Tuesday, May 28, 2019

GO-MASSAGE Is Life

Pukul 04.30 suami membangunkan gue. Sudah hari Senin. Lagi. Hari-hari berlalu tanpa gue sadari. Perasaan senja baru saja turun eh tahu-tahu sudah pagi lagi. Subuh itu, suami berniat berangkat ke Jepara karena ada kerjaan dari kantor. Sebulan lamanya. SEBULAN! (harus banget kepslok). Perasaan gue? Biasa aja. Anak-anak gue juga biasa aja. Kami sudah sering ditinggal begini sejak anak pertama belum genap berusia setahun. Hati gue udah tertempa dengan baik. Anak-anak gue juga. Nggak pernah ada drama kalau papanya berangkat anak nangis mewek minta jangan pergi. Mereka sudah tahu, papanya pergi untuk kerja. 

Palingan yang akan drama setelah suami nggak ada itu gue. Ngeluh badan pegel misalnya.
Sejak aktif nge-gym gue sering ngalamin sore muscle. Otot kram. Ini after effect dari latihan angkat beban. Biasanya ini gue rasakan setelah latihan upper body yang memang jarang gue lakuin karena lebih suka latihan lower body/leg. Kebiasaan buruk gue, hanya gue diamkan saja. Padahal bagian pundak selalu terasa kaku.   

Kalau diingat sudah lama sekali gue nggak di-massage. Terakhir itu saat anak kedua berumur 6 bulan atau 1 tahun, gue lupa. 

Keinginan di-massage ini sudah ada dari hari sebelum suami mau pergi. Tadinya berencana ke spa bareng sama suami tapi segala kesibukan dan persiapan dia berangkat bikin rencana bubar jalan. Katanya, gue pergi aja sendiri. Sayangnya guenyaterlalu mager untuk ke luar rumah. Salon terdekat hanya berjarak 1km, tapi ya namanya malas ya malas banget. 

Di Minggu malam gue coba-coba buka aplikasi GO-LIFE. Sudah punya aplikasi GO-JEK sejak lama tapi gue belum pernah nyobain GO-LIFE. Iya, seaneh itu. Karena gue mikir belum perlu banget. Kalau perlu nyalon, salonnya dekat. Kalau pengin beres rumah, tiap hari juga gue beresin rumah, kalau pengin dandan, gue sudah bisa dikit-dikit. 

Pada akhirnya gue butuh juga layanannya karena badan sudah sangat pegel sementara diri terlalu malas untuk ke mana-mana. Pesannya lah gue layanan di GO-MASSAGE.

First impression; setelah memilih jam, hari, jenis kelamin terapis, jasa pelayanan, eh... PENYEDIA JASA TIDAK DITEMUKAN.




Sudah gue lakukan pemesanan berulang-ulang, bahkan gonta ganti hari dan jam eh nggak ada yang terima. *cries in any language*

Sampai akhirnya ada terapis yang terima di hari Senin jam 10.00. Hooray!



Baru juga dijadwalkan eh mbak terapisnya langsung WhatsApp buat mastiin kalau besok gue benar-benar bisa. Gue iyain tentu saja. Masa gue yang tentuin orderan trus nggak jadi. 

Lalu hari itu setelah suami berangkat dan anak-anak ke sekolah, segala pekerjaan rumah gue sudah beres, pukul 09.43 terapis dari GO-MASSAGE yang gue pesan datang. Dia tiba diantar motor. Rupanya itu suaminya. Gue baru tahu waktu lihat di riwayat pesanan kalau keterangannya, terapisnya bakal didampingi. Ini maksudnya diantar sama saudara atau suami sendiri. 

Namanya Mbak Indra Lestari. Orangnya sedikit canggung dan malu. Tapi ketika gue bilang santai aja, dengan sigap dia langsung mengeluarkan segala keperluan untuk memijat. Oh iya, gue memesan layanan Body Massage dan Totok Wajah dengan durasi 90 menit. 



