Sunday, January 27, 2019

Kalau Galau Pakai Asuransi Apa?


malam tadi aku merindukanmu
setelah sekian lama ingatanku menyembunyikanmu
menaruhnya di dasar kepala
dalam dan jauh
tidakkah kau ingat,
kita pernah sedekat genggam tangan sepasang kekasih
bahkan pernah sedekat lenguh dan desah napas di ranjang sambil berharap itu abadi
tapi tidak,
semua berubah
tidak perlu mengungkap tanya
karena pada akhirnya
setelah menyesap satu gelas kopi
masing masing akan pergi
tanpa ada alasan untuk saling mencari
lagi.

***

Kalian baper nggak sih bacanya?
Gue sendiri baper padahal itu bukan tentang gue. Hahaha. Rasanya nyesek nyesek gimana gitu. Semacam dihantam batu di dada hingga biru. Halah.

Manusia memang ajaib, suka banget menyakiti diri sendiri padahal sedang baik-baik saja. Sama kayak gue, niatnya mau mengerjakan proyek menulis horor eh sejak bulan lalu menyiksa diri dengan masuk ke dalam mood galau. Bukannya thrilling zen malah galau zen. Jadinya suka luka tapi tidak berdarah. Halah lagi.

Sayangnya kalau melukai diri sendiri pakai kata-kata galau nggak terkaver asuransi yaaaaa. #menurutngana

Kalau ada, gue paling duluan daftar. Hahaha.

Ngomong-ngomong soal asuransi, Prudential Indonesia sudah melakukan ekspansi layanan PRUmedical network sampai ke Singapura. Parkway Hospitals Singapore menjadi rumah sakit luar negeri pertama yang masuk di jaringan PRUmedical network.


Manusia berevolusi, kebutuhannya juga. Perasaan yang tetap gitu gitu aja. Yang lebih suka fallin love with people we can’t have. #ehgimana

Termasuk evolusi kebutuhan di bidang kesehatan. Di awal 2019 Prudential Indonesia ikut berevolusi dengan berbagai program, salah satunya layanan PRUmedical network yang menjadi bagian dari kampanye ‘We DO’ ; We Do Tech, We Do Health, We Do Wealth,We Do Good.

Layanan PRUmedical network ini merupakan wujud dari We Do Health di mana Prudential Indonesia ingin memberikan proteksi kesehatan terbaik bagi nasabah dan masyarakat Indonesia, serta ikut mendukung gaya hidup mereka.

Setali dengan gagasan dari Prudential Indonesia, Parkway Hospitals Singapore juga selalu mencari cara baru untuk bisa memberikan perawatan terbaik bagi pasiennya. Bermitra dengan Prudential Indonesia dan masuk dalam layanan PRUmedical network adalah untuk mempermudah akses kepada keahlian klinis yang berkualitas dan fasilitas kelas dunia yang bisa dinikmati semua orang.

Kalau pada belum tahu, Parkway Hospitals Singapore ini terdiri dari beberapa rumah sakit besar ternama, Mount Elizabeth Orchard Hospital, Mount Elizabeth Novena Hospital, Gleneagles Hospital dan Parkway East Hospital.  

Hampir 70% pasien di Parkway Hospitals Singapore berasal dari Indonesia. Iya sih ya, lihat saja artis-artis atau orang penting atau keluarga #crazyrichindonesia yang kalau berobat pasti kebanyakan milih ke Singapura. Alasannya tentu saja karena pelayanan kesehatan. Rumah-rumah sakit di Singapura dianggap memiliki teknologi medis terdepan, dokter-dokternya sudah profesional dan kelas dunia, serta tentu saja pelayanannya yang berkualitas tinggi. Orang sakit pastinya lebih memilih semua keistimewaan di atas biar lekas sembuh, Sudah sakit trus merasa tidak nyaman ya gimana sembuhnya coba...

