Tuesday, October 16, 2018

Kamu, Apa yang Kamu Makan

Rasanya sudah kesekian kali gue membahas tentang keadaan diri gue dari tahun lalu sampai sekarang; baik itu di media sosial mau pun di blog. Bagi yang belum tahu, tahun lalu terjadi perubahan drastis pada diri gue. Dibilang tahun buruk tidak juga, karena tahun lalu gue banyak mendapat kesempatan jalan-jalan ke luar kota berkat ngeblog.

Kira-kira menjelang akhir bulan Juli 2017. Entah karena stress, entah karena gue makannya nggak benar. Untuk kali kedua dalam tahun itu gue kena thyphoid atau orang-orang lebih suka menyebut tipes. Itu terjadi beberapa hari jelang keberangkatan gue ke Jogja. Tadinya mau dibatalin saja karena waktunya mepet dan gue nggak boleh terlalu capek biar thyphoid-nya nggak kambuh lagi. Puji Tuhan sih gue baik-baik saja.  

Sewaktu gue ke Jogja, gue nggak nyadar kalau metabolisme gue berubah. Gue nggak menyangka kalau berat badan gue naik drastis. Baru benar-benar yakin gue menggendut ketika melihat hasil foto. Seketika itu juga langsung panik. Eh gile, beneran gue segede ini?

Agustus 2017
Sebagai pemilik postur badan yang selalu proporsional, baik sebelum nikah maupun sudah punya anak dua. Jelas ini mengganggu gue. Masalahnya gue sempat ngegym kala itu. Menurut gue badan gue biasa-biasa aja, nyatanya foto berbicara lain.

Gue nggak tahu itu efek akibat sakit atau memang guenya aja yang rakus lalu denial. Karena seingat gue, iya gue makannya kalap tapi masa sih langsung naik drastis begitu? Normalnya gue 53-55kg setelah timbang usai dari Jogja—wow—63kg saja. Ini setara berat badan saat gue hamil.

Pada awal tahun ini—Januari 2018—gue langsung memutuskan, gue harus mengubah pola makan gue. Tracking lagi asupan makan dengan benar dan kembali berolahraga.

Jadi, sejak Januari itu gue kembali memperpanjang member di gym dekat rumah, mulai latihan angkat beban seminggu 5x, lalu menakar kalori dan makan gue lewat aplikasi penunjang. Oh, ini penting sekali bagi yang mau menjalakan pola hidup sehat. Karena pola hidup sehat itu bukan sekadar berolahraga atau diet semata. Tapi juga harus tahu apa saja yang masuk ke dalam tubuh dan berapa banyak jumlahnya.  

Mei 2018
Karena gue banyak baca. So far, gue sudah jarang sekali mengonsumsi produk makanan yang mengandung gula, tepung-tepungan dan gorengan. Lebih banyak ke makronutrien dan mikronutrien yang baik bagi tubuh.

Makronutrien terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Sebagai yang senang ngegym dan untuk mendapatkan tubuh sesuai keinginan, asupan makronutrien ini penting. Makanan-makanan yang bisa menjadi sumber makronutrien itu banyak. Karbohidrat misalnya; bisa dari gandum, kacang-kacangan, biji-bijian atau umbi-umbian. Biasa disebut karbohidrat kompleks. Untuk protein bisa dari daging, ayam, ikan telur, susu murni, tahu dan tempe. Sedangkan lemak bisa didapat dari tumbuhan maupun dari hewan.

Sedangkan yang termasuk mikronutrien adalah vitamin (yang larut dalam air dan lemak) dan mineral. Mikronutrien diperoleh dari luar tubuh seperti dari makanan dan suplemen karena tubuh tidak mampu memproduksinya dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Walau dibutuhkan tubuh porsinya sedikit tapi mikronutrien ini penting bagi tubuh.

Semenjak gue kena thyphoid itu, asupan makro dan mikro nutrisi ini selalu gue jaga. Slogan you are what you eat menurut gue benar adanya. Karena apa yang masuk ke dalam tubuh kita itu memengaruhi untuk jangka panjang. Kebanyakan penyakit yang diderita manusia pada umumnya sumber utamanya biasanya dari makanan.

Salah satu minuman yang selalu gue minum belakangan ini adalah Herbadrink. Pilihan gue adalah Sari Temulawak. Ini adalah minuman tradisional yang sering kita jumpai dijajakan sama penjual jamu.


Herbadrink Sari Temulawak ini diproduksi tanpa pengawet. Bahkan sugar free. Maksudnya bebas gula pasir yang kalorinya tinggi itu. 100 gram gula pasir itu kalorinya sekitar 400kal. Bayangkan yang pada demen minum teh, kopi, soda yang ada gula pasirnya. Setiap hari berapa banyak kalori yang masuk ke tubuh? Ratusan~

Pemanis dari Herbadrink Sari Temulawak berasal dari Sukralossa, yakni pemanis buatan tanpa kalori. Sukralosa ini tidak memiliki efek jangka panjang pada tubuh. Jadi aman dikonsumsi setiap hari.

Well, kenapa gue memilih Herbadrink Sari Temulawak? Karena SariTemulawak ini bermanfaat untuk memelihara fungsi hati, meningkatkan daya tahan tubuh serta memperbaiki fungsi pencernaan.

Sebagai yang sudah pernah kena thyphoid, Sari Temulawak ini sangat membantu banget. Gue tidak perlu terlalu khawatir jika daya tahan tubuh gue menurun trus gue akan sakit lagi. Buktinya, selama 10 bulan gue aktif ngegym dan rajin minum Herbadrink Sari Temulawak, daya tahan tubuh gue baik-baik saja.    


No comments:

Post a Comment