Friday, January 17, 2020

Natal, Kamu, dan Buket Bunga


Desember itu melankolis.
Sesederhana bau kue panggang yang tercium dari jendela rumah tetangga, sedingin semilir angin dalam hujan tipis-tipis yang membuatmu ingin berlindung di dalam selimut seharian, semeriah lampu kelap-kelip yang dinyalakan di pohon cemara setiap kali senja terbenam, dan seriuh lagu-lagu Mariah Carey yang menggugah rasa sentimental.


Dalam bulan Desember kue-kue kering beraneka jenis mulai dipanggang, ditata rapi dalam toples kaca, kemudian tutupnya dilakban, disimpan di lemari yang kuncinya disimpan secara rahasia. Berkerat-kerat botol dan kaleng minuman bersoda menumpuk di salah satu sudut ruangan. Kusen jendela dilepas dan mulai dibersihkan dari ujung satu ke ujung lainnya. Gorden yang sudah berbulan-bulan menggantung dan berdebu diganti gorden baru yang lebih segar dan ceria. Pohon cemara plastik yang masih kokoh yang biasanya disimpan di atas lemari atau di gudang kembali dikeluarkan dari dalam kardus. Dahan-dahannya dirangkai, dihias dengan lampu kelap-kelip dan gantungan lucu aneka bentuk, kemudian dipajang di salah satu sudut ruang tamu sehingga tampak cantik. Sesekali di siang hari lagu kompilasi Natal dari Mariah Carey diputar bergantian dengan lagu rohani.

Tanggal 24 Desember, jam 6 sore kaki-kaki bersepatu melangkah masuk ke dalam gereja. Kursi-kursi kayu panjang di dalam tidak akan terisi penuh tapi juga tidak sepi. Jam 9 malam ibadah selesai lalu semua kembali ke rumah masing-masing.

Tanggal 25 Desember, sejak subuh dapur rumah sudah berbau daging yang disemur, ayam yang digoreng, atau ikan yang dibakar. Tidak lupa sayur, kerupuk, puding, atau sup buah segar. Sebelum jam 9 pagi semua sudah tertata rapi di atas meja makan. Sebelum jam 9 juga semua penghuni rumah sudah selesai berdandan dan siap menuju gereja. Kali ini semua kursi ruah sampai ke luar gedung. Biasanya tenda-tenda dipasang dan berlusin-lusin kursi plastik ditata agar semua yang ingin beribadah hari itu kebagian tempat duduk walau tidak kebagian menonton penampilan dari choir atau vocal group.

Selesai gereja, tangan-tangan bersalaman, cium pipi kiri dan kanan. Bersukacita karena merayakan hari kelahiran sang Messias dan bersyukur karena para sanak saudara dari jauh datang berkunjung. Pulang ke rumah, makan siang dengan hidangan yang sudah disiapkan. Jelang beberapa jam berikutnya teman, tetangga, keluarga mulai berdatangan. Kue-kue kering dalam lemari dikeluarkan dan ditaruh di atas meja. Botol minum dan gelas ikut disajikan. Tamu silih berganti sampai tengah malam tiba.


Tanggal 26 Desember, ibadah hari kedua. Yang datang beribadah masih seramai hari pertama. Ketika pulang biasanya tidak langsung ke rumah, mampir ke rumah sanak saudara terdekat. Menikmati makan siang dan kue-kue keringnya. Lalu kaki akan berpindah ke rumah satu dan lainnya sampai kembali tengah malam menjemput.

Itu memori saya tentang Natal yang selalu saya jalani dalam 24 tahun selama tinggal dan besar di Bitung, Sulawesi Utara. Saya sudah meninggalkan kota kelahiran itu selama 11 tahun lalu. Kadang mengingat memori itu seperti mengeluarkan ingatan yang menyenangkan sekaligus menyesakkan dalam satu tarikan. Membuat saya bahagia namun sedih. Sebuah oksimoron.