Di tahun 2018 yang lalu saja ada sekitar 10.000 pasien yang berobat ke Parkway Hospitals Singapore, 4.500 klaim nasabah berasal dari Prudential Indonesia. Besarnya kebutuhan ini yang melatarbelakangi hubungan kerjasama ini.

Ada beberapa layanan eksklusif yang bisa dinikmati para nasabah PRUmedical network di jaringan rumah sakit Parkway Hospitals Singapore:

.       Jaminan ketersediaan kamar rawat inap (free room upgrade)
   Apabila kelas kamar yang sesuai dengan plan yang diambil oleh pasien penuh, maka rumah sakit akan memberikan kelas kamar yang lebih tinggi (up to standard single room) tanpa biaya tambahan, sampai tersedia kamar yang sesuai dengan plan pasien.
.      Tidak ada excess untuk room dan board
Sepanjang nasabah menempati kamar sesuai plan, dijamin biaya perawatan harian tidak berlebih. Namun jika nasabah menempati kamar dengan harga di atas plan, maka diperlakukan biaya excess dan prorata sesuai dengan ketentuan
.       Layanan pasien untuk kemudahan proses administrasi di RS
Alokasi tenaga International Patient Services Helpdesk di Parkway Hospitals Singapore untuk membantu nasabah terkait dengan asuransi
.       Sejumlah penunjang kenyamanan untuk pasien/keluarga yang menemani
Terdapat hadiah menarik untuk pendamping serta bantuan dalam melakukan perjanjian rencana rawat inap, penjemputan di Changi Airport ke Parkway Hospitals Singapore, rekomendasi dokter yang sesuai dengan kebutuhan, bantuan penerjemah, bantuan in-room adnission dan discharge

Dengan segala kemudahan ini, rasanya mau tetap

...

...

...

Sehat aja.

Cukup hati aja yang gampang sakit karena galau, tubuh jangan. Berat di ongkos. Sobat misqueen can’t relate. Mending alokasikan dengan mengubah gaya hidup. Ya mumpung masih muda dan sehat, yuk ah kita jalani gaya hidup sehat. Ya kalau misalnya pun sudah sakit, semoga diberikan berkat agar bisa mendapat perawatan terbaik, misal di Parkway Hospitals Singapore.  

  


Wednesday, January 16, 2019

Pembunuh Itu Bernama Serangan Jantung


Pukul enam pagi di Jalan Belakang Hasikin, di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Selepas sarapan pisang goreng dan menghabiskan segelas teh manis yang dibuat oleh istrinya, seorang lelaki tua duduk di teras rumah. Sinar matahari jatuh malu-malu di undakan, angin lewat dengan sepoi, sungguh sayang jika tidak dinikmati, pikirnya. Dia baru akan termenung menikmati akhir pekan di teras ketika dering telepon di ruang tamu berbunyi. Cucu perempuannya yang baru berusia 9 tahun yang mengangkat.

“Dari Om Hembo mau ngobrol sama Opa,” cucunya berteriak. Lelaki tua itu masuk. Gagang telepon berpindah. Di seberang terdengar suara anak laki-laki bungsunya yang sudah bertahun-tahun tinggal di ibukota. Mereka bercerita lama dan panjang. Hampir satu jam. Setelahnya lelaki tua itu kembali ke teras. Dia ingin duduk di sana sampai pukul sembilan.

DUK.

Bunyi berdebam terdengar dari teras.

Sang istri yang sedang ada di kamar di samping teras langsung keluar. Seketika menjerit. Sang istri memanggil-manggil anak dan menantunya. Cucu-cucunya ikut serta. Termasuk cucu perempuan yang tadi mengangkat telepon.

Lelaki tua itu tergeletak di tanah. Tidak sadarkan diri.

Semua terjadi begitu cepat. Secepat lelaki tua itu dibawa ke rumah sakit tapi ternyata sudah terlambat. Belum pukul sembilan dan dia sudah pergi untuk selamanya.

