Wednesday, July 19, 2023

Anak Saya Dituduh Pelaku Pemerkosaan

Nggak kerasa anak-anak sudah masuk sekolah lagi setelah libur kenaikan kelas selama lebih dari tiga minggu. Anak-anak saya baru saja masuk sekolah tanggal 17 Juli kemarin. Sebagai ortu kenaikan kelas itu pasti bakal bikin pusing, dari daftar ulang, beli buku pelajaran, seragam, dan segala printilannya. Belum lagi uang SPP yang naik terus tiap tahunnya. Setelah mengurus semua itu, hari ini saya baru bisa menulis apa yang dialami anak sulung saya seminggu yang lalu.
Kami baru saja pindah rumah setelah menetap di Cisauk selama hampir 14 tahun. Pada awal bulan Juli ini, kami memutuskan pindah ke dekat sekolah anak. Tentu saja ini dilakukan dengan banyak pertimbangan. Yang tinggal atau pernah ke Cisauk pasti tahu lah alasan utamanya tentu saja karena kemacetan luar binasanya. Terlepas sekarang sedang dibangun flyover, yang justru bikin macet makin parah. Level toleransi saya sudah habis kayaknya. 

Tempat kami yang baru ini ke sekolah hanya tiga menit, belum lagi lokasi perumahan dekat tol. Apa-apa terasa lebih namaste di lingkungan baru ini. Setidaknya untuk sekarang. 

Kami pindah saat anak-anak masih libur sekolah. Setelah menempati rumah selama berapa hari, di hari Sabtu, tepatnya tanggal delapan, anak sulung saya meminta izin untuk nonton konser JKT48 di Spark. Si kakak sudah izin sejak dua minggu sebelumnya. Saya bahkan yang memesankan tiketnya secara online. Anak saya hepi banget. Ternyata selama beberapa bulan belakangan, dia sedang ada di fase mengidolakan sesuatu, dalam hal ini girl group JKT48. Oshinya konon bernama Michie. 

Di Sabtu pagi itu, si kakak bangun dengan amat bersemangat, padahal hari Jumat sore dia baru saja latihan sepakbola dan pulang malam. Tadinya dia bilang mau ketemu sama teman-temannya sekitar pukul sepuluh. Saya tanya, konsernya jam berapa. Jam tiga sore jawabnya. Jelas saya tidak perbolehkan. Terlalu dini untuk datang. Lagian mau ngapain dalam jeda selama itu. 

Awal mula saya mengizinkan dia pergi karena dari pertama cerita ada empat temannya yang mau menonton. Jadi mereka berlima yang akan ke konser bareng-bareng. Rencananya mau naik KRL, turun di Stasiun Palmerah, lalu ke Spark. Saya mengizinkan karena lokasi Spark yang tak jauh dari Stasiun Palmerah tadi. Dan itu ada di pusat kota. Seharusnya semua aman. 

Si kakak jadinya berangkat pukul satu siang. Rencananya akan bertemu dengan temannya di Stasiun Rawabuntu. Suami saya yang mengantarkan ke stasiun. 

Hari itu, sebelum pergi, saya sempat ngasih ide, gimana kalau papanya nemenin sampai Stasiun Palmerah. Anak saya menolak, dia mungkin merasa risih jika dirinya ditemani orang tua sementara dia jalan sama temannya. Akhirnya opsi ini gugur. Papanya hanya mengantar sampai stasiun, menunggu sampai dia bertemu temannya, lalu balik ke rumah. Saya punya kebiasaan memantau anak-anak dan suami bepergian lewat Find My Device. Tentu saja bukan karena saya posesif atau menerobos privasi mereka, ini murni saya lakukan hanya untuk memastikan keberadaan mereka di luar rumah baik-baik saja. Suami dan anak-anak saya juga tidak keberatan saya pantau. 

Sebelum si kakak berangkat, saya isikan kuota, lalu minta dia aktifkan lokasi hpnya. Setelah dia ditinggal papanya, saya mengecek lokasi keberadaannya. Keretanya sudah jalan, di layar ponsel saya sudah mendekati Jurangmangu. Oh, sudah sama teman-temannya pikir saya. Saya lalu mengirim WA, minta si kakak berhati-hati karena dia bawa tas pinggang kecil, lalu minta dia foto ketika sudah sampai di Spark.

Beberapa menit berlalu saya kembali mengecek lokasi hpnya. Sudah di sekitaran Spark. Saya lalu mengirim chat di WA untuk memastikan dia sudah sampai. Centang satu. Dheg! 

Jeda antara chat balasan ke chat berikut hanya berapa menit saja. Kok centang satu? Saya pindah cek lokasi hpnya, tak terdeteksi. Padahal sebelumnya terbaca di depan Spark. Eh, kenapa ya? Saya sempat bilang ke suami, chat si kakak centang satu tapi sudah di Spark. Jangan-jangan terjadi sesuatu. 