Mbak Lestari, begitu gue manggil dia, membuka jaket yang dia kenakan sehingga memperlihatkan seragam kerja yang di bagian dada sebelah kiri bertuliskan, GO-MASSAGE. Dia menaruh alas berupa kain sarung di tempat tidur dan meminta gue untuk melepas pakaian. Ya kan mau dipijat sebadan-badan, manalah mungkin pakai baju. 

Hanya ada gue dan Mbak Lestari saja. Suaminya yang mengantar sudah langsung pergi, katanya ingin mencuci motor dan akan kembali untuk menjemput. 

Mbak Lestari sedikit pendiam tapi sopan. Dia meminta izin terlebih dahulu sebelum memulai memijat bagian kaki dengan minyak. Dari kaki naik ke badan lalu ke tangan dan pundak. Sesekali gue ajak ngobrol. Bertanya kapan dia mulai bekerja menjadi terapis. Sudah hampir 2 tahun ini, katanya. Suaminya pun seorang terapis di GO-MASSAGE selain menjadi driver GO-JEK. Dalam sehari dia bisa mendapat 5x orderan, hanya saja katanya, di awal bulan puasa itu sangat sepi. Terkadang hanya 1 orderan, terkadang tidak ada sama sekali.

Mbak Lestari sengaja memilih customer perempuan saja dalam melayani. Kemudian dia bablas curhat soal customeryang kadang iseng memesan dengan iming-iming akan memberikan biaya tambahan dengan harapan ada layanan lebih. Tentu saja Mbak Lestari menolak. Dia sedikit gusar ketika menceritakan itu. Gue sedikitnya bisa mengerti perasaannya tapi nggak ngerti dengan tipe orang-orang macam begitu. 

Mbak Lestari memijat seluruh badan gue selama satu jam lebih. Setelah selesai, dia mulai melakukan totok wajah selama 15 menit. Badan gue langsung berasa ringan, apalagi kekuatan pijatan Mbak Lestari pas banget. Gue hampir tertidur sebenarnya pas lagi dipijat itu, tapi nggak enak jadinya maksa diri agar tetap sadar. Hahaha.

Untuk layanan selama 90 menit yang bikin gue jadi makin mager ke luar rumah karena badan terasa ringan dan enak. Gue hanya perlu membayar sebesar Rp130.000 saja. Hanya order lewat GO-LIFE, nunggu di rumah, terapis datang, dilayani dengan baik dan puas, harga segitu ya worth it banget.

Oh iya, review GO-MASSAGE ini benar-benar apa yang gue rasakan sendiriSebuah layanan pijat panggilan praktis dengan hasil memuaskan. Setidaknya untuk kali pertama gue coba sih begitu. Tapi gue yakin semua terapis yang ada di GO-MASSAGE sudah profesional. Mereka sudah dilatih selama 6 bulan dulu secara intens sebelum akhirnya bisa melayani customer dengan baik

Tapi ingat, pijat panggilan ke rumah atau kantor ini bukan pijat plus plus. Tolong dipahami kalau semua terapisnya melakukan untuk kerja yang halal, semisal Mbak Lestari ini. Jangan menjadi manusia yang tidak bisa menahan nafsu dengan otak yang hanya berisi selangkangan saja.

Kalau kalian berminat mencoba pijat panggilan ini, unduh dulu aplikasi GO-LIFE. Nanti kalau mau, gue ada kode referral yang bisa dipakai biar dapat diskonan juga ketika memakai layanan di GO-LIFE. Karena diskonan is lyfe~ 

Pakai kode referral ini ya biar bisa lebih hemat lagi. Hanya berlaku sampai tanggal 10 Juni 2019. Buru.


Sunday, May 19, 2019

Puasa dan Diet Puasa



Di bulan Ramadan ini menjalani puasa adalah kewajiban. Banyak yang mempergunakan momen ini untuk mengubah gaya hidup sekaligus menurunkan berat badan. Inilah yang menjadi ide dasar dari intermittent fasting atau diet puasa yang belakangan makin ngehits di antara para penikmat gaya hidup sehat.