Hal terakhir yang diingat cucu perempuannya setelah itu adalah, berjalan kaki ke sana kemari untuk mengabarkan ke kerabat dan keluarga kalau opa kesayangannya sudah meninggal dunia. Serangan jantung.    

Hari berganti. Minggu berlari. Tahun yang berjalan membuat cucu perempuan menjadi seorang istri dan seorang ibu yang sudah merantau ke ibukota. Meninggalkan rumah dan keluarga yang sudah bersama dengannya setelah 24 tahun lamanya. Baru satu tahun dia di sana. Anak pertamanya baru berusia satu tahun sekian bulan.

Seseorang datang ke rumahnya pagi pagi sekali. Keadaan masih gelap namun orang tersebut sudah memanggil-manggil namanya belasan kali.

Perempuan itu keluar. Dia membukakan pintu pagar dan mengajak seseorang itu masuk. Yang datang adalah keponakan dari suami tantenya.

“Kenapa telepon kamu tidak aktif?” tanyanya.

“Ganti nomor,” jawab perempuan itu.

“Nanti tante kamu mau bicara.” Sedetik kemudian ponsel laki-laki itu berbunyi. Dia langsung memberikan kepada si perempuan.

“Halo.”

“Iya.”

“Tante ada kabar duka. Kamu harap tenang ya.”

“Kenapa Tante?” Perasaan si perempuan mulai tak keruan.

“Papa kamu meninggal tadi malam. Serangan jantung. Bla bla bla...”

Si perempuan sudah tidak bisa mendengar dengan jelas lagi ucapan sang tante. Sesuatu yang keras baru saja menghajar dadanya. Hatinya remuk.

Belasan tahun lalu opanya pergi akibat serangan jantung, kini papanya. Semua akibat serangan jantung. Penyakit tidak menular tapi menjadi salah satu penyakit pembunuh terbesar di dunia.  


Penyakit Tidak Menular (PTM) diperkirakan menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Menurut WHO, prosentasenya sekitar 73%. PTM juga berpotensi menyebabkan kesulitan keuangan karena bisa membuat keluarga atau pasien sendiri mengalami kebangkrutan. Ini berdasar hasil penelitian dari ASEAN Cost in Oncology (ACTION) yang dilakukan pada tahun 2014-2015.

Penyakit-penyakit kritis seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, atau penyakit jantung memang harus mendapat perhatian lebih. Karena yang mengalami krisis bukan hanya pasien yang mengidap penyakit tersebut tapi juga keluarga. Karena selain menguras emosi bisa juga menguras kantong.

Prudential Indonesia melihat itu, tanggal 14 Januari kemarin mereka meluncurkan PRUCritical Benefit 88. Menurut Pak Jens Reisch selaku Presdir Prudential Indonesia, melalui PRUCritical Benefit 88, Prudential berharap dapat memberikan ketenangan pikiran pada nasabah dan keluarganya.


PRUCritical Benefit 88 mengusung slogan “Proteksi Terjamin, Uang Pasti Kembali” mempunyai beragam manfaat

Proteksi Terjamin

·         Perlindungan komprehensif untuk meninggal atau 60 kondisi kritis tahap akhir, tanpa periode masa bertahan hidup.
·         10% Uang Pertanggungan (UP) untuk angioplasty tanpa mengurangi UP PRUCritical Benefit 88 dengan maksimal Rp200.000.000
·         200% tambahan UP akan dibayarkan jika tertanggung meninggal karena kecelakaan sebelum usia 70 tahun.
·         Perlindungan sampai dengan usia 88 tahun dengan jangka waktu pembayaran premi yang dapat dipilih yakni selam 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun atau premi tunggal.

Uang Pasti Kembali

·         100% UP akan dibayarkan bila tertanggung utama masih hidup dan polis masih aktif sampai usia 88 tahun; atau
·         Jaminan manfaat 100% pengembalian premi pada tahun polis ke-20. Jika nasabah memilih pengembalian premi, maka polis berakhir.