Selama tinggal di ibukota hampir tidak ada kesan yang sama seperti kenangan masa lalu saya dalam merayakan Natal. Semua berjalan sangat cepat bahkan tidak berasa kalau itu adalah Natal. Masuk gereja sudah tentu, pulang ke rumah makan siang seperti menu makanan pada hari-hari biasa, tak ada hiasan pohon cemara mengingat space rumah tidak sebesar rumah di kota kelahiran, tak ada kue kering bahkan yang dibeli pun tidak ada karena tahu tidak ada yang akan datang. Tidak ada lantunan lagu Mariah Carey karena tidak ingin menjadi polusi suara bagi sekitar. Jika ada sedikit berbeda palingan kumpul keluarga di rumah tante sendiri, adik mama. Semua keluarga yang saya kenal hadir di sana. Menyanyi dan berdoa sebelum makan. Ngobrol sampai malam tiba. Lalu semua pamit pulang. Kadang jika hari masih dini, mampir ke mall dan melihat apa yang menarik di sana sebelum pulang ke rumah.

Natal tahun kemarin tidak jauh berbeda. Bedanya kali ini dihabiskan di hotel. Tidak pulang kampung tidak mengurangi rasa sukacita walau besar harapan ingin merayakan Natal di kampung saja. Sayangnya juga tidak ada kumpul keluarga karena salah satu ponakan harus diopname di rumah sakit akibat usus buntu.

Yang istimewa ketika sebelum berangkat ke hotel suami nyiapin sesuatu. Sebuah buket bunga berwarna ungu. Kumpulan bunga kering alyssum yang dirangkai ala buket biedermeier. Suami saya bukan tipikal pria romantis dengan aksi remeh seperti ini. Dia juga tidak pintar mengungkap apa yang ada di kepala dan dadanya kepada saya. Kata cinta juga baru sekali terlontar dari mulutnya. Padahal kami sudah menikah lebih dari satu dekade. Ibarat raga saya membutuhkan makanan, tapi jiwa saya juga butuh bunga dan dia menghadirkan itu. Saya menjura.


Hadiah bunga sudah menjadi tradisi lama di Eropa, Amerika bahkan Asia. Dari seni merangkai bunga ala Ikebana Jepang sampai menjadi dekorasi wajib bangsawan Eropa pada abad ke-18. Pada zaman Victoria saja bunga digunakan sebagai bentuk ekspresi menggantikan kata-kata yang tidak bisa terucap. Memberi hadiah bunga sebenarnya adalah sebuah kultur pembuat baper.   

Di setiap perayaan selalu ada bunga sebagai bagian dari selebrasi atau romantisasi sederhana. Bunga bisa menjadi kado istimewa saat ulang tahun, perayaan kelahiran, ucapan syukur, pernikahan, atau Natal.

Perempuan akan merasa istimewa ketika ada yang menghadiahinya bunga. Mau itu sekuntum atau sebuket. Lewat bunga, perasaan yang tidak terungkap bisa terbaca. Pemilihan jenis bunga juga sakral untuk menentukan momen dan perasaan. Satu jenis bunga bisa bermakna banyak hal.    

Tapi mungkin nggak usah menunggu ada yang memberi hadiah bunga bila ingin dianggap spesial. Menyenangkan diri sendiri bisa juga dengan membelikan diri sendiri hadiah sebagai bentuk apresiasi dan self love. Sekali saya pernah membeli buket bunga juga untuk diri sendiri karena saya bangga atas pencapaian saya kala itu. Rasanya tetap bahagia. Karena bahagia kita yang ciptakan bukan menunggu dari orang lain. Bahagia itu sukacita dari diri sendiri bukan barang hibahan.

Kalau kalian pengin menghadiahi diri sendiri, mau kode-kodean ke pasangan, atau mau jadiin parcel Natal dengan bunga, bisa intip dan pesan di Flower Advisor. Toko bunga online terlengkap yang pengirimannya bisa ke seluruh Indonesia. Nggak usah kuatir kalau tinggal di pelosok negeri trus mikir nggak bakal bisa ngasih hadiah buket bunga menarik. Bisa kok. Setiap orang pasti mau menciptakan momen. Dengan Flower Advisor kamu bisa kalian menciptakan momen tersebut. Tinggal pilih bunga yang diinginkan, tulis kata-kata yang menarik, kemudian kirim.
#BridgingtheDistance #FlowerAdvisor
      

No comments:

Post a Comment