Gue termasuk yang belakangan mulai menjalankan intermittent fasting atau diet puasa ini walau masih belum konsisten. Tujuannya sih karena ada goal yang harus gue kejar tahun ini. Kita memang harus punya target ketika ingin mencapai sesuatu.  

Tapi apa yang membedakan puasa dan diet puasa?

1.      Definisi
Jika puasa adalah kondisi tidak makan selama 14-16 jam selama satu bulan. Maka intermittent fasting atau diet puasa adalah pola makan yang memiliki siklus antara puasa dan makan dalam periode tertentu.

2.       Boleh dan tidak boleh
Dalam berpuasa selama 14-16 jam tidak dianjurkan untuk makan dan minum. Dalam diet puasa, minuman seperti air putih, kopi, dan minuman rendah kalori masih bisa dikonsumsi selama masa puasa.

3.       Respon otak
Saat menjalankan puasa di bulan Ramadan, otak akan merespon ini bukan sebagai keterpaksaan karena dilakukan dengan perlahan, teratur dan berkelanjutan. Saat kita diet puasa, otak terkadang akan mengenali ini sebagai diet sehingga bisa berefek pada metabolisme tubuh.

4.       Terbatas
Dalam menjalankan puasa di bulan Ramadan hampir semua orang bisa melakukannya selama kuat untuk menjalani. Diet puasa tidak dianjurkan bagi orang-orang yang memiliki penyakit dengan faktor risiko, semisal diabetes atau jantung.

5.       Benefit
Berpuasa secara biasa maupun diet puasa sama-sama bisa membantu menurunkan berat badan. Dalam berpuasa atau diet puasa pembatasan asupan kalori dan konsumsi makanan sehat di jam makan dipastikan bisa menurunkan berat badan secara signifikan. 

Nah, puasa di bulan Ramadan ternyata sangat banyak manfaatnya. Tapi jika sedang tidak berpuasa, tidak ada salahnya menjalani diet puasa. Karena manfaat dari berpuasa dan diet puasa sama-sama bisa membantu menurunkan berat badan, memperbaiki metabolisme tubuh, dan bahkan mampu memperpanjang usia.      






Thursday, May 16, 2019

Aneka Resep Sarapan Praktis dengan Selai Kacang


Biasanya gue selalu sarapan buah sampai jelang makan siang. Kebiasaan sarapan buah ini sudah gue praktikkan sejak tahun 2012. Perut lebih ringan dan nggak begah ketika sarapan buah. Tapi berhubung jam ngegym biasanya selalu pagi, jadinya asupan dari buah tidak cukup menjadi pre-workout meal. Alternatif sarapan akhirnya berubah haluan. Gue butuh makro nutrisi untuk memulai hari sebelum ke gym. Ada sih yang memilih tidak sarapan sebelum ngegym sementara gue nggak bisa. Harus sarapan dulu. Ini buat nambah energi karena gue selalu angkat beban.

Hasil browsing dan lirik-lirik resep dari para fitness babe di Instagram, akhirnya gue bisa bikin variasi sarapan yang beda-beda tiap hari sekaligus menjadi pre-workout meal gue.

Dalam pengaplikasian sarapan, gue selalu menaruh selai kacang 1-2 sendok.



Biar apa?

Ya biar enak.

Etapi, selai kacangnya bikin sendiri bukan yang dijual di supermarket.

Kenapa?

Karena kacang tanah ini sehat asal tidak ada tambahan seperti gula, garam, minyak sayur atau lemak trans seperti produk olahan selai kacang pada umumnya.

Jangan gampang percaya kalau kacang tanah bisa memicu penyakit ini lah itu lah. Semua tergantung dari cara mengolah makanan tersebut. Kalau kacang tanahnya digoreng pakai minyak yang banyak tentu saja menjadi tidak sehat. Gue selalu membeli kacang kupas lalu gue sangrai di wajan kemudian baru gue blender sampai menjadi selai kacang.