Kemunculan PRUCritical Benefit 88 dibarengi dengan kehadiran komitmen brand baru dari Prudential di tahun 2019 yakni, Listening. Understanding. Delivering. Serta fokus pada DO; we do tech, we do health, we do wealth, we do good.

Di zaman yang semakin berkembang dan serba instan ini rasanya salah sekali jika masih memandang asuransi dengan sebelah mata. Asuransi kesehatan justru harus menjadi dimiliki oleh setiap keluarga demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi kita tahu kalau PTM banyak yang bisa membunuh dengan tiba-tiba, misalnya opa dan papa si perempuan dalam cerita di atas. Beruntung keluarga si perempuan tidak harus menanggung beban dan mengalami kebangkrutan karena kejadiannya begitu cepat. Tidak ada penanganan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Bagaimana jika keluarga si perempuan harus menanggung biaya rumah sakit untuk pasien? Pasti biayanya tidak sedikit. Jika tidak ada asuransi atau pegangan, mau dibayar pakai apa?

Bagi yang masih muda dan sehat, nggak ada salahnya mulai memikirkan untuk membuka asuransi sejak dini. Apalagi kalau ada yang ngajak jalanin bareng ke pelaminan, tanya dulu, “Kamu sudah punya asuransi belum?” biar tahu kalau calonnya itu nggak egois dan peduli sama keluarga.

Umur tidak pernah ada yang tahu kapan berakhirnya, tapi kita bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk melindungi diri dan keluarga sejak dini.

Sebagai disclaimer, kisah di atas bukan fiktif. Yang meninggal akibat serangan jantung itu opa dan papa gue.


     

  

  

Wednesday, January 2, 2019

#AksiFlashBunda dalam Memberikan Pertolongan Pertama

Kadang gue suka heran, kenapa anak kecil doyan sekali jatuh?

Ada becek dikit, jatuh.

Lari dikit, jatuh.

Jalan dikit, juga jatuh.

Atuhlah.

Itu anak gue yang pertama. Saking doyan terjatuh gue nggak ingat lagi berapa banyak luka memar yang dia peroleh. Terlampau sering.

Sebut saja anak gue ini terlalu aktif. Sejak masih balita kerjaannya memang lari-larian ke sana kemari. Baru akan diam ketika dia sudah lelap di tempat tidur.

Dari sekian banyak kali dia terjatuh, ada satu kejadian yang bikin gue panik. Dia terjatuh bukan di saat lagi jalan atau lari, tapi karena terjatuh dari motor.

Saat itu suami, gue dan si kakak, sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah membeli pisang. Gue mendadak ngidam kepengin makan pisang goreng di malam hari karena sedang hamil anak kedua. Di depan sebuah rumah sakit yang baru selesai dibangun, suami gue nggak nyadar kalau jalannya ada yang berlubang. Salahkan lampu jalan yang tidak menyala malam itu.

Entah bagaimana, kejadiannya terlalu cepat. Yang gue ingat motor kami roboh akibat disalip angkot, gue langsung loncat dan membiarkan sisir-sisir pisang yang gue pegang terlempar ke jalan. Gue baik baik saja, sedangkan anak gue. Ah, ini salah gue karena nggak cepat mengantisipasi. Tangan gue tadinya penuh dengan pisang sehingga tidak bisa memegang dia. Anak gue terjatuh. Tidak terlalu keras. Tapi sisi kepalanya membentur aspal. Dia langsung menangis. Pasti sakit. Tentu saja.    

Suami langsung mengangkat dan memeluknya erat. Rasa bersalah terpancar jelas dari wajahnya. Mau marah tapi namanya kesialan bisa terjadi kapan saja. Malam itu kami sedang sial saja. Gue membiarkan saja sisir pisang yang sudah jatuh. Ngidamnya bisa dilanjut kapan hari. Anak gue lebih penting. Apalagi samping kiri kepala anak kami sudah bengkak dan mulai membiru. Harus segera mencari pertolongan pertama. Sayangnya dokter sudah tutup praktek karena waktu itu hampir jam sepuluh malam. Opsi yang tersisa hanyalah apotek.