Namanya bapak-bapak pasti selalu menyikapi sesuatu dengan tenang. Suami meyakinkan saya agar tidak kuatir. Bisa saja nggak ada sinyal atau si kakak sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Saya pun menurunkan kadar kekhawatiran saya. Iya, mungkin saja dia sedang hepi-hepinya karena mau nonton konser bareng teman dan melihat oshinya secara langsung. I know how it feels. 

Tak seberapa lama, suami memutuskan untuk mengajak saya dan anak bungsu berenang. Lokasinya hanya sepuluh menit dari rumah. Anak bungsu saya tentu saja senang. Dengan antusias dia nyiapin baju renang, handuk, baju dan perlengkapan mandi. Pukul setengah tiga kami berangkat menuju kolam renang. Kolam renang yang kami datangi adalah kolam renang yang sering dipakai sekolah anak-anak setiap kali ada jadwal renang. Saat kami datang lumayan ramai. Untung masih ada sisa tempat duduk. 

Anak saya langsung loncat ke kolam renang karena dari rumah memang perginya sudah dengan baju berenangnya. Tak lama suami saya menyusul turun ke kolam, saya sempat bikin instastory ketika mereka ada di kolam. Niatnya ketika sudah semakin sedikit yang berenang baru saya akan ikutan. Sebuah tanda petir muncul di layar hp. Notifikasi telepon masuk tapi diblokir. Saya memang setting hp saya untuk memblokir nomor tak dikenal. Tanda petir muncul berulang-ulang. 

Perasaan saya tidak enak. Langsung kepikiran buka WA di nomor yang satunya lagi. Kebetulan hp saya memang dual SIM dan WA nomor satunya pakai third party aplikasi. Ada chat dari nomor tak dikenal. Pas saya baca, seperti ada godam menghantam dada. Itu chat dari anak saya.

Si kakak ternyata minta tolong ke orang yang ditemuinya untuk menghubungi saya. Sontak saya langsung menelepon ke nomor yang digunakan anak saya. Terdengar suara bapak-bapak di ujung telepon. Tadinya dia bingung saya siapa, beberapa detik kemudian dia sadar kalau teleponnya baru saja dipinjam seorang anak laki-laki. 

Dada saya berdegup kencang saat si bapak bilang anak saya baru saja diambil barang-barangnya. Tak seberapa lama ada telepon lain dari nomor tak dikenal. Saat saya angkat, dari seorang bapak-bapak lagi. Katanya anak saya sedang bersama dengannya. Sekarang mereka sedang berdiri di depan rumah kami. Saya panik, langsung minta suami dan si kecil untuk segera pulang. Saking paniknya saya memilih memesan ojol karena suami dan anak kedua masih bersiap-siap. 

Motor melaju dengan cepat, saat tiba di depan rumah sudah ada suami dan anak kedua yang duluan sampai. Anak sulung berdiri di samping bapak-bapak tua. Si bapak-bapak menceritakan kejadiannya, dia mengantarkan anak saya dari Stasiun Rawabuntu sampai ke rumah. Saya lalu memberikan uang 100rb sebagai pengganti ongkos. Bapaknya sangat berterima kasih. Saya justru yang bilang terima kasih banyak sudah mengantarkan anak saya dengan selamat. 

Si kakak langsung memeluk saya setelah saya ngobrol dengan si bapak tua. Tangisnya pecah di pelukan saya. Badannya bahkan bergetar ketakutan. Setelah tangisnya reda. Saya dan suami mengajaknya masuk. Di ruang tamu kami minta dia cerita kronologisnya. Apa yang terjadi setelah mereka sampai ke Stasiun Palmerah. Si kakak mulai bercerita dengan nada bergetar. Ternyata dia hanya pergi berdua dengan seorang teman. Tiga teman lainnya batal pergi. Saat mereka sampai ke Stasiun Palmerah, temannya mengusulkan untuk berjalan kaki saja menuju Spark. Saat keduanya sudah hampir sampai ke pintu masuk Spark, mereka dihadang tiga lelaki dewasa. Salah satunya langsung mendekati anak saya dan menuduh anak saya adalah pelaku pemerkosaan. Anak saya harus ikut dengan salah satu dari mereka bertemu dengan orang tua korban. Anak saya dengan kebingungan hanya bisa mengikuti skenario pelaku. Sebelum pergi si kakak diminta menyerahkan tasnya ke temannya. Dia hanya menurut saja. Akhirnya ikut dengan salah seorang pelaku naik motor. Tahunya si kakak justru ditinggal di bawah flyover. Sampai berapa menit si pelaku tak kembali. Si kakak yang kebingungan memilih untuk berjalan menjauhi tempat itu. Di jalan dia hanya bisa ketakutan, nggak tahu mau ngapain. 