Nah, ada 3 resep favorit gue untuk sarapan atau sebagai pre-workout meal:

1. Pancake Oat Pisang dan Apel


Pancake oat ini bahannya mudah dan lebih sehat; 3 scoop instan oat, setengah botol susu kedelai ikutan kecil, 1 butir telur, dan 2 scoop tepung pisang. Blender semua bahan lalu masak.
Setelah selesai tambahkan potongan buah pisang,apel dan selai kacang.

2. Yoghurt Buah


2 sendok plain yoghurt, potongan buah naga, strawberry, blueberry dan selai kacang.

3. Roti Gandum Buah


Panggang roti gandum, olesi selai kacang, tambahkan potongan pisang dan blueberry.

Semua makanan di atas praktis dan mudah. Rata-rata berkisar 400-500 kalori dan kenyang tahan lama. Rasanya? Ya nggak usah ditanya, enak banget. Kata siapa kalau yang demen ngegym dan diet makanannya harus tidak enak.        

Wednesday, May 15, 2019

Jenis-jenis Puasa yang Bisa Menurunkan Berat Badan


Di beberapa agama puasa itu suatu keharusan, di agama gue sih bukan paksaan. Kalau memang mau berpuasa ya monggo. Hanya saja gue jarang sekali mempraktikkannya. Kalau dihitung baru 3-4x gue berpuasa seumur hidup ini. Itu pun dengan ogah-ogahan. Salut dengan teman-teman muslim yang bisa tahan berpuasa selama satu bulan. Gue sehari aja bisa cranky karena tipikal yang tidak terbiasa menahan lapar.

Belakangan sejak rajin nge-gym, gue jadi banyak belajar bagaimana agar rutinitas atau gaya hidup gue ini punya dampak yang lebih baik bagi tubuh. Mengubah gaya hidup tidak semudah hanya mengubah pola makan semata. Mengubah gaya hidup berarti belajar lagi dari nol. Ini yang kurang dipahami banyak orang. Knowledge before diet. Harus punya ilmu sebelum melakukan diet. Ya wajar, pengertian diet sendiri sudah salah kaprah sejak lama.

Dalam proses belajar agar memiliki tubuh ideal ini salah satu proses yang gue dapat adalah berpuasa atau intermittent fasting. Sejak beberapa waktu ini dalam intermittent fasting ini sedang ngehits. Salah satu penyebabnya tentu saja karena bisa menurunkan berat badan, meningkatkan metabolisme tubuh dan bahkan bisa memperpanjang umur.

Nggak heran sih dengan semua persepsi tentang intermittent fasting ini, beneran bisa efektif kalau emang diterapkan dengan baik. Hanya perlu digarisbawahi, tidak semua cocok bagi tiap individu. Misalnya cocok di gue ya belum tentu cocok di suami gue. Pun dengan segala macam klaim diet masa kini yang makin beragam. Tidak semua orang bisa mengikutinya. Pada hakikatnya sih, masing-masing harus mengenal dahulu tubuhnya sendiri. Kalau asal ikut-ikutan saja ya bisa bahaya bagi kesehatan sendiri.


Dari hasil baca-baca, ada 6 cara populer untuk melakukan intermittent fasting

1. Metode 16/8

Metode 16/8 ini adalah metode berpuasa selama 14-16 jam sehari dengan membatasi “jam makan” harian menjadi 8-10 jam. Di dalam “jam makan” kita bisa makan 2-3 jenis makanan secara bertahap.

Metode ini sih dikenal dengan sebutan Leangains Protocol yang dipopulerkan oleh salah seorang ahli fitness bernama Martin Berkhan.

Jadi metode ini sesederhana; selesai makan malam ya udah nggak boleh makan lagi sampai besok siang. Misalnya, kalau selesai makan malam pukul 8 malam jadi kita baru bisa makan jam 12 siang keesokan harinya. Yang harus skip sarapan cem gue pasti berat sih. Karena gue terbiasa sarapan untuk memulai hari kalau nggak bisa uring-uringan.