Gue langsung menelepon mama saat kami tiba di depan apotek yang buka 24 jam. Beliau selalu tahu harus membeli obat apa ketika cucunya sakit. Tentu saja beliau memarahiku terlebih dahulu karena sudah membuat cucunya jatuh. Sebagai anak yang baik hanya bisa pasrah tapi ego sebagai seorang ibu ikut tergores. Karena tidak ada ibu yang tega membuat anaknya terluka.  

“Kamu beli Thromboflash. Dulu ponakan kamu selalu mama pakein itu tiap kali dia terjatuh.”



Ah iya, gue juga mempunyai keponakan yang sama aktifnya dengan anak gue ketika dia masih kecil. Sama-sama sering jatuh juga. Dan gue ingat dulu pernah disuruh mama membeli Thromboflash di apotek.

Gue langsung menyudahi percakapan singkat dengan mama dan bergegas membeli obat yang dimaksud.

Ketika sudah memegang Thromboflash di tangan, gue membaca aturan pakainya. Cukup dioleskan pada luka lebam dan memar. Dioles tipis saja.

Gue membiarkan suami yang membayar dan langsung mengaplikasikan obat tersebut di bagian memar kepala anak gue. Dia masih sesegukan. Tapi matanya mulai sayup karena sudah mengantuk.
Rumah kami tidak jauh dari apotek yang kami singgahi sehingga dalam beberapa menit saja sudah kembali ke rumah.

Gue mengoleskan Thromboflash selama tiga hari berturut-turut. Sehari bisa 2-3x pemakaian. Memar yang tadinya berwarna merah lambat laun berubah menjadi kuning kecokelatan. Tanda kalau memar sudah akan memudar dan Thromboflash bekerja dengan baik.

Yang membuat Thromboflash ini istimewa, bahan aktifnya adalah Heparin Sodium 200 IU. Heparin biasanya diekstrak dari dua sumber mucosa hewan; porcine dari mucosa babi dan bovine dari mucosa sapi. Nah, Thromboflash mengandung heparin yang berasal dari mucosa sapi. Makanya Thromboflash ini lebih halal dibanding kompetitor produk serupa. Apalagi sudah ada sertifikasi HALAL dari MUI. Jadinya pengguna bisa merasa aman dan nyaman karena melindungi konsumen. Benar-benar sahabat keluarga banget. 

Fungi heparin sendiri bekerja melarutkan gumpalan darah yang ada di bawah permukaan kulit akibat memar, membantu mengurangi peradangan, serta melancarkan peredaran darah dalam mempercepat proses penyembuhan memar.

Produknya praktis dan tidak lengket saat diaplikasikan. Thromboflash ini wajib ada di kotak P3K di semua rumah. Dengan Thromboflash, gak takut lebam.

Oh iya, jangan digunakan sebagai obat luka terbuka ya.
   



Pukul Dua Dini Hari


Terbangun dengan satu kehilangan lagi
Pada pertengkaran pagi
Inginku merayakan langkahmu pergi
Tapi hati sudah terbagi
Kupikir semua akan mudah
Tapi patah hatiku sudah
Jelang tidur rindu kian menyala dalam kepala
Pada malam yang padam di ufuk pejam
Hari berganti
Minggu berlari
Lukaku terlampau duka
Aku kuyup oleh airmata

Bahkan saat menuliskan ini, hatiku masih tetap patah

Kamu, patah hatiku.




Kamu, patah hatiku.

Aku tak tahu, siapa yang terluka di sini. 
Aku atau kamu? 
Mungkin kita berdua. 
Aku menanggung sesal sedang lukamu berisi kecewa dan marah.  

