Monday, September 23, 2019

Risiko Tinggi dan Dukungan Selama Masa Kehamilan


Tanggal 17 September 2019 kemarin, saya berkesempatan hadir di acara Danone Indonesia yang kembali mengedukasi masyarakat dengan  kegiatan ‘Bicara Gizi – Menghadapi Kehamilan Risiko Tinggi’ yang membahas pentingnya asupan gizi seimbang dan dukungan lingkungan untuk mendukung ibu dengan kehamilan berisiko tinggi.


Karena rata-rata semua perempuan menikah pasti ingin memiliki keturunan. Yang menjadi masalah, tidak semua kehamilan bagi perempuan itu aman, ada juga yang berisiko tinggi. Yang menjadi narasumber pertama adalah Dr. dr. Ali Sungkar SpOG(K), Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan.

Di Indonesia, angka kematian ibu hamil jauh lebih besar dibanding negara tetangga. Penyebab terbesar kematian ibu hamil di tahun 2014 adalah pendarahan dan hipertensi. Namun sebanyak 35% penyebab lainnya ikut meningkat sehingga perlu diperhatikan juga saat pelayanan antenatal.

Tidak ada larangan kalau perempuan ingin hamil, tapi harus tahu risiko yang akan dihadapi nanti. Karena hamil itu seharusnya adalah perencanaan matang bukan hanya asal kepengin beranak pinak saja. Kehamilan berisiko tinggi itu terbagi:

1. Hamil dengan penyakit penyerta: Asthma, Kelainan Paru, Diabetes, Kelainan Jantung, Kelainan Ginjal, Penyakit Autoimun (SLE, APS, dll).
2. Hamil dengan penyulit: Pre Eklampsia, Eklampsia, GDM, Hipertensi, IVF, Miom, Kelainan letak plasenta, Infeksi, Ancaman persalinan preterm.
3. Hamil dengan riwayat operasi terdahulu: Operasi ginekolog, Operasi jantung, dll.
4. Usia saat hamil: Risiko kelainan kongenital, hormon.

Bagi ibu-ibu yang memiliki kondisi khusus dan merencanakan untuk hamil, harus mempertimbangkan isu-isu penting yang akan terjadi ke depannya semisal: Apakah kehamilan membuat kondisi penyakit menjadi berat? Apakah penyakit memengaruhi kehamilan? Apakah pengobatan yang diberikan untuk penyakit dan kehamilan perlu modifikasi? Apakah penyakit diturunkan?

Belum lagi pemenuhan gizi selama kehamilan itu sangat penting dan memengaruhi perkembangan generasi selanjutnya. Salah satu risiko kehamilan apabila ibunya tidak memperhatikan gizi bagi dirinya sendiri adalah terjadinya malnutrisi yang akan menyebabkan stunting. Pemenuhan makro dan mikro nutrisi selama masa kehamilan menjadi salah satu faktor berpengaruh pada perkembangan dan kesehatan sang anak nantinya.

Makanya sudah sering sekali digalakkan pentingnya pemenuhan gizi selama 1000 HPK. 1000 HPKini dihitung dari masa antenatal (270 hari) ke masa early post natal/infancy (365 hari) sampai masa early childhood (365 hari).

Perbaikan nutrisi selama kehamilan ini juga bertujuan memperbaiki keturunan untuk generasi selanjutnya. Dalam Internatinal Journal of Gynecology and Obstetrics merekomendasikan untuk “Think Nutrition First” atau balik ke gizi.

Selain pentingnya tahu risiko kehamilan, perlu tahu juga kalau semasa hamil ibu-ibu itu butuh dukungan. Yang menjadi narasumber kali ini adalah Putu Andani, M.Psi., Psikolog dari Tiga Generasi. Menurut beliau, hamil itu rentan sekali dengan stress, apalagi yang hamil dengan risiko tinggi.


Tiap trisemester memilik fase masing-masing dengan banyak perubahan. Jika ibu hamil terpapar dampak negatif selama masa kehamilan risiko yang akan dialami akan sangat besar, sehingga penting untuk bisa memutus dampak negatif terhadap kehamilan sejak awal. Itu lah pentingnya support system yang turut bekerja sama selama masa kehamilan.

Siapa saja yang dapat membantu seorang ibu menanggulangi stress selama masa kehamilan? Pertama tentu saja diri ibu itu sendiri kemudian suami dan terakhir adalah keluarga/teman dekat.

Kenapa diri ibu sendiri perlu menjadi support system juga? Karena seorang ibu hamil paling tahu dirinya sendiri dan harus bisa mengatasi problem focus dan emotional focus yang sering muncul selama masa kehamilan. Biasanya stress yang dialami akibat fokus justru dimunculkan dari luar masalah.

Peran suami juga sebagai pendukung sangat penting sekali. Menurut penelitian, dukungan suami dapat secara signifikan meningkatkan kondisi kehamilan ibu dibandingkan keluarga atau teman dekat (Glover, 2014). Para suami harus paham kalau kehamilan itu bukan hanya kehamilan bagi sang istri tapi juga kehamilan berdua, karena janin yang tumbuh hasil kesepakatan dan pembuahan bersama bukan sendiri-sendiri.

Sedangkan dukungan dari keluarga atau teman dekat bisa dilakukan dengan membicarakan hal-hal positif, menciptakan suasana menyenangkan tanpa banyak berkomentar tentang body shaming atau pengalaman tidak mengenakkan selama masa kehamilan lainnya.
     

     

No comments:

Post a Comment