Karena ini metodenya puasa makanan, tentu saja minum masih dianjurkan. Di antara jam puasa tersebut kita masih bisa minum air atau kopi untuk mengurangi level lapar. Tapi kalau sudah terbiasa puasa pasti nggak masalah.

Terus ya, kalau sudah berbuka jangan berbuka langsung dengan junk food atau makanan manis. Ini sama aja boong ceritanya. Kalau memang niatnya mau memperbaiki metabolisme dan goal pengin menurunkan berat badan, nutrisi yang diasup harus makanan sehat.

2. Metode 5:2 Diet

Metode ini artinya, makan normal selama 5 hari lalu dalam 2 hari mengurangi asupan kalori harian sebanyak 500-600 kalori/hari. Diet ini disebut Fast Diet dan dipopulerkan oleh jurnalis Inggris dan seorang dokter bernama Michael Mosley. Pemotongan 500 kalori ini berlaku untuk perempuan dan 600 kalori untuk laki-laki.

Belum ada studi teruji sih mengenai metode diet ini, tapi layak dicoba.

3. Metode Puasa Seharian Penuh

Metode ini dipopulerkan oleh ahli fitness Brad Pilon dan cukup populer beberapa tahun ini.

Jadi kita dianjurkan untuk puasa selama 24 jam dalam satu hari dimulai dari makan malam dan berbuka pada makan malam di keesokan harinya. Atau kalau mau pilih puasanya dimulai setelah sarapan atau makan siang juga tidak masalah asal dilakukan selama 24 jam. Hasilnya tetap akan sama.

Sama seperti metode di 16/8; air, kopi, dan minuman tanpa kalori diperkenankan asal jangan makanan padat.

Yang jadi masalah, tidak semua orang bisa melakukan puasa selama 24 jam. Mungkin bisa dicoba layaknya puasa yang sering dilakukan umat muslim terlebih dahulu, dimulai dari sahur lalu selesai pada jam berbuka. Kalau sudah terbiasa baru ditingkatkan menjadi 24 jam. Ini cukup dilakukan seminggu sekali saja.  

4. Metode Hari Pengganti

Metode ini memiliki banyak versi, salah satunya dengan hanya mengonsumsi kalori harian sebesar 500 kalori saja saat sedang berpuasa. Tentu saja ini tidak dianjurkan bagi pemula karena akan merasa sangat kelaparan sehingga tidak nyaman bagi tubuh sendiri dan tidak cocok dilakukan dalam jangka waktu yang panjang.

5. Metode Warrior Diet

Kalau metode ini kabarnya dipopulerkan oleh ahli fitness bernama Ori Hofmekler.

Warrior diet menganjurkan untuk makan kecil semisal buah atau sayur sepanjang siang, kemudian makan besar saat makan malam. Jadi semacam “fast” di siang hari dan “feast” di malam hari dengan durasi “jam makan” hanya 4 jam.

Warrior diet ini rada mirip sama paleo diet sih, yang membiasakan untuk makan whole foods.

6. Metode Secara Spontan Hindari Makan

Nah loh, metode macam apa ini?

Dasarnya sih kita nggak perlu repot ngikutin semua pola atau metode berpuasa yang ada. Metode ini secara simpel bilang, kalau lagi nggak kepengin makan atau malas buat masak ya udah nggak usah makan. Jadi ketika kita lagi malas buat sarapan, ya udah nanti aja makan saat makan siang atau malam. Atau kalau lagi bepergian trus susah nemu makanan yang cocok, ya udah puasa aja dulu.

Tapi pastikan semua makanan yang diasup selama intermittent fasting ini makanan sehat. Percuma bikin goal mau turun berat badan tapi pas berbuka eh makannya gorengan, kolak, nasi padang, atau indomie. Pecuma, Munaroh. Yatapi pengertian makanan sehat ini juga beragam sih, nggak semua yang terlihat atau digadang sehat itu sehat. Ngerti nggak sih? Mungkin gue bahas lain kali.

Karena sekarang lagi bulan puasa, ini saat yang tepat buat praktik dan mengejar target buat bisa singset di 2019.