Tapi yang lebih dulu patah itu hatiku. 

Karenamu.

Tuesday, January 1, 2019

Bergerak atau Kalah

Yang menyenangkan dari Twitter adalah banyaknya twit nyeleneh yang bertebaran di linimasa sehingga membuat para follower galau, mewek, ngakak atau memancing untuk ikutan curhat massal. 

Misalnya twit dari Shassy ini:




Gue tadinya udah kepancing mau jawab tapi pas baca reply eh ada yang mengutarakan isi hati:


Dulu waktu zaman sekolah gue kepengin banget punya Baby G. Gue sudah mewek mewek manja sampai ngambek seharian biar bisa dibeliin jam ini. Akhirnya ortu gue ngalah. Nggak tahan juga mereka  melihat anak perempuan manjanya pundung. Maka dibelilah jam tangan idaman gue ini.

Tapi yang versi kw sejuta.

Yang belinya di dalam pasar tradisional bersama dengan berbagai jam tangan kw lainnya.

Mau marah tapi cuma bisa pasrah. Jadinya ya hepi aja karena akhirnya bisa punya juga jam tangan Baby G versi bajakan.

Lagian masa itu: “Bajakan, apa itu?”

Lalu ketika gue semakin beranjak dewasa, Baby G tetap nggak kebeli. Sudah mampu beli tapi gue malah memilih membeli jam tangan model lain dari Casio. Gue ngerasa udah nggak cocok pakai Baby G. Pertama karena umur, kedua karena muka. Kayaknya tampang gue nggak cocok sama jam tangan model imut lucu gitu.

Tapi gue salah juga sih terlalu underestimate jam tangan ini. Brand yang sudah genap 35 tahun ini justru punya banyak rangkaian jam tangan yang penuh dengan inovasi dan pastinya cocok bagi semua kalangan. Bahkan bagi gue yang mengklaim sebagai muka tua. Tetap cocok.

Sebagai brand yang sudah malang melintang selama tiga dekade, inovasi G-SHOCK diupayakan untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Gebrakan terbarunya adalah rangkaian jam tangan tangguh dengan usia baterai yang bertahan minimal dua tahun, dilengkapi penghitung langkah dan kalori. Jam tangan yang dieruntukkan bagi mereka yang suka dengan gaya hidup sehat, tapi tetap fashionable, dan menginginkan hidup yang lebih mudah.

Seri sport watch ini diperkenalkan kepada masyarakat dengan sebutan G-SQUAD. Tagline yang diusung juga sesuai dengan fungsi dari jam tangan ini, yaitu; Move or Lose. Ada GBA-800, GBD-800, dan BSA-B100.


Beberapa waktu lalu gue diundang hadir di acara talkshow ’Move or Lose’ bersama puluhan blogger dan media. Yang bikin gue excited salah satu bintang tamunya adalah Nadira Diva. Gue menjadi follower Instagram-nya sudah cukup lama. Diva demen workout menjadi alasan gue mengikuti akunnya.



Selama dua tahun ke belakang gue memang lagi aktif olahraga juga. Kalau Diva sering nge-post latihan workout di rumah, gue memilih latihan di gym. Kalau Diva menghitung kalori bersama G-SQUAD, gue baru bisa menakar lewat aplikasi di hp.

Selain Diva, hadir juga Kemal Mochtar, penyiar dan presenter ini cukup bikin pangling. Gue dulu sering lihat dia wara wiri di layar kaca. Masih gendut. Trus beberapa waktu lalu kaget lihat di Twitter ketika ada yang meretweet perubahan Kemal. Drastis. Dalam setahun ternyata dia berhasil menurunkan berat badan sampai 55kg. Luar biasa. Pengin langsung standing ovation sama orang-orang yang benar-benar konsisten dalam melakukan perubahan terutama komitmen sama diri sendiri kayak Kemal ini. karena tidak semua orang bisa mengalahkan kemalasan diri sendiri, yekan.

