Wednesday, August 15, 2018

Dari Writingthon untuk Indonesia

Kelompok 4

Ada banyak fakta menarik seputar Asian Games kali ini. Mungkin banyak yang belum tahu kalau Vietnam sebenarnya yang akan menjadi tuan rumah untuk Asian Games XVIII. Ada pengundian kandidat tuan rumah, ada tiga negara yang terpilih, Vietnam (Hanoi), Uni Emirat Arab (Abu Dhabi), Indonesia (Surabaya). Vietnam terpilih dengan skor suara terbanyak, sayangnya karena kesiapan negara dan resesi ekonomi, Vietnam akhirnya memilih mundur. Pada tahun 2016, Indonesia akhirnya ditunjuk sebagai pihak penyelenggara. Fakta lainnya, Asian Games ini seharusnya dilaksanakan pada tahun 2019, tapi di tahun tersebut Indonesia akan mengadakan pemilu sehingga pelaksanaan Asian Games dimajukan di bulan agustus 2018. Ini kali kedua Indonesia menjadi penyelenggara dan untuk pertama kalinya dua kota dijadikan sebagai tuan rumah, yakni; Jakarta dan Pelembang. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah, terpilih menjadi tuan rumah dalam sisa dua tahun persiapan butuh kerja keras dan usaha maksimal. Atensi dan dukungan bukan saja berasal dari pemerintah saja tapi dari seluruh rakyat Indonesia untuk menyukseskan terselenggaranya pagelaran olahraga terbesar se-Asia ini.
Menyukseskan pagelaran Asian Games adalah tanggung jawab besar yang wajib kita emban ketika dipilih sebagai tuan rumah Asian Games. Tanggung jawab untuk menyukseskan pagelaran olahraga sebesar ini hanya dapat terjadi bila benar ada turut andil masyarakat dalam membantu mewabahkan demam Asian Games ini. Nah, untuk mewujudkan hal tersebut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mempelopori dibuatnya gerakan Dukung Bersama untuk mewadahi peran masyarakat dengan membuat berbagai program-program. Program-program ini di antaranya kompetisi Gapura yang melibatkan masyarakat di desa dan perkotaan guna menghiasi daerah masing-masing dengan hal-hal yang bercorak Asian games serta juga mengadakan Kompetisi Online untuk mengajak warga dunia maya untuk menyebarkan wabah Asian Games ke seantero jagat maya. Writingthon Asian Games sendiri merupakan salah satu kompetisi yang dimaksud guna mengajak para blogger dan pelajar menunjukkan kebanggan mereka, Indonesia sebagi tuan rumah Asian Games.
Penamaan Writingthon sendiri terinspirasi dari Hackaton (Hacking Marathon) yang diadakan oleh para programer di seluruh dunia. Bedanya Writingthon adalah sebuah kompetisi menulis yang diikuti oleh masyarakat untuk menyebarkan demam Asian Games 2018. Kompetisi menulis ini mengangkat dua tema besar yaitu, “Dukung Bersama Asian Games dari Daerahku” dan “Aku Bangga Indonesia Menjadi Tuan Rumah Asian Games” yang terbagi dalam dua kategori peserta yakni para blogger dan pelajar/mahasiswa. Kompetisi ini terbagi dalam tiga fase yakni, seleksi, pengumuman pemenang dan masa karantina. Kompetisi dibuka pada 7 Juni 2018 dan ditutup pada tanggal 17 Juli, hasil seleksi sendiri diumumkan pada 25 Juli 2018. Fase berikut yakni karantina, diselenggarakan pada tangga 15-18 Agustus 2018 di Jakarta. Rencananya para peserta akan kembali meramu naskah yang mereka kirim untuk menjadi naskah kolektif untuk menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh Bitread Indonesia. Selain memperoleh hadiah, penghargaan, ilmu, para peserta akan diundang menyaksikan pembukaan Asian Games XVIII. Writingthon ini diharapkan mampu menularkan semangat dan rasa kebanggaan sebagai tuan rumah pesta olahraga akbar se-Asia ini.
Memasuki masa karantina, ada cerita menarik dari salah satu peserta Writingthon Asian Games bernama Azzahra Larasati dari kategori pelajar/mahasiswa asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dihari keberangkatan, Azzahra harus mengalami drama laptop yang tertinggal di Bandara Hadisucipto sesaat sebelum naik ke pesawat. Azzahra tanpa sengaja meninggalkan tas yang berisi laptop tersebut di lobi bandara, dia baru menyadari hal tersebut sesaat setelah landing di Bandara Internasional Soekarno hatta. Setelah mengisi berita kehilangan, panitia Writingthon Asian Games langsung melakukan kordinasi dengan pihak bandara. Menurut kabar hari ini tangal 16, tas yang berisi laptop tersebut dapat diambil di bandara Internasional Soekarno Hatta. Pengalaman atas kejadian tersebut sepertintnya tidak akan pernah dilupakan dan bisa dijadikan pelajaran untuk semuanya.

*) Artikel ini ditulis oleh Azzahra Larasati, Anastasye Natanel, Fathan Huda, Sudarwin


No comments:

Post a Comment