Wednesday, May 15, 2019

Jenis-jenis Puasa yang Bisa Menurunkan Berat Badan


Di beberapa agama puasa itu suatu keharusan, di agama gue sih bukan paksaan. Kalau memang mau berpuasa ya monggo. Hanya saja gue jarang sekali mempraktikkannya. Kalau dihitung baru 3-4x gue berpuasa seumur hidup ini. Itu pun dengan ogah-ogahan. Salut dengan teman-teman muslim yang bisa tahan berpuasa selama satu bulan. Gue sehari aja bisa cranky karena tipikal yang tidak terbiasa menahan lapar.

Belakangan sejak rajin nge-gym, gue jadi banyak belajar bagaimana agar rutinitas atau gaya hidup gue ini punya dampak yang lebih baik bagi tubuh. Mengubah gaya hidup tidak semudah hanya mengubah pola makan semata. Mengubah gaya hidup berarti belajar lagi dari nol. Ini yang kurang dipahami banyak orang. Knowledge before diet. Harus punya ilmu sebelum melakukan diet. Ya wajar, pengertian diet sendiri sudah salah kaprah sejak lama.

Dalam proses belajar agar memiliki tubuh ideal ini salah satu proses yang gue dapat adalah berpuasa atau intermittent fasting. Sejak beberapa waktu ini dalam intermittent fasting ini sedang ngehits. Salah satu penyebabnya tentu saja karena bisa menurunkan berat badan, meningkatkan metabolisme tubuh dan bahkan bisa memperpanjang umur.

Nggak heran sih dengan semua persepsi tentang intermittent fasting ini, beneran bisa efektif kalau emang diterapkan dengan baik. Hanya perlu digarisbawahi, tidak semua cocok bagi tiap individu. Misalnya cocok di gue ya belum tentu cocok di suami gue. Pun dengan segala macam klaim diet masa kini yang makin beragam. Tidak semua orang bisa mengikutinya. Pada hakikatnya sih, masing-masing harus mengenal dahulu tubuhnya sendiri. Kalau asal ikut-ikutan saja ya bisa bahaya bagi kesehatan sendiri.


Dari hasil baca-baca, ada 6 cara populer untuk melakukan intermittent fasting

1. Metode 16/8

Metode 16/8 ini adalah metode berpuasa selama 14-16 jam sehari dengan membatasi “jam makan” harian menjadi 8-10 jam. Di dalam “jam makan” kita bisa makan 2-3 jenis makanan secara bertahap.

Metode ini sih dikenal dengan sebutan Leangains Protocol yang dipopulerkan oleh salah seorang ahli fitness bernama Martin Berkhan.

Jadi metode ini sesederhana; selesai makan malam ya udah nggak boleh makan lagi sampai besok siang. Misalnya, kalau selesai makan malam pukul 8 malam jadi kita baru bisa makan jam 12 siang keesokan harinya. Yang harus skip sarapan cem gue pasti berat sih. Karena gue terbiasa sarapan untuk memulai hari kalau nggak bisa uring-uringan.

Karena ini metodenya puasa makanan, tentu saja minum masih dianjurkan. Di antara jam puasa tersebut kita masih bisa minum air atau kopi untuk mengurangi level lapar. Tapi kalau sudah terbiasa puasa pasti nggak masalah.

Terus ya, kalau sudah berbuka jangan berbuka langsung dengan junk food atau makanan manis. Ini sama aja boong ceritanya. Kalau memang niatnya mau memperbaiki metabolisme dan goal pengin menurunkan berat badan, nutrisi yang diasup harus makanan sehat.

2. Metode 5:2 Diet

Metode ini artinya, makan normal selama 5 hari lalu dalam 2 hari mengurangi asupan kalori harian sebanyak 500-600 kalori/hari. Diet ini disebut Fast Diet dan dipopulerkan oleh jurnalis Inggris dan seorang dokter bernama Michael Mosley. Pemotongan 500 kalori ini berlaku untuk perempuan dan 600 kalori untuk laki-laki.

Belum ada studi teruji sih mengenai metode diet ini, tapi layak dicoba.

3. Metode Puasa Seharian Penuh

Metode ini dipopulerkan oleh ahli fitness Brad Pilon dan cukup populer beberapa tahun ini.

Jadi kita dianjurkan untuk puasa selama 24 jam dalam satu hari dimulai dari makan malam dan berbuka pada makan malam di keesokan harinya. Atau kalau mau pilih puasanya dimulai setelah sarapan atau makan siang juga tidak masalah asal dilakukan selama 24 jam. Hasilnya tetap akan sama.

Sama seperti metode di 16/8; air, kopi, dan minuman tanpa kalori diperkenankan asal jangan makanan padat.

Yang jadi masalah, tidak semua orang bisa melakukan puasa selama 24 jam. Mungkin bisa dicoba layaknya puasa yang sering dilakukan umat muslim terlebih dahulu, dimulai dari sahur lalu selesai pada jam berbuka. Kalau sudah terbiasa baru ditingkatkan menjadi 24 jam. Ini cukup dilakukan seminggu sekali saja.  

4. Metode Hari Pengganti

Metode ini memiliki banyak versi, salah satunya dengan hanya mengonsumsi kalori harian sebesar 500 kalori saja saat sedang berpuasa. Tentu saja ini tidak dianjurkan bagi pemula karena akan merasa sangat kelaparan sehingga tidak nyaman bagi tubuh sendiri dan tidak cocok dilakukan dalam jangka waktu yang panjang.

5. Metode Warrior Diet

Kalau metode ini kabarnya dipopulerkan oleh ahli fitness bernama Ori Hofmekler.

Warrior diet menganjurkan untuk makan kecil semisal buah atau sayur sepanjang siang, kemudian makan besar saat makan malam. Jadi semacam “fast” di siang hari dan “feast” di malam hari dengan durasi “jam makan” hanya 4 jam.

Warrior diet ini rada mirip sama paleo diet sih, yang membiasakan untuk makan whole foods.

6. Metode Secara Spontan Hindari Makan

Nah loh, metode macam apa ini?

Dasarnya sih kita nggak perlu repot ngikutin semua pola atau metode berpuasa yang ada. Metode ini secara simpel bilang, kalau lagi nggak kepengin makan atau malas buat masak ya udah nggak usah makan. Jadi ketika kita lagi malas buat sarapan, ya udah nanti aja makan saat makan siang atau malam. Atau kalau lagi bepergian trus susah nemu makanan yang cocok, ya udah puasa aja dulu.

Tapi pastikan semua makanan yang diasup selama intermittent fasting ini makanan sehat. Percuma bikin goal mau turun berat badan tapi pas berbuka eh makannya gorengan, kolak, nasi padang, atau indomie. Pecuma, Munaroh. Yatapi pengertian makanan sehat ini juga beragam sih, nggak semua yang terlihat atau digadang sehat itu sehat. Ngerti nggak sih? Mungkin gue bahas lain kali.

Karena sekarang lagi bulan puasa, ini saat yang tepat buat praktik dan mengejar target buat bisa singset di 2019.

Sebagai motivasi kalian...

Gue pernah menggendats di 2017 ke 62kg lalu rutin ngegym sejak 2018 sampai sekarang.


Selamat puasa ya teman-teman.
  

No comments:

Post a Comment