Sebagai motivasi kalian...

Gue pernah menggendats di 2017 ke 62kg lalu rutin ngegym sejak 2018 sampai sekarang.


Selamat puasa ya teman-teman.
  

BERTEMU AVENGERS DI MRT



Euforia Avengers: End Game ini ya, bahkan sampai minggu ketiga antusiasme yang mau nonton nggak berkurang. Gue termasuk yang nonton sekali aja sudah cukup, nggak perlu nonton kali kedua atau ketiga walau suka banget dengan film atau ceritanya. Sebagai Marvel fangirl sejak zaman X-Men nongol di bioskop tahun  2000, tentu saja gue sudah ngikutin semua film Marvel tanpa satu pun terlewat. Cuma ya itu, males aja dibahas karena gue bukan penggemar yang suka ngasih review. Yang penting gue menikmati filmnya, cukup sudah.

Energi yang sama gue lihat ketika MRT launching. Antusiasme masyarakat yang mau nyobain luar biasa sekali. Gue butuh sekitar beberapa minggu berlalu baru berniat nyobain. Itu pun secara dadakan karena kebetulan suami pas lagi ada di rumah.


Tadinya di hari Sabtu tanggal 4 Mei itu kami nggak ada rencana ke mana-mana, tapi ketika gue bilang gimana kalau kita cobain naik MRT eh suami langsung iyain. Buru-buru pada mandi semuanya buat siap-siap. Biasanya yang tanpa perencanaan emang langsung terlaksana ketimbang direncanakan dari jauh hari.

Kami memarkir kendaraan di Stasiun Cisauk, kemudian naik KRL ke arah Kebayoran. Dari sana naik ojol menuju Stasiun Lebak Bulus. Padahal stasiun MRT terdekat dari Kebayoran itu Blok A, tapi kami memilih ke Lebak Bulus. Karena berempat; gue, suami, dan dua anak saat naik ojol terpisah. Suami sama si adek, gue sama si kakak. Karena pergi secara terpisah gue dan suami sedikit miskomunikasi soal lokasi menunggu, jadi ketemunya langsung di dekat loket MRT.  

Di sinilah gue ketemu para Avengers

...dalam bentuk iklan gede di salah satu sudut stasiun. Ehe he he. #KrikKrik #DuaJangkrikSalingNungging



Well, gue nggak perlu ceritain proses pembelian tiket dan sebagainya karena kurang lebih sudah pada tahu kan ya? Yekan? Sama aja kayak mau naik KRL, beli tiket di loket kalau nggak ada kartu e-money/flazz/dsb. Yang jadi pembeda mungkin bagian naik ke MRT-nya. Ketika pintu otomatis terbuka penumpang MRT lebih patuh dan nggak barbar kek penumpang KRL apalagi cem gerbong perempuan. Tidak begitu, Maemunah. Penumpang MRT dengan teratur berdiri di sisi kiri atau kanan membiarkan penumpang dari dalam turun dulu baru pada masuk. At least itu yang gue alami kemarin.


First impression gue, nyaman dan dingin banget. Penumpang yang naik rute Lebak Bulus ke Bundaran HI kemarin itu cukup ramai tapi AC-nya dingin sekali. Biasanya kan kalau padat udara ikut engap, kemarin itu enggak. Perjalanan dari Lebak Bulus ke Bundaran HI juga sesuai estimasi waktu yang ada, 30 menit.


Setibanya di stasiun akhir gue agak sedikit bingung waktu mau balikin kartu MRT-nya. Gue udah antri cukup lama di salah satu loket tahunya antrian pengembalian kartu itu ada baris sendiri. Dari stasiun kami jalan kaki ke GI buat nyari makan trus balik pulang lewat Stasiun Tanahabang.

Pengalaman pertama naik MRT bagi gue cukup berkesan sembari gue mengingat-ingat lokasi mana aja paling dekat dan gampang kalau-kalau nanti gue ada undangan event dekat stasiun MRT.