini dianggap sebagai tidak makan. Sering kan dengar komentar misal lagi makan bersama lalu memilih nggak ambil makanan dibilangnya, "Lagi diet ya?" Padahal diet adalah mengubah pola makan, mengurangi jenis-jenis makanan yang dikonsumsi secara berlebihan. Alih-alih itu makna diet justru dianggap tidak makan sama sekali dan membatasi makronutrien tertentu. 


Salah kaprah tentang makanan

Karbohidrat selalu menjadi public enemy urusan menguruskan berat badan. Makronutrien ini dianggap penyebab kenaikan berat badan signifikan bagi manusia. Padahal namanya saja makronutrien artinya ini nutrisi esensial yang diperlukan tubuh bukan harus dihindari. Nggak ada yang salah dengan makan karbohidrat. Yang salah adalah porsi makannya dilakukan secara berlebihan. Kontrol terhadap nafsu makan yang harus dijaga. 

Defisiensi karbohidrat artinya memberikan dampak buruk bagi tubuh di kemudian hari. Mulai dari kekurangan gizi, obesitas, penyakit ginjal, dsb. 


Mudahnya akses informasi di zaman ini

Di zaman yang sudah semakin canggih ini, semua dipermudah dengan akses internet yang gampang. Salah satunya dengan adanya IndiHome dari Telkom Indonesia sebagai internet provider yang jaringannya sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. 

Ada beragam paket yang bisa dipilih, mulai dari paket promo bundling dengan Netflix, Paket 3P (Internet+TV+Phone), Paket 2P (Internet+Phone) (Internet+TV), atau Paket Gamer. Semua bisa dipilih sesuai kebutuhan masing-masing. 

Dari semua pilihan paket itu yang paling penting adalah bagaimana kita mengakses informasi secara baik. Banyak hal yang bisa dipelajari dengan mudahnya berselancar di digital di saat sekarang ini. Saya sebagai Gen Y mengalami fase transisi dari analog ke digital. Saya tahu bagaimana ribetnya mencari informasi di masa itu, harus berburu buku dulu atau ke warnet, yang mana bagi anak sekolahan atau kuliahan di masa itu tidaklah murah. 


Jadi, internet provider apa yang kalian pakai di rumah dan kenapa IndiHome?