Sama seperti Diva, Kemal juga menggunakan G-SQUAD. Digunakan untuk memantau jumlah langkah, bisa juga menghitung berapa banyak kalori yang sudah dibakar seharian. Lebih pas lagi karena bisa digabung dengan aplikasi G-SHOCK Connected. Karena menurut Kemal, yang paling menantang adalah bagaimana tetap mempertahankan berat badan dan kesehatan.

Bagi Kemal dan Diva, G-SQUAD ini tangguh. Selain tahan air juga tahan benturan. Cocok bagi orang clumsy kayak Diva dan gue. Hahaha.


Gue?

Bukannya situ tyda punya jam G-SHOCK, mb?

Oh, ini bagian menariknya...

Saat mengikuti talkshow ini kebetulan ada games-nya. Para blogger dan media yang hadir ditantang untuk lari 150m di treadmill yang sudah disediakan. Bagi yang tercepat akan mendapatkan jam tangan G-SQUAD masing-masing dari kategori  cowok dan cewek.

Gue tentu saja ikutan. Bahkan dengan songongnya didorong teman sehingga menjadi peserta pertama. Yang berakhir dengan durasi 1 menit 17 detik. Doh!

Ya monmaap, sebagai disclaimer, walau gue rutin ngegym tapi cardio is not my thingy. I do cardio tapi tidak intens, hanya sepedaan atau jogging manja di sekitar perumahan. Karena fokus gue buat membangun otot di beberapa area yang gue mau. FYI, terlalu banyak kardio bisa mengganggu pertumbuhan glutes. Makanya gue menghindari kardio yang berlebih.

Oke lanjut...

Cukup banyak teman-teman blogger dan media yang tertantang buat ikutan. Gue tentu saja agak kecewa dengan hasil pencapaian gue. Tapi, saat gue nanya ke mbak-mbak yang jadi penghitung waktu peserta ternyata siapa aja boleh ikut berapa kali sebanyak yang dia mampu. Ahem. Semacam kode kalau gue harus coba lagi. Malu sama fisik yang demen olahraga tapi kalah saat diadu lari di treadmill. Hello...

Percobaan kedua, waktu gue cukup baik tapi masih kalah sama yang tercepat. Ternyata dari kategori cewek yang paling cepat itu 60 detik. Sedangkan di percobaan kedua waktu tercepat gue hanya 1 menit 4 detik.

My ego hurts.

Ouch!

Last attempt.

Kalau nggak bisa pecahin rekor, okay gue nyerah deh.

“59 detik!” seru mbak mbak penghitung waktu. Gue hanya bisa senyum. Kalau ada yang di bawah durasi itu oke gue nggak mau nyoba lagi. I’m done!

Saat sesi talkshow selesai, akhirnya diumumkan siapa pemenang untuk games yang barusan. Pertama dari kategori cowok, kemudian cewek. Yak, nama gue yang disebut. Gue langsung maju dengan wajah semringah. 

tiga kali lari di treadmill baru bisa dapat ini

Bagi gue ini sebuah pencapaian. Gue bisa membuktikan kalau saat mencoba sesuatu jangan pernah pantang menyerah. Gue seolah mengejewantahkan tagline dari G-SQUAD: Move or Lose

Kamu terus bergerak atau kalah.

    

   


  

Pesona Batik dari Cirebon

Menutup tahun 2018 bencana seolah tidak kasih kendor di negeri kita yang tercinta ini. Belum habis duka bagi korban tsunami di Selat Sunda dan Lampung, tanggal 30 Desember kemarin angin puting beliung menerjang di Desa Pangurugan Kulon Kecamatan Pangurugan Kabupaten Cirebon. Angin menyapu ratusan rumah warga dan menelan korban jiwa.

Sedih banget sih mendengar kabar-kabar tersebut saat banyak yang berharap bisa menikmati akhir tahun dengan membawa kenangan yang baik tentang 2018. Sayangnya tidak semua bisa merasakan hal tersebut. Gue sendiri hanya  bisa berharap memasuki 2019 ini, alam bisa sedikit tenang.