Gimana nggak bingung, ini kali pertama dia jalan seorang diri. Ke daerah yang baru kali itu juga didatangi. Memang ya, Tuhan itu baik. Saat dia tengah kebingungan, si kakak dihampiri seorang ojol dengan seragam berwarna jingga. Anak saya cerita apa yang dia alami. Sama si abang ojol dia diajak naik, mereka muterin Spark, temannya sudah tak ada. Abang ojol lalu nganterin si kakak ke stasiun, bahkan memberikan uang lima ribu rupiah biar bisa top up kartu KRL. Berbekal itu, anak saya bisa kembali ke Stasiun Rawabuntu. Di sanalah dia bertemu dengan bapak tua yang mengantarkan kembali ke rumah. 

Sorenya saya langsung update kejadian anak saya ini di Twitter. Viral.

Baca replies dan quotes, ternyata ini modus lama. Banyak yang pernah jadi korban, mostly saat mereka masih SMP atau SMA. Masa di mana mereka masih dianggap lugu dan polos sehingga gampang diintimidasi lalu diambil barang-barangnya.


Saya tentu saja marah sekali dengan apa yang menimpa anak saya. Apalagi dia dituduh sebagai pelaku pemerkosa. Narasi macam apa ini. Anak saya, si kakak, anak yang nggak pernah punya pikiran jahat ke orang lain, anak yang hatinya mudah terenyuh ketika ada orang lain kesusahan, dituduh begini. Sakit sekali hati saya sebagai seorang ibu. Saya yang mengurus dia dari bayi, si kakak dan adiknya seorang diri. Saya yang menghabiskan 14 tahun usianya ada selalu dalam hidupnya. Saya tahu sekali anak saya ketika dewasa nanti nggak akan menjadi laki-laki seperti itu. 

Tapi saya bersyukur karena anak saya bisa kembali ke rumah dengan selamat. Masalah dia harus kehilangan hp dan duit, biarlah itu masih bisa diganti. Asal dia selamat. 

Oh iya, temannya juga selamat. Saya dan suami bisa menemukan nomor bapaknya. Kami saling berkabar. Teman anak saya ketemu saat sudah magrib dan diantar petugas polisi ke rumahnya. Tas anak saya yang dipegangnya dan hp miliknya diambil oleh para pelaku. Teman si kakak ternyata dibawa juga ke suatu tempat lalu ditinggalkan di tempat itu sendirian. Anak saya sangat lega saat tahu temannya juga selamat. Bayangkan, mereka hanya anak-anak usia 14 dan 12 tahun. 

Sebuah pembelajaran luar biasa bagi saya dan suami sebagai orang tua, bahkan jadi pelajaran hebat bagi anak kami. Banyak hal yang bisa dijadikan hikmah dan banyak-banyak bersyukur. 

Saat kejadian yang menimpanya saya jadikan utas dan tulisan ini dibuat, saya sudah minta konsensual dari anak saya. Dia setuju untuk saya publikasikan agar bisa menjadi pelajaran bersama dan warning bagi orang tua dan anak-anak lain. 

Saya berdoa semoga para pelaku bertobat. Seharusnya saya mendoakan mereka yang buruk-buruk saja tapi saya tidak ingin kehilangan kasih. Lagipula, di balik kejadian itu, ketika saya marah dengan para pelaku, tetap ada saja orang baik yang menolong. Buktinya anak saya bisa pulang tanpa kurang suatu apa pun. 

Siapa pun yang membaca ini, semoga kita semua dijaga dan dilindungi dari hal-hal buruk semacam ini.

4 comments:

  1. Mbaaaa, thank you sharingnya, dan ikut sedih Ama yg terjadi ke si Kaka 😔. Alhamdulillah selamat ya mba.

    Ini jadi reminderku juga, utk selalu ingetin anak2, supaya hati2. Apalagi si Kaka udh mulai pre teen. Kdg udh mulai keluar Ama temrn2. Kuatiiir banget pasti.

    Harus dari kitanya yg ngajarin mereka ttg hal2 preventif seperti ini, juga selalu mendoakan minta perlindungan di manapun mereka berada 😔

    ReplyDelete
  2. Aku bacanya deh degan mbak. Ya Allah alhamdulilah si Kaka dan temennya bisa balik ke rumah. Kalau aku jadi mbak Anas, udah pasti kalut banget banget, beruntung Kaka baik dan ada orang baik diluar sana mau bantuin sampe rumah

    Gimana si Kaka waktu ditelantarin di jalan dan bingung mau kemana, hape udah ga pegang. Perlu juga mengenalkan lingkungan jalan sekitar minimal yang daerah rumah ya, jadi biar si anak juga tau cara balik ke rumah

    Kalau kayak gini mba Anas udah pasti ga mau dulu membiarkan Kaka jalan sendiri, aku bacanya udah kayak trauma gitu

    ReplyDelete
  3. Mba makasih udah sharing. Ikut deg2-an bacanya. Semoga ini jadi pembelajaran bagi orang tua lain
    Ternyata ada modus begini.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah masih selamat ya mbak. Terimakasih buat sharingnya, saya tau pasti berat sekali pengalaman ini

    ReplyDelete