Sunday, August 19, 2018

Tentang Opening Ceremony Asian Games dan Mental Penontonnya

Selama 9 tahun gue tinggal di Tangerang baru 2 kali gue nginjak stadion GBK. Pertama karena mendapat kesempatan bertemu dengan para Football Legend tahun 2014. Lalu berselang 4 tahun kemudian, tanggal 18 Agustus 2018, gue bisa masuk lagi ke dalam stadion GBK untuk menyaksikan perhelatan akbar Opening Ceremony Asian Games 2018. 


Kesempatan ini gue dapat karena ikutan lomba blog dari Kominfo bekerja sama dengan Bitread Indonesia. Nggak pernah mengira kalau gue bakal menjadi salah satu pemenangnya dengan salah satu hadiahnya adalah berpartisipasi untuk hadir di event bertaraf Internasional tersebut.

Selama masa karantina dari tanggal 15-19 Agustus 2018, ada banyak sekali yang ingin gue ceritain. Banyak. Tapi itu gue simpan dulu, mau fokus sama Opening Ceremony dulu. Mau cerita bagaimana keseruan melihat langsung Opening Ceremony dari sudut pandang penonton yang dapat tiket masuk 5 juta. 


Yoi, nggak tanggung-tanggung memang, para peserta Writingthon Asian Games yang berjumlah 68 orang ditambah beberapa peserta pemenang dari Pesta Rakyat Dance Challenge, Duta Supporter Indonesia/Voters, ASN Sehat, Virtual Run, dan KOL yang kalau ditotal semua jumlahnya menjadi 280 orang mendapatkan tiket masuk perorang seharga 5 juta. 

Duit anggaran Kominfo banyak juga ya. Rakjel cem gue can't relate sih. Mungkin Bu Dendy atau Bang Hotman Paris yang tahu rasanya buang-buang duit segitu banyak. Bang Hotman aja mau cuma ngasih uang jajan ke Yohanis Gama Marshal, si bocah Atambua, buat beli permen ngasihnya 25 juta. 

Itu baru anggaran untuk nonton, belum akomodasi, transportasi, dll, untuk peserta yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Sila hitung sendiri duit yang dikeluarkan. 

Anyway, di hari Sabtu itu memang menjadi highlight rangkaian kegiatan bersama Kominfo. Gue melupakan sejenak kedongkolan yang dialami selama karantina. Duh, gatal pengin curhat banyak tapi tahan...

So far, sejak sampai di stadion sebenarnya nggak ada masalah. Aman-aman aja dari tiba sampai kami harus antri di gate masuk. Walau kaki udah gempor karena jalan kaki dari depan Hotel Atlet Century sampai ke dalam yang jaraknya lumayan juga. 



Kami masuk dan duduk di dalam stadion sekitar pukul 16.00 atau 16.30, gue lupa. Saking excited gue sampai nggak perhatiin jam lagi. Apalagi pas ngeliat bagian dalam stadion, atuhlah lapangan yang biasa dipakai untuk pertandingan sepakbola atau konser itu disulap jadi hamparan gunung. Literally, kayak satu gunung dipindahin ke tengah stadion.

Karena dapat seat paling atas, MC dan para performer kelihatan kayak semut dong. Sebagai pemilik mata minus dan silinder akutu mau nangis aja. 

Sebelum acara dimulai gue sempat-sempatin fotoin nama-nama yang ngerikues untuk difoto di dalam stadion. Pegel juga nulis edit di hp trus foto dengan latar stadion. Kuota gue batasin 5 orang tapi yang rikues lumayan banyak. Ada 7 yang gue sanggupi. 



MC acara, Tike Prianatnakusumah dan Ronal Surapradja mengajak para penonton rehearsal untuk hitung countdown yang tertera di dua layar besar bagian kiri dan kanan. Terus penonton diminta untuk nyalain flashlight di hp lalu digerak-gerakin sesuai gerakan dancer di tengah panggung. 



Acara sih dimulai pukul 19.00. Kalau yang nonton di tv pasti disuguhi dengan pembukaan Pak Jokowi yang beradegan naik motor di jalan dari Istana Negara menuju lokasi acara Opening Ceremony. Nah, penonton stadion juga disuguhi hal sama di layar. Bedanya semua langsung histeris dan teriakin nama Pak Jokowi berulang-ulang sampai pengendara motor yang entah Pak Jokowi atau stuntman masuk ke stadion. Saat Pak Jokowi masuk ke venue kembali namanya disorakkan.

Selama acara berlangsung hati gue membuncah dan merinding nggak kelar-kelar. Yang nonton di tv aja terpesona sama Tarian Retoe Jaroeh yang dibawakan 1000 penari yang semuanya adalah pelajar bukan penari profesional, apalagi yang di stadion yekan. Kuduk gue berdiri terus. Bagus pakai banget. Apalagi besoknya gue lihat cuplikan video dari anak-anak itu pada lari-lari histeris kembali ke belakang panggung karena berhasil menampilkan yang terbaik. Terharu banget.

Semua performer bahkan pagelaran musik dan tari malam itu mind blowing sekali. Munculnya lambang garuda di balik gunung, matahari, bulan, kapal layar, sampai adegan Obor Asian Games dibawa masuk oleh para veteran atlit dengan puncak gunungnya ikut mengobarkan api itu luar biasa sekali.