Ngomong-ngomong tentang Cirebon, gue punya sedikit pengalaman di sana. Suatu waktu gue ikut bersama suami yang ditugaskan ke salah satu perusahaan semen di Palimanan. Karena tujuannya bukan untuk liburan jadi tidak banyak lokasi yang bisa dikunjungi. Kami melewati Simpang Palimanan dan mampir ke Alun-alun Kejaksan. Hari mulai malam saat kami tiba. Deretan kedai makanan dan minuman mulai ramai. Kelap-kelip lampu menambah semarak suasana malam di alun-alun.

Tepat di sebelah alun-alun ada Masjid Raya At Taqwa yang konon adalah masjid terbesar di Cirebon.  Sayangnya kami tidak sempat mampir ke sana karena hari sudah semakin larut.

Kami memilih menginap di jantung kota Cirebon. Jaraknya memang sedikit jauh dari lokasi kerjaan suami, tapi strategis buat gue untuk melancong. Ya kan rugi udah ikut jauh-jauh tapi nggak menikmati kota yang dikunjungi. Hotel yang kami pilih aksesnya dekat dengan area kuliner, Batik Trusmi, Goa Sunyaragi dan tempat menarik lainnya. Lagipula estimasi kami berada di Cirebon hanya 1-2 hari saja tergantung cepat tidaknya pekerjaan suami.

Paginya, setelah suami berangkat. Gue langsung siap-siap untuk  mengeksplor lokasi wisata di sekitar hotel. Destinasi pertama adalah Pesona Batik. Menempati gedung tua peninggalan Belanda tahun 1920 pada bekas gedung Pegadaian membuat Pesona Batik menjadi lebih menonjol dibanding batik-batik lainnya. Konsep heritage betul-betul ditonjolkan sehingga menjadi warna dan daya tarik baru bagi para pencinta batik. Apalagi letaknya di Jalan Syekh Datul Kahfi No.1 Weru Lor Kabupaten Cirebon yang dapat diakses langsung dari jalur Pantura.



Pesona Batik selalu mengedepankan kualitas makanya pas gue sampai ada banyak yang sedang berbelanja dan rata-rata semua adalah penikmat kain batik. Pesona Batik diharapkan bisa menjadi kebanggaan di Jawa Barat. Setiap daerah memiliki motif batik tersendiri yang sudah ada ciri khasnya masing-masing. Di Cirebon sendiri dikenal dengan motif megamendung yang memiliki nilai dan filosofinya sendiri. Motif batik ini bahkan didaftarkan di UNESCO agar mendapatkan pengakuan sebagai salah satu warisan dunia.

Ketenaran dari motif megamendung sudah dikenal luas sampai ke luar negeri. Bahkan pernah dijadikan kover buku batik terbitan luar negeri karya seorang yang berkebangsaan Belanda. Kekhasannya tidak hanya pada motif berupa gambar awan dengan warna-warna yang tegas tapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motif tersebut. Dengan adanya Pesona Batik, diharapkan batik Cirebon tidak kalah pamor dengan batik-batik dari daerah lain, misalnya Pekalongan atau Jogjakarta.


Gue belanja sampai hampir sore. Ya maklum, namanya buibuk kalau belanja memang suka lupa waktu. Tahu-tahu suami nelepon kalau kerjaannya sudah selesai dan dia sebentar lagi akan balik ke hotel. Dia memang hanya datang untuk inspeksi saja jadi pekerjaan bisa selesai lebih cepat dari estimasi.

Waktu gue di Cirebon memang cukup singkat. Tapi sangat berkesan. Kapan-kapan kalau ada waktu mau main ke sana dan eksplor lebih banyak lagi lokasi yang belum pernah didatangi. Di 2019 ini mungkin. We'll see.