Wednesday, August 30, 2017

Menjadi Mombassador SGM Apa Enaknya? (Part 2)

Udara terik menyambut kami saat pesawat mendarat di Bandara Adisoetjipto setengah jam lebih awal dari estimasi waktu tiba. Gue terburu-buru mencari tempat berteduh karena sengatan matahari terlalu panas, sedangkan gerombolan buibuk lainnya sibuk foto-foto di depan pesawat.


Sekilas gue papasan sama opa-opa yang duduk sebangku dengan gue di pesawat tadi. Masih sempat dia senyum tapi gue cuekin. Ya menurut ngana aja...

Baca Part 1 di sini

Bandara Adisoetjipto jauh lebih kecil dari bandara di Cengkareng, obviously. Makanya pengambilan bagasi berlangsung cepat dan kami bisa segera keluar. 

Di pintu keluar ada beberapa orang mengangkat-angkat papan tulisan, mata gue langsung tertuju pada laki-laki yang mengangkat papan bertulisakan Mombassador SGM. Dia mengiring kami berkumpul di suatu tempat terlebih dahulu. Setelah absensi satu persatu, kami diarak ke luar bandara.

Tim penjemputan SGM terdiri dari guide dan para seksi dokumentasi. Sejak kami keluar mereka sigap mendokumentasikan setiap langkah kami lewat foto dan video. Kami bahkan sempat berhenti sebentar di salah satu sudut yang berlatar Borobudur untuk foto bersama. Check in di setiap sudut di lokasi baru is a must. Apalagi buibuknya ada puluhan orang. Mau fotoin atau mati?


Sebuah bus besar menanti kami di luar. Koper dan barang-barang bawaan kami dengan cekatan dimasukkan ke dalam bagasi bus. Setelah memastikan rombongan buibuk dari Jabodetabek sudah lengkap, bus langsung meninggalkan area bandara.

Sepuluh menit kemudian bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah jalan kecil. Kami diminta turun dan berpindah kendaraan. Ada beberapa mobil pribadi dan minibus yang menanti. Kata guide yang menemani kami, mobil-mobil ini yang akan membawa kami ke hotel. Bus yang kami tumpangi ukurannya terlalu besar sehingga sulit untuk memasuki area hotel yang jalannya terlalu kecil.

Waktu kami tiba di hotel sudah hampir pukul 16.00. Gue terus terang sudah kecapean dan pengin segera istirahat. Karena sempat sakit thypoid gue emang udah gak boleh terlalu lelah. Apalagi gue keluar dari rumah sejak pukul 09.00, buibuk yang lain bahkan ada yang dari jam 07.00.

Panitia memberikan kami lembaran questioner dan data diri yang harus diisi sebelum kami diberikan tas berisi Mombassador KIT. Isinya adalah 3 kaos yang akan dipakai selama 3 hari berturut-turut, selembar rundown acara, 2 buah kipas, 2 buah clutch, sebuah buku tulis, pulpen, dan uang saku.

Gue mengisi lembaran kertas yang diberikan dengan terburu-buru. Tadi sebelum berangkat gue cuma sarapan buah dan ngemil pisang sale di bandara. Sudah kelaparan banget karena belum makan siang.

Usai makan gue buru-buru ke toilet untuk berganti pakaian. Kami diharuskan foto profil dengan menggunakan kaos untuk hari pertama.

Gue kembali ke meja registrasi untuk mengambil kunci kamar hotel. Sudah pukul 17.30 saat gue ke kamar, terlalu singkat buat istirahat karena di jadwal pukul 18.45 ada Welcoming Dinner.

Tadinya gue mengira teman sekamar gue adalah salah satu buibuk yang barengan dari Jabodetabek, ternyata dari Bandung. Tadinya juga gue pengin ngeluh karena waktu istirahat kami mepet. Lah, apa kabar yang dari Bandung. Mereka tiba paling akhir. Jadinya mereka gak bisa istirahat sedikitpun.

Kamar hotel gue sendiri ada di lantai 3. Kamarnya cozy dan instagramable, walau ada beberapa hal yang tidak tersedia untuk hotel ukuran bintang 4. Dan menurut gue itu kamar sebenarnya lebih cocok buat kamar bulan madu. YA MASA KAMAR MANDINYA TRANSPARAN. AING MANDI KELIHATAN KE MANA-MANA DONG!

Etapi gue bukan tipe pengeluh sih. Terima apa adanya banget walau perkara nyari colokan sempat drama sendiri di dalam kamar. Gue udah ngubek-ngubek kamar eh nemu colokan malah di belakang rak kayu panjang yang gak bisa digeser sama sekali. Colokan gue gak bisa terpasang, jadinya gue mesti cabutin colokan buat lampu di samping tempat tidur. Karena colokan hp itu kebutuhan primer buat manusia millenial macam gue. Ingat, sandang, pangan, papan, dan colokan.

Buibuk dari Bandung tiba saat gue turun kembali ke lantai bawah untuk makan malam. Gue udah sempat gegoleran sedikit dan mandi eh mereka baru datang. Kebayang dong leceknya kek gimana.

Acara Welcoming Dinner cukup meriah dan padat karena diisi dengan pemutaran video mombassador, jadwal 2 hari berikutnya, kompetisi selama acara, dsb.



Sesi terakhir tentu saja diisi dengan foto bersama. Ruang makan kecil yang tengahnya adalah kolam renang trus ada 92 buibuk ditambah panitia harus foto bareng? Jadilah meja dan kursi harus digeser sana sini. Fotografernya juga harus ekstra karena harus nyari angle yang pas biar semua buibuknya muat dalam satu frame.



Pukul 21.30 gue udah kembali ke kamar. Teman sekamar gue nyusul beberapa menit kemudian. She looks exhausted tapi masih semangat. Kalo gue mungkin udah gak ada bentukannya karena udah capek banget.

So far, walau estimasi waktunya sedikit berubah, hari pertama terasa menyenangkan. Lebih menyenangkan saat tahu kalo hotel tempat kami menginap dipakai syuting juga untuk film AADC 2. Gue berada di tempat yang sama dengan Dian Sastro dan Nicholas Saputra syuting. What would went wrong?



1 comment:

  1. Semoga ada kesempatan untuk bisa kembali kesana ya 😊😊

    ReplyDelete