Belum lagi pertunjukkan kembang api yang kalau dari dalam stadion sih, khususnya di zona tempat gue duduk nggak kelihatan. Gue cuma bisa melihat di layar besar bentukan kembang apinya itu bagaimana. Keren banget asli.

Rasanya langsung mau bersimpuh di kaki Wishnutama, para kreator dan semua yang sudah terlibat dan bekerja keras untuk Opening Ceremony ini. Kalian luar biasa.


3 jam rasanya berlalu sekelebat mata saking nggak berhentinya gue dibuat kagum. Bangga dan bersyukur karena gue dapat kesempatan yang nggak semua orang bisa. Mana lagi event Asian Games nggak mungkin sering-sering di Indonesia. 

Gue pulang dengan perasaan bahagia dan lupa kalau balik ke bus itu mesti jalan kaki lagi yang lumayan jauh. 

Tapi di balik kemegahan perhelatannya, ada yang bikin miris. Sampah. Mental orang Indonesia ini sungguh bobrok sekali. Apalagi yang nyampah termasuk para peserta dari Kominfo ini. Gue sampai gondok. Rata-rata kan para pelajar, mahasiswa, dan pekerja tapi bisa-bisanya sampah botol, plastik, sisa makanan dibiarin aja di bawah bangku. 

What is wrong with you, people? 

Di bangku atas gue bahkan udah gue bilangin kalau sampahnya dibawa sendiri keluar eh malah cuma sibuk selfie. Semua saat itu lebih mentingin foto-foto buat pamer ketimbang ngeliat di bawah kaki mereka itu ada serakan sampah milik sendiri. 

Ikutan foto sambil pegang botol minum bekas orang

Gue inisiatif mungutin sampah-sampah tersebut. Sambil ngomel-ngomel bilang, percuma dapat tiket 5 juta tapi masih demen nyampah. Beruntung beberapa teman ikut ngebantuin mungutin sampah dan bawa keluar untuk dimasukan ke tempat sampah. 

Ya, masa pada nggak mikir. Penonton itu maksimal 5 jam di dalam. Nah, para pekerja terutama cleaning service udah dari pagi di sana. Mereka bolak balik mastiin agar semuanya bersih. Terlalu sih kalau dibilang, "ya kan itu tugas mereka biar nggak magabut". 

Gini ya, sampah yang kita beli itu berarti urusan kita bukan urusan cleaning service. Mereka emang tugasnya bersih-bersih tapi ya nggak harus bersihin sampah sampai segunung juga, punya hati sedikit napa. 

Di rumah sebenarnya pada diajarin apa sama orangtua? Kalau misalnya nggak dibiasain buang sampah di rumah dan cuma disuruh bersikap baik aja sebenarnya sudah cukup. Bersikap baik itu artinya menghargai bukan hanya ke orang lain tapi juga sekitar lingkungan. Masa gini aja nggak ngerti sih.

Atuhlah jadi panjang bahasan sampah ini. Tapi gue memang suka gemas sama kelakuan orang-orang yang sudah sekolah tinggi tapi mental bobrok. 

Akhir kata, Opening Ceremony-nya luar biasa. Orang-orang yang nontonnya enggak. 









9 comments:

  1. Jadi ikutan gemas.
    Ya ampun yang ikutan nyampah malah peserta KOminfo ya.
    Mudahan ikutan baca ini dan tersentil ya.

    Terus gak sabar juga tuh baca artikel tentang karantina.
    Ada apa gerangan?

    Baidewei napa "comment as " URL/Name kagak diaktifkan, mpok?
    Itu bagus buat dongkrak DA dan PA blog lho, dengan catatan hindari spam comment.



    ReplyDelete
  2. paling sebel deh kalau habis event itu suka banyak sampah, apa salhnya ya buang ke tempat sampah terdekat atau simpen dulu di kantong sampe nemu tong sampah.

    ReplyDelete
  3. Duh, masih aja ya pada suka nyampah? Heran deh!
    Btw, setuju banget kalau opening ceremony Asian Games 2018 ini memang luar biasa. Salut!

    ReplyDelete
  4. yaaah masih ada yg buang sampah sembarangan ya. Penasaran sama GBK yang baru neh, kyknya keren banget.

    ReplyDelete
  5. Ah gemashnya ya.. udah dapet tiket gratisan tapi nggak paham kebersihan banget. Kebayang dah cleaning servis di sana pasti kerja keras bersihin GBK.

    ReplyDelete
  6. Iiiiih kesyel banget bacanya, pagelaran yang megah dan berkualitas gini harusnya jadi cerminan kalo kita juga masyarakatnya berkualitas. Pasti gemes banget ya mbak...

    ReplyDelete
  7. Jadi ikutan gemesss. Kapan atuh ya orang-orang Indonesia sadar sama sampah nya sendiri

    ReplyDelete
  8. wah seru ya mbak bisa ikut terlibat langsung acara keren ini...sayang ya banyak orang indonesia yang sadar sampah. baru tahu lho mbak kalau mcnya mbak tike ama bang ronald...keren suaranya.

    ReplyDelete
  9. Wah..senang nya bisa lihat langsung open ceremoninya...

    Sampah ..masukin ke tas dulu..ntar kalo ada Ting sampah baru di buang..., emang udah kebiasaan tuh...

    ReplyDelete