Monday, September 4, 2017

Menjadi Mombassador SGM Apa Enaknya? (Part 3)

Gue bangun dengan enggan saat waktu menunjukkan hampir pukul 05.00. Telepon kamar juga belum lama berdering, teman sekamar gue yang bernama Lietha yang menerima panggilan tersebut. Kami diminta segera bangun untuk sarapan. Kegiatan hari ke-2 akan segera dimulai.

Sarapan gue terdiri dari roti berselai blueberry dan buah-buahan. Sebenarnya biasanya sarapan emang cuma buah karena walau sering bebal, gue masih menerapkan pola makan Food Combining. Tapi selalu ada pengecualian saat nginap atau jalan-jalan. Ya namanya juga gak mau rugi.


Hello roomate
Pukul 07.00 kami sudah berada di dalam bus. Gue dan Lietha memilih bus nomor 2 dari 3 bus yang dipake hari itu. Guide kami di bus 2 adalah Mas Elka, pake e dan a katanya. Dia sudah cukup familier karena dia juga yang menjemput kami di bandara. Mas Elka memulai pagi dengan jadwal kegiatan yang akan kami lakukan hari itu.

"Kita akan mampir beli oleh-oleh dulu, ya, Buibuk," katanya. Padahal di jadwal, pembelian oleh-oleh dilakukan setelah visiting ke pabrik.


Tempat pembelian oleh-oleh masih tutup saat kami tiba. Selang setengah jam, toko oleh-oleh dibuka. Puluhan buibuk terburu masuk untuk berburu bakpia yang sebagian masih hangat. Gue sendiri membeli 4 dus bakpia dengan dua varian rasa saja. Pikirnya, gak ada yang bakal gue oleh-olehin kalo balik nanti. Jadi 4 dus itu cukup buat dimakan serumah.


Selesai semua belanjaan dipaketin oleh karyawan toko, kami duduk manis kembali di dalam bus. Tujuan selanjutnya adalah ke arah Klaten, ke pabrik di mana susu SGM dibuat.

Hamparan sawah yang sebagian sudah menguning menjadi pemandangan lewat kaca jendela saat bus kami akan tiba di pabrik. Gue hanya bisa ternganga karena pabrik yang kami tuju terlihat sangat luas bahkan sebelum bus memasuki halaman pabrik.


Bus kami harus berputar sekali dulu mengelilingi pabrik sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah tenda yang cukup besar. Kami turun berbondong masuk ke dalam tenda yang cukup nyaman karena sudah dipasangi pendingin. Udara di luar mulai panas padahal hari masih pagi.


Di dalam tenda sudah tersedia makanan ringan dan minuman yang langsung diambil sebelum semua duduk di kursi-kursi yang sudah tertata rapi. Sarapan pagi belum selesai dicerna, kami sudah dikasih makan lagi. Dimanja banget emang kalo terpilih jadi Mombassador SGM ini.


Seorang perempuan bernama Ana, hei nama kami sama, mengenalkan diri sebagai bagian dari Tim SGM yang bekerja di pabrik. Ana bercerita tentang awal mula pabrik Sari Husada berdiri lewat tayangan video pendek di layar.

Sari Husada sudah berdiri selama 63 tahun. Didirikan pada masa setelah kemerdekaan oleh pemerintah Indonesia bersama PBB karena malnutrisi yang menimpa sebagian rakyat Indonesia saat itu. Sari Husada sendiri mengalami beberapa kali perpindahan kepemimpinan sampai akhirnya bergabung dengan Danone.


Ana juga menerangkan tentang proses pembuatan susu di pabrik dan segala quality controlnya. Terus terang gue speechless. Tahu kan kalo SGM kadang dipandang sebelah mata karena dianggap susu murahan dibanding produk susu formula lainnya. Pada kenyataannya, Sari Husada adalah pabrik susu terbesar se-Asia Pasifik. Bahkan menjadi pabrik Danone yang terbesar di seluruh dunia.




Kami lalu diajak berkeliling untuk melihat isi pabrik. Ada 2 kelompok yang juga dipecah untuk visiting. Kelompok pertama dipecah juga menjadi 2 kelompok kecil untuk berkeliling pabrik. Gue mendapat giliran di visiting pertama. Ana yang menjadi guide kami. Kami berkeliling di luaran pabrik saja. Melihat beberapa proses susu SGM dipacking mulai dari produk olahan sampe menjadi kemasan melalui jendela. Ya iya, gak sembarang orang bisa masuk ke dalam agar kebersihannya terjaga.

Bagian luarnya saja sangat-sangat bersih. Gue dan sebagian buibuk dalam kelompok kami sampe bergumam, pada rajin amat ngebersihin semua sudut di pabrik sampe bisa kinclong begitu. How come, pabrik seluas kurang lebih 15 Ha itu membuat susunya secara asal-asalan? Gak mungkin, kan.  Visi misi PT. Sari Husada adalah untuk memberikan nutrisi terbaik bagi anak bangsa. Makanya tidak ada proses dan kualitas yang asal-asalan. Oh, ini bukan sponsored post. Karena gue ngeliat sendiri pabriknya kayak apa.

Kami diajak masuk ke dalam pabrik hanya untuk melihat isi gudangnya saja. Semua peralatan sangat canggih karena proses besarnya dilakukan oleh mesin. Para pekerja, yang tentu saja manusia, hanya kebagian tugas di proses awal pengolahan dan produk akhir.

Gudangnya bikin nganga lagi, luas buaaaaangeett. Lemari besinya menjulang tinggi dan besar. Produk akhir sudah tersusun rapi, tinggal menunggu diedarkan ke distributor dan konsumen.

Kami dilarang foto-foto untuk area dalam pabrik makanya gue gak punya dokumentasi. Apalagi hp gue lowbat dan mesti numpang ngecharge di samping tenda.

Waktu sudah hampir pukul 12.00, seharusnya sejak jam 11.00 kami sudah bersiap pergi untuk makan siang. Ya namanya juga estimasi, kadang emang gak bisa sesuai kenyataan. Mana tiap sesi mesti ada foto bersama.


Kami tiba di Rama dan Shinta resto untuk makan siang usai visiting. Lokasinya tak begitu jauh dari pabrik. Masih di sekitar area Candi Prambanan.

Karena lokasi makan siang kami viewnya adalah Prambanan, tentu saja setelah makan para buibuk gak melepaskan waktu buat foto-foto. Gue sejujurnya suka keder kalo tergabung dalam puluhan ekstrovert seperti itu. Makanya jarang untuk foto bersama dengan para buibuk.




Usai makan siang kami dibawa memasuki area Candi Prambanan dan beberapa situs lainnya. Ada situs-situs yang dipugar karena mengalami kerusakan.

Bus diparkir tak jauh dari sebuah area terbuka dengan pohon-pohon hijau. Menurut jadwal kami akan melakukan outbond.

Para buibuk dibagi atas beberapa kelompok untuk mengikuti rangkaian acara yang sudah disusun. Ide permainannya menarik karena semuanya memerlukan kerjasama tim. Dan sebagian permainan berhubungan juga dengan SGM Eksplor. Tim gue gak menang, tapi keseruan dan kerjasamanya lebih penting.


Hampir pukul 18.00 kami tiba kembali di hotel. Hanya butuh waktu 1 jam sebelum gala dinner. Benar-benar gak dikasih kendor seharian itu.

Jam 19.00 kami kembali sudah berada di bus 2. Mas Elka masih setia menemani kami. Tugasnya sebenarnya sebagai pemberi informasi kegiatan dan lokasi tujuan. Sisanya dicengin sama buibuk yang emang pada iseng. Perjalanan kami akan terasa berbeda jika tak ada Mas Elka saat itu. Terima kasih ya, Mas.

Kami tiba di Sekar Kedhaton untuk makan malam. Para buibuk sudah berdandan cantik dengan pakaian bebas yang bernuansa merah. Kursi-kursi sudah tertata rapi. Di kiri kanan meja-meja panjang untjk hidangan juga sudah berjejer. Lalu ada panggung yang diisi alat musik.
Sebuah band menyambut kami dengan hiburan lagu-lagu yang dirikues oleh buibuk sebelum kami dipandu oleh duo MC yang gokil abis. Acara diisi talkshow dan kuis. Informatif dan seru sekali. Malam berlalu tanpa terasa. Di akhir acara para buibuk dibagikan sertifikat dan cenderamata berupa kain batik yang diberikan langsung oleh Naomi Jammaro, selaku Connection and Activation Manager dari PT. Sari Husada.

Keseruan malam ditutup dengan goyang Maumere dan tarian Chacha sebelun buibuk harus kembali ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat.
Duh, panjang ya. Part 4 terakhir, deh. Janji!

3 comments:

  1. Aduuh, asik banget ya para Mombassador ini. dari kemarin ngikutin ceritanya dr berbagai blog. Seru n nambah ilmu ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget, Mbak. Dimanja bener selama 3 hari 2 malam. Banyak teman, banyak ilmu, banyak pengalaman. Seru!

      Delete
  2. Asyiknya, saya ngebayangin bakal dapat ilmu, dapat teman, kebersamaan, san efek positif setelah pulang.

    ReplyDelete